One Night One Love

One Night One Love
Bab 13 : Tenda


__ADS_3

Malam harinya Seira dan Bryan makan ramyon bersama di luar tenda. Hujan mulai menetes dan mereka memutuskan untuk berhenti memancing.


"Sepertinya suasananya tidak mendukung untuk memancing" ujar Bryan.


"Iya, bagaimana bisa hari ini hujan padahal langit sangat cerah" jawab Seira.


"Kamu bawa bir?" tanya Seira.


(cerita ini bernuansa korea, jadi kebiasaan dan gaya hidup mengikuti romansa korea)


"Ada, kamu mau?" tanya Bryan.


Seira mengangguk dan mengambil Bir yang diberikan Bryan. Setelah makan ramyon mereka berdua meminum Bir dikarenakan cuaca juga mendukung. Setelah habis tiga kaleng bir, Seira mulai mabuk dan berbicara sesuka hatinya.


"Haaah, kenapa hidup ini sangat membosankan" ujar Seira dengan pipi merah.


"Kamu sudah mabuk, masuk saja ke tenda dan tidur" suruh Bryan.


"Aku akan berjaga-jaga di luar" lanjut Bryan lagi.


"Apa aku tidak semenarik itu sehingga dulu aku diselingkuhi?" tanya Seira lagi.


"Bukan, memang pria itu yang bodoh, katamu dia lebih memilih wanita yg kaya, dia tidak tahu bahwa kamu lebih kaya" ujar Bryan berani mengucapkan itu karena tau Seira sudah mabuk.


"Haha kamu benar, dasar pria brengsek, dia dan selingkuhannya bisa aku beli" ujar Seira marah.


"Ya kamu benar, kenapa kamu memilih hidup begini?" tanya Bryan kesempatan karena Seira tidak akan mengingat percakapan mereka.


"Aku? haha begini lebih nyaman, aku benci pria yang terlalu sibuk kerja seperti Ayahku" jawab Seira hampir tumbang.


"Oh ya, tapi Ayah mu pasti melakukannya demi kebaikan keluarga kalian" ujar Bryan lagi.


"Aku tidak butuh uang, uang kami sudah terlalu banyak, aku butuh kasih sayang yang tulus" jawab Seira seraya memegang kedua pipi Bryan dengan kedua telapak tangannya.


Jantung Bryan berdegup lebih cepat, sentuhan tangan dari Seira seakan mempercepat aliran darahnya. Bryan menatap bibir mungil milik Seira dan menyentuhnya.


"Aku boleh menciummu?" bisik Bryan.


Seira hanya tersenyum karena dia sudah mabuk berat. Tak menunggu waktu lama lagi Bryan mencium bibir Seira dengan penuh penghayatan. Seira membalas ciuman manis dari Bryan dan memejamkan matanya. Seira memeluk erat Bryan dan wanita itu tertidur lelap dengan senyuman.


Pagi harinya Seira bangun dan kepalanya sedikit pusing. Dia melihat sekitar dan sadar dirinya masih di dalam tenda. Seira melihat badannya masih lengkap dengan pakaiannya yang kemarin. Seira menghela nafas lega mengira kejadian yang dulu terulang lagi padanya.

__ADS_1


"Aku tidak melakukan hal aneh padamu" ujar Bryan dari luar yang melihat Seira kebingungan.


"Ayo makan dulu" lanjut Bryan.


Seira yang masih sempoyongan beranjak keluar dari tenda. Bryan memasak sop pereda mabuk dan memberikannya lada Seira. Wanita itu tersenyum malu melihat Bryan yang memperlakukannya seperti anak-anak.


"Kita kemarin emm gak kenapa-kenapa kan? tanya Seira terbata-bata dan malu.


"Tidak, aku masih sadar, aku tidak akan mengambil kesempatan pada wanita mabuk" ujar Bryan.


"Ha syukurlah" jawab Seira lega.


Bryan tersenyum melihat tingkah Seira yang kekanakan. Hari ini weekend dan mereka tidak masuk kerja. Setelah selesai makan Seira dan Bryan berkemas untuk pulang.


"Kita beres-beres dulu" ujar Bryan.


"Iya, setelah ini kita pulang" jawab Seira.


"Iya kita pulang untuk mandi dan berkencan lagi, ini weekend kita harus memaksimalkan hari libur" ujar Bryan seakan tidak mau perpisah dengan cepat.


"Kamu tidak lelah?" tanya Seira.


"Nggak, aku bahkan begitu bersemangat untuk kencan kita yang berikutnya" ujar Bryan.


Freddin berjanji akan makan siang bersama Laura. Dia menjemput Laura di kediaman keluarga Andreans. Rumah itu masih sama sejak kematian Ibu Laura dan Kevin.


"Hei" ujar Laura seraya masuk ke mobil Freddin.


"Wah kamu cantik sekali" puji Freddin melihat Laura tampil sempurna.


"Hari ini aku ada kencan buta, makanya harus maksimal" ujar Laura.


"Kapan?" tanya Freddin.


"Setelah kita makan siang, kamu antarkan aku ke Cafe Luxury" ujar Laura menyebutkan nama Cafe tempat dirinya akan kencan buta.


"Masih zaman ikutan kencan buta?" ledek Freddin.


"Ayahku tidak berhenti menjodohkan ku, dia ingin aku segera punya pacar" jawab Laura.


"Lagi pula laki-laki yang kali ini tidak buruk, dia tampan dan berasal dari keluarga yang baik juga" lanjut Laura.

__ADS_1


"Kamu yakin dia laki-laki yang baik?" tanya Freddin.


"Tentu saja" jawab Laura.


Freddin dan Laura makan siang bersama dengan suasana yang kurang menyenangkan. Freddin tidak bisa fokus memikirkan Laura yang akan mengikuti kencan buta. Dia menatap wanita itu terus-terusan.


"Ada yang aneh di wajahku?" tanya Laura.


"Kamu tidak perlu pergi ke kencan buta itu, aku saja yang mencarikan lelaki yang cocok untukmu" ujar Freddin.


"Aku kira kamu bakal bilang aku aja yang kencan denganmu haha" ledek Laura.


"Begitu juga boleh" jawab Freddin lagi.


"Haha aku cuma bercanda, gak perlu memaksakan diri seperti itu" ujar Laura.


"Aku tidak bercanda" jawab Freddin.


"Aku tahu kamu cuma anggap aku adikmu, ayo antarkan aku ke Cafe, aku sudah siap makan" ajak Laura.


"Aku tidak mau" ujar Freddin.


"Kalau begitu aku naik Taksi saja" ancam Laura lagi.


Freddin akhirnya mengantarkan Laura ke tempat tujuannya. Sepanjang perjalanan hatinya terus membrontak. Dia tidak tahu apa yang sedang dia rasakan. Selama ini dia tidak pernah melihat Laura sebagai wanita. Apa mungkin hatinya kini berubah karena Laura sudah menjadi wanita dewasa.


Sesampainya di Cafe Laura turun dari mobil Freddin. Dia mengucapkan terimakasih kepada Freddin dan masuk ke Cafe. Freddin tidak langsung pergi, dia menunggu di luar Cafe untuk melihat seperti apa laki-laki yang akan berkencan dengan Laura.


Terlihat dari luar Cafe Laura tengah berbincang dengan pria itu. Freddin memperhatikan pria itu dengan seksama. Wajahnya tampan dan berwibawa, dia juga menggunakan pakaian yang rapi dan modis. Tipikal pria masa kini dan mengerti fashion.


"Boleh juga, tapi bagaimanapun juga masih lebih keren aku" guman Freddin.


"Bagaimana bisa Laura menolak aku demi pria itu" ujar Freddin lagi.


Laura dan Pria teman kencannya sedang membahas tentang kehidupan mereka sehari-hari. Tak disangka dengan pakaian modis seperti itu pria itu seorang Dokter Spesialis. Laura terkejut melihat penampilannya tidak seperti seorang Dokter.


"Kamu beneran seorang Dokter?" tanya Laura tidak percaya.


"Iya, tidak terlihat begitu kan, di luar jam kerja aku suka memilih pakaian seperti ini" ujar Sang Dokter.


"Kenapa?" tanya Laura lagi.

__ADS_1


"Karena aku bisa menjadi diriku sendiri saat tidak bekerja" ujar Sang Dokter.


Laura terkesan melihat keperibadian Dokter yang apa adanya. Bahkan dia tidak membanggakan dirinya sejak awal. Keluarganya bahkan memiliki rumah sakit sendiri dan terkenal dermawan. Seperti pria idaman yang selama ini dinantikan oleh Laura.


__ADS_2