Om Rey Tersayang

Om Rey Tersayang
Bab 40: Kamu Lebih Segala-galanya


__ADS_3

Pagi hari menjelang. Tubuhku rasanya seringan kapas. Walaupun demikian aku tak memiliki tenaga. Lemas sekali rasanya. Bahkan setelah kesadaranku muncul, mataku begitu berat untuk dibuka.


Kegiatan semalam benar-benar menguras tenagaku.


Perlahan aku memicingkan mata, tanganku berada di atas dada polos Mas Rey. Saat aku mendongak suamiku itu masih tertidur dengan pulasnya. Melihat wajah tidurnya yang begitu imut membuat kantukku seketika hilang.


Ujung jariku tak bisa ku cegah untuk menyentuh ujung hidungnya yang bangir. Lalu bibir merah muda yang dikelilingi kumis dan janggut tipis terlihat begitu mengundang. Padahal semalam, entah berapa lama bibirnya ini bertautan dengan bibirku, tapi rasanya aku masih menginginkannya lagi.


Tapi kuurungkan niatku karena jujur badanku lemas sekali. Aku butuh mengisi tenagaku sebelum kami melakukannya lagi.


Ku rebahkan kembali kepalaku di lengannya dan masuk ke dalam pelukannya lebih dalam. Cuaca musim dingin di luar, membuatku tak ingin meninggalkan kasur yang nyaman dan hangat ini.


Perlahan tidur Mas Rey terusik olehku yang terus menempelkan tubuhku pada tubuhnya di balik selimut.


"Sayang, udah bangun?" Suaranya parau khas bangun tidur.


"Belum..." Sahutku seraya menutup mataku kembali.


Terdengar tawa kecil darinya. Direngkuhnya tubuhku dan menghela nafas panjang, merasa nyaman. "Belum bangun tapi bisa jawab pertanyaan Mas."


Akupun terkekeh pelan.


"Dingin..." Gumamku.


Dengan sigap Mas Rey menaikan selimut yang hanya menutupi hingga ke pinggang, menjadi menutupi hingga kepundakku kemudian memelukku erat.


"Mas anget banget badannya. Aku jadi gak mau bangun." Lirihku manja.


"Ya udah kita tidur sebentar lagi ya. Udah gitu kita sarapan ke bawah."


"Hmmm." Sahutku dengan gumaman.


Tiba-tiba perutku berbunyi lirih meminta untuk diisi makanan.


Mendengar bunyi perutku Mas Rey mengusap perutku. "Ada yang udah laper banget kayaknya." Ia tersenyum jahil, membuatku malu sekali. "Mau pesen room service aja untuk sarapannya?"


Sebetulnya harusnya kami makan di restoran hotel pagi ini, lalu kami akan berjalan-jalan ke beberapa destinasi setelah itu. Seketika aku galau, bangkit dan bersiap atau tetap di tempat tidur dan saling memeluk seperti ini?

__ADS_1


"Enggak, Mas. Kita sarapan ke bawah aja. Udah itu 'kan mau jalan-jalan." Lirihku dengan enggan masih dengan mata yang tertutup dan tubuh yang menempel kuat pada tubuh polos suamiku.


"Jalan-jalannya bisa besok-besok kalau kamu masih maunya di kamar gini." Tawarnya.


Seketika aku berpikir itu ide yang bagus.


"Ya udah di sini aja sarapannya, Mas." Ujarku setuju.


Akhirnya Mas Rey meraih telepon di samping tempat tidur dan menghubungi resepsionis, memesan sarapan, setelah itu memeluk ku kembali, menunggu pelayan membawakan sarapan untuk kami.


Beberapa saat pintu diketuk. Mas Rey meraih pakaiannya dan meninggalkanku menuju pintu. Kemudian ia datang dengan sebuah meja lipat yang sudah penuh dengan berbagai macam makanan dan minuman hangat.


Seketika aku bangkit dan sibuk menikmati tampilan makanan yang menggugah selera itu. "Jadi makin laper. Dimakan ya, Mas!" Ujarku semangat.


"Pakai bajunya dulu, Sayang." Ia memakaikanku sweater miliknya sebelum aku menyantap makanannya.


Aku baru sadar bahwa tubuhku masih belum mengenakan apapun, sudah seleluasa itu aku di depan suamiku ini. "Aku bisa pakai sendiri Mas bajunya. Aku kayak anak-anak dipakein baju."


"Gak apa-apa dong, Mas pakein istri Mas baju." Ia terlihat tak keberatan sama sekali. Malah dengan senang hati melakukannya.


Setelah selesai memakaikanku sweater, diraihnya sebuah sendok dan menyuapiku, dan menyuapi dirinya sendiri. Kami berbagi semua makanan yang ada sampai habis. Setelah itu kami memutuskan untuk mandi, yang lagi-lagi kami lakukan bersama.


Hingga siang menjelang dan tubuhku sudah sangat kelelahan, Mas Rey baru berhenti. Walaupun lelah namun bahagia memenuhi setiap sudut hatiku.


Kami berada di tempat tidur lagi. Mas Rey sedang mengistirahatkan kepalanya di dadaku. Kedua tanganku sibuk memeluknya, sesekali jariku memainkan rambut hitam lurusnya. "Wah, turun salju Mas. Bagus banget." Gumamku terperangah.


"Iya, Sayang." Ia seperti tak tertarik melihat salju yang turun dan masih menenggelamkan wajahnya di dadaku.


"Ini pertama kali aku lihat salju. Jadi pengen megang. Rasanya gimana ya?" Gumamku.


"Dingin, Sayang." Jawabnya lirih masih dengan mata yang tertutup. "Nanti sore kita keluar ya." Ajaknya.


"Beneran ya?" Ujarku semangat.


"Iya. Tapi sekarang istirahat dulu."


Akupun membiarkan Mas Rey beristirahat. Sedangkan aku masih betah melihat menembus dinding kaca, melihat butiran kecil salju yang terus turun. Pikiranku mulai memikirkan banyak hal.

__ADS_1


Setelah cukup lama Mas Rey mendongak, melihat ke arah wajahku yang masih sibuk melihat salju yang turun di luar sana.


"Kamu lagi mikirin apa, Sayang?" Tiba-tiba saja pertanyaan Mas Rey menginterupsi lamunanku.


Ada satu hal yang sedang aku pikirkan. Semenjak aku resmi menikah dengan Mas Rey, selalu saja hal itu menelusup masuk ke dalam benakku bahkan saat kami sedang melakukannya, yaitu Tante Manda. Rasa bersalahku padanya dan juga tak tenang karena belum bertemu dengannya selalu saja hadir di sela-sela pikiranku.


Aku sendiri tidak mengerti kenapa kilasan Tante Manda selalu saja mengganggu pikiranku. Sulit rasanya untuk benar-benar bisa fokus dan tidak memikirkannya sama sekali.


Apa bayangan Tante Manda akan selalu membayangiku seperti ini?


Terutama saat aku melakukannya dengan Mas Rey. Aku sempat bertanya-tanya, apa aku sudah cukup baik? Apa Mas Rey puas padaku? Apa saat melakukannya denganku, Mas Rey memikirkan Tante Manda? Atau ia pernah membandingkanku dengan tanteku itu? Jujur aku hanya perempuan biasa, rasa cemburu terkadang juga terselip di sela-sela hatiku mengingat mereka pernah melakukan hal ini juga walaupun itu sudah menjadi bagian masa lalu.


"Sayang..." Tak juga mendapatkan jawaban dariku, Mas Rey meraih pipiku, membuatku tersadar.


"Gak apa-apa sih, Mas. Cuma sedikit," Ku dekatkan telunjuk dan ibu jariku. "Sedikit banget kepikiran sama Tante Manda." Ujarku dengan senyum terpaksa.


"Kenapa tiba-tiba kepikiran sama dia, Sayang?" Tanya Om Rey.


"Gak tiba-tiba, Mas. Tapi kadang suka tiba-tiba kepikiran aja. Soalnya sampai hari ini kita belum ketemu lagi sama dia."


"Mas tahu kamu cemas, tapi Mas gak suka kamu kepikiran dan masih merasa bersalah sama Manda." Ekspresi wajahnya mengeras. "Kita sekarang gak ada hubungannya sama dia, Sayang. Kamu gak salah apa-apa sampai kamu harus terus kepikiran bahkan saat kita lagi bulan madu kayak gini. Cukup pikirkan Mas dan kebahagiaan kita aja, ya?"


Mendengar kata-katanya itu, membuatku jadi merasa bersalah pada Mas Rey. Itu benar, harusnya aku memikirkannya saja di bulan madu kami seperti ini. "Apa Mas bahagia nikah sama aku dan ngelakuin itu sama aku?"


Mas Rey tersenyum. "Mas sangat bahagia, Sayang. Bahkan Mas gak bisa menggambarkan kebahagiaan Mas saat ini karena akhirnya bisa menikahi kamu, ngelakuin semua ini sama kamu."


Raut wajahnya begitu jujur, aku tahu Mas Rey berkata jujur. Tapi rasa mengganjal itu masih saja bercokol di hatiku.


"Tapi kalau dibanding sama Tante Manda, aku masih belum pengalaman 'kan, Mas. Pasti Tante Manda bisa lebih bikin Mas puas dibanding aku." Ujarku sedih.


Mas Rey kembali menatapku dengan sedikit dingin. "Pengalaman apa yang kamu maksud? Kamu kira Mas bahagia karena Manda punya pengetahuan lebih tentang hal-hal kayak gini? Apa yang perlu dibanggakan dengan itu? Manda tahu hal-hal itu karena dia udah pernah melakukannya dengan pria lain sebelum dengan Mas."


Ia terdiam beberapa saat, kemudian bangkit dan duduk menghadapku. Diraihnya tanganku dan menggenggamnya. "Tapi sama kamu, malam pertama kita, Mas benar-benar merasa seperti, ini adalah malam pertama bagi Mas juga. Kamu jauh lebih memuaskan bagi Mas. Rasa sakit yang kamu rasakan, kedua puncak kamu yang kamu bilang terasa lecet karena ulah Mas. Hal-hal kayak gitu bikin Mas merasa bersalah tapi di saat yang sama Mas juga sangat-sangat bahagia. Mas bahagia karena Mas jadi tahu kalau Mas adalah yang pertama buat kamu. Dan itu sangat spesial buat Mas, Sayang."


Hatiku meringan seketika mendengar penuturannya.


"Tolong, untuk ke depannya, jangan lagi bandingkan diri kamu dengan Manda. Karena semua hal tentang kamu itu jauh lebih baik dari Manda. Jangan pernah kamu bandingkan diri kamu dengan dia lagi, karena kamu gak bisa dibandingkan dengan dia. Kamu jauh lebih segala-galanya, Sayang."

__ADS_1


Aku mengangguk paham dan kembali masuk ke dalam pelukannya. "Maafin aku, Mas. Aku janji gak akan nyinggung Tante Manda lagi."


__ADS_2