
Seira akhirnya sampai di rumah utama yang sungguh besar dan megah. Ayahnya tengah menunggunya untuk menyambut kedatangan puteri semata wayangnya. Freddin dan Laura masih berbulan madu dan belum pulang ke rumah.
"Kamu akhirnya sampai sayang" ujar Ayah Seira.
"Iya Pa, Papa apa kabar?" tanya Seira merasa kikuk.
"Papa sehat, kamu juga kan?" tanya Papa nya seraya mengajak Seira ke ruang tamu.
"Iya Pa Seira sehat jawabnya.
Para pelayan mengangkat barang-barang Seira ke kamarnya yang sudah di rapikan terlebih dahulu. Dua gelas teh telah disajikan untuk Seira dan Ayahnya.
"Kamu kenapa tiba-tiba memutuskan balik ke rumah Nak?" tanya Papa Seira setelah meminum sedikit tehnya.
"Aku rasa sudah saatnya untuk kembali ke perusahaan kita Pa, apalagi Freddin sudah menikah pasti dia akan lebih sibuk kedepannya, Seira harus membantunya" ujar Seira.
__ADS_1
"Kamu benar sekali, dari dulu Papa ingin kamu ikut serta membantu Freddin dalam urusan perusahaan, Papa sudah mulai tua dan tidak bertenaga lagi" jelas Papa Seira.
"Maafin Seira ya Pa" ujar Seira melihat Papa nya yang semakin tua.
"Tidak apa-apa kamu boleh membenci Papa sebanyak yang kamu mau" ujar Ayah Seira.
"Tapi jangan lupa untuk pulang" lanjut Ayahnya lagi.
"Seira juga sudah memaafkan kesalahan Papa, ayo kita hidup dengan bahagia kedepannya" ujar Seira dengan mata berkaca.
"Iya Nak, tentu saja Papa sangat bahagia sekarang melihat kamu sudah menerima Papa lagi, maafkan kesalahan Papa ke Mama ya Nak, Papa juga sangat sayang pada Mama, Papa tidak tahu Mama akan meninggalkan kita secepat itu" ujar Ayah Seira kembali.
"Oiya kamu dan Bryan apa kabar?" tanya Ayah Seira yang belum mengetahui apa yang terjadi.
"Kami baik Pa, tidak perlu khawatir" jawab Seira berbohong.
__ADS_1
"Kalian akan menuju jenjang yang lebih serius kan?" tanya Papa lagi.
"Haha Seira belum tahu Pa" jawab Seira ragu-ragu.
"Seira istirahat dulu ke kamar Pa" ujar Seira mengalihkan topik pembicaraan agar tidak ditanya kembali oleh Ayahnya tentang hubungannya dengan Bryan.
"Ya sudah kamu istirahat dulu Nak, nanti kita makan malam bersama" pinta Papa.
"Baik Pa" jawab Seira seraya meninggalkan ruang tamu dan menuju kamar.
Kamarnya tidak banyak berubah, para pelayan tidak berani mengubah susunan tata letaknya. Mereka hanya membersihkan kamar itu setiap hari agar tidak berdebu. Hal ini merupakan perintah Papa Seira agar sewaktu-waktu puterinya kembali dengan kamar yang terawat.
"Ada wangi Mama" ujar Seira melihat sekeliling kamarnya yang penuh dengan ingatan dirinya dengan Ibunya.
"Ma Seira kangen, Seira tidak tahu lagi harus berbuat apa" ujar Seira memikirkan nasib hubungannya dengan Bryan.
__ADS_1
"Seira sangat mencintainya Ma, tapi kenapa harus ada permasalahan sebesar ini, apa Seira harus mundur Ma?" lanjut Seira lagi mengadu kepada Ibunya yang sudah tiada.
Seira menangis dan berbaring di tempat tidurnya. Tidak lama kemudian dia tertidur dengan mata sembab dan suasana hati yang buruk. Seira hanya berharap ada kejelasan dari masalah yang menimpa hubungannya dengan Bryan. Dia terlalu berat untul putus dengan Bryan akan tetapi dia juga tidak kuat harus berurusan dengan Larissa dan semua permasalahan yang ada. Dia tidak tahu bahwa pacarnya sedang dijebak oleh Larissa.