Om Rey Tersayang

Om Rey Tersayang
Bab 23: Terlalu Malu


__ADS_3

Sampai di kamar hatiku terus merutuk. 'Kamu murah^n banget sih, Nis?!' Ku pukul kepalaku frustasi. Bahkan kuguling-gulingkan tubuhku di tempat tidur dan menyembunyikan kepalaku di bawah bantal, menghilangkan rasa malu yang membuat diriku sendiri tak nyaman.


Aku merasa sangat rendah. Menyesal sekali telah dikuasai rasa dend^m pada Tante Manda. Jika Om Rey memang ingin membalas dendam ia pasti sudah melakukannya sejak lama, tapi Om Rey tidak seperti itu. Dia bahkan masih saja setia pada istrinya yang telah berkhianat itu.


Dan aku, dengan tanpa pikir panjang melakukan hal memalukan itu! Rasanya aku ingin menggali lubang, masuk ke dalamnya, dan tidak keluar lagi karena saking malunya.


Bagaimana aku menghadapi Om Rey sekarang?


Dini haripun tiba. Tak ingin menghindarinya aku memutuskan untuk melakukan kewajibanku seperti biasa. Setelah semua makanan siap, aku menulis di sticky notes sebuah pesan,


Menu makan malam. Tinggal dimasukan ke microwave.


Lalu aku tempelkan pada sebuah wadah di kulkas. Kemudian ku tutup misting untuk bekal makan siang Om Rey dan menyimpannya di meja makan.


Walaupun aku menghindarinya, aku tidak ingin ia membeli makanan ataupun memasak sendiri. Akhirnya aku siapkan sesuatu yang hanya tinggal dihangatkan saja di microwave. Bagaimanapun kali ini aku menghindarinya bukan karena salahnya, tapi karena aku terlalu malu untuk sekedar berbicara padanya setelah apa yang terjadi tadi malam.


Seperti biasa setelah memasak aku mandi dan bersiap, kemudian turun untuk sarapan.


Pintu kamar Om Rey terdengar terbuka. Sontak aku yang sudah duduk di meja makan dan memakan nasi goreng yang ku buat, tiba-tiba saja merasa sangat gugup. Kuhindari menangkap sosoknya bahkan dengan sudut mataku.


"Selamat pagi, Dan." Sapa Om Rey. Namun aku tak menjawabnya, melihat ke arahnya saja tidak.


Akhirnya kami sarapan dalam hening. Sepertinya Om Rey juga tidak ingin berbicara padaku. Itu membuatku sedikit sedih, tapi itu salahku sendiri, gara-gara tingkahku membuat Om Rey tak nyaman.


"Dan, tentang semalam..." Baru saja Om Rey berbicara, ponselku berdering nyaring. Telepon dari Fina.


Segera aku angkat dan mengabaikan ucapan Om Rey. "Iya, Fin? Okay, gue ke depan."


Piring yang sudah kosong itu aku simpan di bak cuci piring dan segera bergegas pergi menuju pintu.


"Danisa..."


Tak ku gubris panggilan Om Rey saat berpapasan dengannya yang masih duduk di kursi meja makan.


Di luar aku melihat Fina duduk di atas motor bergaya offroad jingga miliknya, sangat Fina sekali. Sporty, cool, dan warna jingga memperlihatkan kepribadiannya identik dengan petualangan, percaya diri, dan keberanian.


"Thanks ya lo mau jemput gue." Ujarku seraya menerima helm yang diberikannya.


"Selama lo mau bayarin bensinnya, gue sih okay-okay aja." Seloroh Fina.


"Dasar lo. Tenang aja, gue bakal jadi donatur bensin lo selama gue minta lo anter jemput."

__ADS_1


"Siap kalau gitu." Ujarnya mengacungkan sebelah jempolnya.


Saat aku akan naik ke jok belakang, Om Rey memanggilku lagi. "Danisa, kamu gak akan diantar Om?" Sontak tubuhku mematung.


Fina yang kebingungan menatap ke arahku. "Nis, Om lo ngajak ngomong itu." Tegurnya.


Melihat aku tak berkata apapun, Fina membuka helm fullfacenya dan turun dari motornya.


"Selamat pagi, Om." Fina membungkuk pada Om Rey. "Saya Fina Om, temennya Danisa."


"Selamat pagi. Danisa pergi bareng kamu?"


"Iya, Om. Kebetulan saya ke kampus lewat sini, jadi sekalian." Fina pandai sekali mencari alasan. Kost dia 'kan dekat kampus, tapi ia mengatakan itu agar Om Rey tidak merasa tidak enak.


"Oh gitu. Kalau gitu nanti Om jemput kamu pulang ya." Ujar Om Rey padaku.


Aku masih bungkam. Fina yang berdiri di sebelahku dan menghadap ke arah Om Rey, menyikut lenganku, agar aku menjawabnya. Namun aku tetap diam.


"Kita pulang kerjanya bareng aja ntar ya, Fin." Ucapku akhirnya.


"Hah?" Fina mengerutkan dahinya, mencerna ucapanku. "Oh, iya Om biar nanti kita bareng aja pulang kerjanya." Ucap Fina diakhiri dengan tawa canggung. Ia pasti tidak enak karena harus ikut berbohong.


"Tapi gak apa-apa kalian perempuan pulang malam?" Om Rey terdengar khawatir.


Om Rey tak menyahut. Ia sepertinya masih enggan untuk mengizinkanku pergi ataupun pulang tanpanya.


"Fin, ayo berangkat entar kita telat." Ujarku.


"Ya udah, Om kami pamit ya, Om."


Kemudian motor cross jingga itu sudah melaju meniggalkan kompleks perumahan.


"Jadi itu yang namanya Om Rey? Gila pantes aja lo kepincut sama Om lo itu. Ganteng dan macho abis!"


Aku tersenyum samar di belakang Fina. "Awas kalau lo naksir dia."


"Ya elah, gak mungkinlah. Gue akuin Om Rey emang ganteng tapi gue gak suka Om-om. Gue lebih suka yang seumuran atau yang dua tahun lah maksimal diatas gue."


"Kenapa? Emangnya umur bakal jadi masalah?"


"Ya tergantung. Kalau lo suka ya gak apa-apa. Tapi lo kenapa sih tiba-tiba chat gue pengen gue jemput, terus sikap lo ke Om lo juga kayak ngehindar gitu. Ada apa?"

__ADS_1


"Udah jangan kepo. Gue gak pengen bahas itu!" Elakku.


"Dasar lo ABG labil. Gara-gara lo gue jadi bohong sama om lo terus harus jemput lo nanti malem. Padahal gue ada acara sama anak-anak pecinta alam buat nongkrong. Asli buat ntar malem gue beneran gak bisa jemput lo."


"Jadi lo naik gunung minggu depan?"


"Jadi dong. Makanya, sorry banget gue gak bisa jemput lo. Lo bareng si Vito aja, lo 'kan kerja bareng dia."


"Enggak ya! Itu mah sama aja kayak bikin dia tambah berharap sama gue. Ya udah gampang gue bisa pesen ojol ntar."


"Minta jemput Om lo aja."


"Heh, ya gak mungkin dong. Tahu sendiri gue lagi per^ng dingin."


"Ribet banget hidup lo. Ya udah terserah deh."


***


Hari itu entah mengapa pengunjung sedang sangat banyak. Jujur aku kewalahan sekali. Ditambah Vito mendadak izin tak bisa datang, alhasil aku hanya bersama beberapa orang karyawan lainnya menghandle semua pekerjaan. Hingga waktupun menunjukkan pukul 8 malam, waktunya kafe tutup.


Setelah kafe tutup aku berdiri di tepi lobi luar dan menunggu ojekku datang. Saat itu sebuah motor sport putih datang menuju basement.


"Vito? Ngapain dia kesini jam segini? Bukannya dia izin?" Gumamku.


Ojek onlineku datang dan aku putuskan untuk tidak memikirkan Vito lebih jauh. Mungkin dia ada urusan, pikirku.


Akhirnya ku pesan ojek online dan tiba di rumah Om Rey tepat pukul 9 malam. Saat aku datang ada sebuah mobil terparkir di carport.


"Mobil siapa ya?" Gumamku.


Aku pun membuka pintu dan mengucap salam. Saat pintu terbuka Om Rey duduk di kursi ruang tamu bersama seorang wanita tua dan seorang wanita paruh baya. Mereka menjawab salamku.


Seketika aku mengingat mereka.


"Bu, ini Danisa. Keponakannya Manda yang tadi Rey ceritain." Om Rey memperkenalkanku pada Bu Sekar yang aku tahu adalah ibu dari Om Rey. Sedangkan wanita paruh baya itu aku tahu adalah salah satu kakak dari Om Rey, tapi aku lupa dengan namanya.


Akupun menghampiri mereka dan mencium tangannya dengan sopan.


Bu Sekar menatapku dengan penuh telisik. "Danisa yang dulu tomboy itu? Sekarang jadi secantik ini kamu, Nak!" Ujarnya seraya memegang tanganku hangat.


Aku hanya tersenyum ramah mendengar perempuan yang memiliki mata Om Rey itu memujiku, dan tanpa sengaja aku bersih tatap pada Om Rey yang juga tersenyum hangat padaku.

__ADS_1


Seketika kuhapus senyum di wajahku.


'Danis, kenapa kamu senyum ke Om Rey? Kamu lupa lagi nyuekin dia?'


__ADS_2