
Mobil berjenis MVP premium berwarna putih itu melaju menjauh. Setelah tak terlihat lagi, aku masuk ke dalam rumah dan membereskan semua cangkir dan piring yang masih terdapat beberapa sisa cemilan.
Aku masih tidak percaya Bu Sekar benar-benar membiarkanku tinggal disini bersama Om Rey. Beliau pamit seakan ia baru saja datang mengunjungi rumah kami yang baru saja ditempati seakan kami adalah pengantin baru.
Keinginannya agar segera memiliki cucu dari Om Rey yang begitu besar, membuatnya berpikir tak lazim seperti itu. Padahal Tante Dewi sudah memperingatkannya beberapa kali agar membawaku pergi dan membiarkan aku tinggal di salah satu apartemen miliknya saja. Tapi Bu Sekar tetap menolak dan membiarkanku bersama Om Rey berdua saja di rumah ini.
Katanya, "Ibu percaya pada Rey. Ia tidak akan sampai hati menodai Danisa. Ibu hanya ingin mereka semakin dekat hingga memikirkan untuk segera menikah agar bisa segera melakukan aktivitas itu. Kita lihat sejauh mana Rey bisa menahannya setelah lama tidak melakukannya dengan Manda."
Kata-kata front^l Bu Sekar sungguh membuatku kembali tercengang.
"Dan, gak usah dicuci. Kamu pasti cape. Biar ART aja besok yang cuci." Ujar Om Rey saat aku mengambil spons cuci piring.
"Cuma sedikit, Om. Gak apa-apa." Sahutku tanpa melihat ke arahnya, rasa canggung masih menyelimutiku.
"Ya udah kalau gitu Om Bantu ya." Ia meraih gelas yang sudah berbalut busa itu dan membilasnya.
"Udah, Om. Gak usah, biar aku aja." Aku bersih keras.
"Berdua lebih cepet, Dan. Biar kamu bisa cepet istirahat juga."
Kemudian aku membiarkannya, tak ingin berdebat. Rencanaku setelah selesai mencuci gelas-gelas ini, aku akan langsung menuju ke kamarku. Kami mencuci dalam diam. Hanya suara air keran dan aktivitas mencuci kami yang terdengar.
Cangkir terakhir sudah selesai dibilas. Ku raih tasku yang tersimpan di kursi meja makan. "Aku ke atas dulu, Om." Pamitku masih tak melihat ke arah matanya.
"Dan." Tanganku diraihnya. Seketika hatiku memekik, aku sudah menebaknya ia pasti menahanku pergi.
"Kamu masih marah?" Om Rey menggenggam tanganku. "Maafin Om, ya."
Karena Om Rey menyinggungnya kilasan kejadian memalukan itu kembali melintas di benakku, membuatku kembali ingin mengubur diriku dalam sebuah lubang. Aku tundukkan kepalaku dengan malu, masih membelakanginya. "Udah, Om. Gak usah dibahas lagi."
Tahu-tahu Om Rey menarikku, membalikkan tubuhku dan melingkarkan tangannya di sekeliling tubuhku. Jantungku langsung riuh berdetak dengan cepatnya.
"Sebentar lagi, Dan. Tolong kamu bersabar ya." Diusapnya rambutku pelan.
"Jangan dibahas, Om!" Protesku menutup wajahku dan bersembunyi di dada bidangnya.
Om Rey terkekeh. "Kenapa? Kamu malu?" Tak mendapat jawaban dariku ia semakin erat merengkuhku dan mengecup puncak kepalaku. "Jangan menghindar lagi, ya. Om jadi kepikiran kalau kamu bersikap kayak tadi."
__ADS_1
Om Rey menjauh dan menatapku. "Besok, Om akan ketemu sama Kakek kamu. Om akan mengembalikan Manda, sekaligus meminta restu untuk menikahi kamu. Walaupun mungkin gak akan langsung, tapi setelah proses cerai selesai, Om akan langsung membawa keluarga Om menemui keluarga kamu."
Aku tak tahu, apa aku harus bahagia atau bagaimana. Semuanya terjadi terlalu cepat. Om Rey ini pacarku saja bukan. Apa aku akan langsung menikah tanpa berpacaran? Berbagai pertanyaan bermunculan dalam benakku.
"Tunggu, Om. Om serius mau menikahi aku?"
Om Rey menatapku hangat, diraihnya sedikit rambutku dan menyematkannya di belakang telingaku. "Sebetulnya Om udah sempet kepikiran untuk nikahin kamu. Tapi hanya sebatas pemikiran aja. Cuma ngelihat ibu yang segitu sukanya sama kamu, Om jadi yakin buat nikahin kamu."
"Kenapa? Kita kenal 2 bulan juga belum loh." Ku ingatkan ia, khawatir ia lupa betapa semua ini terjadi dengan begitu cepatnya.
"Dan, Ibu itu selalu ketus sama Manda. Mereka gak pernah akur, tapi sama kamu, padahal baru ketemu, tapi ibu udah baik dan segitu sayangnya sama kamu. Ibu benar-benar yakin kalau kamu akan jadi istri yang baik, dan kalau ibu udah seyakin itu, Om juga yakin kamu akan menjadi istri yang tepat untuk Om."
Jujur aku bingung. Aku tak menyahutinya lagi.
"Dan? Kenapa? Kamu kok diem aja?" Tanyanya melihat aku yang diam tak menjawab.
Ku tatap wajahnya dengan cemas. "Om, aku belum siap."
Seketika Om Rey terdiam terpaku.
"Tapi kita kan udah..." Nadanya menggantung.
"Iya, aku tahu kita udah...itu." Ku pelankan suaraku saat mengatakan itu. "Tapi Om, aku pengen pacaran dulu. Aku gak mau nikah dulu. Aku belum kepikiran sampai sana, Om. Aku baru 18 tahun, aku baru aja jadi mahasiswa. Aku pengen hubungan kita tuh bertahap, Om. Aku pengen ditembak dulu sama Om, ngedate, terus ngelakuin hal-hal yang biasa dilakuin orang pacaran. Aku gak mau langsung tiba-tiba nikah."
Ia menatapku penuh arti.
"Maaf, Dan. Om terlalu terburu-buru kayaknya, ya." Ujarnya seraya tersenyum lirih. "Maaf Om udah egois. Kamu tahu umur Om udah gak muda lagi. Terus ibu juga..." Ia tak melanjutkan kata-katanya dan malah menggaruk alisnya yang aku yakin tidak gatal.
Aku paham, mengingat umur Bu Sekar yang sudah akan berusia 70 tahun, Om Rey pasti sangat ingin mengabulkan keinginan sang ibu untuk segera memiliki cucu. Tapi ini juga mengenai hidupku, aku ingin setidaknya semua yang terjadi antara aku dan Om Rey berjalan seperti pasangan normal lainnya. Jika aku menikah sekarang, aku harus kehilangan masa mudaku dan menjadi ibu di usia muda, sungguh aku tak pernah terpikirkan hal itu akan terjadi padaku.
"Ya udah kalau gitu, kamu tunggu disini sebentar." Om Rey berjalan menuju kamarnya dan tak lama kembali dengan senyum merekah di bibirnya. Aku masih berdiri di posisiku dengan bingung.
Om Rey meraih tanganku dan memberikanku sesuatu. Sebuah kotak perhiasan berwarna tosca dengan sebuah merk terkenal di atasnya kini sudah berada di tanganku.
"Ini apa, Om?"
"Kamu buka aja."
__ADS_1
Ku buka perlahan kotak itu dan melihat sebuah kalung dengan liontin kecil berbentuk hati. Cantik sekali.
"Coba kamu balikin liontinnya." Ku lakukan apa yang Om Rey katakan dan melihat huruf D dan R terukir disana.
"Ini..." Mendadak aku kehilangan kata-kata.
Om Rey meraih kalung itu dan berjalan ke belakangku, dipakaikannya kalung itu pada leherku. Ku gerai kembali rambutku dan kusentuh liontin yang kini menggantung di leherku.
Dibalikannya tubuhku menghadapnya dan berkata. "Setelah obrolan kita barusan, Om gak bisa nunggu lagi."
Dahiku mengerut tak paham.
"Om gak akan egois, Om akan menjadi pacar kamu sebelum menjadi suami kamu. Tapi Om bilang dari sekarang, kita pacaran gak akan lama-lama. Karena Om lebih ingin menjadikan kamu istri Om."
Nafasku tertahan.
Tanganku digenggamnya. "Danisa Citra Seruni, mau gak kamu jadi pacar Om?"
Sepertinya tiba-tiba ratusan kembang api bertebaran, melet^s di hatiku. Suaranya bersahutan memenuhi kepalaku. Om Rey benar-benar sedang memintaku menjadi pacarnya!
Mulutku bersiap mengatakan iya, namun tiba-tiba saja Tante Manda melintas dalam benakku. Wajah sumringahku berubah sendu. "Tapi Om belum resmi cerai sama Tante Manda."
Om Rey menghela nafasnya. "Dan, proses cerainya sedang berjalan. Kamu juga dengar sendiri tadi Ibu akan mempercepat proses cerai itu. Kalau Ibu sudah ikut campur, proses cerai yang bisa memakan waktu berbulan-bulan, bisa selesai dalam beberapa minggu aja."
Tentu saja. Bu Sekar memiliki banyak koneksi. Bisnis keluarga Kusuma ada banyak, tentunya mereka memiliki tim pengacara yang akan membantu hal-hal seperti ini.
Entah mengapa tiba-tiba saja terpikir satu pertanyaan. Hal ini ingin aku pastikan sebelum kami menjalin hubungan. "Sebelumnya aku juga pengen tahu satu hal."
"Kamu mau tahu tentang apa? Tanyain aja."
"Om, apakah Om benar-benar udah gak ada rasa sama Tante Manda?" Tanyaku akhirnya.
Walaupun aku yakin dengan perasaan Om Rey terhadapku, tapi aku tetap ingin tahu. Bagaimanapun Om Rey sudah bertahan selama lima tahun dalam pernikahan yang menyakitkan itu sebelum ia memutuskan untuk menyudahinya. Perasaannya terhadap Tante Manda pastilah sangat besar dulu. Lalu bagaimana dengan sekarang? Apakah ia sudah benar-benar melupakannya?
"Danisa, di hati Om gak ada sama sekali sisa perasaan Om untuk Manda. Rasa Om untuk Manda udah lama mati. Mungkin hanya sekitar dua tahun pertama pernikahan Om masih merasakan perasaan itu. Selebihnya hanya rasa sakit yang pelan-pelan mengikis perasaan Om itu." Om Rey menjeda ucapannya. "Okay, Om akan menceritakan kamu sesuatu. Awalnya Om gak mau cerita ini, karena bagaimanapun kamu adalah keponakan Manda. Tapi kali ini sepertinya Om akan menceritakan semuanya."
"Cerita tentang apa, Om?" Tanyaku penasaran.
__ADS_1