One Night One Love

One Night One Love
Bab 21 : Obat Tidur


__ADS_3

Seira tengah memilih pakaian yang akan dia gunakan saat makan malam dengan Larissa. Dia tidak memberitahu Bryan bahwa ia akan pergi dengan William sepulang makan malam dengan Larissa. Seira takut Bryan akan salah paham karena William adalah seorang pria. Wiliam berjanji hanya pergi sebentar untuk membeli perhiasaan kemudian pulang. Seira juga meminta Bryan hanya mengantarkannya dan tidak menjemputnya dengan alasan bahwa ia akan pulang dengan teman sekantornya.



Seira sangat cantik dengan rambut terurai panjang. Dia terlihat elegan dan menakjubkan malam ini. Mata Bryan tidak berhenti memandangnya saat menjemput Seira. Lelaki itu sangat bersyukur memiliki seorang bidadari di sisinya.



Bryan tersenyum metapan Seira dan membisikkan sesuatu kepadanya. Seira tersenyum mendengarkan kalimat yang dibisikkan oleh Bryan.


"Aku baru sadar kalau kamu secantik bidadari" bisik Bryan menggombal.


Seira hanya mencubit kecil lengan Bryan dan memberikan ciuman di pipi pria itu. Setelah beberapa lama diperjalanan mereka akhirnya sampai di restoran tempat Seira dan Larissa akan berjumpa.


"Aku pergi dulu ya" ujar Seira.


"Aku ikut aja ya" pinta Bryan khawatir.


"Teman kantor ku itu wanita, masih mau ikut?" ledek Seira tanpa memberitahu nama kawan kantornya itu.


"Yaudah deh, tapi aku jemput ya" pinta Bryan lagi.


"Tidak usah, aku udah janjian pulang sama dengannya" jawab Seira berbohong karena ia harus menemani William membeli kado sebentar untuk Ibu William.


"Semua ditolak, baiklah kalau begitu jaga diri baik-baik ya" ujar Bryan cemberut.


"Iya iya, bawel banget" ledek Seira.

__ADS_1


Bryan akhirnya meninggalkan restoran dan Seira menunggu mobilnya hilang dari pandangan. Setelah itu Seira masuk ke dalam restoran yang terlihat sangat sepi.


Di sisi lain William tidak bisa hanya menunggu telepon dari Seira. Dia sungguh tidak tenang dan yakin bahwa Larissa punya niat jahat pada Seira. Lelaki itu langsung mengambil kunci mobilnya dan bergegas pergi ke restoran yang disebut oleh Seira.


Di perjalanan William menghubungi bodyguard keluarganya untuk menyusulnya segera ke restoran jika terjadi apa-apa. Lelaki itu sebenarnya putera mafia terbesar di kota yang sedang menyamar menjadi pegawai kantoran karena kabarnya di perusahaan cabang itu ada sekelompok bandar narkoba besar-besaran yang mengatas namakan keluarganya.


William sedang mencari tahu siapa yang berani menjadikan keluarga besarnya kambing hitam. Dia yang merupakan Tuan muda dari keluarga mafia terbesar diperintahkan Ayahnya untuk langsung terjun ke lapangan. Tanpa disadari dia malah jatuh cinta pandangan pertama pada anak baru yang tidak ia lihat identitas aslinya lebih lanjut. William tidak tahu bahwa si anak baru adalah puteri keluarga Wilson yang merupakan salah satu orang besar yang pernah meminta bodyguard pilihan untuk keluarganya.


Keluarga William juga bergerak dalam menyediaan jasa bodyguard di kalangan pejabat tinggi dan para atasan ternama. Selain itu mereka memiliki peternakan kuda terbesar dan terluas yang dibuka sebagai tempat olahraga berkuda untuk kalangan atas juga. Tak lupa mereka juga salah satu keluarga mafia yang banyak berinvestasi di perusahan-perusahan besar lainnya.


"Baik Tuan saya akan segera ke lokasi yang Tuan perintahkan" ujar sang bodyguard pilihan.


*******


Setelah duduk beberapa menit, seorang pelayan mendatangi Seira dan mengatakan bahwa Nona Larissa sedang di kamar mandi. Wanita itu hanya mengangguk pada pelayan dengan senyuman tipis di bibirnya. Tak lama kemudia Larissa datang dan duduk di sebelah Seira.


"Belum, aku baru saja sampai" jawab Seira.


"Tadi aku dari toilet" ujar Larissa lagi.


"Tidak apa-apa Larissa, mari kita makan" ujar Seira.


Mereka makan malam dengan hidangan yang sudah dipersiapkan. Larissa tidak berbicara sama sekali, hal ini membuat Seira sedikit canggung. Setelah selesai makan Larissa meminta anggur yang telah ia persiapkan dan dua gelas cantik sebagai tempatnya.


"Kita minum sedikit" ajak Larissa.


"Tidak usaha Sa, habis ini aku masih ada janji" jawab Seira menolak, dia masih ada janji untuk menemani William.

__ADS_1


"Tidak apa-apa sedikit saja" paksa Larissa takut rencananya akan gagal.


"Tapi aku harus pergi Sa" tolak Seira lagi.


"Anggur sedikit takkan membuatmu mabuk, aku sedih padahal aku sudah mempersiapkan semuanya" ujar Larissa memakai cara licik agar Seira sungkan untuk menolak permintaannya.


"Baiklah hanya sedikit ya, aku masih ada janji" jawab Seira tak kuasa menolak ajakan Larissa yang sedikit memaksa.


Tanpa Seira sadari anggur itu telah dicamput dengan obat tidur dosis tinggi, walaupun hanya diminum sedikit akan membuat yang meminumnya tertidur. Benar saja baru sebentar Seira meminum minuman itu dia langsung tertidur. Agar tidak mencurigakan, Larissa juga pura-pura mabuk dan memanggil komplotannya untuk membawa mereka keluar.


Pelayan restoran mengira mereka hanya mabuk biasa sebagai sahabat tidaj menaruh curiga sama sekali. Terlebih-lebih mereka sama-sama wanita yang sedang mabuk. Bawahan Larissa segera membawa mereka berdua keluar dari restoran.


Tanpa Larissa sadari William sudah menunggu Seira di bawah dengan beberapa bodyguard pilihannya. Dia tidak ingin terjadi apa-apa pada wanita yang disukainya. Merek menunggu Seira keluar dari restoran sedari tadi.


"Tuan sepertinya mereka akan turun, wanita yang ada di foto tadi tengah pingsan tidak sadarkan diri" ujar bodyguard memberi informasi pada Tuannya.


"Baiklah kalian siap-siap, kita akan buat sesuai rencana" ujar William pada para bodyguardnya.


Setelah mereka keluar dari restoran para bodyguard itu menyerang bawahan Larissa dan langsung langsung tidak berdaya. Larissa dan Owen ketakutan melihat pada bawahannya sudah tumbang dalam sesaat. Mereka yang sedang memapah badan Seira yang tengah pingsan bergegas mempercepat langkah ke mobil. Namun itu sudah terlambat, para bodyguard itu mengejar mereka berdua.


Dengan terpaksa mereka meninggalkan Seira dan bergegas naik ke mobil dengan terburu-buru. William memerintahkan untuk tidak mengejar mereka karena lelaki itu sudah mengenali mereka dengan baik. William hanya menyuruh para bodyguard untuk membawa Seira padanya.


William membawa Seira ke kediamannya dan menunggunya sadarkan diri. Seira yang sudah terkena obat tidur terlelap dan sama sekali tidak bangun. William meminta pelayan menyiapkan aroma terapi yang memudahkan Seira untuk segera bangun.


Sudah pukul 23.00 tetapi Seira belum juga mengabari Bryan. Pria itu sangat khawatir akan keselamatan wanita yang ia cintai. Bryan sudah menghubungi Seira berulang kali tapi tidaj ada jawaban. Handphone Seira juga tidak aktif sama sekali. William sengaja mematikan handphone Seira karena takut ada panggilan masuk yang tidak ia kenali.


Bryan segera mengambil kunci mobilnya dan bergegas ke restoran tempat ia mengantar Seira. Sesampainya di sana tempat itu sudah kosong dan hanya menyisahkan satpam.

__ADS_1


__ADS_2