Om Rey Tersayang

Om Rey Tersayang
Bab 36: Nasihat Bunda


__ADS_3

Waktu istirahat makan siang pun habis. Kurapikan kembali mistingku dan bersiap pergi.


"Aku pulang ya, Om. Semangat kerjanya ya." Ujarku seraya menggenggam tangannya.


"Maaf ya, Om gak bisa lama-lama nemenin kamu." Ujarnya sedih.


Aku menggeleng. "Enggak, Om. Pokoknya Om cepet beresin kerjaan Om, biar nanti seudah nikah kita bisa honeymoon dengan tenang. Tapi pesen aku Om jangan sampai lupa makan kayak barusan. Awas loh kalau pas hari H Om malah sakit." Aku mewanti-wanti.


Senyum merekah di wajah tampannya. "Iya calon istriku sayang. Om janji gak akan sampai lupa makan lagi. Ya udah Om bakal kerjain semuanya sebelum hari pernikahan." Ia bangkit dari sofa, tangan kami masih tertaut. "Yuk, Om anter kamu ke bawah."


"Yuk."


Kami pun turun ke lantai dasar dan saat di meja resepsionis, wanita itu tertegun melihat tangan kami yang saling menggenggam.


Ku serahkan nametag tamu yang tadi diserahkannya padaku. "Makasih, Mbak."


"Oh, iya sama-sama." Ia masih sedikit tertegun.


"Nanti ke depannya kalau dia dateng mau nemuin saya, kamu langsung suruh masuk aja ya. Dia calon istri saya." Ujar Om Rey sambil lalu. Aku tersenyum puas dan melambai pada resepsionis yang masih terkaget-kaget itu.


Penampilan yang sedang Om Rey dan aku kenakan memang terlihat begitu jomplang. Aku terlihat cuek dan apa adanya, khas mahasiswa. Sedangkan Om Rey menggunakan setelan kantor walaupun tanpa jas dan dasi. Saat seperti ini orang-orang pasti berpikir kami adalah Om dan keponakan atau kakak dan adik.


Tak lama taksi online yang ku pesan datang.


"Om, aku pulang dulu ya. Sampai ketemu hari Sabtu." Ku kecup punggung tangan calon suamiku dan tersenyum manis padanya.


"Hati-hati, ya. Sampai ketemu hari Sabtu, Sayang." Dibelainya pipiku pelan. Kemudian ia membukakan pintu untukku dan aku pun masuk ke dalamnya.


Kulambaikan tanganku saat mobil mulai melaju. Ku pandang Om Rey yang memerhatikan mobil yang membawaku, sampai ia tak terlihat lagi saat mobil keluar dari area gedung.


Pertemuan singkat itu cukup membuat rasa rinduku terobati, walaupun sedikit.


Keesokan harinya aku berada di Bandung. Hari itu ada acara siraman dan pengajian. Acara berjalan dengan lancar sesuai dengan yang kami rencanakan.


Hingga malam hari aku beristirahat di kamar lamaku setelah hari yang melelahkan itu. Aku berpikir untuk mengabari Om Rey. Ku rebahkan diriku di tempat tidur dan meraih ponselku. Saat ku buka aplikasi perpesananku, pintu kamar diketuk.

__ADS_1


"Nis, Bunda masuk ya." Kemudian ibuku sudah berjalan menghampiriku.


Aku merubah posisiku menjadi duduk. "Kenapa, Bun?" Tanyaku.


Ibuku duduk di tepi tempat tidurku, menghadap ke arahku. "Kamu belum tidur?"


"Belum, Bun. Bentar lagi. Danis mau ngabarin Om Rey dulu." Ujarku.


Ibuku tersenyum. "Bunda gak nyangka anak bunda akan nikah di usia yang masih 18 tahun."


Aku hanya tersenyum salah tingkah. Ibuku menatapku lekat. "Kamu cinta sama Rey, Nis?"


Mendapat pertanyaan itu secara tiba-tiba, terlebih dari ibuku sendiri membuatku canggung luar biasa. "Apa sih Bunda, nanyanya bikin aku salting."


"Loh kok salting, ya Bunda pengen tahu dong. Sejak kamu bilang mau nikah sama Rey, Bunda belum dapet kesempatan buat ngobrol sama kamu. Kamu juga gak pernah ngobrolin tentang Rey ke Bunda."


Aku tertunduk malu-malu. Lalu kujawab, "Aku sayang sama Om Rey, Bun. Sayang banget."


"Kamu yakin, Nak?" Tanya ibuku ragu.


"Apa kamu udah mikirin gimana tanggapannya Manda, Nak?"


Aku terdiam sejenak. Jujur, rasa bersalah itu tetap masih ada. Bagaimanapun hubungan kami tetaplah salah karena statusku yang adalah keponakan mantan istri dari calon suamiku sendiri. Ibuku pasti mengkhawatirkan ku dan merasa dilematis sama sepertiku.


"Aku tahu, Bun. Bunda pasti khawatir dan ngerasa bersalah. Tante Manda selama ini udah ikut bantu keperluan aku. Tapi dengan gak tahu terimakasihnya, aku malah berhubungan sama Om Rey. Tapi Bunda udah tahu sendiri 'kan kondisi pernikahannya Om Rey dan Tante Manda gimana? Aku gak ngerebut Om Rey, Bun. Salahnya Tante sendiri yang selama ini gak pernah nganggep Om Rey."


"Iya Bunda tahu, Bunda juga gak nyalahin kamu. Bunda cuma ngingetin kamu aja. Sampai saat ini Manda menghilang. Tapi akhirnya dia ngabarin Bapak kemarin. Dia bilang dia baik-baik aja dan saat Bapak menyinggung tentang pernikahan kalian, Manda gak komentar apa-apa. Ia langsung matiin teleponnya."


"Serius, Bun? Jadi itu Tante Manda ngerestuin atau gimana? Terus Tante Manda dimana sekarang? Danis pengen ngomong sama Tante Manda. Danis ngerasa bersalah, Bun. Dia pasti nyangkanya Danis ngerebut Om Rey disaat selama ini dia udah bantuin kita terus."


Menghilangnya Tante Manda sangat membuatku tidak tenang. Aku begitu ingin bertemu dengannya dan berbicara empat mata dengannya, mengklarifikasi semuanya. Aku sempat menchatnya, tapi ia memblokir nomorku. Begitu juga dengan nomor Om Rey.


"Justru itu Bunda juga khawatir. Bunda juga masih belum tenang karena belum berbicara langsung sama dia. Setidaknya Bunda ingin meminta maaf karena, Bunda tahu betul terlepas dari bagaimana hubungan Rey dan Manda, dia terluka dengan pernikahan ini, Dan."


Aku kembali tertunduk. "Maafin Danis ya, Bun. Bunda jadi ikut kena masalah karena Danis."

__ADS_1


"Gak apa-apa, Nak. Setidaknya Bunda lega kamu masih merasa tidak enak pada Manda, itu menandakan kamu masih bersimpati pada tante kamu itu. Bunda cuma titip, apapun yang terjadi nanti, setelah kamu menikah, kamu harus bisa bersikap bijak dan dewasa. Bunda khawatir, Manda masih akan membayang-bayangi rumah tangga kalian nanti."


"Iya, Bun. Danis akan hati-hati dalam bertindak. Makasih ya Bunda udah ingetin Danis."


"Satu lagi, ingat pesan kakek ya, Nak. Kamu harus bisa jadi istri yang baik untuk Rey. Pernikahan itu gak mudah, dengan banyaknya perbedaan diantara kalian pasti bakal banyak rintangan yang datang. Kamu harus bisa mengimbangi Rey, jangan sampai selalu ingin dimengerti karena dia jauh lebih tua dari kamu, tapi kalian harus saling mengerti, saling memahami, dan saling percaya. Kebahagian kalian bukan hanya milik kalian, tapi ada harapan besar dari keluarga Rey yang ingin melihat anak bungsu Keluarga Kusuma itu bisa bahagia pada pernikahan keduanya ini. Ingat itu, Nis."


Seketika aku merasa terbebani. Aku tahu maksud perkataan ibuku. "Iya, Bun Danis ngerti. Tapi Danis ngerasa belum siap buat punya anak, apa itu artinya Danis egois, Bun?"


Ibuku mengangguk pasti. "Rey sudah 30 tahun, ia sudah sejak lama ingin memiliki anak. Juga bukan hanya Rey, Bu Sekar juga ingin cepat memiliki cucu. Kalau kamu setuju menikah, berarti kamu harus bisa memberikan hal yang memang sudah mereka tunggu-tunggu."


Seketika aku terdiam. Yang dikatakan ibuku memang benar, tapi sungguh aku belum siap menjadi seorang ibu.


"Juga ada satu hal lagi yang harus ibu sampaikan," sambung ibuku.


"Apa itu, Bun?"


"Sepertinya selama ini bukan Manda yang mengirimkan uang pada kita, Nak."


Dahiku mengerut tak mengerti. "Maksud Bunda?"


"Selama ini sepertinya Rey yang mengirimkan uang pada kita, membantu biaya berobat almarhum ayah dan juga berobat Kakek."


"Om Rey?" Ulangku bingung.


"Iya. Rey selalu bilang dia dititipkan pesan oleh Manda agar ia mengirimkan uang untuk kita. Tapi ibu curiga, itu adalah uang Rey sendiri. Dia bilang gitu untuk menjaga nama baik Manda."


Seketika aku mengingat beberapa tahun lalu. Saat Ayahku sakit dan seketika kami kehilangan tulang punggung keluarga, ibuku mulai berjualan kue-kue basah sambil merawat ayahku, kemudian datang bantuan dari tanteku. Ia mentransferkan uang secara rutin saat ayahku sakit. Bahkan tanteku itu masih terus mentransferkan uang untuk biaya sehari-hari kami setelah ayahku tiada.


"Om Rey yang kasih uang itu buat kita, Bun? Bukan Tante Manda?" Aku tercengang.


Ibuku menggeleng. "Setelah mengetahui seperti apa sikap Manda selama ini, Bunda semakin yakin Rey yang membantu kita. Nomor rekening yang dipakai untuk mentransfer uang juga nomor rekening milik Rey."


Jadi Om Rey yang memberikan bantuan kami saat itu? Aku ingat betapa bersyukurnya kami saat itu. Tiba-tiba saja kami kehilangan tulang punggung keluarga sekaligus memerlukan biaya yang besar untuk pengobatan ayahku, tapi uang itu seketika mengurangi beban yang kami rasakan.


Dan ternyata Om Rey yang membantu ekonomi keluarga kami? Bukan Tante Manda?

__ADS_1


"Kita punya hutang budi yang begitu besar pada Rey, Nak. Maka dari itu, sekarang kamu menikah dengan Rey bukan hanya untuk mengurangi rasa bersalah kakek karena apa yang Manda perbuat, tapi juga untuk membalas budi padanya."


__ADS_2