
Bryan bertanya kepada Pak Satpam sembari memperlihatkan foto Seira. Setelah memilihat lebih jelas Pak Satpam langsung mengenali wanita yang ada di dalam foto.
"Wanita ini sudah pulang dari tadi Tuan, dia bersama teman wanitanya tampak mabuk" jawab Pak Satpam.
"Bapak tahu kemana mereka pergi?" tanya Bryan lagi.
"Tidak tahu Tuan" jawab Pak Satpam lagi.
Bryan segera pergi ke kontrakan Seira untuk memastikan apakah Seira sudah berada di rumah atau belum. Sesampainya di kediaman Seira, Bryan segera menekan bel dan tidak ada sahutan sama sekali. Bryan yakin bahwa Seira belum pulang ke rumah karena keadaan depan rumahnya masih sama pada saat ia menjemput Seira tadi.
Bryan sungguh bingung tak karuan, ia segera menghubungi bawahannya untuk mencari Seira sampai dapat. Bryan juga menghubungi Om Wilson untuk menanyakan apakah Seira tidur di rumah keluarganya malam ini. Akan tetapi Bryan tidak memberitahukan bahwa Seira menghilang, dia harus menemukannya sendiri tanpa membuat keluarga Wilson gempar akan hal ini.
Bryan mencari tahu letak cctv terdekat di sekitar restoran itu. Dia mengumpulkan anggota tim untuk melakukan pencarian ini. Bryan belum menghubungi polisi karena kejadiannya juga belum 24 jam. Lagi pula tim Bryan akan lebih cepat bergerak dibandingkan polisi sekitar.
Hal yang tak terduga terjadi pada Bryan saat melihat cctv restoran. Terlihat gadis yang sedang makan malam dengan Seira merupakan mantannya. Mata Bryan seakan tidak percaya melihat pemandangan di cctv itu.
"Larissa? kenapa dia bersama Seira" guman Bryan.
"Apa yang sebenarnya tengah terjadi" lanjut Bryan.
Saat melihat cctv berikutnya terlihat bahwa Seira tidak pulang bersama Larissa dan yang lainnya. Bryan melihat Seira masuk ke mobil asing bersama seorang pria yang tidak dia kenal.
"Cari tahu siapa pria ini dan dimana lokasi keberadaannya sekarang" perintah Bryan buru-buru.
"Baik Tuan" jawab bawahannya.
"Kamu segera ikuti pergerakan Larissa dan apa yang dia rencanakan" ujar Bryan lagi pada bawahannya yang lain.
Semua bawahan Bryan bergerak dengan cepat dan akurat. Mereka adalah tim yang dipersiapkan Bryan jika ada urusan genting yang mendesak. Bryan tidak mau Seira terluka sedikitpun dan jauh darinya.
"Seira aku akan segera menemukanmu" guman Bryan.
Setelah menunggu beberapa waktu informasi tentang pria yang membawa Seira segera ditemukan. Seirang bawahan menbawa berkas mengenai profil pria yang tidak dikenali itu. Sungguh mengejutkan mata Bryan terbelalak melihat latar belakang pria itu sungguh mengerikan.
"Dia putera seorang mafia?" tanya Bryan memastikan kepada bahwannya.
"Benar Tuan" jawab bawahan itu.
__ADS_1
"Kalian tidak salah memberikan informasikan?" tanya Bryan lagi.
"Tidak Tuan, ini informasi yang akurat" tambah bawahan itu.
Bryan segera mengumpulkan orang-orang yang tekun dalam bidang bela diri dan bergegas ke kediaman pria itu. Tak lupa pula Bryan menyiapkan pistol sebagai alat pertahanan dirinya.
"Nama pria itu Thomas Edward Wesly" ujar sang bawahan.
"Bagaimana Seira mengenal pria ini?" tanya Bryan.
"Untuk informasi itu alasaanya belum diketahui dengan jelas Tuan" ujar sang bawahan.
"Cari tahu lebih lanjut sampai dapat" perintah Bryan.
"Baik Tuan" jawab sang bawahan.
Setelah semua anggota berkumpul, Bryan segera berangkat ke kediaman keluarga Thomas. Lelaki itu tidak tahu bahwa Thomas adalah pria yang menyamar menjadi William dan satu kantor dengan kekasihnya.
Mereka sampai di kediaman Thomas Edwars Wesly setelah empat puluh menit berkendara. Bryan beserta kelompoknya segera menemui penjaga gerbang depan.
"Segera hubungi Tuan kalian Thomas Edward Wesly jika tidak ingin ada gencatan senjata, kalian tidak tahu sudah menyekap puteri semata wayang keluarga Wilson" ujar Bryan pada penjaga gerbang.
"Sharon Diandra Wilson, siapa dia?" guman Thoman ataupun William.
Bawahan Thomas segera mencari tahu nama wanita yang disebutkan kelompok tersebut. Setelah di telusuri wajah wanita bernama Sharon itu sama dengan Seira yang dia kenal sebagai gadis kantoran biasa.
"Wah ternyata kamu juga sesuatu sepertiku" guman William senang.
"Kita sama-sama dalam penyamaran" ujar William lagi seraya mengelus rambut Seira.
William keluar dari kediamannya menuju gerbang tempat keributan terjadi. Dia mempersilahkan para anggota Bryan masuk dengan hormat.
"Kami tidak bermaksud mencari masalah" ujar Bryan.
"Tapi kalian sudah menculik puteri dari keluarga Wilson" lanjut Bryan lagi.
"Sepertinya ada kesalah pahaman di sini, kalau boleh tahu anda ini siapa? wajah anda terlihat begitu familiar" ujar William yang jarang melihat berita Televisi.
__ADS_1
"Saya Bryan Vero Wijaya dari Wijaya's Fashion" ujar Bryan memperkenalkan dirinya.
"Oh iya saya sudah ingat, anda putera Tuan Wijaya bukan?" tanya William.
William sangat menaruh dendam pada keluarga Wiyaja yang telah terlibat narkoba dan mengkambing hitamkan keluarganya selaku mafia. Padahal itu bukan dari perusahaan pusat tempat Bryan bekerja. William tidak tahu siapa dalang yang bersembunyi di kantor cabang Wijaya dan terlibat narkoba.
"Jadi wanita yang berada di sini itu Sharon Diandra Wilson?" tanya William memastikan.
"Iya benar, dia puteri Tuan Wilson" jawab Bryan.
"Wah maaf saya baru tahu akan hal itu, saya sungguh terkejut mendengarnya" ujar William berbahasa formal.
"Bagaimana kamu bisa bersama Sharon?" tanya Bryan curiga.
"Sebenarnya dia teman sekantor saya, dan saya menyelamatkan dia dari bahaya" ujar William jujur.
"Dalam bahaya?" tanya Bryan tidak mengerti.
"Iya benar, dia dalam bahaya. Gadis di kantor kami bernama Larissa ingin mencelakainya, dan saya segera menghentikan itu" jelas William masih berbahasa formal pada Bryan.
"Larissa hendak mencelakai Sharon, kenapa? apa yang sebenarnya terjadi?" guman Bryan dalam hati.
"Aku tidak tahu ada masalah apa diantara mereka, tapi sepertinya wanita bernama Larissa itu sangat membenci Nona Sharon" ujar William mulai berbahasa lebih biasa.
"Baiklah kalau memang begitu terimakasih, saya akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, kalau begitu saya akan membawa Nona Sharon" ujar Bryan masih berbahasa formal walaupun William sudah mengubah gaya bahasa nya.
"Memang nya kamu ada hubungan apa dengan Sharon, bagaimana saya bisa mempercayaimu?" tanya William kembali berbahasa formal.
"Saya tunangannya" jawab Bryan singkat.
"Saya tidak percaya" bantah William.
Bryan segera menunjukkan fotonya makan malam bersama keluarga Sharon. Wajah William berubah lesu dan cemburu melihat hal itu. Dengan berat hati dia menyerahkan Sharon pada Bryan.
"Dia tengah pingsan, kamu harus berhati-hati, efek obatnya masih berjalan" ujar William memberikan nasehat.
"Baiklah, terimakasih banyak sudah menolong Seira" ujar Bryan.
__ADS_1
"Nama aslinya Seira?" tanya William lagi.
"Itu nama kecilnya" jawab Bryan.