Om Rey Tersayang

Om Rey Tersayang
Bab 76: Kata Terakhir


__ADS_3

"Mas, Tante Manda beneran gak apa-apa?" Tanyaku entah yang keberapa kali.


"Gak apa-apa, Sayang." Jawab Mas Rey juga untuk yang entah keberapa kali. "Udah, sekarang kamu tidur dulu. Nanti Mas bangunin pas kita udah nyampe ya."


Aku pun mengangguk patuh. Karena sudah mengantuk juga akhirnya aku memutuskan untuk tidur depan posisi tempat duduk yang sandarannya sudah dibuat rendah ke belakang sehingga aku ataupun Mas Rey yang duduk di sebelahku bisa tertidur dengan cukup nyaman selama kami dalam perjalanan. Sedangkan mobil premium ini dikendarai oleh salah satu supir Keluarga Kusuma.


Setelah beberapa jam tertidur, akhirnya Mas Rey membangunkanku. Rupanya kami sudah sampai di parkiran sebuah rumah sakit. Kami masuk dan mencari keberadaan Tante Manda. Setelah menelpon ibuku, kami pun mengetahui bahwa kini Tante Manda ada di sebuah ruang rawat inap.


"Bun," Ku hampiri ibuku yang duduk di kursi tunggu bersama Kakek dan nenek sambungku. Wajah mereka terlihat lesu.


"Nis, maaf ya Bunda minta kamu sama Rey dateng malem-malem gini. Tapi..." Ibuku tiba-tiba terisak. "Manda ingin ketemu kalian."


"Emang Tante Manda kenapa sih, Bun?" Tanyaku cemas melihat reaksi ibuku.


Ibuku menggeleng. "Bunda juga gak tahu, tapi entah kenapa Bunda gak enak hati. Manda tiba-tiba bereaksi lagi, dia ngobrol dengan normal setelah berbulan-bulan dia gak mau ngomong. Dia minta maaf sama Bunda, sama Kakek dan Nenek kamu, bahkan sama Vito."


"Kapan Manda mulai menunjukkan reaksinya lagi, Bun?" Tanya Mas Rey.


"Tadi pagi, Rey. Setelah itu dia kayak..." Ucap ibuku terjeda. "Kayak dia lagi pamit sama semua orang."


Sontak mataku memanas, dan air menggenang di mataku.


"Dan tadi saat udah mau tidur, Vito tiba-tiba manggil Bunda, bilang kalau Manda harus dibawa ke rumah sakit karena tiba-tiba dia ngerasa mulas, dan gak sadarkan diri. Padahal ini belum waktunya Manda melahirkan."


"Bun, mungkin itu cuma perasaan Bunda aja. Manda pasti baik-baik aja." Hibur Mas Rey.


"Semoga aja, Rey."


Tepat saat itu Vito keluar dari ruangan. Ia menatapku dan Mas Rey bergantian.


"Vit, gimana Tante Manda?" Tanyaku cemas.


Ia tersenyum lirih. "Dia pengen ketemu lo, Nis." Lalu ia menatap Mas Rey. "Dan juga Om. Bisa kalian ketemu sama Manda?"


Sontak aku dan Mas Rey saling menatap.


"Kamu yakin? Terakhir, kamu tahu Manda langsung histeris saat melihat saya dan Danisa."


Vito terlihat pucat. Ia mengangguk lemah. "Gak apa-apa. Dia pengen ketemu sebelum dia melahirkan."


"Vit, sebenernya ada apa? Kenapa lo kayak gini? Tante Manda kenapa?"


Vito tidak menggubrisku. "Pak, Mbak, aku mau ketemu dokter dulu." Pamitnya. Kemudian iapun pergi.


"Rey, Danis, segera temui Manda." Ucap Kakekku.


Tanpa banyak bertanya lagi, akhirnya aku dan Mas Rey masuk ke ruangan itu. Perlahan pintu kubuka, dan kami melihat Tante Manda terbaring di sebuah brangkar. Ia tersenyum tipis saat melihatku.


Aku seperti bertemu dengan orang lain.


Tante Manda yang dulu selalu tampil cantik dan fashionable, sekarang terlihat begitu kurus. Berbeda denganku yang justru mengalami kenaikan berat badan karena kondisi hamilku, Tante Manda justru terlihat lebih kurus.

__ADS_1


"Nis..." Panggilnya.


Bahkan suaranya yang lemah, begitu membuatku bertanya-tanya, apakah ini benar-benar Tante Manda?


Aku pun menghampiri Tante Manda dengan Mas Rey mengekor di belakangku.


Ia mengulurkan tangannya, dan dengan sedikit ragu, ku raih tangannya yang putih dan kurus itu.


"Tante..." Seketika suaraku bergetar dan mataku melelehkan beberapa butiran bening. Sungguh aku tak tega melihat kondisinya ini.


"Apa kabar, Nis..." Tanyanya dengan suara yang pelan sekali.


Aku mengangguk seraya menahan isakku. "Baik, Tante. Tante sendiri...gimana? Kenapa Tante kurus banget..."


Tante Manda tersenyum lirih. "Tante...gak bisa jaga diri, Nis. Tante gak bisa jaga kandungan Tante..."


"Tante pasti sehat lagi. Tante harus banyak makan, ya."


Ia terdiam tak menyahutiku, ia malah menatapku dengan sedih. "Maafin Tante...Nis."


Air mataku semakin deras mengalir mendengar kata maaf dari Tante Manda. Aku mengerti dengan apa yang dikatakan ibuku tadi, tingkah Tante Manda memang menjadi sangat aneh. Dan ini membuatku sangat khawatir.


"Tante, aku udah lama maafin Tante. Justru aku yang pengen minta maaf sama Tante. Aku..." Aku pun terisak kencang. "Aku udah ambil Mas Rey dari Tante. Maafin aku... Tante pantas kok marah sama aku... Maafin...aku..." Tangisku semakin pecah.


"Kamu... gak rebut Rey dari Tante. Justru kamu menjadi obat bagi Rey, disaat Tante... selalu ngasih Rey luka. Tante berterimakasih karena berkat kamu... Rey jadi bisa senyum dan bahagia lagi. Satu hal... yang gak pernah Tante kasih lagi buat Rey selama sisa pernikahan kami."


Aku tak menjawab lagi, isakku menghentikan ucapku.


"Boleh...Tante peluk kamu?" Pintanya.


Sungguh aku tidak ingin Tante Manda seperti ini.


"Makasih, Nis..." Tante Manda melonggarkan pelukannya, "Boleh Tante ngomong sama Rey?"


Aku mengangguk lagi.


Mas Rey pun duduk di posisiku, di sebelah Tante Manda dan aku berdiri di belakang Mas Rey.


Setetes air melintas di pipinya dan terjatuh ke dadanya. "Rey..."


Mas Rey menggenggam tangan Tante Manda. "Iya, Man."


"Kenapa aku...gak bisa menyadari lebih cepat, kalau kamu itu berarti sekali buat aku."


Mas Rey hanya bisa terdiam seraya menggenggam tangan Tante Manda. Ibu jari Mas Rey mengusap basah di pipi Tante Manda.


"Maafin aku... Rey... Seandainya ada kata lebih dari maaf yang bisa aku ungkapkan untuk kamu... agar kamu tahu kalau aku... benar-benar menyesal udah selalu jahat pada kamu..." Ucapnya lirih.


"Semuanya udah berakhir, Man. Aku udah maafin kamu sejak lama. Tapi kalau kamu mau aku maafin kamu sekarang, kamu harus kembali sehat. Lahirkan anak kamu, dan berbahagia sama suami kamu, sama anak kamu."


"Suami aku..." Gumamnya lemah. "Vito... Dia anak yang baik, Rey... Dia suami yang baik..."

__ADS_1


"Iya, aku tahu. Dia akan jadi seorang dokter yang baik juga suatu hari nanti. Kamu harus jaga hati kamu hanya untuk dia mulai sekarang."


Tante Manda mengangguk lemah. "Aku ingin titip dia... Rey... Kalau dia salah, tolong...kamu kasih tahu... Perlakukan dia seperti adik...kamu... Jangan biarkan...dia salah langkah lagi... Sampai... dia bertemu dengan...perempuan seperti...aku lagi..."


Mas Rey menggeleng. "Kamu gak harus menitipkan Vito kayak gini, Man. Kamu sendiri yang akan selalu berada di sisinya."


"Aku kayaknya...gak bisa..."


"Kamu ngomong apa, Man?" Kini suara Mas Rey pun bergetar. "Kamu akan melahirkan, merawat anak kamu, menjadi istri dari Vito, dan kamu gak akan mengkhianatinya. Ingat itu, Man. Kalau enggak, aku gak akan pernah maafin kamu."


"Aku..."


Tiba-tiba saja ucapan Tante terjeda. Ia kehilangan kesadarannya. "Man.." Mas Rey meraup kedua pipi Tante Manda. "Manda!!"


"Tante!!" Panggilku panik.


Tiba-tiba Vito, ibu, Kakek dan nenek sambungku masuk.


Segera Vito mengambil alih posisi Mas Rey yang berada paling dekat dengan Tante Manda. "MANDA! Kamu denger aku?" Dengan keadaan yang masih panik ia memeriksa kondisi Tante Manda.


Seorang berjas putih dan beberapa orang perawat datang dengan membawa sebuah brangkar dorong. "Gimana, Vit?"


"Dia masih bernafas, Prof. Tapi denyutnya lemah. Kita harus bawa dia ke ruang operasi!" Vito sontak membopong tubuh Tante Manda ke brangkar dorong itu.


Merekapun segera membawa Tante Manda ke ruang operasi. Kami semua mengikutinya hingga depan ruang operasi. Saat pintu tertutup, kami hanya bisa menunggu. Begitu juga Vito yang terlihat begitu panik dan frustasi.


"Berdoalah yang terbaik." Ujar Dokter itu sebelum bergegas menangani Tante Manda.


Namun Vito seakan sudah kehilangan harapannya, ia menangis sejadinya.


"Vit, sebenernya Tante Manda kenapa?" Tanyaku tak sabar. Aku sungguh tak mengerti kenapa Tante Manda seperti itu, ditambah Vito sampai bereaksi seperti ini terhadap kondisi Tante Manda.


Setelah terisak beberapa saat ia menjelaskan. "Kondisi psikis Manda memperburuk keadaan fisiknya. Ditambah kebiasaan buruk Manda di awal kehamilan, membuat kehamilannya menjadi lemah. Dan sekarang... Kondisinya semakin parah... Seharusnya Manda belum waktunya melahirkan... Tapi..." Vito tak menjelaskan lagi, ia terlihat begitu kacau.


"Kamu harus kuat, Vito." Ujar kakekku mencoba menguatkan walaupun suaranya juga semakin bergetar. "Manda masih punya harapan 'kan?"


Vito hanya bisa menangis. Ia begitu ketakutan. Hingga tanpa sadar aku merangkulnya, berharap bisa menguatkannya.


Beberapa waktu kemudian, dokter itu keluar dari ruang operasi. Sontak Vito segera menghampirinya.


"Gimana istri aku dan anak aku, Prof?"


"Anak kamu sudah lahir. Dia sehat."


Sontak aku bersih tatap dengan Mas Rey, kami ikut bahagia karena berarti sepupuku telah lahir. Ibuku, Kakek dan nenekku juga terus mengucap syukur.


Namun Vito, juga dokter itu, masih saling menatap tegang. "Terus...Manda?"


Dokter itu menelan salivanya. "Seperti yang tadi sudah saya jelaskan..."


Vito sontak masuk ke ruang operasi. Dan dokter itu membiarkannya.

__ADS_1


"Ap-apa...maksudnya, Dok?" Tanyaku ingin jawaban yang jelas.


Dokter itupun menatap kami penuh sesal. "Nyonya Amanda, sudah meninggal saat tiba di ruang operasi."


__ADS_2