
Tiga hari sebelum hari pernikahan, aku sudah tidak kuat. Benar-benar tidak kuat.
Calon ibu mertuaku memintaku dan Om Rey tidak saling bertemu untuk satu minggu sebelum pernikahan. Seharusnya kami juga tidak keluar rumah, cuti dari kegiatan masing-masing. Tapi banyak hal yang harus diselesaikan sebelum pernikahan yang dipersiapkan secara mendadak ini.
Apalagi Om Rey. Pekerjaan-pekerjaan urgentnya harus bisa selesai sebelum hari H, karena ia sudah mengajukan cuti untuk kami berangkat honeymoon setelah hari pernikahan. Untung saja ia memang memiliki jatah cuti yang belum sama sekali ia pakai.
Terbiasa setiap hari bertemu, membuatku merasa aneh saat beberapa hari saja tidak bertemu dengannya.
Aku sangat merindukan calon suamiku. Keberadaan Om Rey sudah seperti kebutuhan bagiku. Sehari tak melihat sosoknya, tak menyentuhnya, rasanya bisa membuat aku jadi gila.
Hingga hari ini sepulang kuliah aku nekat untuk menemui Om Rey di kantornya. Aku ingin bertemu dengannya barang sebentar saja. Setelah mata kuliahku selesai, segera aku meninggalkan ruang kuliah dan berjalan menuju lobi fakultas, menunggu ojek online yang sudah ku pesan.
Sambil menunggu aku duduk di salah satu kursi di lobi dan membuka kotak bekal yang belum ku makan. Kimbab-kimbab itu masih tertata rapi seperti saat aku membuatnya tadi pagi. Ku buat kimbab itu lebih dari satu porsi karena aku memang sudah berniat untuk menemui Om Rey dan memakan kimbab itu bersama-sama.
Mulai besok aku sudah izin untuk tidak kuliah, karena akan diadakan pengajian untuk mendoakan pernikahanku yang diadakan di rumah kakekku di Bandung. Jadi hari ini adalah kesempatanku bertemu dengan Om Rey untuk terakhir kalinya sebelum kami menikah. Jadi aku ingin bertemu dengannya hari ini.
"Om Rey pasti kaget ngelihat aku tiba-tiba nyamperin dia di kantornya." Gumamku seraya menatap kimbab-kimbab berisi bulgogi favoritnya.
Saat aku menutup kembali kotak bekalku, sebuah klakson berbunyi. Sontak aku menoleh ke arah sumber suara. Aku kira itu ojek online yang ku pesan, ternyata itu Vito.
Ia membuka helm fullfacenya dan memanggilku. "Nis!"
Mau apa lagi dia? Batinku.
Dengan malas aku menghampirinya. "Kenapa?"
"Lo mau kemana?" Tanyanya.
"Gue mau ketemu calon suami gue." Ucapku menegaskan.
"Ya udah gue anterin." Ujarnya menyodorkan helm.
"Gak usah. Gue udah pesen ojol." Aku bersiap untuk pergi, namun Vito menahan tanganku.
Segera kutangkis tangannya. "Lo jangan nekat ya, Vit! Jangan coba pegang-pegang gue. Gue udah bakal jadi istri orang lain. Jaga sikap lo!"
"Sorry. Gue cuma pengen nolongin lo aja. Gak ada maksud lebih, Nis." Ujarnya sedih.
"Tapi gue gak butuh pertolongan lo." Tegasku lagi.
Ponselku berbunyi, saat ku cek ojol yang ku pesan membatalkan pesananku.
Sial sekali, umpatku dalam hati.
Ku lirik jam di sudut layar ponselku waktu istirahat makan siang hampir tiba. Jika aku tidak segera pergi, aku tak akan sempat bertemu dengan Om Rey.
__ADS_1
Mataku tertuju pada Vito, apa aku harus menerima tawaran Vito saja?
Kembali ia menyodorkan helmnya. "Udah gue anterin, ojolnya ngecancel 'kan?"
Tidak punya pilihan aku pun mengambil helm itu dan memakainya. "Gue kepaksa nerima tawaran lo."
"Iya, Nis. Kepaksa juga gue gak apa-apa. Kapanpun lo butuh, gue bakal ada buat lo."
Tanpa sadar aku memutar bola mataku. Ia terkekeh melihat reaksiku. "Ayo naik."
Setelah aku duduk di jok belakang, Vito menyalakan motornya. Saat akan melajukan motornya, ia melepas kopling dan gas secara bersamaan hingga motor besarnya sedikit tersentak, membuat tubuhku terdorong ke depan dan tubuhku menabrak punggungnya.
Sontak ku pukul punggung Vito dengan kerasnya hingga ia meringis kesakitan.
"Jangan macem-macem lo sama gue! Mau gue banting lo pakai jurus karate gue?!" ^ncamku.
Vito masih meringis dan mengusap pundaknya, karena untuk meraih punggungnya, tangannya tak sampai. "Lo tega banget, sih? Ya udah sorry. Tapi perlu emang lo sampai mukul gue sekeras itu?"
"Perlu! Lo harus dikasih pelajaran biar tahu diri." Geramku. "Buruan jalan. Gue bisa telat entar ketemu sama calon suami gue."
"Iya-iya." Sahutnya kembali menyalakan motornya dan kali ini ia betul menjalankan motornya. "Pegangan, Nis."
"Pegangan sama nenek lo?! Udah cepetan gak usah cari kesempatan."
Vito menghela nafasnya. "Kadang gue bingung kok bisa gue bucin sama cewek bar-bar kayak lo."
Hingga motor putih itu berhenti di depan sebuah gedung perkantoran yang menjulang tinggi, terdapat huruf-huruf besar berjajar rapi bertuliskan 'Melcia Tower'.
"Om lo kerja di sini?" Tanya Vito menengadahkan kepalanya melihat ke puncak gedung tinggi itu.
Ku serahkan helm yang kupakai padanya. "Iya. Nih. Thanks ya." Ujarku singkat. Segera aku berjalan memasuki lobi gedung dan menghampiri resepsionis.
"Permisi, Mbak." Sapaku.
"Selamat datang di Head Office PT. Melcia Property, ada yang bisa dibantu, Mbak." Tanya wanita itu ramah.
"Saya mau bertemu dengan Pak Reyhan Panca Kusuma, bisa?" tanyaku.
"Maaf sebelumnya apa sudah buat janji?" Tanyanya lagi.
"Belum sih, Mbak." Ujarku.
"Maaf, Mbak. Kalau tidak ada janji anda tidak bisa menemui beliau."
Ya ampun, mau bertemu dengan calon suamiku saja susahnya sampai seperti ini. Apa aku telepon saja ya Om Rey? Tidak, aku 'kan kesini mau memberikan kejutan padanya.
__ADS_1
"Saya keponakannya, Mbak. Saya diminta untuk mengantarkan makanan oleh ibunya." Aku memperlihatkan tas bekal makananku padanya. "Beliau berpesan untuk memberikannya langsung pada Om Rey."
Resepsionis itu berpikir. Ia menelisik penampilanku. "Kamu keponakannya?" Sepertinya setelah melihatku yang menggunakan kaos dibalik kemeja yang tak kukancingkan, ripped jeans denim, tas gendong, dan juga sepatu kets, ia mulai percaya bahwa aku keponakannya, ia juga mulai berbicara tidak formal padaku.
"Iya, Mbak. Kebetulan ponsel aku lowbat, jadi aku gak bisa ngehubungin Om Rey. Boleh ya, Mbak? Aku harus ngasih bekal makan siangnya langsung ke Om Rey. Kalau enggak aku takut dimarahin sama Nenin." Ucapku penuh harap. Aku juga mengatakan nama panggilan 'Nenin' yang adalah nama panggilan Bu Sekar dari cucu-cucunya.
"Ya udah saya telepon Pak Reyhan dulu ya." Resepsionis itu meraih teleponnya dan memijit satu tombol. "Selamat siang, Pak Reyhan. Ada keponakan Bapak mengantarkan makanan."
"Namanya..." Ia menatap ke arahku. Ku jawab. "Risa."
"Risa, Pak." Ucapnya pada sambungan telepon. Kemudian, "Baik, Pak." Ujarnya seraya menutup telepon. Ia meraih sebuah nametag dan memberikannya padaku. "Kamu pakai ini, langsung aja ke lift ya. Ruangan Pak Reyhan ada di lantai 20."
Yes, berhasil masuk! Girangku dalam hati.
Kemudian sesuai arahan aku berjalan menuju lift dan setelah puluhan lantai, aku sampai di lantai 20. Keluar dari lift aku berbelok ke kanan dan mulai mencari ruangan Om Rey.
Akhirnya aku menemukan ruangan dengan nama Om Rey di pintu tersebut. Ku ketuk pintu itu dengan perasaan berdebar.
Sebentar lagi aku akan bertemu dengan calon suamiku!
Lalu terdengar sahutan. "Masuk."
Kubuka pintu itu pelan dan melihat Om Rey sedang duduk di sebuah kursi yang menghadap ke dinding kaca. Di hadapannya terdapat sebuah meja besar yang tinggi di sisi dekat dinding kaca, namun melandai ke sisi yang lainnya. Om Rey masih sibuk dengan sebuah pensil dan penggaris besar di tangannya.
"Simpen aja di meja, Ris. Om lagi sibuk. Maaf ya." Ujarnya Tanpa melihat ke arahku.
Om Rey memang seperti itu. Di rumah pun jika sedang fokus bekerja, ia tak bisa diganggu. Padahal ini sudah istirahat makan siang.
Aku pun berjalan ke arahnya perlahan dan berdiri tepat di belakangnya. Sontak kedua tanganku menutup kedua matanya dari belakang.
"Ri... " Ucapannya terjeda. Segera ia melepaskan tanganku dan berbalik.
"Surprise!" Sahutku girang.
"Sayang?" Wajahnya begitu tercengang.
Aku pun terkekeh. "Yes, kejutan aku berhasil."
Tangannya meraih pinggangku sehingga kini aku berdiri di antara kakinya. "Untung Om belum telepon ibu. Kalau enggak kamu bisa dimarahin loh sama ibu."
Aku pun kembali terkekeh.
"Dasar anak nakal." Komentarnya, matanya tak terlepas dariku.
Ku raup kedua pipinya. "Abis aku kangen banget sama Om." Ujarku manja, "Pengen ketemu." Sungguh aku rindu sekali padanya.
__ADS_1
Om Rey menarik tengkukku dan aku pun tahu apa yang diinginkannya. Bibirku mendekat dan mulai menciumnya.