
Laura begitu kecewa sehingga dia keluar dari ruangan itu saat sudah mengucapkan terimakasih pada Dokter. Melihat wanitanya sudah keluar Freddin segera menyusul Laura. Laura berjalan cepat dan meninggalkan Freddin.
"Laura tunggu" panggil Freddin.
Laura tidak menyahut sama sekali panggilan dari Freddin. Air mata nya menetes dan dia mulai menangis tersedu-sedu. Freddin berlari mengejar Laura dan memegang tangannya.
"Lepaskan" ujar Laura marah.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Freddin.
"Kamu kecewa aku hamil, kamu cuma suka waktu enak-enaknya aja?" tanya Laura langsung marah.
"Maksud kamu apa? aku senang aku hanya sedikit terkejut karena ini terlalu tiba-tiba" ujar Freddin.
"Sudahlah kamu tidak perlu beralasan semuanya jelas terlihat di wajah mu, kita putus saja" ujar Laura lagi seraya naik taxi yang lewat.
"Laura tunggu Laura apa maksudmu?" tanya Kevin seraya mengetuk jendela taxi Laura sebelum taxi itu pergi.
"Berangkat Pak" ujar Laura pada sopir taxi.
Taxi itu berangkat meninggalkan Freddin yang tengah bingung. Freddin sama sekali tidak berbohong pada Laura. Pria itu senang mendengar kabar baik tersebut dan berniat melamar Laura. Dia pucat karena berpikir ini sangat tiba-tiba. Dia berpikir apakah laki-laki sepertinya mampu menjadi sosok seorang Ayah yang baik untuk anaknya kelak. Akan tetapi Laura sudah salah paham terhadap reaksi yang ia lihat dari wajah Fredddin.
Freddin memutuskan menyusul ke rumah Laura. Setelah beberapa lama di perjalanan dia akhirnya sampai juga. Freddin langsung masuk dan mencari ke kamar Laura, tapi kamar itu kosong.
"Laura dimana Bi?" tanya Freddin pada asisten rumah tangga.
"Nona Laura belum pulang Tuan" ujar ART itu.
Freddin menghungi Laura berkali-kali tetapi tidak ada jawaban. Dia mulai resah dan gelisah, takut Laura kenapa-kenapa di jalan.
__ADS_1
Sementara itu Laura ternyata ke rumah Seira. Dia ingin menangis di pelukan Seira yang sudah ia anggap sebagai Kakaknya. Dia menceritakan semua kejadian yang ada kepada Seira tanpa melewatkan apapun.
"Jadi kamu tengah hamil?" jelas Seira dengan pelan-pelan.
"Iya Kak aku harus bagaimana aku tidak mau menggugurkan kandungan ini" ujar Laura.
"Memangnya Freddin menyuruhmu untuk menggugurkannya?" tanya Seira tidak percaya Adiknya begitu.
"Dia memang tidak bilang begitu, tapi aku yakin maksud tatapan matanya itu seperti itu" tutur Laura.
"Kamu tidak boleh salah paham begitu, belum tentu Freddin berpikiran seburuk itu" ujar Seira mengingatkan.
"Ya sudah kamu istirahat dulu ya, Kakak akan memikirkan caranya" ujar Seira lembut seraya mengelus pundak Laura.
"Kalau kamu stress nanti calon bayi mu akan sedih" lanjut Seira lagi.
Laura setuju karena merasa perkataan Seira itu benar. Dia memutuskan berbaring dan istirahat di kamar Seira. Tidak berapa lama kemudian dia tengah tertidur.
"Halo Kak Seira kamu harus bantu aku cari Laura" ujar Freddin saat Seira menghubunginya.
"Sudah kamu jangan khawatir lagi, Laura di rumah Kakak, ayo kita perbaiki salah paham ini" ujar Seira.
"Salah paham apa Kak?" tanya Freddin tidak mengerti.
"Laura sudah cerita semuanya lada Kakak, dia sudah salah paham padamu dan mengira kamu membencinya karena hamil dan ingin menggugurkan kandungan itu" jelas Seira.
"Apa dia berpikiran begitu Kak? aku sama sekali tidak pernah berpikir seperti itu" ujar Freddin kaget.
"Iya Kakak tahu, makanya kita harus memperbaiki salah paham ini" ujar Seira lagi.
__ADS_1
"Aku segera ke sana" ujar Freddin.
"Jangan dulu, persiapkan semuanya dulu" ujar Seira.
"Maksud Kakak?" tanya Freddin lagi.
"Malam ini kamu lamar Laura ya, sekarang beli cincin dan perlengkapan lainnya" ujar Seira.
"Kamu mau bertanggung jawab dan menjadi suami serta Ayah yang baik bukan?" tanya Seira lagi.
"Tentu saja Kak, aku sangat menyayangi Laura lebih dari yang ia bayangkan" jawab Freddin.
Freddin segera menyiapkan keperluan untuk melamar Laura malam ini. Dia segera menghubungi Kevin untuk membantunya mereservasi restoran tempat dia akan melamar Laura dan menghiasnya. Freddin juga meminta tolong pada Bryan untuk menemaninya membeli cincin. Seira segera menyiapkan pakaian yang indah untuk dipakai Laura pada acara nanti malam.
"Aku tahu tempat yang bagus yang bisa kita hias dengan baik dan romantis" ujar Kevin teringat Cafe milik Yuna.
"Aku percayakan masalah tempat pada Kakak" ujar Freddin.
Kevin segera pergi ke tempat Yuna untuk mempersiapkan semuanya. Yuna langsung setuju dan menutup Cafe hari ini. Dia menyuruh seluruh staff untuk membersihkan Cafe dan menghiasnya seromantis mungkin. Dia juga menyiapkan beberapa musik yang akan dimainkan dengan biola oleh orang-orang kepercayaannya.
Sore harinya Laura bangun dengan mata sembab. Dia kembali memikirkan Freddin dan mulai menangis. Melihat hal itu Seira langsung menghentikannya dan menyuruhnya untuk mandi yang bersih.
"Kita mau kemana Kak?" tanya Laura.
"Kita akan pergi ke suatu tempat yang indah agar kamu melupakan masalah mu" ujar Seira tersenyum.
"Memangnya ada tempat seperti itu Kak?" tanya Laura.
"Tentu saja ada sayang" jawab Seira.
__ADS_1
"Sekarang kamu mandi dan bersiap-siap ya, malam ini kita akan berangkat" ujar Seira.
"Baik Kak" jawab Laura yang kemudian mandi dan siap-siap.