Om Rey Tersayang

Om Rey Tersayang
Bab 49: Rasa yang Aneh


__ADS_3

Amanda's Point of View


Vito masuk ke dalam kamar, ia melihat Amanda sedang berada di tempat tidurnya duduk bersandar pada headboard sambil memainkan ponsel. Matanya menyapu ke seluruh ruangan itu. Berantakan sekali.


"Tante, ini kamarnya kok mirip kapal pecah gini sih? Beresin kenapa?!"


"Kamu dateng-dateng komentar aja kerjanya." Dumel Amanda kesal. "Mana es krim rasa delimanya."


Vito memberikan sekeresek berisi eskrim itu kepada Amanda. "Tante tahu gak sih nyari es krim rasa delima itu susah. Masih pagi gini pengen eskrim, rasa delima lagi. Ngidamnya aneh-aneh aja."


"Mana Tante tahu. Ini 'kan anak kamu yang minta. Kamu tahu 'kan tante sampai morning sick parah. Makanya Tante suka pengen yang seger-seger. Gara-gara anak kamu juga tante jadi gak bisa main keluar. Kerja aja jadi WFH. Ngeselin banget sih ini anak." Gerutu Amanda seraya membuka tutup es krim dan mulai memakannya.


"Jangan nyalahin anak. Dia gak salah apa-apa." Tegur Vito.


Amanda tak menjawab dan malah asyik menyuapkan sendok demi sendok es krim itu ke dalam mulutnya.


"Kapan sih jadinya Tante mau ngebongkar kehamilan Tante ke mereka? Tante hamil udah dua bulan lebih loh. Ntar keburu gede orang-orang curiga lagi kalau ini bukan anaknya suami Tante." Tanya Vito seraya membereskan kamar Amanda yang berantakan.


"Ntar siang atau sore. Lihat aja Tante moodnya jam berapa." Sahutnya.


Vito menoleh sekilas saat tangannya meraih pakaian kotor yang tergeletak di lantai. "Sore ini?"


Amanda mengangguk. "Hasil foto USGnya udah berhasil tante edit tanggalnya berkat bantuan temen Tante. Mereka akan tahunya sekarang kehamilan tante baru empat minggu." Amanda terkekeh. "Ya ampun, tante gak sabar pengen lihat mukanya Rey sama Danis."


"Kasihan banget Danis punya Tante kayak gini." Gumam Vito.


"Hey, kamu juga bakal kena untungnya. Danis bakal bisa kamu rebut dari Rey." Amanda mengingatkan.


"Gak tahu deh. Danis itu gak gampang ditaklukin."


Vito tak yakin apa ia bisa menaklukan hati seorang Danisa yang sudah tertancap kuat pada suaminya itu. Apalagi setelah resepsi pernikahan itu, Danisa terlihat semakin lengket dengan suaminya. Bahkan mereka sudah tak malu saling menggandeng tangan dengan mesranya saat Rey mengantar Danisa. Membuat Vito sama sekali tak pernah bisa mendekati Danisa lagi.


Belum lagi ia merasa sangat bersalah karena sudah menjadi tangan kanan Amanda. Namun di satu sisi, egonya juga masih sangat menginginkan Danisa. Maka dari itu ia tetap membantu Amanda melancarkan aksinya.


"Kamu gitu aja udah nyerah. Sini ya, Tante kasih tahu. Danis akan dalam kondisi yang terpuruk, dia bakal patah hati karena Rey. Saat itulah waktu yang tepat kamu deketin Danis, saat dia ada di titik terbawah. Di jamin perlahan dia bakal buka hatinya buat kamu."


Vito berpikir sejenak. Hal itu terdengar masuk akal. Mungkin benar apa kata Amanda, ini adalah kesempatan untuknya juga untuk mendapatkan gadis pujaan hatinya itu.


Saat akan membereskan meja rias, Vito melihat terdapat mangkuk bekas mie kuah yang baru saja Amanda makan. "Tante makan mie instan?" Tanyanya jengkel.


"Iya, barusan. Seger banget loh, pakai cabe rawit juga."


Seketika kedua alis Vito bertemu. "Tante itu lagi hamil! Malah makan makanan gak sehat kayak gini! Makan pedes lagi?! Tante itu harusnya makan makanan yang bergizi!" Vito begitu jengah karena Amanda sama sekali tidak pernah menjaga kondisi kehamilannya.

__ADS_1


"Abis Tante makan apa? Orang di kulkas gak ada apa-apa. Cuma ada mie."


"Tante 'kan bisa pesen online. Atau Tante bisa kasih tahu aku! Aku bisa bawain buat Tante." Kesalnya.


Hati Amanda bereaksi aneh. Ia merasa ada gelenyar hangat menjalar di hatinya. Beberapa minggu terakhir, Vito berubah menjadi begitu perhatian padanya. Beberapa kali juga Vito menginap dan menemaninya yang sering merasa tak nyaman karena rasa mual yang ia rasakan. Membaluri perut Amanda dengan minyak angin, memegangi rambut Amanda jika ia sedang munt^h, memeluknya saat Amanda ingin bermanja-manja.


Ia baru sadar interaksinya dengan Vito berubah dari hubungan timbal balik, menjadi hubungan yang...manis.


Karena kondisinya juga, ia jarang keluar untuk menemui laki-laki seperti sebelumnya. Kini selalu Vito 'partn^r' untuknya menuntaskan saat ia ingin melakukannya. Tanpa Amanda sadari kini kehadiran Vito sudah membuat Amanda menjadi sangat nyaman.


"Apa sih, kamu lebay banget! Terserah Tante makan apa, apa hubungannya sama kamu?!" Teriaknya menghempaskan perasaan aneh itu.


"Aku gak peduli sama Tante. Tapi janin di perut Tante itu tetep anak aku!"


Amanda meletakkan es krim itu di nakas tempat tidur dan menghampiri Vito. Ia mengalungkan kedua tangannya di leher Vito. "Kamu jangan kayak gini, Sayang. Nanti kita sendiri yang susah."


Vito mengerutkan dahinya tak mengerti. "Maksudnya gimana?"


"Kamu gak perlu terlalu mikirin kehamilan Tante. Udah Tante bilang 'kan, dia bukan anak kamu. Dia anaknya Rey."


Vito terdiam sejenak. Ada rasa tak nyaman mendengar kata-kata Amanda yang menyebutkan bahwa itu adalah bukanlah anaknya.


"Sekarang Tante pengen kamu nemenin Tante." Amanda mulai menelusupkan tangannya ke dalam kemeja yang Vito kenakan. Namun Vito menahannya.


Amanda melepaskan tangan Vito yang memegangnya. "Sebentar aja." Amandapun mulai mendekatkan bibirnya pada bibir Vito dan kembali mencumbu ayah dari bayinya itu.


***


Danisa's Point of View


"Nis, dimakan dong. Masa cuma dimainin doang makanannya." Tegur Fina.


Aku menghela nafas panjang. Sungguh tak berselera untuk makan.


"Nis, gue tahu lo lagi gak mood. Tapi lo tadi pagi gak makan. Sekarang juga gak makan. Entar lo tepar gue juga yang kena." Gerutu Fina.


Ku tatap wajahnya dengan kecut. "Iya, gue makan." Akhirnya walaupun tidak berselera aku makan juga makanan di hadapanku. Benar apa kata Fina, aku tidak boleh sampai merepotkannya. Beberapa hari ini aku berencana untuk tinggal di tempat kostnya. Itu saja sudah akan sangat merepotkannya. Bagaimana jika aku jatuh sakit.


"Hey."


Sebuah suara dari seseorang terdengar. Orang itu duduk di sampingku. Tapi aku sama sekali tidak peduli dengan siapa orang yang datang itu dan terus melanjutkan makananku.


"Jarang banget perasaan gue lihat lo sekarang, Vit." Sahut Fina.

__ADS_1


Ternyata Vito yang datang. Benar juga, entah kapan terakhir aku melihatnya. Bila diingat-ingat terakhir aku melihatnya adalah saat hari pernikahanku.


"Kenapa, lo kangen sama gue, Fin?" Candanya.


"Kangen? Yang bener aja. Gue malah ngerasa tentram banget gak ada yang ngerecokin si Danis. Lo baru keluar dari persembunyian lo ya? Udah sembuh patah hati lo?" Seloroh Fina.


Vito terdiam sejenak. "Masih sedihlah. Apalagi sekarang cewek yang gue suka udah nikah sama cowok lain." Walaupun aku tidak melihatnya, tapi aku bisa merasakan Vito sedang menatapku.


"Berarti itu tandanya lo harus move on dari si Danis." Saran Fina. "Cari cewek lain yang masih jomblo sana, jangan sampe lo gangguin Danis sama suaminya. Ngerti lo?"


Kata-kata Fina benar-benar mewakili apa yang ingin aku sampaikan. Baguslah, aku jadi tidak perlu memperingatkan Vito dengan kata-kataku sendiri.


"Gue gak perlu move on dari Danis cuma gara-gara dia udah nikah."


Sontak aku melihat ke arahnya. Ia tersenyum manis padaku. "Maksud lo? Lo mau ganggu hubungan gue sama Mas Rey?" Tanyaku ketus.


"Gue gak ada maksud apa-apa, Nis. Gue bakal jadi tempat lo bersandar di saat lo butuh seseorang. Lo kayaknya lagi ada masalah sekarang? Kenapa, Nis? Lo bisa cerita sama gue." Ujar Vito.


"Tahu dari mana lo gue lagi ada masalah? Gak usah sok tahu deh." Jawabku memperingatkan.


"Ada yang cari kesempatan dalam kesempitan nih." Sindir Fina.


Vito menghela nafasnya menahan kesal. "Kalian kenapa sih negative thinking mulu sama gue. Gue ini tulus sayang sama lo, Nis. Gue bisa lihat dari wajah lo kalau lo lagi ada masalah. Wajar kalau gue pengen ada di samping lo kalau lo lagi kayak gini."


Entahlah walaupun kata-kata Vito terdengar manis, tapi aku sama sekali tak tersentuh. Malah aku merasa sangat risih padanya.


Tiba-tiba ponselku berdering. Ibu mertuaku menelepon. Ada apa ya? Apa kabar tentang perselingkuhan Mas Rey dan Tante Manda sudah diketahui oleh beliau?


"Ha-halo, Bu."


"Danis, kamu lagi di kampus?" Tanya ibu mertuaku ramah.


"Iya, Bu. Danis baru selesai kelas. Sekarang lagi makan. Ada apa ya, Bu?" Tanyaku.


"Kamu ke rumah ibu ya sekarang. Ibu kirim supir buat jemput kamu." Lalu beliau menutup teleponnya.


Perasaanku seketika tidak enak. Entah mengapa. Hingga mobil yang dikirim oleh ibu mertuaku pun datang.


Beberapa saat kemudian aku sampai dan langsung saja memasuki rumah besar itu.


"Mbak Danisa, Ibu sudah menunggu di teras belakang." Seorang pelayan menghampiriku saat aku melintasi ruang tamu menuju ruang keluarga. Mendapat info bahwa ibu mertuaku ada di teras belakang akupun berjalan ke arah beranda luar.


Langkahku terhenti tatkala mataku menangkap sesosok perempuan berambut coklat duduk tertunduk dengan wajah sedih di sebelah ibu mertuaku.

__ADS_1


"Tante Manda..." Lirihku.


__ADS_2