
Freddin memegang dagunya dan tidak berhenti memutar kursi kantornya. Dia tengah memikirkan cara terbaik untuk memisahkan Laura dengan Dokter Niko. Freddin takut Laura mengetahui sifat asli Niko dan melukai harga dirinya yang sudah memuji Niko habis-habisan.
"Aku harus berbicara dengannya" ujar Freddin.
Freddin datang ke rumah sakit tempat Niko bekerja. Dia tengah menunggu Niko keluar dari rumah sakit karena ia tidak punya janji temu. Tanpa Freddin sadari, hari ini Laura juga ada janji dengan Niko di rumah sakit.
Setelah lama menunggu akhirnya Niko keluar juga. Freddin langsung menemui Niko, dia tidak tahu bahwa Niko keluar untuk menemui Laura. Freddin menarik tangan Niko dan mengajaknya ke tempat sepi, Laura yang melihat hal itu mengikuti mereka berdua.
"Apa yang dilakukan Freddin di sini" guman Laura seraya mengikuti kedua lelaki tersebut.
Setelah menemukan tempat yang cocok untuk berbicara berdua, Freddin segera melepas tangan Niko. Dokter Niko terlihat kaget dengan perbuatan Freddin yang tiba-tiba.
"Ada apa ini" ujar Dokter Niko sedikit meninggikan suaranya.
"Kamu harus jauhi Laura" ujar Freddin marah.
Laura yang mendengar hal itu segera melangkah mendekat. Akan tetapi kalimat berikutnya yang keluar dari mulut Freddin menghentikan langkah nya dan membuat wanita itu kembali ke posisi semula dan bersembunyi.
"Kamu sudah punya pacar tapi memberi harapan pada Laura" ujar Freddin lagi.
"Maksud kamu apa" jawab Dokter Niko.
"Halah kamu tidak perlu sok polos di hadapan ku, ini apa?" ujar Freddin seraya memperlihatkan foto kemesraan Niko dengan pacarnya.
"Kamuu, bagaimana bisa kamu punya ini" ujar Niko mulai ketakutan.
"Segera jauhi Laura, buat alasan yang tidak akan menyakitinya" ujar Freddin mengancam.
Laura yang mendengar hal itu langsung terdiam. Dia tidak menyangka Freddin tidak ingin dia tahu dan sakit hati. Laura merasa bodoh dan malu telah memuji Niko habis-habisan di depan Freddin.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Niko.
"Kasih alasan kamu mau lanjut studi ke luar negeri atau apalah, yang penting alasan itu tidak menyakiti Laura" ujar Freddin.
__ADS_1
"Kalau sampai kamu gagal, awas saja" ujar Freddin lagi.
"Baiklah kamu harus segera pergi, Laura hendak kesini untuk menemuiku" ujar Dokter Niko yang tidak tahu bahwa Laura sudah sampai dan menguping pembicaraan mereka.
"Baiklah, segera putuskan hubungan kalian hari ini juga, aku tidak mau kamu mempermainkan dia" ujar Freddin kembali mengancam.
"Baiklah" jawab Niko ketakutan.
Freddin bergegas meninggalkan taman rumah sakit dan kembali ke mobilnya. Dia sama sekali tidak sadar bahwa Laura sudah tahu semuanya.
Saat melihat mobil Freddin pergi dari parkiran rumah sakit, Laura segera menemui Niko. Dia ingin penjelasan untuk semua hal aneh yang baru saja dia dengar.
"Laura kamu udah sampai" ujar Niko seakan tidak terjadi apa-apa.
"Ayo kita berbincang seraya minum teh" ujar Laura yang masih sabar.
Mereka berdua pergi minum teh di Cafe depan rumah sakit. Laura mulai mengajak Niko berbincang tanpa emosi sama sekali.
"Aku udah dengar semua percakapan kamu dengan Freddin, kalian tidak sadar bahwa aku telah menguping semua pembicaraan kalian" ujar Laura sendu.
"Kamu tidak perlu khawatir, Freddin tidak perlu tahu semua ini, aku hanya ingin tahu kebenaran dari semua ini" ujar Laura.
"Maafkan aku Laura, sebenarnya aku sudah menyukai seorang wanita sejak SMA, tapi orang tua ku tidak merestui kami karena dia dari keluarga sederhana" ujar Dokter Niko lirih.
"Ibu ku mengira kami sudah putus, itu satu-satunya cara agar Ibu ku tidak mengganggu kekasihku lagi" lanjut Niko.
"Dia ingin aku menikahi gadis yang setara dengan keluarga kami, seperti kamu, jujur saja aku senang saat bersamamu, kamu gadis yang baik, jujur, dan ceria, tapi aku hanya bisa berteman dengan mu dan tidak lebih" jelas Niko lagi panjang lebar.
Laura hanya tersenyum, dia tahu Niko tidak ada niat buruk padanya. Laura juga tahu bahwa Niko melakukan ini semua karena keadaan yang memaksakan. Wanita itu bahkan turut prihatin dengan hubungan Dokter Niko yang tidak direstui orangtuanya.
"Yang sabar ya, kamu berhak kok bahagia" ujar Laura tersenyum.
"Kamu gak marah Laura?" tanya Niko lagi.
__ADS_1
"Tidak, wanita itu pasti sangat beruntung punya lelaki yang mempertahankannya sepertimu, walaupun keluargamu tidak merestui kamu bahkan tetap bersamanya dan tidak pergi meninggalkannya" ujar Laura.
"Terimakasih Laura, kamu memang gadis yang baik, aku yakin kamu akan segera bertemu laki-laki yang akan membuat mu bahagia" doa Niko pada Laura.
Laura hanya tersenyum dan mengangguk pada Dokter Niko. Setelah mereka selesai berbincang, Laura kembali ke rumahnya. Selama perjalanan Laura memikirkan perilaku Freddin hari ini. Dia tidak mengira Freddin akan berbuat sejauh ini demi dirinya. Freddin bahkan tidak ingin dia bersedih sedikitpun.
"Mungkin aku sudah terlalu jahat padanya" ujar Laura tersenyum.
Laura mengubah arah dan tidak jadi pulang ke rumahnya. Dia tengah menuju kediaman keluarga Wilson yang dulu sering ia kunjungi.
***********
Seira menatap Bryan yang tertidur di kursi ruang tamunya. Pria itu benar-benar keras kepala dan tidak mau pulang sama sekali. Dia ingin selalu menjaga Seira setelah apa yang terjadi pada gadis itu.
"Aku harus kerja Bryan" ujar Seira kesal.
"Aku ikut" jawab Bryan langsung terbangun.
"Tidak boleh" bantah Seira.
"Kalau begitu kamu tidak boleh pergi kerja" jawab Bryan lagi.
Seira yang kesal segera siap-siap untuk berangkat ke kantornya. Dia tidak ingin terlambat untuk kerja hari ini. Sudah beberapa hari dia tidak bekerja karena kejadian malam itu. Dia tidak ingin menambah hari libur dan mendapat teguran dari atasan.
"Kamu pindah saja ke kantor pusat, aku akan mengurus nya" ujar Bryan tidak tenang.
"Aku tidak mau, aku suka bekerja disitu dan orang-orangnya" jawab Seira.
"Kamu kan tahu bahwa teman sekantor mu yang mengajakmu makan malam itu jahat" ujar Bryan belum memberitahu Seira bahwa ia mengenal Larissa.
"Aku bisa bertanya dulu padanya, bisa jadi ini adalah salah paham, mungkin dia juga tengah mabuk malam itu" tutut Seira masih berpikir positif.
"Belum lagi mafia itu, kamu udah kehilangan ketakutan ya?" ujar Bryan kesal.
__ADS_1
"Mafia mana, di kantor ku tidak ada mafia bernama Thomas" ujar Seira lagi.
Bryan sungguh kesal Seira tidak mau mendengarkan dirinya. Dia tidak tahu harus berbuat apa untuk meyakinkan Seira bahwa di kantor nya banyak hal yang sungguh janggal.