Om Rey Tersayang

Om Rey Tersayang
Bab 47: Suamiku Selingkuh


__ADS_3

Mas Rey hanya bisa terdiam. Wajahnya begitu syok.


"Ini foto kapan?" Tanyaku dengan suara yang bergetar.


"Ini gak seperti yang kamu pikirin, Sayang." Akhirnya ia bersuara. Wajahnya pucat sekali.


"AKU TANYA INI FOTO KAPAN??" Teriakku lagi. "Apa ini foto waktu kalian masih menikah?" Pikiranku masih mencoba untuk berpikir positif.


Tidak mungkin 'kan Mas Rey yang selama ini selalu mencintai aku, tiba-tiba mengkhianatiku?


"Bukan." Lirihnya.


Apa? Jadi kapan foto itu diambil? Kapan Mas Rey melakukannya itu dengan Tante Manda?


"Waktu sebelum kita nikah?" Tanyaku lagi dengan nada mengintimidasi.


Mas Rey menggeleng dengan lemah. "Itu..."


"Jadi Mas pernah ketemu sama Tante Manda di belakang aku, saat aku udah jadi istri Mas?!"


Mas Rey terdiam.


Rasa sakitnya menjalar ke seluruh tubuhku. Sakit sekali.


Aku bangkit dari dudukku dan berjalan menjauh dari Mas Rey. Rasanya tak ingin berada di dekatnya setelah mengetahui kenyataan ini.


"Kamu salah paham, Sayang. Mas..."


"Aku tanya," potongku, "Mas ketemu sama Tante Manda dan ngelakuin ini saat Mas udah jadi suami aku?!"


Wajah Mas terlihat terluka, tapi aku terlalu marah untuk iba kepadanya. Tiba-tiba saja aku tak mempercayainya. Dengan bukti sevalid ini bagaimana aku masih bisa mempercayainya?


"Iya, Mas ketemu sama dia, tapi kamu dengerin dulu penjelasan Mas. Waktu kita bulan madu, Mas sempet menghilang itu..."


"UDAH CUKUP!" Potongku. "Aku gak mau denger. Foto itu udah jawab semuanya." Air mataku bahkan menggenang di pelupuk mataku.


"Danisa, dengerin dulu." Diraihnya tanganku, namun tanpa menunggu aku menghempaskannya.


"Mas tega banget." Daguku bergetar mencoba menahan tangis. "Mas bohong waktu itu. Mas tahu gak gimana ketakutannya aku waktu itu. Aku di negara asing, sendirian, Mas gak ada. Dan ternyata..." Bahkan kata-kataku terjeda karena tangisku. "Ternyata Mas ketemuan sama Tante Manda? Jadi Mas bohong waktu Mas bilang kalau Mas nemenin temen Mas yang sakit itu?! Jadi Mas itu abis nostalgia sama mantan istri Mas?! Aku lagi ketakutan Mas malah ngelakuin hal kayak gitu?! Aku gak percaya Mas bisa sejahat itu sama aku! Mas tahu rasanya diselingkuhin itu kayak gimana. Tapi kenapa Mas ngelakuin itu sama aku? Tega banget Mas sama aku!" Raungku.


"Bukan gitu, Sayang. Mas gak ngelakuin itu! Mas dijebak sama Manda!" Wajahnya kacau sekali.


Tapi aku sudah tak bisa mempercayainya.

__ADS_1


"Mas kira aku akan percaya?!" Tanyaku dengan butiran bening yang mulai membanjir di pipiku. "Kenapa Mas malah bohong kalau gitu? Kenapa Mas gak jujur aja sama aku kalau emang Mas dijebak sama dia?!"


"Mas..."


"Udah, aku gak mau denger." Potongku. "Aku benci sama Mas!"


Aku pun berlari ke lantai dua, menuju kamar tamu yang dulu aku tempati saat pertama tinggal di rumah ini. Sampai di sana segera aku kunci pintu dan menangis sejadinya.


Tega sekali, Mas Rey.


Aku tak percaya Mas Rey melakukan ini padaku di saat kami baru saja satu bulan menikah. Aku tak mengerti kenapa ia harus menemui Tante Manda. Bukankah ia sudah mengatakan bahwa cintanya terhadap Tante Manda sudah sepenuhnya hilang dan berganti dengan rasanya terhadapku?


Apa aku salah mengartikan semuanya? Apa aku terlalu naif mempercayai rasa dari laki-laki yang kini aku sebut sebagai suami itu?


Jika benar, maka aku sudah melakukan hal yang sangat bodoh. Aku sudah mengorbankan masa mudaku untuk menikahi laki-laki yang 12 tahun lebih tua dariku. Baru juga genap satu bulan, hal mengerikan ini sudah terjadi.


Aku merutuki diriku sendiri. Apa aku salah menikahi suami Tanteku sendiri? Apakah ini hukuman untukku?


"Danisa, Sayang, Mas mohon dengerin penjelasan Mas!"


Suara ketukan pintu dan juga suaranya yang terus memohon untuk dibukakan terus terdengar. Sama sekali tak berniat aku untuk membukanya. Aku terlanjur hancur, hatiku diliputi rasa cemburuku.


Ternyata seperti ini rasanya dikhianati. Diselingkuhi.


Sekarang aku harus apa? Harus bagaimana? Rasanya aku tak ingin bertemu dengan Mas Rey lagi. Aku tak ingin melihat wajahnya.


Aku memutuskan untuk segera membersihkan diri dan berangkat ke kampus sepagi mungkin. Aku akan pergi sebelum Mas Rey terbangun.


Aku teringat pada Fina. Akupun meneleponnya, walaupun aku tidak yakin ia sudah bangun di jam segini.


"Fin." Tak lama ternyata Fina mengangkat teleponku.


"Kenapa, Nis. Ini baru jam empat pagi." Sahutnya dengan suara serak.


"Sorry gue ganggu. Tapi bisa gak lo jemput gue? Gue numpang di kost lo sementara waktu." Ucapku terisak.


"Kenapa lo? Berantem sama Mas Suami?"


"Iya, Fin. Dia selingkuh." Tangisku pecah.


"Hah?! Serius lo?" Suara Fina terdengar terkejut.


"Makanya lo tolongin gue ya. Jemput gue sekarang. Gue pengen pergi dari dia senggaknya buat sekarang. Gue gak mau ketemu sama dia."

__ADS_1


"Ya udah gue jemput lo sekarang."


Lalu Fina menutup teleponnya. Segera aku keluar dari kamar dan berniat menuju kamar dan membawa beberapa baju dan juga tas kuliah beserta laptopku. Aku akan tinggal di kost Fina sampai pikiranku tenang dan memikirkan langkah selanjutnya yang akan aku ambil.


Saat aku membuka pintu, ternyata Mas Rey ada di depan pintu itu. Ia duduk dan bersandar ke pintu. Dan saat aku membuka pintu, tubuh Mas Rey sontak terjengkang ke belakang. Ia menumpu tubuhnya pada sikutnya dan menatap ke arahku. Matanya merah, lingkaran hitam ada di sekeliling matanya.


Apa dia semalaman berada di depan kamar ini?


"Dan..." Lirihnya seraya bangkit berdiri.


"Ngapain di sini?" Tanyaku ketus.


"Sayang, dengerin Mas dulu. Mas beneran dijebak sama Manda. Maaf Mas gak cerita sama kamu. Karena Mas gak tahu harus gimana bilangnya. Mas takut kamu salah paham dan kita malah berantem. Makanya..."


"Terus Mas lebih milih aku tahu semua itu dari Tante Manda langsung? Aku gak tahu ya, Mas itu bohong atau enggak. Yang jelas aku udah gak percaya lagi sama Mas! Mas udah bohong sama aku, sekarang jangan salahin kalau aku jadi gak percaya sama apa yang Mas ucapin."


Aku berjalan melewatinya dan terus menuruni tangga. Mas Rey terus saja mencoba menjelaskan semuanya. Tapi hatiku terlanjur ku tutup. Tak ingin mendengar apapun darinya.


Aku memasuki kamar dan membawa barang-barangku ke dalam tas gendongku.


"Sayang, kamu mau kemana?" Tanyanya resah saat aku memasukan beberapa pakaian.


"Mas gak usah tahu." Ujarku seraya menarik resleting tasku saat beberapa pakaian sudah berada di dalamnya.


"Danisa, Mas mohon! Percaya sama Mas, Mas gak ngelakuin itu sama Manda!!" Teriaknya kini. Ia terlihat frustasi. Tapi aku terlalu buntu untuk mempercayainya. Mengingat foto itu saja terasa sangat menyakitkan hingga perlahan tercipta jurang diantara aku dan Mas Rey.


Terdengar suara klakson motor Fina. Akupun segera keluar.


Di teras rumah aku melihat Fina sudah bersama motor crossnya. Segera aku menghampirinya namun Mas Rey menahanku.


"Danisa, Mas gak mengizinkan kamu pergi." Tangannya mencengkram tanganku dengan keras.


"Lepasin! Aku gak mau punya suami tukang selingkuh!"


"Mas gak selingkuh, Dan! Katanya kamu percaya sama Mas! Kamu percaya kalau Mas cinta sama kamu. Cuma sama kamu!" Tangannya masih mencengkramku.


Tanpa sadar aku membalikkan tubuhku dan seketika membawa tubuhnya ke pundakku dan membantingnya dengan jurus karateku. Seketika tubuh Mas Rey sudah terkapar di lantai dan mengerang kesakitan.


Sontak aku merasa bersalah, namun aku mengurungkan niatku untuk menolongnya. Hatiku yang sakit mengatakan dia pantas mendapatkannya.


Seorang laki-laki yang tak bisa menjaga diri dan hatinya layak dibanting seperti itu!


Segera aku menghampiri Fina.

__ADS_1


"Lo gila udah ngebanting suami lo sendiri kayak gitu, Nis?!"


Aku tak menyahutinya dan memakai helm itu. "Ayo cepet bawa gue pergi dari sini, Fin."


__ADS_2