Om Rey Tersayang

Om Rey Tersayang
Bab 77: Baby Revi


__ADS_3

Selesai pemakaman, kami kembali ke villa. Para pelayat sudah mulai berkurang, tak sebanyak tadi. Namun beberapa saat ada di villa, aku tak melihat keberadaan Vito.


"Mas, lihat Vito gak?" Tanyaku saat Mas Rey baru saja mengantar seorang tamu pulang.


"Tadi Mas lihat dia ke belakang. Mas mau ajakin ngobrol, tapi tahunya masih ada pelayat yang dateng. Kamu cari dia ke belakang, temenin dia. Jangan dibiarin sendirian dulu."


"Iya, Mas. Aku ke belakang dulu ya." Pamitku.


Dari beranda belakang, aku melihat sosok Vito berada jauh disana, di bawah sebuah pohon di dekat kebun teh.


Aku menghampiri sosoknya yang masih memakai kemeja hitam. Ia terlihat sedang melamun seraya menatap hamparan kebun teh di hadapannya.


"Vit..." Aku pun duduk di sampingnya. "Dicariin dari tadi. Kirain kemana."


Vito menoleh ke arahku sekilas, lalu tatapannya kembali menatap ke arah kebun itu.


"Lo belum makan, Vit. Makan dulu." Ajakku.


Kami semua khawatir, sejak semalam, Vito belum makan. Ini sudah lewat tengah hari, ia masih saja menolak untuk mengisi perutnya. Kami khawatir ia akan jatuh sakit.


"Gue gak laper, Nis." Lirihnya.


Aku menghela nafas, paham sekali dengan kondisinya.


"Lo bisa sakit kalau terus-terusan kayak gini. Lo harus makan, anak lo, masih di rumah sakit. Dia butuh lo. Kalau lo sakit, dia gimana?"


Vito tak menjawab. Ia seperti kehilangan semangat hidupnya.


Beberapa saat Vito masih terdiam. Aku pun terdiam di sampingnya, tak ingin meninggalkannya dan membuatnya merasa sendirian.


"Lo tahu gak, Nis." Akhirnya Vito bersuara. Segera aku memusatkan perhatian padanya. "Kemarin, gue sama Manda jalan-jalan di kebun teh itu. Dia bilang cinta sama gue. Gue juga bilang cinta sama dia. Gue bahagia banget. Setelah berbulan-bulan dia cuma diem gak bersuara, tiba-tiba dia ngomong kayak gitu. Di situ gue bertekad buat bakal bener-bener jagain Manda dan anak gue. Tapi..." Vito kembali tak bisa menahan isaknya. "Bahkan belum sehari dia udah ninggalin gue."


Aku pun merangkulnya. "Lo harus tabah, Vit."


"Di satu sisi... " Lanjutnya di tengah isaknya. "Gue bersyukur karena sebelum dia pergi, kita sempet ngobrol kayak kemarin. Walaupun cuma beberapa jam, gue sempet ngerasa amat sangat bahagia bisa ngerasain ngobrol, pelukan sama dia kayak pasangan normal lainnya. Tapi di sisi lain... Gue marah. Gue ngerasa gak adil... Gue sama Manda udah nebus kesalahan kita. Selama berbulan-bulan... gue harus liat kondisi dia kayak gitu. Kenapa, disaat gue udah bener-bener nyesel sama semua perbuatan gue, dan bermimpi buat hidup bahagia dan ngerawat anak kita, Tuhan malah ngambil dia. Gak adil banget, Nis..."


Tangis Vito pun semakin pecah. Karena tak tega akhirnya ku sandarkan kepalanya pada bahuku dan menepuk punggungnya pelan.

__ADS_1


"Lo jangan ngomong gitu, Vit. Tuhan tahu apa yang terbaik buat kita. Ini ujian buat lo supaya lo bisa lebih kuat, maka lo harus bisa nerimanya. Semua orang pasti akan 'pulang' pada akhirnya. Dan sekarang memang udah jadi takdirnya Tante Manda. Tante Manda sekarang juga pasti udah tenang, dia sempet ngungkapin perasaannya sama lo. Dia juga pamit sama semua orang, dan minta maaf atas apa yang dilakukannya dulu. Gak semua orang punya kesempatan kayak gitu."


Vito tak mengatakan apapun lagi. Sepertinya ia setuju dengan kata-kataku. Ia masih terisak dan aku membiarkannya. Tentu ini sangat berat bagi Vito.


Jika aku di posisinya, ditinggalkan oleh Mas Rey, tentu akupun tidak akan kuat. Malah, aku tak tahu apakah aku bisa bertahan atau tidak.


Sudut mataku tiba-tiba menangkap sosok Mas Rey. Ia tersenyum lirih padaku tak jauh dari tempatku dan Vito berada. Ku tatap ia seakan meminta maaf karena membiarkan Vito bersandar padaku.


Tapi aku yakin ia paham padaku yang merasa iba dengan kondisi Vito.


Sebenarnya, Mas Rey juga sempat menangis bersamaku saat mengetahui Tante Manda telah tiada. Saat itu ia memelukku dengan sangat erat sambil terisak. Aku tahu, bagaimanapun, dulu Tante Manda pernah memiliki tempat yang spesial di hatinya. Maka, kepergian Tante Manda pasti juga membuat Mas Rey cukup terpukul.


Sama seperti kami semua, kami tidak menyangka bahwa semua akan terjadi seperti ini. Kepergian Tante Manda, menorehkan luka di hati kami, terlepas dari apa yang pernah dilakukannya dulu.


***


Hari-hari pun berlalu, kami sekeluarga mencoba untuk bangkit dari rasa berkabung itu. Mencoba untuk kembali menjalani hidup yang terus berputar. Begitu juga dengan Vito, dia kini tinggal di apartemen lama Tante Manda bersama dengan sang ibu dan juga bayinya.


Semua aset Tante Manda jatuh ke tangannya, karena memang itu adalah keinginan Tante Manda. Mungkin Tante Manda berharap, dengan semua yang dimilikinya itu, bisa dipergunakan Vito untuk membantu biaya kuliahnya, dan merawat putra mereka.


Namun Vito membagi beberapa aset itu untuk diberikan kepada kakek dan ibuku, termasuk villa yang ditempati keluargaku.


Belakangan aku baru tahu Revi adalah singkatan dari Rey dan Vito. Nama itu diberikan Tante Manda untuk mengenang dua laki-laki yang pernah hadir di hatinya.


Aku selalu bahagia saat bertemu dengan makhluk kecil itu. Tak tega saat melihat Baby Revi hanya minum susu formula, disaat seharusnya bayi sekecil itu mendapatkan ASI dan kasih sayang dari seorang ibu.


"Hai bayi ganteng," Sapaku saat berhasil mengambil alih Baby Revi dari pangkuan ibuku. "Kangen gak sama kakak?"


Baby Revi melihat ke berbagai arah dan menggerak-gerakkan tangan dan kaki kecilnya. "Kangen juga sama Kak Danis ya? Yuk ikut pulang ke rumah kakak, yuk." Ujarku gemas.


"Nak Danis, Bu Diana, makasih ya udah selalu dateng kesini, nengokin Revi." Ujar Bu Yanti, ibu dari Vito, beliau meletakkan dua cangkir berisi teh di hadapan kami.


"Sama-sama, Bu." Ujar ibuku. "Gimanapun juga Revi itu keponakan saya juga, jadi saya juga seneng bisa kesini buat nengokin Revi. Malah pengennya nanti kami pengen bawa Revi nginep, semoga Bu Yanti dan Vito bisa mengizinkan."


"Tentu, boleh, Bu. Apalagi Revi anaknya gak rewel. Dia mau sama siapa aja. Mirip sama Vito waktu kecil." Bu Yanti memerhatikanku yang masih menggendong Revi. "Nak Danis, udah berapa bulan kandungannya?"


"Sudah tujuh bulan lebih, Tante." Jawabku.

__ADS_1


"Wah, sebentar lagi ya. Semoga lancar dan sehat sampai hari lahirannya ya."


"Aamiin. Terimakasih, Tante." Sahutku mengaminkan dengan sangat serius.


"Sama-sama, Nak. Seneng saya kalau melihat Nak Danis ini. Cantik, baik, gak banyak macam2. Bu Diana pasti senang sekali memiliki putri seperti Nak Danis."


Aku terkekeh salah tingkah. "Ah, Tante bisa aja."


"Sekarang aja dia seperti ini, Bu. Tapi waktu kecil anaknya tomboy sekali, gak mau diam, bikin saya suka cemas karena suka main jauh-jauh. Tapi setelah ayahnya meninggal, dia jadi lebih dewasa. Sampai saya sendiri keheranan dengan perubahan sikapnya." Terang ibuku.


Bu Yanti tertawa mendengar penjelasan ibuku. "Oh ya? Ya ampun seperti itu ternyata. Sebetulnya saya sudah tahu mengenai Nak Danis sejak awal kuliah karena Vito selalu membicarakan Nak Danis."


Aku dan ibuku saling menatap dengan tercengang.


"Oh gitu." Sahut ibuku sedikit canggung.


"Jujur, Bu. Dulu saya sudah membayangkan Vito dan Danis bisa sampai berpacaran dan menikah. Mereka pasti cocok sekali. Apalagi profesi mereka nanti sebagai dokter dan perawat." Ujarnya dengan tatapan menerawang, terlihat sekali beliau begitu berharap apa yang dikatakannya itu bisa jadi kenyataan.


Lalu keheningan yang janggal menyelimuti kami.


"Aduh maaf." Ujarnya segera menghalau rasa canggung itu. "Saya ini ngelantur sekali ngomongnya."


"Gak apa-apa, Bu. Yang namanya takdir dan jodoh memnag siapa yang tahu. Saya juga minta maaf karena bagaimanapun semua ini bukan sepenuhnya salah Vito. Juga Vito sudah menyesali perbuatannya."


"Betul, Bu. Vito sangat berubah. Kini kesehariannya saat pulang kuliah, kalau tidak belajar, pasti merawat Revi. Mengganti popok, menidurkan, sampai memandikan semua dilakukan olehnya jika dia sedang ada di rumah. Kadang saya sedih sekaligus bangga melihat putra saya itu."


"Syukurlah, Tante. Di kampus juga Danis selalu melihat Vito kalau gak lagi baca, dia pasti lagi ngobrol sama dosen. Dia berubah banget, Tante. Bener-bener serius banget sama kuliahnya. Kayaknya dia bisa lulus sebelum empat tahun, deh." Terangku menjelaskan bagaimana sikap Vito jika sedang di kampus.


"Kamu suka ngajak ngobrol Vito kalau di kampus?" Tanya ibuku.


"Suka, kok, Bun. Sekarang Danis sama Vito udah baik-baik aja, udah temenan lagi. Awal-awal 'kan Vito masih suka kelihatan sedih. Jadi Danis sama Fina suka nyamperin dia. Soalnya dia kayak gak ada temen gitu."


"Yah... " Helaan nafas Bu Yanti terdengar. "Itu adalah konsekuensi yang harus Vito terima atas apa yang dilakukannya. Tapi saya berterimakasih pada Nak Danis karena udah bisa memaafkan Vito."


"Tante tenang aja. Vito 'kan sekarang udah kayak keluarga." Ujarku.


Beberapa waktu kami mengobrol dengan begitu asyiknya. Baby Revi sempat buang air saat aku menggendongnya, hingga aku mencoba untuk menggantikan popoknya. Dan aku begitu menikmatinya walaupun pergerakanku tidak leluasa karena perutku sudah semakin membesar.

__ADS_1


Hingga waktu pun menjelang sore. Tiba waktunya kami untuk pulang. Namun, saat akan pulang, saat aku pamit pada Baby Revi, entah mengapa ia menangis.


Aku menjadi tak tega melihatnya. "Tante boleh gak Baby Revi nginep di rumah Danis malam ini?"


__ADS_2