
Vito's point of view
Ojek online yang membawa pria bertubuh kurus itu sampai di depan sebuah villa yang cukup luas di sekitaran Bandung Selatan. Dengan segera ia berlari memasuki rumah. Tepat di depan pintu, seorang perempuan yang tak berbeda jauh umurnya dari sang istri membukakan pintu.
"Mbak, Manda udah mau ngomong?" Tanyanya dengan nafas sedikit tersengal.
"Iya, Vit." Ucap Diana dengan raut wajah yang lega. "Mbak juga kaget, Manda tiba-tiba bilang dia lapar dan minta dibikinin bubur."
Wajah Vito berubah sumringah. "Dimana Manda sekarang?"
"Di beranda belakang."
Segera Vito memasuki rumah dan berlari kecil menuju beranda belakang. Didapatinya Amanda duduk di kursi taman yang menghadap ke arah perkebunan teh yang terhampar luas di belakang villa yang kini ditinggali Amanda dan keluarganya.
Vito menghampirinya dan duduk di samping Amanda. Dengan hati-hati ia memanggil sang istri. "Man..."
Amanda pun menoleh. Vito melihat wajah Amanda yang biasanya terlihat tanpa ekspresi beberapa bulan ini, kini menyunggingkan senyum tipis saat melihatnya. Dan hal itu membuat Vito lega luar biasa. Diraihnya tangan Amanda dan menggenggamnya.
Masih segar dalam ingatannya bagaimana interaksinya dengan Manda selama ini. Amanda yang ia kenal adalah seorang wanita yang selalu terlihat memukau dalam balutan busana yang terbuka dengan make up tebal dan menggoda. Cara bicaranya nakal, angkuh, dan seenaknya.
Kini perempuan itu sudah lama menghilang. Yang ada di hadapannya hanya seorang wanita kurus dengan perut buncit, juga wajah yang pucat pasi tanpa riasan. Alih-alih crop top dan mini skirt, dress yang dibalut cardigan sederhana kini yang membalut tubuhnya.
Amanda yang dulu sering kali membawa Vito makan makanan enak, kini justru makan sangat sedikit, hingga terkadang Vito harus menginfus Amanda agar nutrisi yang dibutuhkan sang istri dan sang calon bayi bisa terpenuhi.
Wanita ini berbeda dengan Tante Amandanya yang selalu memanjakannya dulu dengan berbagai materi.
Yang membuat Vito rindu justru adalah sikap angkuhnya. Dulu kata-kata dan sikapnya kerap kali membuatnya kesal. Kini kata-kata itu tak pernah ia dengar lagi.
Bibirnya kini tertutup rapat. Bahkan Vito nyaris lupa bagaimana suara wanita ini.
"Kamu... lagi apa di sini?" Vito mencoba memancing agar Amanda berbicara padanya.
Amanda tak menjawab. Ia masih menatap Vito dengan matanya yang sayu. Kemudian ia menyandarkan kepalanya pada bahu Vito, membuat rasa lega kembali menghampiri hatinya.
"Disini nyaman." Ujarnya.
Vito tersenyum lebar sekali mendengar suara Amanda setelah sekian lama. "Iya, udaranya sejuk. Bagus buat kamu dan anak kita."
Sudah sebulan mereka menempati vila ini. Karsana, ayah dari Amanda, memutuskan membawa sang putri untuk pindah rumah ke daerah Bandung Selatan yang memiliki udara yang masih sejuk, menjauh dari pusat kota Bandung yang hiruk pikuknya sudah menyaingi ibu kota.
Villa yang tidak terlalu besar namun sangat nyaman dibelinya dari uang hasil penjualan penthouse yang Rey berikan kepada Amanda. Ia berharap, Amanda bisa lebih tenang berada di sini dan kesehatan mental sang putri bisa segera pulih.
"Kamu mau jalan-jalan ke kebun teh?" Tanya Vito menawarkan. Amanda menjauhkan sandarannya dan mengangguk lemah.
__ADS_1
Keduanya berjalan menikmati suasana tenang dan nyaman dengan tangan yang saling tertaut. Setelah beberapa saat menyusuri kebun teh, Vito mengajak sang istri duduk di bawah sebuah pohon rindang.
Angin bertiup lumayan kencang menyapukan rambut coklat Amanda. Sesekali Vito membantunya merapikannya dan menyelipkannya di belakang telinga sang istri.
"Beberapa minggu lagi, anak kita akan lahir, Man. Kamu deg-degan gak?" Tanya Vito.
Amanda kembali tak menjawab, tatapannya masih tertuju pada hamparan kebun teh yang luas di hadapannya.
Vito kadang masih sering merasa tak menyangka semua ini menimpa Amanda. Dulu sewaktu psikisnya masih sangat labil, Amanda yang tanpa ekspresi akan berubah histeris, menangis, berteriak tak terkendali mengeluarkan kata-kata umpatan untuk Danisa dan Rey. Jika sudah seperti itu Vito selalu merasa sakit hati. Ini adalah hukuman bagi Amanda juga dirinya.
Namun setelah berbulan-bulan berlalu, menurutnya, hukuman untuk Amanda dan dirinya sudah lebih dari cukup. Amanda sudah berubah. Ia juga sudah berubah. Ia berhak bahagia. Kini perlahan rasanya terhadap Danisa sudah semakin terkikis, berganti dengan rasanya terhadap Amanda.
Bahkan kini setelah menikah, Vito bertekad untuk akan selalu berada bersama Amanda. Menjaganya dengan baik, dan membawanya kepada bahagia.
"Nanti, anak kita mau kasih nama siapa, Man?" Tanya Vito lagi, memancing Amanda agar lebih banyak berbicara.
Amanda masih bergeming. Namun kemudian ia menatap ke arah Vito. Ia tersenyum tipis.
"Kamu udah kepikiran satu nama?" Pancing Vito lagi.
Amanda akhirnya mengangguk. "Revi..."
"Revi?" Ulang Vito. "Artinya apa?"
Vito tertegun sesaat. Kini Amanda bahkan sudah bisa melontarkan nama Rey dari mulutnya sendiri, seakan ia sudah bisa melupakan apa yang sudah terjadi. "Kenapa dikasih nama itu?" Tanya Vito lagi dengan hati-hati.
"Karena... anak kita nanti laki-laki. Aku ingin... anak kita mirip sama Rey dan juga kamu. Dua orang laki-laki tampan dan baik hati, yang pernah aku cintai."
Lagi-lagi Vito tercengang. Itu adalah kalimat terpanjang yang Amanda ucapkan selama empat bulan terakhir. Dan yang lebih membuatnya tercengang lagi adalah pernyataan Amanda mengenai dua orang laki-laki yang pernah ia cintai itu.
"Kamu cinta sama aku, Man?" Tanya Vito terenyuh.
Amanda mengangguk lemah dengan wajahnya yang pucat. "Aku cinta sama kamu. Berbulan-bulan kamu selalu ada di samping aku... gak mungkin aku gak cinta sama kamu..."
Air mata Vito mengalir tanpa dapat dicegah. Akhirnya ia bisa mendengar Amanda berbicara dengan normal seperti dulu. Ditambah kali ini, Amanda berkata dengan begitu lembut dan tulus.
Vito merengkuh tubuh Amanda ke dalam pelukannya. "Aku juga cinta sama kamu. Kita akan terus sama-sama ya. Mulai sekarang kita akan terus bareng-bareng. Seudah kamu bener-bener sembuh, kita akan pindah lagi ke Jakarta. Aku pengen kamu selalu deket sama aku selama aku nyelesain kuliah aku. Terus aku juga gak mau jauh-jauh dari anak kita. Aku pengen lihat dia setiap hari. Setelah itu kalau kamu mau kerja lagi, aku gak akan larang kamu. Malah, aku minta maaf karena mungkin aku belum bisa nafkahin kamu. Tapi aku janji, aku akan berusaha keras agar secepatnya aku bisa jadi dokter. Aku akan bikin kamu bangga sama aku, Man."
"Tapi..."
"Tapi kenapa, Man?"
"Aku akan segera pergi..."
__ADS_1
Sontak Vito melepaskan pelukannya. "Pergi? Kemana?"
Amanda kembali tak menjawab. Ia malah merengkuh tubuh Vito dengan begitu eratnya.
Seketika Vito semakin bingung. Apa maksud dari ucapan Amanda?
Namun ia tak ingin membahas ini lebih jauh. Setidaknya untuk saat ini yang terpenting adalah Amanda sudah kembali bisa berkomunikasi seperti biasanya.
Masih banyak waktu untuk menanyakan hal itu, begitu pikir Vito.
Setelah senja menjelang, keduanya kembali ke villa. Kini Amanda sudah semakin terlihat membaik. Tabiatnyapun berubah. Ia menjadi lebih sopan dalam berbicara. Ia juga lebih menghargai sang Kakak, Diana, juga ayah dan ibu sambungnya.
Mereka makan malam bersama di meja makan. Setelah itu mengobrol di ruang tengah sampai tiba waktunya untuk tidur. Amanda duduk dengan bersandar di headboard, sedangkan Vito memijit kaki sang istri yang katanya terasa pegal.
"Enak gak pijitan aku?" Tanya Vito.
Amanda mengangguk lemah, membuat Vito tersenyum puas.
"Vit..." Panggil Amanda.
"Kenapa, Man?"
"Dimana dompet dan semua dokumen penting aku?" Tanyanya lemah.
Vito terdiam sejenak. "Ada kok, di lemari. Kamu tenang aja semuanya masih utuh. Mobil kamu juga masih ada di garasi apartemen kamu. ART kamu juga masih suka bersihin apartemen kamu. Terus tentang villa ini..." Vito sedikit bingung menyampaikannya. Namun sepertinya Manda sudah tidak apa-apa jika ia menyinggung sesuatu yang akan mengingatkannya pada Rey. "Villa ini dibeli dari uang penjualan penthouse kamu."
"Oh gitu..." Gumamnya. "Kamu... setiap minggu bulak-balik Jakarta-Bandung...? Pakai apa?" Tanyanya.
"Pakai kereta. Kadang pakai bis. Tergantung mood aja." Ujar Vito berusaha terdengar ceria.
"Kamu padahal bisa pakai mobil aku..." Ujarnya lemah.
"Gak apa-apa. Pakai kereta seru, kok. Kamu jangan banyak mikir ya. Yang penting aku bisa ketemu sama kamu."
Kata-kata Vito membuat Amanda diam-diam merasa bersalah.
"Aku boleh minta tolong sama kamu?" Tanyanya.
"Minta tolong apa? Kamu bisa minta tolong apapun sama aku." Jawab Vito masih terus memijit kedua kaki Amanda yang kini semakin kurus.
"Bantu aku buat balik nama semua aset aku jadi nama kamu."
Sontak Vito terdiam. "Maksud kamu?"
__ADS_1