
Karena jadwal kuliah kami yang padat hari itu, Fina mengajakku makan siang di kantin fakultas saja. Padahal biasanya kami akan pergi ke kantin Universitas yang lebih luas juga terdapat lebih banyak pilihan makanan.
Setelah mata kuliah sebelum jam makan siang selesai, kami langsung meluncur ke lantai satu dimana kantin berada. Sepanjang aku berjalan sejak keluar dari ruang perkuliahan, orang-orang terus menatap ke arahku.
Dahiku berkerut merasa aneh. "Orang-orang lihatin gue, atau cuma perasaan gue doang ya, Fin?" Tanyaku pada Fina yang berjalan di sampingku.
"Lihatin lo, ngomongin lo, dan julidin lo." Tukas Fina.
Sontak aku menatap sahabatku ini. "Kenapa?!"
"Lo gak pernah lihat grup apa gimana?"
Segera aku merogoh tasku dan meraih ponsel. "Grup apa? Gue suka buka, kok." Mulai ku buka aplikasi perpesanan berwarna hijau itu.
"Grup angkatan kita."
"Grup angkatan? Gue emang gak pernah buka. Abis isinya suka ngomongin hal yang gak jelas."
Saat ku lihat grup itu, sudah terdapat ribuan chat yang belum ku baca. Aku jarang membukanya karena setelah orientasi selesai, yang dibicarakan dalam grup itu hanyalah hal-hal yang bagiku tak penting. Banyak yang mengobrol tidak jelas, atau promosi barang dagangannya, promosi UKM, dan lain sebagainya, yang bagiku tidak relevan denganku.
Kali ini karena penasaran akupun membukanya. Seketika mulutku terbuka lebar. "Ini apaan?!"
Fina duduk di sebuah kursi di kantin fakultas, dan aku duduk di depannya dengan perhatian yang masih tertuju pada layar ponselku.
"Tadi pagi ada yang lihat lo keluar dari apartemen bareng Om Rey. Difotoin dan disebarin deh di grup."
Darahku mendidih seketika. Ku scroll terus grup itu dan isinya adalah komentar-komentar mengenai foto itu. Akhirnya aku sampai pada foto yang sedang diperbincangkan itu. Foto itu memperlihatkan aku dan Om Rey baru saja keluar dari apartemen yang aku tinggali sekarang sambil berpegangan tangan. Sebuah pesan menyertai foto itu:
Ada yang kenal gak? Rasanya gue kenal deh mukanya. Tapi gue lupa namanya. Ini cewek yang sejak awal orientasi dikabarin jadian sama Vito anak kedokteran itu, 'kan?
Lalu komentar-komentar bermunculan menanggapi postingan itu.
Danisa bukan sih? Anak keperawatan? Gue sering lihat dia sama itu Om-om. Beberapa kali gue lihat dia dijemput om-omnya itu.
Komentar-komentar semacam itu terus memenuhi ruang obrolan. Beberapa orang mengiyakan bahwa aku memang sering terlihat bersama dengan Om Rey di sekitar kampus. Komentar-komentar itu benar-benar membuatku tak nyaman karena rata-rata mengarah kepada hal yang neg^tif. Dan ada satu postingan yang benar-benar membuatku naik pitam.
__ADS_1
OMG, Hot banget Omnya. Itu apartnya juga mevah parah. Beruntung banget sih dapet D^ddy yang royal gitu.
Sontak aku bangkit berdiri dari kursi. "D^DDY?!" Teriakku. "Gue dikira jadi sug^r b^by?!"
Orang-orang di kantin itu langsung melihat ke arahku dan berbisik-bisik. Sontak aku sudah tak bisa menahan emosiku. "Apa lo bisik-bisik? Ngomongin gue lo?! Sini ngomong yang keras gue pengen tahu lo ngomong apa!!"
Beberapa anak yang aku tahu seangkatan denganku, tapi aku tak tahu jurusan apa, segera meninggalkan kantin saat mendengar murkaku.
"Nis, lo tenang dong! Orang-orang jadi pada ngelihatin ke kita." Fina meraih kedua pundakku dan memaksaku untuk duduk.
"Emosi gue, Fin! Masa gue disangka kayak gitu sama Om Rey?! Mereka bilang OM REY D^DDY GUE?!" Aku masih tak terima, akhirnya teriakkanku terpaksa harus diterima Fina.
"Sekarang gue tanya, Om Rey itu D^ddy lo bukan?" Tanya Fina.
"Ya bukanlah! Gue sama Om Rey itu saling cinta! Dia bahkan ngelamar gue kemarin, nih lo lihat!" Aku mengulurkan tanganku pada Fina.
Fina meraih tanganku dan melihat sebuah cincin dengan berlian kecil di jari manisku. "Wow, Om Rey gercep! Selamat bestie. Gue ikut seneng!"
Mendapat ucapan selamat dari Fina, membuat emosiku agak mereda. "Thanks, Fin. Lo percaya 'kan gue gak kayak gitu?"
Ucapan Fina benar-benar menamparku. Fina benar, untuk apa aku menanggapi gosip itu? Biar orang lain berkata apa, kenapa aku harus memperdulikan hal tak penting macam itu? Apa pengaruhnya pendapat mereka untuk hubunganku dan Om Rey?
Mereka tidak tahu apapun.
Ponselku tiba-tiba berdering. Om Rey menelepon. Ia ingin mengingatkanku bahwa sore nanti aku akan mengunjungi calon ibu mertuaku di kediamannya. Disana sedang ada pesta ulang tahun putra bungsu dari kakak keempat Om Rey. Semua orang berkumpul disana. Dan ini menjadi waktu yang tepat untuk aku berkenalan dengan keluarga besar Om Rey.
"Okay deh, nanti Om jemput akunya di depan fakultas ya. Om parkirin mobil Om di deket gerbang utama kampus, terus Om jalan ke kampus aku, aku nunggu di depan fakultas aku."
"Tumben? Biasanya Om disuruh jemput di depan gerbang kampus aja. Sekarang Om sampai disuruh jalan dulu?"
"Gak apa-apa, Om. Biar Om sehat ada jalannya dulu ke gedung fakultas aku. Om 'kan beberapa hari ini udah jarang olahraga."
Fina menatapku penuh arti. Ia menahan tawanya melihat ucapanku pada Om Rey. Sepertinya ia tahu maksudku. Kemudian sambungan teleponku dan Om Rey ku matikan. "Apa sih? Kok senyum-senyum?"
"Lo mau pamer kemesraan nanti pas Om Rey jemput lo?"
__ADS_1
"Lo emang pinter banget." Pujiku. "Lihat aja orang-orang bakal tambah ngomongin gue. Gue bakal tambahin bahan buat mereka julidin gue!"
Setelah makan siang, aku dan Fina kembali ke lantai 4 gedung fakultas, untuk mengikuti mata kuliah terakhir hari itu. Tepat pukul dua siang, kami berjalan menuju lobby fakultas. Saat sudah berada di depan, Fina menemaniku sampai Om Rey datang. Kami pun duduk di salah satu kursi di lobby luar fakultas.
"Jadi lo udah mutusin buat berhenti kerja?" Tanya Fina.
"Iya. Semenjak jadian sama Om Rey, setiap hari dia selalu ngajakin gue pergi. Jadi ya udah deh gue resign aja. Lagian Om Rey selalu maksa gue buat terima uang dari dia."
"Beneran kayak sug^r b^by lo, Nis."
Sontak aku melotot pada Fina. "Hubungan gue sama Om Rey gak kayak gitu, Fin!"
"Iya. Iya. Lo emosian banget sih. Tapi kasihan si Vito dong. Patah hati mulu. Apalagi bentar lagi lo nikah sama Om lo itu."
Aku terdiam sesaat. "Gue dari awal 'kan gak pernah ngasih celah sama dia buat deket sama gue. Waktu kita gantiin karyawan Om Tanoe di Plaza Mall juga, gue cuekin dia. Terus Dia cuma gantiin beberapa hari seudah itu dia berhenti gitu aja. Dasar gak tanggung jawab banget. Gue jadi selalu kewalahan gara-gara dia gak ada. Tapi lo tahu gak, Fin. Gue beberapa kali lihat dia dateng sekitar jam 8-9 malam ke Mall itu. Baru dateng di saat orang-orang justru pulang karena Mall 'kan udah mau tutup jam segitu."
Fina terlihat berpikir. "Dia ke hotel kali, nemuin 'tante'nya."
"Masa sih? Gosip itu emangnya beneran?"
"Sebelum ada kabar lo sama Om Rey, Vito juga pernah jadi sasaran gosip satu angkatan. Ada yang pernah lihat dia jalan sama Tante-tante."
"Serius? Kok gue gak tahu? Terus lo kok gak ngasih tahu?"
"Ngapain juga gue ngomongin dia. Terus gue kira lo udah tahu 'kan di grup ada. Lagian sekarang kalo lo ketemu gue pasti yang lo omongin Om Rey mulu." Sindirnya.
Aku terkekeh. "Iya juga sih. Tapi gue penasaran juga. Lo masih ada fotonya?"
Fina merogoh sakunya dan mulai mencari foto yang ia maksudkan. "Nah ini ada."
"Coba gue lihat." Ku raih ponsel Fina dan melihat foto itu.
Foto itu memperlihatkan Vito berjalan bersama seorang perempuan berambut coklat sepunggung yang menautkan tangannya di lengan Vito. Foto itu hanya menampakkan punggung mereka karena memang difoto dari belakang. Terlihat jelas itu Vito karena ia sedang menoleh ke arah perempuan itu, sedangkan perempuan itu melihat ke arah depan.
"Awalnya orang-orang mikir itu bukan tante-tante, tapi lo lihat aja bajunya. Bukan kayak mahasiswa. Dia pakai minidress dan high heels buat main ke Mall doang. Yang pasti bukan seumuran kita gitu, pasti lebih tua. Makanya banyak yang curiga itu 'tante'nya Vito."
__ADS_1
Perhatianku tertuju pada perempuan itu. Jika kuperhatikan dengan seksama, sepertinya aku pernah melihatnya. Aku yakin pernah melihat perempuan itu. Tapi dimana ya?