
Seira yang tengah lelah merebahkan badannya di kasur miliknya. Ponselnya berbunyi, sebuah panggilan dari Thomas membuat Seira duduk kembali.
"Halo Thomas" ujar Seira.
"Hai Ra, apa kabar?" tanya Thomas.
"Kabar ku biasa-biasa saja" jawab Seira.
"Temani aku keluar dong, aku perlu membeli beberapa stelan jas yang akan aku pakai untuk bisnis di luar kota" pinta Thomas.
"Harus aku banget ya? kamu tidak ada orang lain yang bisa kamu ajak?" tanya Seira lagi.
"Kamu satu-satunya orang yang aku percaya untuk tugas ini" ledek Thomas.
"Baiklah kita berjumpa dimana?" tanya Seira.
"Aku akan menjemputmu, kamu masih tinggal si rumah bukan?" tanya Thomas memastikan.
"Iya kamu kesini saja, aku siap-siap dulu" ujar Seira.
Seira yang awalnya bermalas-malasan terpaksa bangun dan bersiap-siap. Dia tidak tega menolak permintaan Thomas yang sudah baik padanya.
"Aku juga harus membeli beberapa pakaian yang agak longgar" ujar Seira takut perutnya bertambah besar.
Seira mandi terlebih dahulu dan mengeringkan rambutnya. Setelah itu dia memilih pakaian yang akan dia pakai. Satu jam kemudian Thomas datang menjemput Seira.
__ADS_1
Disaat bersamaan Bryan yang telah mengintip keberadaan Seira melihat penampakan itu. Hatinya sangat teriris melihat Seira masuk ke mobil Thomas.
"Apa kamu sudah benar-benar melupakan aku Ra" ujar Bryan.
Bryan akhirnya pergi meninggalkan kediaman Seira. Hari ini dia berjanji akan menolong Larissa demi berbaikan dengan Seira. Larissa berjanji akan menjelaskan semuanya pada Seira.
"Ini semua berkas yang kamu minta" ujar Larissa.
Bryan menyerahkan berkas itu pada pengacaranya. Dia ingin pengacanya memenangkan hak asuh sepenuhnya pada Larissa.
"Pastikan dia menang di persidangan nanti" ujar Bryan.
"Baik Tuan" jawab pengacara itu.
"Makasih ya Bryan, kamu mau membantu aku" ujar Larissa.
"Aku berjanji akan menjelaskan semuanya pada Seira saat memenangkan hak asuh, agar aku juga punya bukti yang akan aku perlihatkan pada Seira" ujar Larissa.
"Iya kamu harus tetap menjelaskannya walaupun sudah terlambat" ujar Bryan mengingat kejadian tadi siang.
"Terlambat?" tanya Larissa.
"Sepertinya Seira sudah mulai membuka hati pada laki-laki lain" ujar Bryan.
"Tidak segampang itu Bryan, aku yakin Seira masih sangat menyayangimu" balas Larissa.
__ADS_1
"Kamu tahu apa?" tanya Bryan.
"Pada akhirnya tidak ada yang mampu bertahan denganku" ujar Bryan lagi.
"Aku tahu Seira orang yang seperti apa, kamu lupa kami pernah sekantor, aku yakin dia belum bisa melupakanmu" ujar Larissa lagi.
"Entah lah aku tidak tahu lagi harus bagaimana, aku sangat menyayanginya" ujar Bryan.
Tanpa Bryan sadari Seira merekam percakapan mereka. Larissa tahu rekaman suara ini pasti akan bermanfaat pada waktunya. Setelah semua masalah Zelyn selesai di bahas Larissa akhirnya pulang.
*******
"Sayang, Kak Seira sedang ada masalah ya dengan Kak Bryan?" tanya Laura pada suaminya.
"Aku kurang tahu sayang, Kak Seira gak pernah cerita" jawab Freddin.
"Aneh sekali, apa mungkin mereka berantam karena Kak Seira hamil?" tanya Laura.
"Maksud kamu apa sayang?" tanya Freddin.
"Aku belum tahu pasti tespack itu punya siapa, tapi aku menemukan tespack garis dua di laci kamar Kak Seira sayang" ujar Laura.
"Apa jangan-jangan Bryan tidak mau bertanggung jawab makanya mereka berkelahi" ujar Freddin dengan marah.
"Jangan terburu-buru dulu menarik kesimpulan sayang, bagaimana kalau kamu bertanya kepada Kak Bryan agar aku juga bertanya pada Kak Seira, tapi kita diam-diam saja, seperti misi membuat mereka baikan?" usul Laura.
__ADS_1
"Akh setuju sayang, nanti aku akan menemui Kak Bryan sepulang dari kantor" jawab Freddin menyetui saran istrinya.