
Mobil Om Rey memasuki perumahan dimana rumah kakekku berada. Semakin dekat dengan rumah, semakin aku merasa gugup.
"Semangat ya. Kamu jangan tegang gitu." Om Rey menenangkanku.
"Aku gak bisa tenang, Om." lirihku. "Tante Manda udah tahu hubungan kita dan dia marah banget."
Tadi malam saat Om Rey sudah pulang, aku baru mengecek ponselku. Sejak Om Rey menjemput di kampus dan selama acara ulang tahun, memang ponsel ku simpan di dalam tas. Dan saat aku cek, aku melihat chat dan panggilan tak terjawab dari Tante Manda dan juga ibuku.
Tante Manda marah besar. Ia menganggapku tak tahu terimakasih. Selama ini ia sudah selalu membantu ekonomi keluarga kami, tapi dengan tak tahu diri aku merebut suaminya. Kata-kata kasar juga mewarnai chat-chatnya itu.
Ibuku juga memberitahukan baru saja Tante Manda datang dengan begitu murkanya. Ibuku bertanya apakah benar yang dikatakan Tante Manda bahwa aku berpacaran dengan Om Rey. Aku tak menjawabnya dan hanya mengatakan bahwa aku akan pulang ke rumah dan menjelaskannya secara langsung.
Sungguh aku semakin merasa bersalah dan begitu dilematis. Aku tahu aku salah karena berhubungan dengan suami atau sekarang aku bisa mengatakan mantan suami dari tanteku sendiri, tapi aku juga tak bisa membohongi perasaanku bahwa aku mencintai Om Rey.
Mobil Om Rey pun berhenti di depan rumah Kakekku. Ia mematikan mesin mobil dan meraih tanganku. "Kamu jangan pikirin chatnya Manda lagi ya. Dia pasti masih emosi dan masih belum terima perceraian ini."
"Tapi Om, Tante Manda pantas marah sama aku. Aku udah rebut Om dari dia." Air mataku bahkan jatuh ke pipiku.
"Sayang, kamu gak rebut siapapun dari siapapun. Rumah tangga Om udah hancur sejak lama. Ini bukan salah kamu ataupun Om kalau sekarang kita saling jatuh cinta dan menjalin hubungan."
"Tapi Om..."
"Dengerin Om," Ia menatapku lekat. "Apa salah kalau Om ingin lepas dari Manda yang gak pernah menghargai Om? Apa Om harus tetap bersama Manda walaupun Om udah diselingkuhi berkali-kali? Apa Om harus bertahan padahal kami udah gak pernah saling memperdulikan? Dan apakah setelah apa yang terjadi, saat Manda mengatakan ingin kembali pada Om dan berjanji untuk berubah, apa Om harus mengabulkan itu? Om udah sangat lelah, Dan. Om udah mencoba memberikan kami kesempatan untuk memperbaiki semuanya, tapi gak pernah berhasil. Sampai rasa Om pada Manda udah bener-bener mati. Om juga ingin melangkah maju. Om ingin punya kehidupan baru yang bikin Om bahagia. Dan Om yakin bareng kamu, Om akan menemukan kebahagian Om itu."
Om Rey benar. Ia sudah sangat menderita, disia-siakan dan tidak dianggap. Wajar jika rasanya terhadap Tante Manda berubah bahkan hilang. Namun rasa bersalah tetap saja memenuhiku. Seharusnya aku tak membiarkan hubunganku dengan Om Rey semakin dalam.
"Sekarang kamu bilang sama Om, apa pilihan Om salah? Apa Om gak berhak buat bahagia? Apa Om harus balik lagi sama Manda dan membiarkan Manda menyia-nyiakan Om lagi?"
Sontak aku menggeleng. "Om jangan ngomong gitu. Om sangat berhak bahagia. Tante Manda yang udah keterlaluan. Tante Manda yang udah menyia-nyiakan suami sebaik Om." Aku menghindari tatapannya karena tiba-tiba rasa bersalah mengungkungku lagi. "Tapi hubungan kita tetap aja salah, Om. Bagaimanapun aku ini keponakannya Tante Manda. Gak seharusnya kita menjalin hubungan."
__ADS_1
"Bukan mau Om mencintai kamu. Bukan salah kamu juga kalau Om mencintai kamu, begitu juga sebaliknya. Kita gak salah, Dan. Rasa ini tumbuh dengan sendirinya. Manda sendiri yang menciptakan celah itu. Di saat Om mencoba untuk mempertahankan rumah tangga kami, dia yang justru membuat semuanya sia-sia."
Aku semakin dilema. Entah mengapa aku masih belum bisa menghilangkan rasa bersalahku bahkan setelah Om Rey mengatakannya.
"Sekarang terakhir Om ingin tanya sama kamu, jawab dengan sejujurnya hati kamu." Sambungnya. "Apa kamu... masih yakin mau menikah dengan Om?" Wajahnya semakin sendu. "Kalau kamu belum yakin, belum terlambat untuk membatalkan semuanya."
Pertanyaan Om Rey membuatku tertampar. Sontak aku meraih kedua pipinya. "Aku juga cinta sama Om, aku mau kita nikah, kok." Kurengkuh tubuhnya. "Om jangan ngomong kayak gitu lagi. Aku mau banget nikah sama Om."
Kurasakan kedua tangan Om juga memelukku erat. "Kalau gitu, kita harus pegang teguh keputusan kita. Jangan jadikan Manda sebagai penghalang diantara kita, Dan. Om juga gak mau nanyain hal itu. Om takut kamu berubah pikiran. Tapi Om harus nanyain itu. Om tahu kamu masih sangat muda, pernikahan terlalu dini untuk kamu, tapi Om ingin bisa menjaga dan mencintai kamu selamanya, memiliki kamu seutuhnya. Om mau kamu jadi perempuan terakhir bagi Om."
Ku lepaskan pelukan itu. Ku tatap kedua matanya yang sedikit basah. Apa lagi yang kamu pikirkan, Danisa? Laki-laki di depanmu ini hanya ingin bahagia bersamamu. Kenapa kamu masih memikirkan perasaan perempuan yang justru dengan teganya menyia-nyiakan laki-laki sebaik ini?
Baiklah, aku harus yakin dengan pilihanku. Mungkin saja aku memang salah karena menjalin hubungan dengan mantan suami tanteku sendiri, tapi satu hal yang harus aku yakini adalah aku tidak merebutnya.
Aku tidak merebut Om Rey dari Tante Manda.
"Ya udah Om, kita temuin Kakek dan Bunda. Kita jelasin semuanya agar mereka ngerti." Ucapku yakin.
Kemudian aku, Om Rey, ibuku, kakekku, dan nenek sambungku sudah berada di ruang tamu. Hening. Beberapa saat tak ada yang berbicara.
Sampai akhirnya, "Pak, Mbak, Bu, saya datang kesini bersama Danisa, ingin mengatakan sesuatu."
Wajah kakekku semakin tegang.
"Saya mencintai Danisa." Ucap Om Rey tanpa ragu. Kakekku langsung saja menutup matanya dengan helaan nafas. "Saya ingin menikahi Danisa."
"Rey, kamu ini suaminya Manda. Bagaimana bisa sekarang kamu ingin menikahi Danis? Dia masih 18 tahun. Mbak menitipkan Danis pada kamu bukan untuk menjalin hubungan seperti ini, dan menghancurkan hubungan kamu dengan Manda. Kenapa kamu harus menghancurkan semuanya?" Ucap ibuku dengan sedih.
Aku tak tahu seburuk apa kejadian semalam saat Tante Manda datang kesini, namun aku bisa melihat ibuku begitu terpukul, terlihat dari wajahnya yang sedih dan lelah.
__ADS_1
"Mbak, pernikahan saya dan Manda selama ini tidak membuat saya bahagia. Sudah sejak lama hubungan saya dan Manda hancur. Bahkan kami sudah tidak tinggal bersama sejak pulang ke Indonesia. Secara berkala, Manda mengambil barang-barangnya dari rumah saya dan pindah ke apartemen yang bahkan tak saya ketahui tepatnya di unit berapa. Hubungan saya dan Manda sudah sangat hambar. Di saat seperti itu Danisa datang, menemani kesepian saya, membuat saya tertawa dan bahagia lagi. Saya tahu dia masih muda, tapi jika saya menikah dengannya, tak akan ada yang berubah, Mbak. Danisa akan tetap kuliah sampai selesai, saya juga akan menanggung segala kebutuhannya. Saya mohon, tolong restui kami, Mbak."
"Tapi Manda masih mencintai kamu, Rey. Manda sangat terpukul mengetahui hubungan kalian. Dan..."
"Dian..." Kakekku menyela, membuat ibuku terdiam.
"Biarkan mereka menikah." Ujarnya. Sontak aku dan Om Rey saling menatap.
"Tapi, Pak..." Ibuku frustasi.
"Banyak yang tak Bapak ceritakan pada kamu mengenai hubungan Rey dan Manda. Rey sudah sangat menderita karena perbuatan adik kamu. Jujur Bapak sangat malu pada Bu Sekar. Rey, putra kesayangannya, putra satu-satunya yang kelahirannya sudah sejak lama dinantikannya, sudah dibuat menderita bertahun-tahun oleh Manda. Rey sudah sangat baik dalam menjaga Manda. Tapi Manda malah melakukan hal yang memalukan, bahkan tak termaafkan." Kakekku berubah marah, dahi keriputnya mengerut, alisnya bersatu. "Sejak ia kuliah di kota besar, Manda berubah. Ia salah memilih pergaulan. Malah seharusnya, Bapak tidak membiarkannya menikah dengan Rey. Rey terlalu baik untuk Manda."
"Sejak kuliah? Memang apa yang sudah Manda lakukan selama ini? Kenapa Dian gak tahu, Pak?" Ibuku sedikit meninggikan suaranya.
"Bapak gak cerita," Sahut nenek sambungku. "Karena kamu sudah terlalu banyak pikiran. Waktu itu kamu sibuk merawat almarhum suami kamu dan membesarkan Danis. Ditambah saat Danis akan kuliah di Jakarta, jika kamu tahu tentang rumah tangga Rey dan Manda yang sudah tidak harmonis, kamu akan menolak untuk membiarkan Danis tinggal di rumah Rey. Sedangkan kita tidak punya biaya untuk Danis menyewa tempat kost. Akhirnya kami terus menyembunyikan semuanya, supaya Danis bisa memiliki tempat bernaung selama ia menjalani masa kuliahnya."
Aku yang sejak tadi diam, ikut bersuara karena hal inipun baru aku ketahui sekarang. "Jadi Kakek sama Nenek udah tahu Tante Manda udah gak tinggal sama Om Rey?"
"Betul, Nak." Ujar Kakekku. "Manda selalu sulit dihubungi, akhirnya Kakek menyuruh bunda kamu untuk menelepon Rey saja. Tapi Kakek gak nyangka ternyata kalian malah menjalin hubungan seperti ini. Kakek kira kamu masih anak-anak. Ternyata kamu bisa juga jatuh cinta pada seorang laki-laki." Sebuah senyum tipis terbit di wajah tuanya.
"Kakek... benar-benar merestui kami?" Tanyaku tak percaya.
Kakekku mengangguk. "Kakek merestui kalian."
"Tapi, Tante Manda..."
"Kalian gak perlu memikirkan anak nakal itu. Biar itu jadi urusan Kakek. Yang jelas sekarang, kamu harus bisa merawat dan membahagiakan Rey. Tebuslah rasa bersalah Kakek dengan menjadi istri yang baik, yang berbakti kepada suamimu kelak."
Aku masih tak percaya kakekku mengatakan itu. Ku Tatap wajah ibuku yang masih belum sepenuhnya yakin dengan keputusan kakekku. Namun aku akan meyakinkannya lagi nanti.
__ADS_1
"Makasih, Kek." Tanpa sadar mataku berair penuh haru.
Om Rey meraih tanganku. "Terimakasih banyak, Pak, Bu, Mbak. Ini akan menjadi pernikahan terakhir saya. Saya berjanji akan membahagiakan Danisa."