Om Rey Tersayang

Om Rey Tersayang
Bab 66: Membuat Vito Mengerti


__ADS_3

Setelah berhasil memaksa Vito, akhirnya kami berada di sebuah lapangan basket yang terdapat di komplek perumahan.


"Nis, lo gak usah macem-macem. Inget lo lagi hamil." Vito masih berusaha mengubah pikiranku.


Namun kini aku terlanjur menunggangi motornya. Rasanya aku sangat bersemangat ingin mengendarai motor ini. "Gue pengen naik motor lo. Cepetan kasih tahu gue gimana pakai koplingnya."


Vito tak punya pilihan selain mengikuti keinginanku. Ia mulai menginstruksikan bagaimana cara mengendarai motor itu. Aku pun mendengarkannya dengan seksama seraya mempraktekannya.


Kemudian perlahan motor itu berhasil melaju dengan pelan. Seketika aku memekik girang. "Gue bisa!"


Aku pun membawa motor itu memutari lapangan basket beberapa kali. Tatapan Vito tak lepas dariku. Ia terus mengawasiku khawatir aku lepas kendali. Hingga aku pun kembali ke tengah lapangan, tempat dimana Vito berdiri.


"Vit ayo naik, kita jalan-jalan." Ajakku.


"Gak, gue gak mau, Nis. Itu bahaya." Vito memperingatkan.


"Gue bisa. Beneran."


Beberapa kali Vito terus menolak, ia nampak khawatir sekali. Namun akhirnya lagi-lagi ia menurut. Ia naik ke jok belakang dan aku pun mulai membawa motor itu keluar lapangan basket.


Aku menyusuri jalanan komplek perumahan mewah itu dengan kecepatan yang lebih cepat.


"Nis, jangan ngebut!" Vito terdengar khawatir dari jok belakang.


"Lo tenang aja! Pegangan sama motor lo!"


Aku pun melajukan motor itu lebih cepat lagi menuju area atas perumahan itu. Di sana terdapat jalan yang lurus dan panjang. Kondisi jalan yang bagus juga lengang membuat adrenalin ku terpacu untuk melajukan motor itu lebih cepat lagi.


BRUUUMMM!


Motor itu melesat cepat. Aku melirik sekilas ke arah speedometer, benda itu menunjukkan angka 80 km/jam.


"DANIS! STOP BAHAYA!" Vito berteriak, entah ia takut atau khawatir.


Karena jalan lurus itu tak terlalu panjang, akhirnya aku memelankan laju motor itu di ujung jalan, dimana tak ada rumah disana. Hanya tanah kosong dan padang rumput yang cukup luas di belakangnya.

__ADS_1


"Lo udah gila, Nis." Vito turun dari jok belakang.


Aku hanya terbahak melihat wajah Vito yang pucat. "Parah. Seru banget, Vit!"


"Seru sih seru. Tapi gue gak mau lo ngendarain motor gue lagi. Bisa copot jantung gue." Vito segera mengambil alih motornya, tak membiarkanku mengendarainya lagi.


"Kenapa? Lo takut?" Ujarku meremehkannya.


"Iyalah gue takut lo kenapa-kenapa."


"Bener bukan takut karena gue bawa lo ngebut?" Tanyaku jahil.


"Gue bisa bawa lebih cepet dari lo kali. Gue gak mau lo kenapa-kenapa. Inget lo lagi hamil." Vito mengingatkanku kembali.


"Justru kayaknya anak gue deh yang bikin gue pengen naik motor lo. Soalnya biasanya gue 'kan gak pernah pengen pakai motor lo kayak gini."


"Ngidam lo aneh banget. Beda sama..."


Aku menatapnya penuh tanya. Menunggu ia melanjutkan ucapannya.


"Gak jadi." Lanjutnya. Ia tiba-tiba saja terlihat gugup.


"Beda sama... ibu-ibu hamil kebanyakan." Ujarnya akhirnya. "Biasanya 'kan kalau ngidam pengennya itu makanan. Lo malah pengen kebut-kebutan kayak gini."


"Iya juga." Aku terbahak. Ku usap perutku pelan. "Unik banget sih kamu, Sayang. Kirain Mama, kamu gak akan bikin Mama ngerasain ngidam. Ternyata kamu bikin Mama pengen naik motor punyanya Om Vito." Gumamku seraya tersenyum senang.


Vito hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir, membuatku terkekeh gemas.


Tiba-tiba aku menyadari cahaya jingga menerpa wajahku dari arah padang rumput itu. Aku pun melihat ke arah benda bundar berwarna jingga yang seakan menggantung di langit itu. "Wah, gue baru tahu kalau dari sini kelihatan sebagus ini matahari terbenamnya."


Sesaat aku terus menatap matahari yang terlihat indah itu. Langit yang sedari tadi biru cerah, kini terlihat menguning. Awan-awan yang asalnya berwarna putih, kini terlihat berwarna abu dan jingga, akibat pantulan dari matahari itu.


"Nis..." Suara Vito terdengar tepat di sebelahku. Ku sahut dengan gumaman, rasanya mataku masih ingin menikmati matahari terbenam yang akan berakhir beberapa menit lagi ini, hingga aku tak menoleh padanya saat Vito memanggilku.


"Kalau lo pengen nangis, jangan lo tahan kayak yang selama ini lo lakuin." Kata-kata Vito sontak mengalihkan perhatianku. Perlahan aku menatap ke arahnya. Ia sedang menatapku dengan sendu. "Lo bisa ceritain semuanya sama gue. Nangis depan gue. Gue bakal selalu ada buat lo."

__ADS_1


Hatiku seketika terenyuh. Segera ku alihkan pandanganku dari Vito ke arah matahari itu lagi. "Lo ngomong apa sih. Siapa juga yang mau nangis."


"Lo gak perlu pura-pura kuat depan gue. Gue tahu lo gak sekuat itu. Lo pasti sering kepikiran saat suami lo harus datengin istri keduanya."


Kata-kata Vito sukses mengundang air mataku untuk menetes lagi. "Apaan sih maksud lo terus ngebahas soal ini?" Seketika aku begitu emosi. Segera kuusap sebutir air mata yang melintas di pipiku dengan kasar, tak ingin Vito melihatnya.


"Lo gak pantes dikayak-giniin, Nis. Lo itu cewek yang spesial. Lo harusnya jangan mutusin semuanya secepet itu. Harusnya lo mikir-mikir lagi saat om lo itu minta lo nikah sama dia. Lo harusnya bisa nelaah hati lo lebih tajem lagi, lo siap gak buat jadi seorang istri. Lo udah ngorbanin masa muda lo. Di saat seharusnya lo seneng-seneng, nyoba semua hal baru yang bikin lo penasaran, lo malah harus...."


"Stop, Vit! Gue gak suka lo ngomentarin hidup gue!" Potongku dengan marah.


Vito meraih kedua pundakku dan membuatku menghadap ke arahnya. "Gue sayang sama lo, Nis! Gue udah berusaha relain lo! Gue berusaha buat nerima kalau kesempatan gue buat dapetin lo emang udah gak ada. Tapi ngelihat rumah tangga lo kayak gini, gue nyesel udah relain lo! Tahu gitu gue bakal berusaha buat dapetin lo!"


Entah mengapa air mataku malah mengalir semakin deras mendengar penuturan Vito.


"Lo tahu gak, gue sering ngebayangin seandainya lo gak ketemu sama om lo itu. Gue sama lo bakal deket, kita jadian, kita jalanin masa kuliah kita bareng-bareng. Kita lulus, lo kerja jadi perawat di tempat yang sama sama gue. Kita sibuk sama kerjaan kita, tapi kita ngerasa gak kesepian karena kita selalu bareng-bareng. Terus seudah gue bisa dapetin gelar dokter gue, gue bakal ngelamar lo. Itu mimpi gue saat pertama kali gue sadar kalau gue suka sama lo!"


Ku hempaskan kedua tangan Vito dari pundakku. Aku berusaha untuk menghentikan isak tangisku.


"Kalaupun gue gak ketemu sama Mas Rey sekarang, dan hanya ketemu lo selama masa kuliah gue, gue tetep gak akan jatuh cinta sama lo, Vit. Walaupun gue baru ketemu Mas Rey setelah gue lulus kuliah, atau sepuluh tahun dari sekarang, yang gue cinta itu cuma dia. Gue gak nyesel nikahin dia dan ngorbanin masa muda gue. Sesulit apapun hidup gue sekarang, gue gak pernah kepikiran buat udahan sama Mas Rey. Jadi, Vit, udah gue bilang, lo harus lupain gue. Move on dari gue! Jangan pernah berandai-andai lagi tentang gue."


"Terus sampai kapan lo mau kayak gini?!"


"Seiring berjalannya waktu, gue yakin keadaan akan berpihak sama gue." Ucapku berusaha terlihat meyakinkan, walaupun dalam hati aku sama sekali tak yakin sejauh mana aku bisa bertahan. Padahal satu bulan sudah berlalu, namun sakitnya seakan tak berkurang.


Namun, aku selalu ingat. Mas Rey sedang mengusahakan untuk membuktikan semua kelicikan Tante Manda. Aku yakin semuanya pasti akan terkuak. Aku tak tahu kapan itu terjadi, tapi aku hanya perlu bersabar.


Aku yakin, semua akan indah pada waktunya.


"Gue gak ngerti sama jalan pikiran lo, Nis! Suami lo itu udah khianatin lo!"


Aku menggeleng. "Mas Rey gak pernah khianatin gue! Justru gue sama dia lagi bersabar dan nunggu semuanya terungkap. Ini adalah ujian dari rumah tangga gue sama Mas Rey. Gue yakin sebentar lagi gue sama Mas Rey akan terlepas dari Tante Manda."


Seketika wajah Vito berubah pucat. "Maksud lo?"


"Iya. Gue yakin, Tante Manda hamil bukan anaknya Mas Rey. Gue yakin banget." Ucapku penuh keyakinan.

__ADS_1


Vito masih bergeming.


"Sepandai-pandainya tupai melompat, dia akan jatuh juga. Segimanapun seseorang menyembunyikan bangkai, pasti baunya akan tercium juga. Dan gue yakin, apa yang udah Tante Manda sembunyiin, akan terungkap suatu saat nanti. Jadi, gue bilang untuk yang terakhir kali sama lo, lupain gue. Gue sama Mas Rey, gak akan pernah pisah, apalagi cuma karena permainannya Tante Manda. Kalau lo masih bawa perasaan lo ke dalam pertemanan kita, lebih baik lo gak usah ketemu gue lagi."


__ADS_2