Om Rey Tersayang

Om Rey Tersayang
Bab 48: Bingung


__ADS_3

Rey's Point of View


Dengan perlahan Rey mencoba bangkit dari posisinya yang terlentang di lantai teras rumah. Secepatnya ia berlari mengejar sang istri yang kini sudah mulai menaiki motor milik sahabatnya itu.


"DANISA!!" Teriak Rey seraya memegang pinggangnya yang terasa sakit sekali.


Ia tak marah dengan apa yang dilakukan sang istri. Danisa wajar marah, tapi ia tak bisa membiarkan hal ini terus berlanjut. Sudah sejak kepulangan dari bulan madu waktu itu, Rey sudah memperkirakan hal seperti ini akan terjadi. Beberapa kali bahkan Rey menghubungi Amanda tanpa sepengetahuan Danisa, memperingatkan Amanda untuk tidak bertindak nekat. Namun semua itu tidak Amanda indahkan. Ia hanya membaca semua chat dari Rey, dan mengabaikan semua panggilan dari Rey.


Rey juga sempat mendatangi tempat Amanda bekerja. Rey benar-benar tak bisa merasa tenang. Ia tahu ada yang Amanda rencanakan dibalik semua ini. Tapi sekali lagi, Amanda seperti tak tersentuh. Semua ini pasti ada kaitannya dengan pria kepercayaan CEO tempat Amanda bekerja, Watanabe Toshi. Hingga akhirnya Rey hanya bisa berdoa dan berharap hal yang ia takutkan tidak terjadi.


Namun tepat di hari pernikahannya dengan Danisa yang menginjak waktu satu bulan, mimpi buruk itu terjadi. Hatinya begitu terluka melihat Danisa yang salah paham padanya, menangis, berteriak, bahkan sampai membantingnya. Dan yang lebih menyakitkan adalah ia tak bisa membuat Danisa percaya padanya. Tentu saja Danisa tidak akan percaya. Foto itu sudah menjadi bukti yang tak terbantahkan.


Rey segera membawa kunci mobilnya dan mengejar Danisa. Ia tahu pasti Danisa akan pergi ke kost milik Fina. Benar saja dan beruntungnya, ketika Rey sampai, Fina baru saja keluar dari pintu gerbang kostnya.


"Fina!" Panggil Rey, seraya keluar dari mobilnya. Fina menutup pintu gerbangnya dan berjalan mendekat pada Rey yang terlihat berjalan tertatih sambil memegang pinggangnya.


"Om gak apa-apa?" Tanya Fina khawatir.


Rey menggeleng cepat. "Danisa mana?" Tanyanya tak sabar.


"Barusan pas kita nyampe dia langsung nangis di tempat tidur aku. Aku keluar dulu biar dia bisa nangis dulu. Sekalian nyari makan buat sarapan."


"Bisa tolong kamu panggilin dia?" Pinta Rey.


"Om, saran aku sih mending Danisa jangan diganggu dulu. Percuma Om jelasin apapun sama dia sekarang, dia gak akan denger."


Rey terdiam. Ia tahu yang dikatakan Fina itu benar. Tapi ia juga tak bisa tinggal diam melihat sang istri salah paham.


"Tadi aku lihat fotonya." Ujar Fina, wajahnya datar tak ada marah atau kesal pada suami dari sahabatnya itu.


"Kamu lihat?" Tanya Rey antara malu dan juga terkejut.


"Iya. Tapi aku percaya gak percaya sih Om beneran ngelakuin itu sama mantan istri Om."

__ADS_1


Rey merasa lega ada orang yang percaya padanya. Terlebih dia adalah sahabat sang istri yang bisa membantunya meyakinkan Danisa. "Om gak khianatin Danisa, Fin. Om dijebak. Om juga gak tahu apa alasan Manda kayak gitu. Cuma emang Om salah karena udah bohong sama Danisa waktu itu. Om cuma gak mau dia sedih dan salah paham."


"Emang kejadiannya kayak gimana?" Tanya Fina penasaran.


Kemudian Rey mulai menceritakan bagaimana kronologi kejadian itu, mulai dari ia bertemu dengan orang yang bernama Watanabe Toshi hingga ia terbangun di sebelah Amanda dalam keadaan tak memakai sehelai pakaianpun.


"Om bisa cari bukti CCTV kalau gitu. Terutama saat Om dibawa dalam keadaan gak sadar." Saran Fina.


"Om udah nyari. Seudah Om sadar, Om gak langsung pulang ke hotel. Om nyoba buat nyari CCTV itu. Tapi kayak yang emang udah disiapin, semua CCTV yang kemungkinan menangkap sosok Om saat itu, semua justru lagi rusak." Jelas Rey seraya mengusap wajahnya frustasi.


"Wah, mantan istri Om ini udah persiapan banget berarti." Gumam Fina ikut memikirkan bagaimana membuktikan ketidakbersalahan Rey.


"Juga, sebenarnya Om sempat melakukan test di sebuah rumah sakit disana. Mereka mengambil sampel dari organ vit^l Om. Jika benar Om melakukan itu, maka DNA Manda pasti tertinggal pada milik Om." Terang Rey.


"Terus gimana hasilnya?" Fina penasaran.


"Katanya hasil tesnya akan tiba dalam waktu paling lama seminggu. Tapi sampai hari ini hasil tes itu gak pernah Om terima." Ujar Rey lemas.


"Om udah coba nanya ke pihak rumah sakitnya?" Tanya Fina.


"Ternyata Tante Manda ini bahaya juga ya."


"Bahaya dan licik. Dia akan melakukan segala cara buat dapetin apa yang dia mau." Geram Rey.


Rey sudah lelah. Ini bukan pertama kali Manda bisa mengelak dan menyembunyikan suatu kenyataan dari dirinya. Dengan bantuan dari Watanabe Toshi itu, bahkan orang seberpengaruh CEO tempatnya bekerja saja bisa ia kelabui.


"Ya udah Om tenang aja. Kebenaran pasti terungkap kok. Danis juga sekarang cuma masih syok aja. Aku yakin gak sepenuhnya dia percaya Om udah selingkuh. Dia pasti percaya lagi sama Om."


Mendengar kata-kata Fina, hatinya yang resah sedikit meringan. "Semoga aja, Fin. Makasih ya kamu udah percaya sama Om." Ucap Rey lemah.


"Sama-sama, Om. Sekarang Om lebih baik cari cara lain buat cari bukti itu."


"Ya udah, Om titip Danisa ya. Tolong bujuk dia buat pulang." Pinta Rey.

__ADS_1


"Iya, Om. Tenang aja. Dia bucin banget sama Om. Dia pasti gak akan bisa lama-lama pisah sama mas suaminya."


Rey tersenyum getir. "Sekali lagi, makasih ya. Om seneng dan lega karena Danisa punya temen seperti kamu."


Usai bertemu dengan Fina, Rey kembali ke rumahnya dan bersiap untuk ke kantor. Hari itu ia terpaksa bekerja dengan hati yang kacau balau. Hingga waktu makan siangpun dilewatkannya. Ia tak berselera makan karena sampai sekarang Danisa tak membalas chat dan juga teleponnya.


Siang menjelang sore, Marcel masuk ke ruangan Rey, sekedar mengecek keadaan sahabatnya yang terlihat tidak bersemangat sejak tadi pagi.


"Kenapa muka lo? Begadang buat mega projek terbaru?" Marcel duduk di sofa ruangan Rey, ia menyesap sekaleng cola rendah gula. Ia juga meletakkan satu di meja untuk sahabatnya itu.


"Gue ada masalah sama Danisa." Ujar Rey seraya meraih cola itu dan menyesapnya juga. Lalu ia ceritakan semua yang terjadi pada Marcel.


"Manda, Manda. Konsisten banget dia jadi cewek. Gue gak akan nyalahin dia, karena menurut gue yang bego itu lo, Rey! Udah dari jaman lo pertama kenal dan naksir sama si Manda, gue udah sering peringatkan lo kalau Manda itu bukan cewek baik-baik."


"Iya, gue 'kan udah sadar, Cel. Gue udah nyoba buat move on dari dia dan setelah gue berhasil dia malah masih aja gangguin hidup gue. Maunya apa coba?"


"Ya jelaskan dia gak terima. Orang selama ini lo diem aja dia main sama banyak cowok. Terus yang lebih gak bisa dia terima adalah lo nikahin ponakannya sendiri."


Rey memijit kepalanya yang berdenyut nyeri. "Terus salah gue juga sekarang karena jatuh cinta sama Danisa? Gue juga gak tahu kenapa bisa suka sama Danisa. Gue terpesona sejak gue pertama lihat dia. Makin gue tinggal sama dia, makin kenal sama dia, gue makin terpikat sama Danisa. Dia punya semua yang selama ini gue harap ada pada diri Manda. Sampai akhirnya gue milih udahan sama Manda, dan nikahin Danisa. Gue kira dia bakal okay cerai sama gue. Toh itu artinya dia bisa makin bebas dong jalan sama cowok-cowok? Kenapa juga dia malah jadi gak terima gue nikah sama Danisa?"


"Karena lo gak pernah terlibat sama cewek manapun sekalipun dia main dengan banyak cowok. Jadi saat lo milih buat lepasin dia demi satu cewek, dia jadi kebakaran jenggot. Dia gak rela lo yang selama ini setia sama dia, tiba-tiba berpaling."


"Egois banget lo jadi cewek, Man." Gumam Rey.


Marcel terkekeh. "Baru nyadar? Kemana aja lo?" Cibirnya.


"Diem lo!" Rey menatap sahabatnya dengan kesal. "Sekarang mending lo bantuin gue gimana caranya dapetin surat hasil DNA itu."


"Ya elah, gampang kali. Lo datengin lagi rumah sakit itu. Datengin langsung jangan cuma nunggu dikirimin hasilnya.


Rey terdiam sejenak. Rey bukannya tak pernah berpikir untuk kembali ke Korea dan mengambil surat itu sendiri. Tapi ia yakin tak akan semudah itu. Watanabe Toshi pasti memiliki orang dalam di rumah sakit itu hingga surat DNA itu tidak pernah ada di tangannya hingga kini.


Kemudian ia ingat pada seseorang yang sepertinya bisa membantunya. Ia mengeluarkan ponselnya dan mulai mencari kontaknya. Namun tepat saat itu ponselnya berdering, dari sang ibu. Rey mengangkatnya.

__ADS_1


"Rey, datang ke rumah ibu sekarang juga."


__ADS_2