One Night One Love

One Night One Love
Bab 55 : Garis Dua


__ADS_3

Setelah Bryan pergi, Owen segera keluar dari persembunyiannya. Melihat wajah Larissa yang murung, Owen segera bertanya apa yang terjadi.


"Bryan sudah pergi?" tanya Owen.


"Sudah" jawab Larissa singkat.


"Kenapa kamu murung begitu?" tanya Owen.


"Bryan akan membawa kasus ini melalui jalur hukum, kalau semuanya terbongkar dan kita bahkan tidak punya bukti yang kuat kita akan kena pasal pidana" ujar Larissa.


"Bryan tega melakukan itu padamu? gimana sih katamu dia sangat mencintaimu" ujar Owen yang membuat Larissa begitu kesal.


"Tega? kamu masih membahas tega, aku sudah berselingkuh dan bahkan punya anak denganmu, kamu pikir itu tidak tega?" ujar Larissa.


Owen terdiam mendengar ucapan Larissa. Dia tidak membantah perkataan wanita itu dan pergi keluar rumah. Owen merasa ada perubahan pada sikap Larissa yang biasanya sangat manis padanya.


"Apa yang terjadi pada Larissa, mungkinkah perasaannya sudah berubah padaku?" guman Owen saat meninggalkan kediaman mereka.


Larissa menangis saat Owen sudah pergi. Dia sungguh kesal pada dirinya sendiri. Larissa sadar bahwa dia sudah sejauh ini dengan Bryan. Kehadirannya pun sangat tidak diinginkan lagi oleh Bryan. Pria yang dulu sangat mencintainya mati-matian kini menjadi orang asing. Bahkan alasan konyol yang ia berikan juga tidak berhasil mengembalikan Bryan pada dirinya.

__ADS_1


"Kamu sungguh bodoh Larissa" ujarnya pada diri sendiri.


******


Seira tengah bersiap-siap untuk ke kantor. Anehnya pagi ini dia merasa mual dan pusing. Wanita itu tidak sadar bahwa dia sudah telat seminggu. Semenjak hari putus nya dengan Bryan dia tidak begitu memperhatikan kondisi badannya.


"Apa aku masuk angin?" tanya Seira.


"Aku belum datang bulan, apa jangan-jangan...." Seira tidak melanjutkan dugaannya yang begitu konyol itu.


Mengingat seminggu sebelum mereka putus Seira dan Bryan sempat menghabiskan malam panas bersama. Agar lebih tenang Seira segera memastikan apakah dirinya hamil atau tidak. Gadis itu mengambil testpack dan masuk ke kamar mandi.


"Selamat ya Bu, Ibu positif hamil dengan kandungan umur tiga minggu" ujar Dokter kandungan.


"Dokter yakin hasilnya tidak salah?" tanya Seira memastikan lagi.


"Saya yakin 100 persen Ibu" jawab Dokter tersenyum.


"Terimakasih Dokter" ujar Seira segera meninggalkan rumah sakit.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan Seira begitu bingung dan hampir saja mengalami kecelakaan. Dia menepikan mobil nya karena takut akan membahayakan dirinya. Seira mulai menangis sejadi-jadinya. Dia tidak tahu harus melakukan apa saat ini. Dia tidak ingin memberitahukan hal ini pada Bryan. Akan tetapi Seira juga tidak ingin menggugurkan janin yang tidak bersalah itu.


"Aku harus bagaima" ujar Seira menangis tersedu-sedu.


"Kenapa musti hamil sih" lanjut Seira lagi.


Dia tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk saat ini. Seira kembali ke kantor dengan perasaan campur aduk. Dia tidak ingin melakukan apa pun lagi, akan tetapi dia tidak bisa mengabaikan tanggung jawabnya.


*******


Laura dan Freddin akhirnya pulang dari berbulan madu. Mereka tidak bisa berlama-lama karena Freddin harus mengurus perusahaan mereka. Laura memahami hal itu dan tidak menuntut banyak pada Freddin. Dia harus paham akan posisi penting suaminya sebagai seorang Direktur.


Mereka kembali ke kediaman keluarga Wilson dengan wajah berseri. Ayah Freddin sudah menunggu kepulangan mereka sejak pagi tadi. Mereka datang terlambat dari jam yang dijanjikan.


"Kalian sudah sampai, Papa sudah menunggu kalian sedari pagi" ujar Wilson.


"Maaf Pa tadi kami ada urusan sedikit sebelum pulang ke rumah" jawab Freddin seraya memeluk Papanya.


Laura juga melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan suaminya. Papa juga mengabarkan kepulangan Seira yang akan tinggal bersama dengan mereka.

__ADS_1


__ADS_2