Om Rey Tersayang

Om Rey Tersayang
Bab 61: Solusi


__ADS_3

Mas Rey mendorong keras kedua pundak Tante Manda, hingga ia mengaduh.


"Apa-apaan kamu?!" Teriak Mas Rey seraya mengusap bibirnya.


Tante Manda tersenyum melihat ke arahku yang masih berdiri mematung melihat pemandangan menyakitkan itu. Menyadari Mas Rey menatap ke arahku, aku segera berlari menuju kamar.


"Danisa!" Panggilnya, tapi aku terus berlari dan mengunci kamar.


Diketuknya pintu kamar dimana aku bersandar di belakang pintu itu. "Sayang, tolong buka pintunya!" Teriaknya.


Isakku terus keluar tak berhenti. Tubuhku merosot ke bawah karena kakiku tiba-tiba saja terasa lemas sekali.


"Danisa, tolong buka pintunya! Mas gak bermaksud untuk seperti itu!"


Aku tak tahu. Apakah hatiku masih bisa menerima semua ini. Kata-kata Tante Manda benar-benar mempengaruhiku dan ia telah membuktikan ucapannya. Jika terus seperti ini, mungkin saja hati Mas Rey bisa tergerak untuk mencintainya lagi. Bukan hal yang sulit bagi mereka berdua untuk kembali jatuh cinta. Bagaimanapun juga, mereka pernah memiliki sejarah.


Seketika aku menyesal menyetujui pernikahan mereka berdua. Aku tak akan pernah membiarkan pernikahan ini jika tahu akan sesakit ini jadinya. Aku merasa sangat bodoh.


Bodoh sekali, Danisa. Sungguh kamu bodoh. Tak ada perempuan yang ingin dimadu. Tapi aku malah meminta, bahkan memaksa Mas Rey menikahi Tante Manda lagi. Berpikir bahwa aku akan sanggup, ternyata tidak.


Sekitar satu jam aku berada di kamarku, menangis mencoba menghilangkan sesak di dadaku.


Sampai akhirnya akal sehatku kembali dan menegurku.


Pilihan ini bukankah sudah aku pikirkan matang-matang? Kehamilan Tante Manda akibat insiden itu, membuat kami tak punya pilihan lain. Menikahi Tante Manda adalah satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah ini. Egois jika aku tidak mau Mas Rey mempertanggungjawabkan perbuatannya.


Aku harus tegar dan menerima semua ini. Tak ada yang harus disesali, semuanya memang harus terjadi seperti ini. Sekarang tinggal aku yang harus bisa menerima hubungan Mas Rey dengan Tante Manda.


Perlahan aku berdiri dari posisi dudukku di lantai, dan membuka kunci pintu kamar itu tanpa membuka pintunya. Kemudian melangkah ke walk in closet dan meraih koperku.


Mas Rey yang menyadari pintu kamar sudah tidak terkunci pun masuk ke kamar dan mendapatiku sedang membereskan beberapa pakaianku.


"Kamu mau kemana?" Tanya Mas Rey. Aku tak menyahutinya dan terus membereskan pakaianku. Mas Rey meraih tanganku, menghentikanku yang terus memasukkan pakaianku ke koper. "Tolong jangan seperti ini, Dan!"


"Aku mau pergi dari sini, Mas." Lirihku.


"Kamu mau kemana?! Kamu mau ninggalin Mas?!"


"Aku mau tinggal di apartemen."


"Kalau gitu Mas ikut." Ia meraih beberapa pakaiannya. Namun segera aku menahannya.


"Enggak, Mas. Mas harus terus di sini. Tante Manda..."

__ADS_1


"Manda, manda, MANDA TERUS!!" Teriaknya seraya mengambil koper yang sedang kubereskan dan...


BRAAAKK!!


Dilemparkannya koper itu ke lantai hingga menimbulkan suara yang keras, dan semua isinya berhamburan di lantai


Aku sampai tertegun menutup telingaku. Tak pernah Mas Rey seperti ini sebelumnya. Ia biasanya selalu berkepala dingin, dan pandai mengendalikan emosinya. Tapi kini ia begitu di luar kendali.


"Mas udah bilang waktu itu, MAS GAK MAU NIKAHIN MANDA LAGI! Mas bilang tunggu sebentar lagi! Tapi kamu selalu bilang bayi, bayi, dan bayi! Mas harus tanggung jawab! Mas harus terima bayi yang dikandung Manda sebagai anak Mas! Padahal udah berapa kali Mas bilang? BAYI ITU BUKAN ANAK MAS! Tapi kamu gak pernah mau denger. Kamu kira gampang menikah di situasi kayak gini? Kamu nyesel 'kan sekarang? Terus apa sekarang, Dan? Kamu nyerah gitu aja dan kamu mau ninggalin Mas dan ngebiarin Mas ngehadapin perempuan sialan itu sendirian?!" Emosi Mas Rey meluap-luap tak terkendali.


"Mas juga merasa bertanggung jawab, 'kan?! Mas gak bisa ngelak saat lihat hasil tes DNA itu! Itu bukti kuat kalau Mas melakukannya dengan Tante Manda! Aku cuma pengen Mas jadi laki-laki yang bertanggung jawab!" Aku pun balik berteriak. "Iya, aku akuin ternyata aku gak sekuat itu untuk melihat hubungan kalian jadi dekat lagi. Aku nyesel, aku sakit! Tapi semua ini memang yang seharusnya terjadi. Kita bisa apa?!"


Dengan wajah yang frustasi Mas Rey duduk menyanggakan kedua sikutnya di pahanya. Ia tak menyahutiku.


"Sekarang, aku sadar, Mas. Aku gak sekuat itu. Aku gak akan bisa tinggal bertiga kayak gini. Aku gak sanggup, Mas. Aku lebih baik gak tahu dan gak lihat. Makanya izinkan aku pergi dari sini. Izinkan aku tinggal di apartemen." Air mataku kembali mengalir.


"Mas gak bisa." Ia menggelengkan kepalanya tak setuju.


"Dalam satu minggu, Mas tinggal sama aku beberapa hari. Sisanya Mas tinggal sama Tante Manda."


Matanya marah dan berair. "Mas gak bisa kalau gak ada kamu. Mas gak mau kalau gak setiap hari ketemu sama kamu! MAS GAK BISA, DANISA!!"


Ku raih tangannya. Rasanya pedih sekali melihat Mas Rey seemosi ini. Air mataku kembali mengalir deras tatkala mengingat pemandangan menyakitkan tadi.


Mas Rey merengkuh tubuhku dan kami berpelukan erat, meratapi nasib kami.


"Ya udah. Mas setuju kita gak seharusnya tinggal di bawah satu atap." Ucap Mas Rey setelah beberapa saat. Ia melepaskan pelukannya dan menatapku. "Mas gak mau ngelihat kamu nangis kayak gini lagi. Tapi kamu lebih berhak tinggal disini. Bukan kamu yang harus pergi, tapi Manda. Juga, Mas janji, Mas akan menjaga jarak dengan Manda."


"Jangan berjanji tentang sesuatu yang gak bisa Mas tepati, Mas." Ujarku.


Aku bukannya tidak percaya pada Mas Rey, tapi melihat tingkah Tante Manda, aku tak yakin ini akan menjadi kontak fisik mereka yang terakhir. Ditambah, Tante Manda sekarang berstatus istri Mas Rey. Ia berhak mendapatkan perhatian dari Mas Rey seperti tadi.


"Mas..."


"Enggak, Mas." Potongku tegas. "Tante Manda istri Mas juga. Sesuatu yang dilakuinnya tadi gak salah, dia berhak atas Mas juga. Hanya aku yang gak bisa nerimanya. Aku gak mau lihat, aku gak mau tahu. Tapi Mas jangan sampai janji, karena aku tahu Mas gak mungkin bisa menepatinya."


"Mas gak bermaksud..."


"Aku paham, Mas. Mas juga harus memperhatikan Tante Manda yang lagi hamil. Apalagi Tante Manda sampai muntah-muntah kayak tadi, aku yakin dia juga pengen diperhatikan sama suaminya."


Semakin pandai saja aku berbicara yang tidak sejalan dengan apa yang aku rasakan. Mulutku memang berkata demikian, tapi hatiku berdenyut nyeri seperti teriris.


Beberapa saat kemudian, aku, Mas Rey, dan juga Tante Manda, duduk di sofa ruang tengah. Mas Rey terpaksa cuti dari kerjanya karena kejadian hari ini. Kami ingin menyelesaikan masalah ini sekarang juga.

__ADS_1


"Jadi, kamu mau ngomong apa, Sayang?" Tanya Tante Manda, sengaja memanggil Mas Rey dengan ucapan 'sayang' di depanku. Namun kali ini aku sudah lebih tenang, aku tak akan tersulut lagi olehnya.


"Kita harus membuat beberapa aturan. Supaya kita semua bisa hidup dengan baik bertiga." Ucap Mas Rey.


"Aturan?" Tanya Tante Manda lagi.


Kemudian Mas menjelaskan apa yang sudah Aku dan Mas Rey sepakati tadi.


"Danis tinggal disini, terus aku balik ke apartemen lagi? Kamu di sini empat hari sama Danis, dan kamu bareng sama aku tiga hari? Kok gak adil sih?! Aku gak setuju!" Sanggahnya.


"Terus kamu maunya gimana?" Mas Rey memberikan Tante Manda kesempatan.


"Aku mau rumah yang lebih besar dari ini dan aku mau kamu empat hari bareng aku. Tiga hari bareng Danis." Ujarnya dengan pongah.


"Buat apa rumah yang lebih besar kalau kamu nantinya bakal lebih banyak di luar rumah." Sindir Mas Rey.


"Aku gak akan kayak gitu, Sayang. Sekarang aku bakal banyak di rumah, sama kamu."


Aku mengerlingkan mataku, rasanya mual mendengar ucapan Tante Manda yang dibuat-buat itu. Beberapa saat mereka terus berdebat karena Tante Manda terus bersih kukuh untuk meminta rumah yang lebih besar dan lebih mewah.


"Ya udah, gak usah rumah deh, apartemen aja. Beliin aku penthouse. Dan kamu boleh empat hari bareng Danis."


"Kamu dapet penthouse, tapi aku lima hari bareng Danis." Debat Mas Rey.


"Kok lima hari?" Ujarnya tak terima.


"Kamu juga bakal lebih banyak keluar rumah. Kamu minta aku nikahin kamu juga karena kamu terlanjur hamil, terus kamu butuh ayah dari bayi kamu. iya 'kan? Kamu gak butuh aku, Man."


"Ini anak kamu, Rey." Ucapnya meyakinkan.


"Itu bukan anak aku." Tegas Mas Rey.


"Terus kenapa kamu nikahin aku lagi kalau kamu masih yakin anak ini bukan anak kamu?"


"Karena kamu ngejebak aku. Tapi suatu saat semua itu akan terbongkar, Man. Cepat atau lambat."


Tante Manda terdiam sesaat sambil menatap Mas Rey penuh curiga.


"Kamu lagi rencanain sesuatu ya?" Tanyanya.


"Rencana apa? Aku gak rencanain apapun." Sahut Mas Rey.


Sontak aku menatap wajah Mas Rey. Raut wajahnya tenang. Tapi Tante Manda benar, wajah Mas Rey menyiratkan sesuatu. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu.

__ADS_1


__ADS_2