
Seira memakai pakaian rapi dan menata rambutnya sebaik mungkin. Ini hari pertama ia bekerja, Seira ingin tampil semaksimal mungkin.
"Apakah aku sudah cantik?" ujar Seira di depan cermin.
"Wahai cermin ajaib siapakah wanita paling cantik di dunia ini?" tanya Seira lagi.
"Hahaha aku mungkin mulai gila berbicara dengan cermin" ujar Seira.
Seira keluar dengan bahagia seraya membawa bekal sandwich yang akan dia makan di kantor. Saat keluar dari kontrakan Seira tidak mengira Bryan sudah menunggunya di luar.
"Bryan" ujar Seira kaget.
"Cepat Nona, nanti kamu terlambat di hari pertamamu" ledek Bryan dari dalam mobil dengan kaca terbuka.
Seira tersenyum dan segera naik ke mobil Bryan. Dia tidak ingin menunda waktu lagi karena sebentar lagi dia akan terlambat di hari pertamanya.
"Tenang saja kamu tidak akan terlambat, aku supir yang handal" ujar Bryan tersenyum.
"Wah Tuan muda kita sudah berganti profesi sebagai supir sekarang" ujar Seira meledek.
"Haha, bagaimanapun kita sepasang kekasih, selama tiga bulan kedepan aku akan menjemput dan mengantarmu" kata Bryan.
Sesampainya di kantor Seira segera keluar. Tak lupa ia mengucapkan terimakasih dan melambaikan tangannya ke Bryan. Seira berlari kecil memasuki kantor.
Saat masuk lift dan hendak menutupnya, sebuah suara menahan Seira dan kembali menahan pintu lift. Seorang wanita cantik terlihat di depan lift dan segera masuk.
"Terimakasih, hampir saja aku tertinggal" ujar wanita itu tersenyum.
"Iya sama-sama, tidak masalah" jawab Seira tersenyum juga.
"Perkenalkan aku Larissa dari tim pemasaran" ujar Larissa mengulurkan tanganya.
"Aku Seira dari tim design" jawab Seira terseyum.
"Kamu cantik sekali" puji Larissa.
"Kamu juga tidak kalah cantik" puji Seira lagi.
"Kedepannya mari saling membantu" ujar Larissa tepat saat pintu lift terbuka.
Seira mengangguk dan tersenyum pada Larissa. Dia senang sudah mendapatkan kenalan di hari pertama ia bekerja. Dia memimpikan pekerjaan yang menyenangkan dengan teman kerja yang baik.
Sesampainya di meja kerja miliknya, Seira disambut oleh beberapa orang rekan kerjanya. Diantaranya ada yang sudah menikah dan punya anak. Sebagian lagi masih single seperti dirinya.
"Perkenalkan saya Romeo" ujar seorang pria manis pada Seira.
"Aku Juliet" lanjut wanita muda disampingnya.
__ADS_1
"Sungguh?" tanya Seira sedikit kaget.
"Wanita ini hanya bercanda, Remeo memang benar namanya, wanita ini bernama Miranda" ujar seorang Bapak-Bapak yang terlihat sangat berwibawa.
"Haha maafkan aku, namaku Miranda" ujar Miranda tersenyum.
"Saya Pak Anton, kalau kamu menemukan kesulitan temui Saya" ujar Pak Anton berbahasa formal.
Senang bertemu anda Pak Anton, Romeo, dan Miranda, kedepannya kita akan lebih sering bertemu" ujar Seira.
"Oh iya hampir lupa nama saya Seira" ujar Seira tersenyum.
"Kita memiliki satu orang lagi anggota inti, namanya William, dia sedang sakit" ujar Romeo.
"Berarti kita ada lima orang anggota inti untuk bagian design?" tanya Seira.
"Ya benar, kita ditugaskan untuk benar-benar memahami design yang akan dikeluarkan oleh perusahaan cabang ini" ujar Pak Anton.
"Baik Pak Anton" jawab Seira.
*******
Sore harinya Bryan menjemput Seira di depan kantor. Seira tersenyum melihat Bryan yang tengah melambaikan tangan kepadanya.
"Kamu udah lama nunggu?" tanya Seira.
Mereka tidak langsung pulang ke rumah Seira. Bryan mengajak Seira makan terlebih dahulu di salah satu restoran yang sering ia kunjungi.
"Bagaimana kerja hari ini?" tanya Bryan seraya menunggu makanan mereka.
"Baik, teman kantorku juga Seru" jawab Seira.
"Baguslah aku sempat mengkhawatirkanmu" ujar Bryan.
"Kenapa? tidak perlu khawatir.
"Wajar saja aku khawatir, bagaimanapun juga kamu itu pacarku, walaupun sementara" ujar Bryan lagi.
Seira tertawa mendengar jawaban Bryan yang lucu. Dia benar-benar lupa bahwa Bryan memang memiliki sisi imut dalam dirinya.
Tak lama kemudia makanan mereka siap disajikan. Seira dan Bryan makan dengan suasana tenang. Tanpa sadar sedikit makanan menempel di sebelah pipi kanan Seira. Bryan yang ragu-ragu akhirnya mengambil sisa makanan tersebut.
"Ada apa?" tanya Seira terkejut saat Bryan memegang pipinya.
"Ada sedikit sisa makanan" jawab Bryan seraya memperlihatkan apa yang baru saja diambilnya.
Pipi Seira memerah, detak jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya. Dia tidak bisa tenang dengan perbuatan Bryan yang sangat tiba-tiba tanpa adanya aba-aba.
__ADS_1
"Ayo kita pulang" ujar Seira.
"Ayo, aku bayar bill dulu" jawab Bryan.
Bryan dan Seira tiba di depan rumah Seira. Wanita itu segera keluar dari mobil Bryan. Bryan yang tidak mendengar adanya ajakan untuk mampir segera membuka kaca mobilnya.
"Kamu tidak berniat mengajakku singgah?" tanya Bryan.
"Lain kali saja" jawab Seira.
"Hem baiklah kalau begitu, aku pulang dulu" ujar Bryan kecewa.
Bryan pulang dengan hati sedikit kesal. Dia merasa Seira belum terbuka sepenuhnya untuk dirinya. Bryan yang sudah jatuh cinta sangat sulit untuk mengendalikan dirinya.
Sesampainya di rumah, Bryan sudah ditunggu oleh seorang wanita yang sangat ia kenali. Larissa tersenyum melihat Bryan yang sudah pulang. Dia bergegas menghampiri Bryan dengan wajah bahagia.
"Akhirnya kamu pulang juga, aku sudah menunggumu dari tadi" ujar Larissa.
"Sedang apa kamu di sini?" tanya Bryan yang sudah berpindah hati.
"Aku merindukanmu" jawab Larissa seraya memeluk Bryan.
"Lepaskan, kita sudah tidak ada ikatan apa-apa Sa" jawab Bryan.
"Udah tiga tahun kamu pergi tanpa penjelasan apapun, walaupun kamu tengah sakit seharusnya kamu memberitahuku" lanjut Bryan lagi.
"Kamu tidak tahu keadaanku saat kamu pergi, aku hampir gila, itu setimpal, udah cukup aku bertahan selama tiga tahun ini" ujar Bryan mengakhiri.
"Aku tidak mau putus denganmu, aku akui aku salah pergi begitu saja tanpa memberitahumu" ujar Larissa dengan wajah melemas.
Larissa mulai mengulurkan tangannya dan memeluk Bryan. Untuk kedua kalinya Lelaki itu menepis tangan Larissa. Dia sudah tidak ingin melanjutkan masa lalu yang begitu membuatnya menderita.
"Tolong Sa, tinggalkan aku" ujar Bryan.
"Kamu kenapa? kamu udah menemukan penggantiku" ujar Larissa.
"Itu sudah konsekuensi Sa, kamu tega pergi selama tiga tahun tanpa ada penjelasan, harusnya kamu mengerti" ujar Bryan lagi seraya meninggalkan Larissa.
Larissa tercengang mendengar perkataan yang keluar dari mulut Bryan. Tidak mungkin ada wanita yang berhasil merebut hatinya Bryan. Larissa yang tidak terima langsung pergi untuk mencari tahu. Dia akan memberi perhitungan kepada wanita yang membuat dirinya dilupakan begitu saja oleh Bryan.
"Owen, segera datang menemuiku sekarang" ujar Larissa saat sedang ditelepon.
"Baik sayang" jawab Owen kepada wanita itu.
"Sudah berulang kali aku bilang jangan sebut aku dengan panggilan itu" ujar Larissa lagi.
"Baiklah, tidak perlu marah" jawab pria itu lagi.
__ADS_1
Larissa mematikan telepon itu dan bergegas meninggalkan rumah Bryan.