
Terdengar suara ketukan pintu kamar Freddin untuk kedua kalinya. Tidak ada suara yang muncul dari balik pintu. Pria itu segera bertanya siapa gerangan yang mengetok pintu kamarnya.
"Siapa?" tanya Freddin cuek.
Tidak ada jawaban sama sekali, terdengar pintu kembali di ketuk. Kesabaran Freddin yang semakin tipis membuatnya berdiri dan berjalan ke arah pintu. Lelaki itu segera membuka kunci kamarnya dan ingin melihat siapa yang berada di depan kamarnya.
"Siapa sih mengganggu aja" ujar Freddin seraya membuka pintu kamar.
"Aku mengganggu ya?" tanya Laura pada Freddin.
"Laura kenapa kamu di sini, ada masalah?" tanya Freddin khawatir bahwa Laura sudah tahu tentang Niko dan kekasihnya.
"Tidak ada masalah, aku hanya ingin mengunjungimu" ujar Laura.
"Katanya kamu tidak nafsu makan dan lemas, kamu ada masalah apa?" lanjut Laura bertanya pada Freddin.
"Aku tidak ada masalah, hanya malas saja" jawab Freddin berbohong.
"Sejak kapan kamu pandai berbohong?" tanya Laura.
"Aku tidak berbohong" ujar Freddin lagi.
Laura menjulurkan telapang tangannya untuk menyentuh dahi Freddin. Wanita itu ingin memastikan apakah Freddin sedang deman.
"Lumayan panas" ujar laura.
Wajah Freddin memerah begitu Laura menyentuh pipinya. Begitu juga dengan telinga Freddin, dia tidak tahan berdekatan di ruangan berdua dengan Laura. Pria itu berusaha menghindari tatapan Laura dan menjauhinya.
"Kamu kenapa? wajah mu juga memerah" ujar Laura mendekat kembali pada Freddin.
Freddin semakin menjauhinya dan naik ke sudut kasur agar meberikan jarak pada Laura yang berada di pinggiran kasurnya. Laura yang tidak mengerti tetap mendekat karena khawatir pada Freddin dan mulai menyentuh pipi Freddin.
"Kamu benar-benar panas, ayo kita berobat" ujar Laura seraya menarik pergelangan tangan Freddin.
Mereka yang sama-sama berasa di sudut ruangan dan di atas kasur membuat suasana hati Freddin semakin panas. Bagaimanapun dia laki-laki normal dan di hadapkan dengan wanita yang ia sukai berdua di dalam kamar.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa" ujar Freddin menepis tangannya dari genggaman Laura.
"Kamu kenapa sih" ujar Laura lagi.
Freddin menatap mata Laura dengan tatapan penuh arti. Dia sungguh tidak tahan lagj dengan godaan besar di hadapannya. Mata Freddin turun ke bawah melihat bibir mungil milik Laura yang begitu indah. Tanpa sadar Freddin menyentuh bibir mungil itu.
Freddin sudah tidak dapat menahan gejolak dalam dirinya. Laura kemudian menyentuh kedua pipi Freddin dengan dua telapak tangannya.
"Kamu gapapa?" tanya Laura lagi.
"Laura aku ingin menciummu" ujar Freddin tidak tahan dan akhirnya meminta izin.
Laura tidak menolak perkataan dari Freddin. Dengan segera dia menutup matanya dan mengizinkan Freddin mencium bibir mungilnya. Freddin memegang bahu wanita itu dan mulai mendaratkan ciuman lembut pada Laura. Dengan perlahan Laura mulai mengimbangi ciuman yang diberikan Freddin.
Mereka berdua sangat menikmatinya dan itu tetap berlanjut untuk beberapa lama. Dengan perasaan menggebu-gebu dan saling suka, Freddin mulai membuka pakaiannya dan juga milik Laura. Gadis itu tidak menolak sama sekali dan membantu Freddin membuka pakaiannya.
Freddin dan Laura akhirnya berhubungan intim yang panas sore itu. Untungnya Om Wilson sudah pergi dari rumah saat mereka selesai berbicara. Tangan Freddin mulai meraba bagian atas Laura. Gadis itu menikmati setiap sentuhan yang diberikan Freddin.
"Kamu gapapa kalau aku tidak pakai pengaman?" tanya Freddin pada Laura.
"Ahh... Freddin aku menyukaimu" ujar Laura di sela-sela adegan panas mereka.
"Aku juga sangat menyukaimu Laura" bisik Freddin menggoda di telinga Laura.
Setelah beberapa waktu dan mulai kelelahan, keduanya berhenti dan saling berpelukan. Laura menyentuh pipi Freddin kemudian menciumnya. Freddin juga tidak mau ketinggalan dan mencium kening Laura.
"Kita sudah berpacaran kan?" tanya Freddin.
Laura tersenyum dan mengangguk, dia juga sangat menyukai Freddin. Gadis itu tidak ingin membuang waktu lagi dan mencari laki-laki yang tidak pasti. Sudah ada pria matang yang sangat mencintainya dan jelas asal usul keluarganya.
Mereka menyelimuti diri mereka dan saling berpelukan lagi. Laura yang belum puas mengangkat badannya ke atas badan Freddin dan mulai meledek nya. Freddin dan melihat hal itu tertawa karena dia sedang di goda oleh Laura.
***********
Owen tengah berbincang kembali dengan pengasuh anaknya. Dia sangat merindukan Zelyn puteri semata wayang mereka. Begitu pula dengan Larissa yang berada di samping Owen. Mereka ingin video call dengan Zelyn untuk melepas rindu.
__ADS_1
"Kita benar-benar akan melibatkan puteri kita?" tanya Larissa pada Owen setelah mereka selesai video call dengan Zelyn.
"Mau bagaimana lagi kamu sudah ketahuan oleh Bryan, itu satu-satunya cara sayang" jawab Owen.
"Tadi aku merasa sudah di ikuti anak buah Bryan, aku sangat ketakutan" ujar Larissa mulai bercerita.
"Kamu di ikuti anak buah Owen, kapan?" tanya Owen cemas.
"Sore tadi saat kembali dari kantor, sepertinya Bryan sedang menyusun rencana dan mulai mengikutiku" jawab Larissa lagi.
"Dia tidak tahu kan kita tinggal di sini?" tanya Owen lagi takut identitas mereka terbongkar.
"Aku tidak sebodoh itu, bagaimana mungkin aku membiarkan mereka tahu tentangmu" jawab Larissa lagi.
"Aku berpura-pura pulang ke rumah Ayah setelah memastikan mereka sudah pergi baru aku ke sini" ujar Larissa.
"Sepertinya untuk sementara kamu tinggal saja di rumah Ayahmu" saran Owen.
"Aku setuju, agar keberadaan mu aman kita harus jaga jarak untuk sementara" saran Larissa.
Mereka berdua sepakat untuk berpisah tempat tinggal sementara waktu. Hal ini dilakukan agar Bryan tidak tahu bahwa Owen dan Larissa tinggal di tempat yang sama. Agar tidak ada kecurigaan atas hubungan mereka berdua.
********
Bryan yang tengah berdiskusi dengan bawahannya meminta berkas terbaru dari kegiatan Larissa yang sudah mereka pantau dalam beberapa hari ini. Bryan tidak melihat ada kejanggalan dalam kehidupan rutin Larissa.
"Tidak ada yang aneh, dia kerja di kantor dan pulang ke rumah Ayahnya" ujar Bryan.
"Benar Tuan, itu saja yang terjadi dalam beberapa hari ini" jawab bawahan itu.
"Hmm sepertinya dia sudah tahu kalau dia sedang di awasi" ujar Brayn lagi.
"Kalian jangan lemah, cari tahu apa yang disembunyikan oleh Larissa" tegas Bryan.
"Tidak mungkin kehidupannya senormal ini setelah apa yang terjadi pada Seira, dia seperti ingin mencelakakan Seira" lanjut Bryan lagi.
__ADS_1
"Baik Tuan kami akan lebih berhati-hati dalam penyelidikan ini" jawab bawahan dengan sigap.