Om Rey Tersayang

Om Rey Tersayang
Bab 46: Satu Bulan Menikah


__ADS_3

Saat di kasir, Mas Rey bersiap menyerahkan kartunya. Aku menahannya. "Gak usah ya, Mas. Biar aku yang bayar sendiri."


"Kok bayar sendiri? Ini belanjaan kamu banyak loh." Gerutu Mas Rey.


Aku mengeluarkan kartuku yang diberikannya saat kami pulang dari bulan madu. "Mas 'kan udah kasih aku ini." Ucapku sumringah.


Kartu itu secara rutin akan bertambah nominalnya setiap bulannya, dikirimkan oleh tim keuangan keluarga Kusuma. Katanya karena aku sekarang adalah istri sah salah satu menantu Keluarga Kusuma, aku berhak menerima beberapa persen dari keuntungan bisnis-bisnis keluarga suamiku.


Dengan riang, akupun menyerahkan kartu itu kepada kasir.


"Ya udah iya. Kamu boleh pakai kartu itu." Mas Rey menyerah.


Dengan tercengang aku melihat struk dengan total dua digit itu seraya keluar dari butik. "Mas, aku belanja sampai segini. Kemahalan ya? Maaf aku kalap. Gak nyangka jumlahnya sampai segini." Ujarku khawatir. Pasalnya masuk dan keluarnya kartu itu akan sampai pada Bu Sekar laporannya.


"Enggak, kok. Itu masih normal Sayang. Kamu belanja lagi aja. Gak apa-apa."


Aku memicingkan mataku. Aku berbelanja hingga puluhan juta dibilang normal. "Dasar orang kaya." Cibirku, membuat Mas Rey terkekeh.


Beberapa saat kemudian kami sudah tiba di rumah. Aku dan Mas Rey membawa puluhan goodie bag itu ke dalam kamar. Isinya ada berbagai pakaian, sepatu, tas, make up, dan aksesoris rambut dan yang lainnya. Semuanya bergaya feminim dan dewasa. Aku harus punya banyak stok baju-baju seperti ini sekarang, agar tidak dikomentari lagi oleh orang lain.


"Aku gak sabar pengen nyoba satu-satu." Ucapku semangat, kubawa salah satu pakaian dan membawanya ke walk in closet.


"Di sini aja gantinya, Sayang. Kenapa harus di sana?" Protes Mas Rey.


"Aku harus ganti di sini biar bener nyobain bajunya." Teriakku dari walk in closet. Aku tahu jika aku mencobanya di depan Mas Rey, bukannya akan mencoba pakaian, tapi ia malah akan menerkamku.


Setelah dress selutut itu aku pakai aku berjalan menghampiri Mas Rey. "Mas gimana? Aneh gak aku pakai dress kayak gini?"


Mas Rey tertegun melihatku. Lalu tersenyum puas. "Cantik. Kamu kelihatan lebih dewasa dan feminim."


Biasanya aku hanya menggunakan kaos, jeans, hoodie, dan yang paling formal, aku memakai blouse sebagai pakaianku sehari-hari. Aku sama sekali tak pernah menggunakan dress, rok, dan kawan-kawannya. Aku menatap diriku di cermin meja rias. Ternyata aku cukup manis. Juga ternyata cukup nyaman menggunakan baju-baju feminim seperti ini.


"Mas, lucu banget bajunya aku suka!" Aku masih membolak balikkan tubuhku. Dari sudut manapun pakaian itu terlihat melekat sempurna di tubuhku. "Aku mau coba yang lain ya."


Dengan semangat satu persatu pakaian-pakaian itu aku coba. Aku tidak membiarkan Mas Rey pergi. Ia harus memberikan komentar pada setiap baju yang aku pakai. Tapi bukannya bosan, Mas Rey terlihat sama bersemangatnya denganku. Dan akhirnya aku sampai pada baju terakhirku.


Sebuah gaun malam berwarna baby pink, membentuk tubuhku dengan sempurna, dengan panjang selutut, tanpa lengan juga bagian punggungnya yang terbuka. Ini adalah pakaian paling terbuka yang aku beli. Ku kenakan sekalian dengan sepasang high heels berwarna senada.

__ADS_1


"Mas, ini baju terakhir. Gimana menurut Mas?"


Mas Rey yang awalnya sibuk dengan ponselnya kini menatap ke arahku. Beberapa saat ia terdiam.


"Mas?" Tegurku karena ia masih saja memandangku tanpa berkedip.


Mas Rey menggeleng. "Gak boleh. Kamu gak boleh pakai baju ini keluar rumah."


"Kenapa? Baju ini paling bagus. Aku suka banget, Mas. Masa gak boleh dipakai keluar rumah."


"Tapi terlalu terbuka, Sayang. Kamu terlalu cantik pakai baju itu. Laki-laki pasti jadi lihatin kamu. Dan Mas gak mau istri Mas dilihatin sama laki-laki lain." Terangnya dengan wajah serius.


Aku tersenyum gemas mendengarnya. "Segitunya sama istrinya ya, Pak Reyhan ini." Godaku.


"Iya, dong. Makanya Mas lebih suka kamu pakai pakaian kamu seperti biasa karena kamu akan jadi sangat cantik saat kamu dandan dan pakai pakaian-pakaian yang lebih feminim kayak gini. Biasanya aja kamu udah cantik, Sayang. Apalagi sekarang."


"Aku pakai kalau lagi mau ke rumah ibu aja, Mas. Atau kita mau ke acara-acara formal. Bener kata Mbak Dewi, Mas. Biar aku jadi kelihatan serasi sama Mas. Gak kelihatan kayak bocil."


Mas Rey terkekeh. "Mas suka kok kamu kayak bocil, atau dewasa. Kamu cantik mau kayak gimanapun juga."


Kulangkahkan kakiku mendekat padaya. Kulingkarkan tanganku di sekeliling lehernya. "Mas, jangan suka bikin aku salting." Ku dekatkan bibirku ke telinga Mas Rey. "Aku udah gak dapet sekarang, loh."


Aku berpura-pura kesal dan melepaskan tanganku yang melingkar di lehernya. "Ya udah."


Tapi belum aku membalikkan tubuh. Mas Rey meraup tengkukku dan mulai mencumbuku.


***


Dua minggupun berlalu. Sekotak pizza sudah tersedia di meja ruang tengah. Mas Rey sedang mambawa dua buah gelas untuk kami menuangkan cola. Ia berjalan menghampiriku.


"Ayo Mas cepetan kita mulai filmnya."


"Kamu yakin mau ngerayain satu bulanannya di sini aja? Makan pizza dan nonton netflix?" Mas Rey duduk di sampingku.


"Yakin, dong. Ini 'kan cuma satu bulanan kita nikah, Mas. Nanti kalau anniv pertama baru rayain bener-bener, dan harus lebih spesial."


"Padahal kalau kamu mau kemana sekarang juga ayo, Sayang."

__ADS_1


"Gak usah, Mas. Kita udah punya pizza yang enak, cola yang dingin, film yang bagus, juga Mas yang Ganteng. Udah cukup buat aku. Selamat satu bulan, suamiku yang ganteng." Ku kecup bibir Mas Rey." Nih Mas juga makan pizzanya. Dan kita nonton filmnya. Kata Fina ini seru banget." Aku menyuapinya sepotong pizza.


Mas Rey hanya tersenyum kembali melihat tingkahku. Akupun mulai memfokuskan perhatianku pada film yang sudah ku-play.


"Selamat satu bulan juga, Istri kecilku yang cantik dan gemesin." Ku rasakan pipiku dikecupnya.


"Ih, Mas!" Tegurku antara terkejut dan salah tingkah. "Main nyosor-nyosor ih."


"Kenapa, 'kan sama istri sendiri."


"Aku pengen nonton, bukan yang lain." Tegasku.


Namun Mas Rey malah menelusupkan tanganku ke balik kaos yang aku kenakan. Aku menghindarinya sambil terbahak karena kegelian.


Tiba-tiba terdengar bunyi notifikasi di ponselku.


"Mas udah dong, itu HP aku bunyi."


Mas Rey menghembuskan nafasnya kasar. "Biarin aja paling juga gak penting."


"Mas aku pengen lihat dulu. Takut dosen aku, soalnya tadi aku nanyain tugas buat besok."


Ku raih ponselku. Ku buka aplikasi perpesanan berwarna hijau itu. Namun bukan chat dari dosen yang aku dapat, tapi sesuatu yang membuatku tertegun, membuatku bertanya ini benar atau tidak.


Seketika darahku mendidih. Itu pesan dari orang yang selama ini mengabaikan chat dan panggilanku.


Tante Manda.


Dan yang membuatku seketika dikuasai amarahku, juga rasa cemburuku berkobar adalah...


"Apaan ini, Mas?" Sontak aku menatap tajam pada Mas Rey.


"Apa Sayang?" Tanyanya bingung.


Aku tak menjawab. Aku terlalu marah. Mataku tak lepas dari wajahnya yang malah terlihat begitu bingung.


Hingga Mas Rey mengambil ponselku dan melihat sebuah foto yang dikirimkan Tante Manda itu.

__ADS_1


Foto paling menjijikan yang pernah aku lihat, foto dimana suamiku tertidur tanpa sehelai benangpun di samping mantan istrinya yang juga tak mengenakan apapun.


"KENAPA ADA FOTO KAYAK GINI?!" Teriakku murka.


__ADS_2