
Pagi itu kami berada di sebuah Gym. Kami mengikuti kelas senam hamil. Ini bukan keinginanku, tapi Mas Rey memaksaku untuk ikut kegiatan ini. Ia begitu bersemangat, sedangkan aku, jangan tanya, semenjak hamil saja kerjaanku sebagian besar dihabiskan untuk tidur.
Mas Rey begitu seksama dalam memperhatikan instruksi dari instruktur senam itu. Mau tak mau aku juga mengikuti setiap gerakan-gerakannya.
Kami tidak sendirian, karena Mas Marcel dan juga Mbak Sarah mengikuti kelas ini. Iya, Mbak Sarah juga sedang mengandung anak keduanya. Kini usia kehamilannya baru sekitar 3 minggu.
Kebalikan denganku dan juga Mas Rey, diantara mereka yang justru malas-malasan adalah Mas Marcel. Mbak Sarah sampai beberapa kali menegur Mas Marcel karena tidak fokus dalam mendengarkan instruksi.
Hingga sekitar satu jam kemudian kelas pun berakhir. Kami memutuskan untuk sarapan bersama di kantin yang ada di gym itu.
"Sabtu depan, Bunda ikut senam hamil sama Rey ya. Ayah mau tidur di rumah aja." Seloroh Mas Marcel.
Sebuah pukulan peringatan berhasil mendarat di lengan Mas Marcel dari tangan Mbak Sarah. "Ayah suka ngaco! Masa Bunda senam hamilnya sama Rey?"
Aku dan Mas Rey hanya bisa tertawa gemas dan tak habis pikir.
"Abis disini Bunda sama Rey yang rajin banget. Hari Sabtu pagi gini, Ayah itu pengen bangun siang, mumpung hari libur. Bukannya malah ikut senam hamil." Dumelnya.
"Setuju banget, Mas Marcel! Aku juga pengennya di rumah, rebahan sambil nonton hari libur begini." Ujarku spontan. Mas Marcel sontak mengarahkan telapak tangannya padaku, aku berniat menyambutnya dengan bertos ria dengannya, menyalurkan rasa sehati kami yang lebih menginginkan berdiam diri di rumah daripada harus melakukan hal-hal seperti ini.
Namun belum juga tanganku mendekat, Mas Rey segera meraih tanganku dan memenjarakannya di atas pahanya.
"Mas!"
"Kamu ini harus mulai banyak bergerak, Sayang. Biar nanti lahirannya lancar. Jangan ikut-ikutan Marcel. Dia ini ses^t."
Sontak bibirku maju satu senti mendengar hal itu lagi.
"Lo tega banget, lihat istri lo itu pengennya diem. Bayangin kalau lo jadi dia, dengan perut segede itu disuruh senam. Harusnya disuruh rebahan." Ujar Mas Marcel dengan pikiran out of the boxnya.
"Ayah ngaco banget!" Komentar Mbak Sarah.
"Sar, suami lo udah makin ses^t nih. Udah, nanti kita jangan senam hamil bareng lagi. Dia bawa pengaruh buruk buat istri gue."
"Tahu nih." Mata Mbak Sarah mendelik pada sang suami. "Punya suami gini banget. Bikinnya aja hobi, ngerawatnya enggak."
Sontak Mas Marcel tak terima. "Dulu Bunda gak senam-senam gini juga lancar pas lahirin Clara. Sekarang juga gak perlulah."
Mbak Sarah menghela nafasnya, mencoba menahan emosinya. Ia lalu melihat ke arahku. "Nis, kamu tadi lihat gak suami dari ibu hamil yang sebelah aku? Lumayan ganteng 'kan? Ngelihatin aku terus loh."
Sontak mata Mas Marcel membesar, kedua alisnya bersatu.
Merasa gemas, aku pun menanggapi. "Iya banget, Mbak. Ganteng, terus kayaknya masih muda deh. Dideketin aja, Mbak." Candaku.
Mas Rey segera merangkul pundakku dan menjauhkanku dari Mbak Sarah. "Apaan maksudnya bilang cowok lain ganteng depan Mas?" Ujarnya jengkel.
__ADS_1
Aku pun terkekeh gemas. "Yang harusnya jealous pas kondisi hamil itu justru ceweknya loh biasanya. Ini kok malah Mas?"
"Ya Mas gak terima dong, kamu bilang cowok lain ganteng. Emang Mas kurang ganteng?" Tanyanya merajuk.
Melihat wajahnya yang jengkel sontak membuatku memeluknya dengan gemas. "Gantengan Papa Rey kemana-mana dong."
"Gantengan Ayah kemana-mana, ya 'kan Bun?" Mas Marcel tiba-tiba saja menginterupsi aksi menggemaskan kami. Ia merangkul sang istri, tak mau kalah.
Segera Mbak Sarah menjauh darinya. "Mana ada? Gantengan Rey kemana-mana." Ujarnya dengan galak.
Kata-kata Mbak Sarah membuat kami tertawa terbahak-bahak. Beberapa saat senda gurau itu terus berlangsung sampai makanan kami pun habis. Kami kembali ke mobil masing-masing.
Sebelum masuk ke mobil aku mengingatkan. "Mbak Sarah, jangan lupa ya nanti sore dateng ke rumah ibunya Mas Rey."
"Siap, Nis. Nanti kita pasti dateng." Sahut Mbak Sarah.
"Clara dibawa ya." Mas Rey mengingatkan.
"Lo udah mau punya ya, Rey. Jangan ngerecokin anak gue lagi." Mas Marcel kembali dengan candaannya.
Mas Rey siap menimpali, namun segera Mbak Sarah memotongnya. "Udah, Yah." Lalu ia melihat ke arahku. "Udah Nis, Rey, kalian cepet pergi kalo enggak ini debat gak akan beres-beres."
Aku dan Mas Rey terkekeh seraya pamit kepada mereka. Sesaat kemudian, mobil Mas Rey sudah berada di jalanan.
"Ya ampun, tiap ketemu temen Mas yang satu itu, aku gak pernah bisa berhenti ketawa. Sampai pipi aku pegel kayak gini." Ucapku seraya memijit kedua pipiku yang masih terasa pegal karena terlalu sering tertawa.
"Ya ampun, sampai sewa EO segala sih, Mas." Gerutuku. "Bukannya acaranya bakal sederhana aja?"
"Iya, sederhana kok. Orang keluarga aja yang dateng, ditambah Marcel sama keluarganya, terus Fina. Udah deh. Kata Mbak Kinan biar berkesan aja nanti acaranya."
Sampai hari ini, aku masih belum bisa menyamakan arti sederhana versiku, dan sederhana versi Mas Rey dan juga keluarganya. Rasanya beda sekali. Aku sudah bisa membayangkan sederhananya acara gender reveal nanti sore, pasti adalah definisi mewah bagiku.
Dan benar saja, saat kami datang ke rumah ibu mertuaku. Semua dekorasi sudah dikonsep sedemikian rupa dengan balon dan pernak pernik berwarna biru langit dan juga baby pink. Semuanya jauh dari kesan sederhana versiku.
"Tuh 'kan. Ini bagi Mas sederhana?" Komentarku.
"Sederhana, Sayang. Kalau mewah kita gak akan adainnya di rumah, tapi di villa, atau di ballroom hotel."
Seketika aku tercengang mendengarnya.
Kemudian menjelang sore, semua keluarga sudah berkumpul. Pembawa acara yang sudah disiapkan oleh EO mulai membuka acara. Tahapan demi tahapan dari susunan acara dilakukan hingga tiba saatnya kami semua akan mengetahui jenis kel^min dari bayiku dan Mas Rey.
Sebuah kotak besar disiapkan di tengah beranda luar, tempat diadakannya acara gender reveal ini. Pembawa acara memintaku dan Mas Rey untuk berdiri diantara kotak itu.
"Okay, Mbak Danis dan Mas Rey dibuka kotaknya bareng-bareng ya. Semuanya, kita hitung bareng-bareng ya. Satu... Dua..." Ujar pembawa acara itu.
__ADS_1
Lalu semua orang mulai berhitung. Dan saat mereka berteriak angka tiga, aku dan Mas Rey membuka kotak itu. Seketika beberapa balon terbang hingga setinggi dua meter, sebelum akhirnya tertahan dengan pita-pita yang menempel pada balon-balon tersebut, dan ujung satunya menempel pada dasar kotak itu. Ratusan kertas kecil juga ikut beterbangan memberikan kesan meriah pada saat balon itu beterbangan.
Saat melihat warna dari balon, pita, dan potongan-potongan kertas kecil itu, hatiku seketika menghangat.
Semuanya berwarna baby pink, yang menandakan calon bayiku dan Mas Rey berjenis kel^min perempuan.
Orang-orang yang sudah mendukung bayi kami perempuan bersorak girang, sebaliknya, bagi mereka yang memilih laki-laki terlihat agak kecewa. Meskipun demikian semuanya terlihat bahagia.
Terutama Mas Rey.
Aku tahu, ia sangat ingin anak pertama kami perempuan. Ia mengatakan, ia ingin bayi yang mirip denganku.
Acara pun selesai. Rangkaian acara itu ditutup dengan makan malam bersama. Semua bersuka cita, bahagia sekali rasanya bisa berkumpul dengan semua saudara-saudara Mas Rey. Apalagi aku sudah semakin dekat dengan mereka.
Setelah lewat pukul 8 malam, kami memutuskan untuk pulang. Aku dan Mas Rey tiba sekitar satu jam kemudian di rumah kami. Setelah membersihkan diri, kami pun bersiap untuk tidur.
"Mas, senyum-senyum terus dari tadi." Tegurku saat baru saja keluar dari kamar mandi.
Mas Rey melihat ke arahku dan mengulurkan tangannya padaku, memintaku mendekat padanya. Akhirnya aku pun duduk di depannya, dengan bersandar padanya.
"Mas, bahagia banget, Sayang. Makasih banyak ya." Ucapnya penuh rasa syukur seraya mengusap perutku dari belakang.
"Kenapa makasih? Aku 'kan gak ngapa-ngapain, Mas."
"Kamu udah jadi perempuan yang sempurna bagi Mas. Kamu cinta sama Mas. Kamu juga mengandung anak Mas. Gimana Mas gak berterimakasih sama kamu, coba?"
Aku hanya bisa tersenyum mendengarnya. "Apa sih, Mas. Gak usah bilang makasih sama aku tapi makasih sama Dia yang Maha segalanya karena udah ngasih semua ini buat kita."
"Iya kamu bener." Ujarnya setuju. "Tuhan baik banget sama, Mas." Ia kini memelukku dengan eratnya.
Tetiba ponselku berbunyi. Mas Rey meraih ponselku yang tadi ku simpan di nakas.
"Bunda nelpon, Sayang."
"Ya udah angkat aja sama Mas."
Mas Rey pun mengusap layar ponselku ke arah atas. "Halo, Bun?" Kini Mas Rey sudah semakin terbiasa memanggil ibuku dengan sebutan 'bunda', tidak lagi 'mbak'.
Ku perhatikan wajah Mas Rey yang berbicara dengan ibuku. Seketika wajahnya berubah tegang.
"Ya udah, aku sama Danis kesana sekarang."
Lalu ditutupnya telepon itu.
"Kenapa Mas?" Tanyaku penasaran karena Mas Rey masih menunjukkan wajah yang tegang.
__ADS_1
"Manda di rumah sakit, kayaknya udah mau melahirkan. Dan dia minta ketemu sama kita."