
Rey's point of view
Danisa sudah tertidur pulas. Sepertinya efek obat yang diminumnya setelah sarapan sudah bekerja dengan baik. Perlahan Rey mengangkat sedikit kepala Danisa dan menarik tangannya yang sejak tadi dijadikan bantal untuk sang istri tidur.
Ia beringsut turun dari tempat tidur dan menyelimuti tubuh Danisa. Dipandangnya wajah cantik alami dan polos tanpa riasan itu. Punggung tangannya ia tempelkan pada dahinya, masih terasa sedikit hangat walaupun tidak sepanas tadi malam.
Rey merasa bersalah. Seharusnya ia bisa lebih memikirkan betapa jadwal mereka yang sangat padat, cuaca musim dingin yang belum terbiasa dihadapi sang istri, ditambah setiap malam ia tak pernah bisa berhenti untuk meminta Danisa melayaninya.
Ia tersenyum lirih. "Maafin Mas, Sayang. Kamu jadi sakit seperti ini." Diusapnya pelan pipi sang istri.
Tak bosan ia menatap wajah putih bersih tanpa noda itu. Hampir setiap Danisa tertidur ia selalu menatapnya beberapa saat seperti ini. Ia masih belum bisa mempercayai bahwa kini hidupnya yang begitu hampa dan suram, berubah menjadi semembahagiakan ini setelah kedatangan gadis kecil ceria bernama Danisa.
Meskipun usianya masih begitu belia, tapi Danisa memiliki semua yang selama ini Rey idam-idamkan dimiliki oleh seseorang yang menjadi istrinya. Danisa begitu perhatian, peka, manja, dan yang terpenting gadis itu mencintainya.
Rey sering kali merutuki dirinya sendiri, kenapa dulu ia begitu bodoh bisa terpikat pada seorang wanita pemain seperti Amanda. Ia sadar kini, perempuan itu tak pernah benar-benar mencintainya.
Kata-katanya semanis madu, sentuhannya membuatnya candu. Tapi menyakitkannya, semua itu tak ia berikan pada Rey saja, melainkan kepada banyak laki-laki. Statusnya sebagai suami sah, tak membuat Amanda memberikan kesetiaannya pada Rey.
Berbeda dengan Danisa. Gadis itu begitu murni dan apa adanya. Kata-kata manis jarang terucap darinya, tapi entah mengapa Rey merasa begitu nyaman saat bercengkerama, bersenda gurau, atau saat sekedar berdiam diri di satu tempat, tanpa melakukan apa-apa dan melakukan aktivitas masing-masing.
Danisa jarang berucap mengenai cinta, tapi semua tingkah laku dan tutur katanya, menyiratkan cintanya kepada Rey.
Perhatiannya saat Rey lupa makan karena sibuk bekerja, membuatkan makanan kecil atau sekedar teh untuk dirinya saat ia pulang bekerja, berceloteh mengenai kandungan gizi yang Rey butuhkan ketika mereka berbelanja bahan makanan, hingga lingkaran hitam di sekitar matanya yang selalu Danisa khawatirkan karena Rey bekerja hingga larut malam.
Hal-hal seperti itulah rasa cinta yang selalu Danisa tunjukkan.
Itulah cinta sebenarnya yang kini Rey ketahui seperti apa seharusnya. Yang ia ketahui dari seorang gadis yang 12 tahun lebih muda darinya.
Jika mengingat bagaimana cinta yang Danisa tunjukkan kepadanya ia selalu bersyukur karena gadis itu bisa menerimanya yang lebih pantas menjadi pamannya. Gadis sebaik dan secantik Danisa, seharusnya bisa mendapatkan pasangan hidup yang tak terlalu jauh umurnya. Yang masih bisa menunggu Danisa untuk lulus kuliah, baru memikirkan untuk menikah.
Usia Rey yang sudah menginjak kepala tiga membuatnya tak bisa lagi menunggu. Walaupun sedikit memaksa, dan dengan sedikit egonya, akhirnya ia bisa membuat gadis itu menjadi istrinya. Menjadi istri di usianya yang masih 18 tahun.
Karena itu, Rey berjanji pada dirinya sendiri akan menjadikan gadis dihadapannya itu sebagai satu-satunya perempuan yang akan menemaninya hingga maut memisahkan. Akan ia bahagiakan, sayangi dan cintai dengan sepenuh hatinya.
__ADS_1
Maka dari itu, Danisa yang kini terbaring sakit membuat Rey begitu merasa bersalah. Ia ingin Danisa segera sembuh. Tak tega rasanya melihatnya terbaring lemah walaupun sakitnya itu tidak parah dan hanya karena kelelahan saja.
Ia beranjak dari sisi tempat tidur dan memakai mantel musim dinginnya. Ia berniat untuk membeli beberapa ekstra ginseng merah yang direkomendasikan oleh dokter agar kesehatan sang istri cepat pulih.
Iapun berjalan keluar dari kamar hotel. Tak lama ia sampai di minimarket itu. Dibelinya beberapa bungkus ekstra ginseng merah dan menuju kasir.
Kemudian Rey keluar dari minimarket dan berniat untuk segera menemui sang istri kembali di kamar hotel mereka. Namun saat di depan minimarket itu, seorang pria menyapanya dengan Berbahasa Jepang.
"Pak Rey?" Sapa pria paruh baya itu tak begitu yakin.
Rey menoleh dan melihat sosok yang memang ia kenal itu. "Pak Watanabe?"
Mereka berjabat tangan. Namun Rey tidak terlalu senang dengan pertemuan itu. "Tidak saya sangka kita bertemu di sini. Anda sedang ada di Korea? Apa ada keperluan tertentu? Wah, jangan-jangan ada klien anda di sini. Hebat sekali anda ini, Pak. Kemampuan anda sudah membuat kagum orang-orang dari berbagai negara."
Ia terus berceloteh, sedangkan Rey hanya bisa tersenyum canggung. Ingin rasanya ia segera pergi meninggalkan pria itu.
"Saya di sini tidak sedang bekerja. Saya sedang berbulan madu bersama istri saya." Ucap Rey akhirnya mendapat kesempatan berbicara.
"Maaf saya buru-buru. Permisi. " Ucap Rey seraya meninggalkan pria itu.
"Pak Rey, ada yang ingin saya bicarakan. Sebentar saja. Bisakah anda ikut saya ke kedai kopi di sudut jalan itu? Sebentar saja." Ucap pria itu sedikit memaksa.
"Maaf saya... "
"Pak Rey, saya mohon. Izinkan saya mentraktir anda secangkir kopi untuk menebus kesalahan saya. Setelah anda kembali ke Indonesia saya benar-benar kehilangan kesempatan untuk meminta maaf secara langsung pada anda, Pak. Saya hanya perlu 10 menit saja, tidak 5 menit cukup."
Rey terdiam beberapa saat, ia berpikir. Sepertinya tidak apa-apa jika ia mengobrol sebentar. Ia juga ingin tahu mengenai satu hal dari pria itu, yang selama ini sempat mengganggu pikirannya.
Akhirnya ia setuju. Beberapa saat kemudian mereka sudah berada di sebuah kedai kopi. Mereka duduk di meja paling pojok dekat jendela.
Seorang pelayan menyimpan dua cangkir kopi di hadapan mereka.
"Jadi anda mau mengatakan apa?" Tanya Rey langsung ke intinya.
__ADS_1
"Sebelum itu, mari kita minum kopinya terlebih dahulu, Pak. Anda kelihatan agak kedinginan."
Tak curiga apapun, Rey meraih cangkir itu dan meminumnya hingga habis setengahnya, ia ingin segera pergi.
"Baik, saya akan langsung ke intinya. Saya ingin meminta maaf pada anda secara langsung karena perilaku saya yang tak pantas yang pernah saya lakukan dengan istri Bapak dulu. Saya sungguh menyesalinya. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya." Pria yang jauh lebih tua dari Rey itu sampai membungkuk dalam, benar-benar menyesali perbuatannya.
"Saya sudah melupakannya. Lagipula saya sudah bercerai dengan Manda."
"Benarkah?" Pria itu begitu terkejut.
"Anda tidak perlu terkejut. Seharusnya saya melakukannya sejak lama. Anda sangat tahu seperti apa hubungan saya dengan Manda." Ucap Rey penuh sindiran.
Pria itu berdeham gugup. "Saya tidak mengerti maksud anda."
"Anda tidak perlu berpura-pura. Saya tahu anda selama ini yang membantu Manda menyembunyikan mengenai perselingkuhannya dengan banyak pria."
"Saya... "
"Tidak perlu dibahas lagi. Saya sudah melupakan semuanya. Saya baru menikah dan saya sangat bahagia sekarang. Bagi saya sudah tidak penting lagi semua yang sudah anda lakukan dengan mantan istri saya itu. Tapi ada satu hal yang ingin saya tanyakan pada anda."
"Si-silahkan anda tanyakan apapun pada saya. Saya akan coba menjawabnya sepengetahuan saya." Ucapnya terbata.
Tiba-tiba Rey merasa mengantuk sekali. Matanya begitu berat. Ia langsung curiga dengan kopi di hadapannya. Ia mencoba terus terjaga.
"Apa...yang anda masukan...ke dalam kopi itu?" Tanya Rey lemas.
Pria itu terdiam tak bereaksi.
"Jawab, apa ini juga ada hubungannya dengan... CEO tempat Amanda bekerja? Pak Akagi...?"
Rey terus mencoba meremas tangannya agar ia terus terjaga.
"Jawab, sialan! Apa atasan anda itu yang selama ini memelihara Amanda. Jaw... " Rey tak melanjutkan ucapannya, karena kini ia tersungkur tak sadarkan diri di sofa tempat ia duduk.
__ADS_1