Om Rey Tersayang

Om Rey Tersayang
Bab 63: Terkuak


__ADS_3

Rey's Point of View


"Kamu ngapain ke sini juga?" Tanya Rey pada Vito, saat Fina sudah memasuki rumah menemui sang istri.


"Saya temennya Danisa, saya mau main aja ketemu temen saya. Emang gak boleh?" Jawabnya dengan angkuh.


Rey semakin kesal. Tentu ia kesal. Ia sangat tahu seperti apa perasaaan Vito terhadap Danisa. Ia tak tahu jika Fina akan datang bersama Vito. Jika begitu, ia tidak akan membiarkan Fina yang menemani Danisa saat ia harus ke bertemu dengan Amanda.


Ia tahan semua emosinya. "Boleh. Tapi saya harap kamu jaga sikap kamu. Dia istri saya." Ujar Rey mengingatkan.


Vito mendegus mendengarnya. "Iya, tahu kok. Gak usah dikasih tahu juga saya tahu, Danis itu istri Om. Takut banget, sih." Ejeknya. "Sekarang Om gak perlu khawatirin Danis, ada saya dan Fina yang akan nemenin dia. Om pergi aja ketemu istri kedua Om."


Vito mulai berjalan masuk menuju rumah.


Setelah itu Rey pun masuk ke dalam mobil dan mulai melajukan mobilnya menuju penthouse milik Amanda. Walaupun masih kesal karena harus membiarkan Vito berada di rumahnya, tapi ia mencoba mengabaikannya.


Beberapa saat kemudian ia tiba di penthouse itu.


Sebelum masuk lebih dalam ia terdiam dan menatap ke sebuah lukisan di samping kanan pintu utama. Ia menatap ke sebuah titik hitam di lukisan itu. Di sana terdapat sebuah kamera pengintai yang ia pasang sebelum Amanda pindah ke penthouse ini. Kamera itu mengarah ke ruang tengah. Jadi dari pintu masuk hingga seluruh ruangan luas di tengah-tengah penthouse itu, bisa terlihat jelas melalui kamera itu.


Sejak awal Amanda tinggal di sini, Rey selalu mengamati gerak-gerik Amanda melalui kamera itu. Sayangnya sejak awal tidak ada hal mencurigakan. Amanda lebih sering berada di apartemen pribadinya. Ia akan berada di penthouse ini, jika sudah tiba waktunya ia bertemu dengan Rey.


"Sayang, kamu udah dateng?" Tanya Amanda seraya melingkarkan tangannya ke leher Rey, namun segera ditangkis olehnya.


Amanda tak menyerah. "Kamu udah makan belum?" Tanya Amanda dengan nada yang dibuat manja. "Kalau belum kita makan di luar yuk. Aku juga belum makan, laper banget. Barusan aku pulang dari kantor belum sempet ngapa-ngapain."


"Ya udah." Sahut Rey. "Kita makan di luar seudah kita dari Dokter."


Wajah Amanda memucat. "Dokter?"


"Iya. Tadi aku habis antar Danis periksa kandungan. Dia maksa aku buat bawa kamu juga. Jadi sekarang ayo berangkat." Ujar Rey seraya membalikkan badannya.


"Enggak. Aku gak mau." Tolak Amanda, wajahnya yang sumringah berubah marah.


"Kenapa?" Tanya Rey dingin.


"Aku gak mau kamu bawa aku ke dokter cuma karena Danis yang minta."

__ADS_1


"Terus kamu maunya gimana?!" Rey mulai jengah.


"Aku bakal ke dokter sendiri. Kamu gak usah anter aku." Cicit Amanda, menghindari tatapannya dengan Rey.


Dahi Rey mengerut, bingung. Ia sudah berpikir bahwa Amanda akan berteriak dan kembali menjelek-jelekan Danisa. Namun kali ini ia langsung berkata akan memeriksakan kandungannya seorang diri. Menurut Rey itu sangat aneh.


"Udah kita makan aja, aku laper banget." Ujarnya kembali dengan nada manja seraya bergelayut di lengan Rey.


Rey menghempaskan tangannya. "Aku cape." Ia berjalan dan merebahkan diri di sofa. "Kalau kamu gak mau ke dokter, berarti ya udah gak usah keluar buat makan juga. Lagian aku udah makan."


"Tiap kamu dateng kesini, pasti tidur. Kamu kesini cuma buat tidur? Gak ada keinginan kamu buat nyenenin istrinya yang lagi hamil gitu?!" Ia mulai mengomel.


"Kalau kamu lapar, harusnya kamu belajar masak." Rey masih menutup matanya.


"Aku sibuk kerja ya, Rey! Kamu tahu itu!"


"Emang kerja jadi alesan kamu gak bisa masak? Danis masak setiap hari walaupun dia harus kuliah. Dia malah gak pernah ngizinin aku sering-sering makan di luar. Dia selalu masak buat aku."


"GAK USAH BANDING-BANDINGIN AKU SAMA DANIS!!" Raungnya.


Rey terdiam tak menggubrisnya. Ia masih menutup matanya. Beberapa saat ia merasa hening, Amanda tak meneriakinya lagi. Dan sayup-sayup terdengar Amanda yang kini tengah terisak.


"Aku biarin kamu lima hari sama Danis. Dua hari kamu ada di sini sama aku. Tapi di dua hari itu, kamu gak pernah manjain aku. Kamu gak pernah perhatiin aku." Isaknya. "Dulu kamu gak kayak gini, Rey. Dulu kamu sayang banget sama aku."


Rey menghela nafasnya kasar.


"Aku udah minta maaf sama kamu. Aku bilang aku udah berubah. Aku gak pernah main sama laki-laki lagi. Ditambah aku sekarang lagi hamil anak kamu." Amanda semakin terisak. "Tapi kenapa kamu gak pernah perhatian sama aku kayak kamu perhatian sama Danis?"


Amanda menangis sambil berdiri di posisinya. Tak pernah Rey melihat Amanda seperti itu. Rey sebenarnya tidak peduli, tapi ia khawatir juga karena kondisi Amanda kini agak berbeda, ia sedang hamil.


Seperti Danisa yang menjadi lebih sensistif, Rey juga merasa Amanda menjadi lebih sensitif perasaannya. Akhirnya ia bangkit dan menghampiri Amanda. Ia merangkul Amanda dan membawanya duduk di sofa.


"Aku pesenin kamu makan." Rey mulai membuka aplikasi ojek onlinenya dan memesan beberapa menu makanan. "Udah. Sebentar lagi makanannya dateng."


Amanda melingkarkan tangannya di leher Rey. "Lepas!" Segera Rey melepaskan Amanda dan duduk bergeser menjauh dari istri keduanya itu.


"Aku cuma pengen peluk kamu, Rey." Ucap Amanda masih dengan mata dan hidung yang memerah.

__ADS_1


"Kamu mungkin sekarang berstatus istri aku lagi, tapi jangan pernah berpikir kita akan seperti dulu. Perasaan aku buat kamu, udah lama mati, Man. Inget itu." Rey beranjak dari sofa dan masuk ke salah satu kamar dari empat kamar yang ada di penthouse itu. Yang jelas, itu bukan kamar Amanda. Itu adalah kamarnya yang selalu ia tempati selama ia dua hari bersama Amanda.


Iya. Walaupun kini Amanda adalah istrinya, tapi ia tak ingin lagi memberikan Amanda sedikitpun ruang untuk Amanda bisa menyentuhnya seperti dulu. Rey tak akan membiarkan itu terjadi.


Hatinya tak membiarkan itu.


Status istri Reyhan Panca Kusuma mungkin Amanda dapatkan kembali, tapi hatinya tak akan pernah bisa Amanda dapatkan lagi.


Ia mendengar pintu kamar diketuk. "Rey, makanannya udah dateng. Temenin aku makan."


Rey membaringkan diri tak menggubrisnya. Ia malah kembali menutup matanya dan tertidur.


Di tengah malam Rey terbangun. Ia berjalan ke luar kamar dan mengecek, apa yang sedang Amanda lakukan. Ia melihat Amanda tertidur di sofa ruang tengah.


Rey masuk ke kamar Amanda, mengambil selimut, dan menyelimuti Amanda yang terbaring di sofa. Kemudian ia kembali menuju kamarnya.


Seperti biasa, setelah memastikan Amanda tertidur, Ia akan mengecek kamera itu. Rekaman yang dilakukan Amanda sejak pagi tadi belum diceknya. Ia mulai membuka aplikasi CCTV dan memutarnya.


Rekaman itu menunjukkan beberapa jam sebelum Rey tiba di penthouse itu. Terlihat Amanda sedang berjalan menuju pintu dan membukanya, masuklah seorang laki-laki.


Pertunjukan yang Rey tunggu-tunggu akhirnya muncul.


"Udah gak pernah main sama laki-laki? Aku tahu kamu gak akan pernah berubah, Man." Gumamnya.


Awalnya Rey tak tahu siapa laki-laki itu, ia kira itu adalah laki-laki yang seperti biasa, Amanda temui secara acak. Namun hal yang dilakukan oleh laki-laki itu membuat Rey terperanjat.


Laki-laki itu berjongkok di depan Amanda yang duduk di sofa dan mengelus perut Amanda, juga mengecupnya.


Seketika Rey tahu, laki-laki itu adalah ayah dari bayi yang Amanda kandung. Laki-laki itu mengetahui kehamilan Amanda, ia juga terlihat perhatian pada Amanda. Sudah bisa dipastikan, itu adalah laki-laki yang membuat Amanda hamil.


Tak berapa lama rekaman memperlihatkan keduanya mulai kembali bercumbu mesra, semakin panas, dan semakin dalam. Rey mempercepat rekaman video itu sambil menutup sebagian layar ponselnya, tak ingin melihat adegan syur itu.


Rey tak merasa sakit hati saat melihatnya, tapi malah merasa jij!k. Seperti Amanda tak pernah ada di hatinya selama ini, ia tak peduli dengan apa yang Amanda lakukan.


Rey belum bisa mematikan videonya karena ia ingin mengetahui siapa laki-laki itu.


Hingga Rey menghentikan percepatan videonya. Saat laki-laki itu akan pergi, mereka sempat berciuman tepat di depan kamera, wajah laki-laki itu terlihat jelas.

__ADS_1


Seketika mata Rey membulat sempurna dan bergumam. "Vito...?"


__ADS_2