
William tidak berhenti untuk mencari Seira yang tidak terlihat dari jam istirahat. Terlebih lagi handphone Seira tertinggal di atas mejanya. William menelusuri seluruh koridor kantor.
Tak kehabisan akal William segera ke ruang keamanan untuk melihat cctv kantor. Petugas keamanan tidak mengizinkan William untuk melakukan hal itu tanpa izin atasan.
William langsung memberikan uang yang cukup banyak agar petugas itu mengizinkannya. Benar saja saat uang itu diberikan dengan mudahnya petugas memberikan izin kepada William.
Setelah lama mencari terlihat Seira terakhir terlihat sedang mengopi di dapur kantor dengan Romeo. William begitu geram pada Romeo, padahal tadi saat ia bertanya pria itu menjawab tidak melihat Seira. Tanpa melihat lanjutan cctv William kembali mencari Romeo dan mengancamnya.
"Hei Romeo sini kamu" ujar William.
"Ada apa Wil?" ujar Romeo senang dipanggil oleh William.
"Dimana Seira? kamu pasti komplotannya Larissa kan" tebak William langsung mengatakan hal itu.
"Tidak Wil, aku tidak tahu dimana Seira" jawab William.
"Kamu tidak perlu bersandiwara lagi aku sudah lihat kamu berada di dapur dengannya hari ini" ujar William menarik kerah Romeo.
Romeo kaget dengan ucapan William. Dia sama sekali tidak terpikir bahwa William akan mengecek cctv untuk mencari Seira. Apa lagi cctv kantor tidak boleh dilihat sembarang orang.
"Aku bisa jelasin Wil" ujar Romeo.
"Jelasin apa dimana dia sekarang jawab" ujar William marah.
Semua mata memandang keramaian ini dan William tidak peduli. Karena sudah terpojok Romeo akhirnya memberitahu keberadaan Seira di klinik kantor.
William segera ke klinik kantor yang ternyata sudah tertutup. Pintunya di kunci dan tidak ada akses udara di dalam klink. Dengan cepat William mendobrak pintu klinik itu. Terlihat Seira tengah pingsan di dalam klinik.
William mengangkat Seira dan menggendongnya keluar dari Kantor. Bawahan William segera menyiapkan mobil untuk mereka berdua. William membawa Seira ke rumahnya. Hal itu disaksikan mata-mata Bryan yang berjaga di depan kantor.
Dia segera menelpon Bryan untuk mengabarkan apa yang dia lihat. Setelah beberapa saat Bryan mengangkat telepon itu.
"Halo Tuan Nona Seira dibawa oleh Thomas, saya sedang mengikutinya sepertinya mereka menuju kediaman Thomas" ujar bawahan itu.
"Apa? terus ikuti mereka kami akan datang" ujar Bryan lagi.
Bryan yang tengah membahas Larissa segera berangkat ke kediaman Thomas. Dia membawa orang-orangnya untuk mendampingi perjalanannya menuju rumah Thomas.
__ADS_1
Thomas telah sampai di kediamannya dan membawa Seira masuk ke dalam. Pelayan wanita Thomas mengganti pakaian Seira dan membersihkan tubuhnya yang sudah berkeringan. Dokter kembali dipanggil untuk memeriksa keadaan Seira.
"Dia hanya shock dan kekurangan oksigen Tuan, apa Nona ini sebelumnya berada di tempat yang pengap dan udara tidak masuk?" tanya Dokter.
"Iya benar, listrik pun di putus di dalam ruangan itu, pintu dan jendela juga terkunci" ujar William yang bernama asli Thomas.
"Biarkan dia istirahat terlebih dahulu supaya dia tenang" ujar sang dokter.
"Terimakasih dok" jawab William.
Setelah Dokter pergi, William segera duduk di samping Seira. Dia menetap mata gadis cantik yang membuatnya jatuh hati. Dia tak habis pikir ini kedua kalinha gadis itu berada di rumahnya dengan keadaan yang sama.
"Kenapa kamu ke sini selalu dalam keadaan pingsan" ujar Thomas sedih.
Beberapa saat kemudian tangan Seira bergerak. Sepertinya dia akan segera siuman dan membuka matanya. William menatap dengan sabar tanpa membuat suara kebisingan.
"Seira kamu sudah sadar" ujar William saat Seira sudah membuka kedua matanya.
"Dimana aku?" tanya Seira.
"Kamu pingsan di Klinik, kenapa kamu bisa di situ?" tanya William.
Seira melihat bajunya yang sudah berbeda dari yang ia pakai segera panik. Melihat hal itu William langsung menjelaskan sebelum Seira salah paham.
"Bibi, itu pembantu rumah tangga kami yang mengganti pakaian mu, kamu tidak perlu khawatir" ujar Thomas langsung menjelaskan.
Seira pun menjelaskan kenapa dia bisa berada di Klinik dan terkunci. Mendengar hal itu Thomas terlihat sangat marah dan ingin menghancurkan orang-orang yang menyakiti Seira.
"Romeo pasti bekerja sama dengan Larissa" ujar William.
"Kenapa kamu berpikiran begitu?" tanya Seira.
"Jelas sekali saat Larissa tidak beraksi lagi keberadaannya digantikan oleh si brengsek Romeo" ujar William.
"Kita harus mencari tahu, bisa jadi ada kesalahan" ujar Seira tidak mau langsung ambil keputusan.
"Bisa saja bukan Romeo yang mengunciku, dia hanya menyarankan ku untuk ke klinik" ujar Seira lagi.
__ADS_1
"Alasan, aku harus mencari alasan kenapa Larissa dan Romeo melakukan semua ini padamu" ujar Thomas.
Saat mereka masih berbincang, bawahan Thomas datang dan mengabarkan kedatangan Bryan. Thomas dan Seira segera keluar ke ruang tamu.
"Suruh saja dia masuk" jawab Thomas.
Bryan segera masuk dan mendapati Seira duduk lemas di ruang tamu kediaman Thomas. Dia segera menghampiri gadis itu dan melihat keadaanya.
"Kamu gapapa Seira?" tanya Bryan khawatir.
"Aku gapapa" jawab Seira tersenyum.
"Kamu apakan dia?" tanya Bryan seraya mengangkat kerah William.
"Bryan ini bukan salahnya dia yang menolongku" ujar Seira menjelaskan.
Mendengar perkataan Seira Bryan segera melepaskan tangannya dari kerah Wiliam. Dia menenangkan dirinya dan duduk di samping Seira. Thomas segera menceritakan apa yang terjadi dengan Seira di kantor.
"Kita harus mencari tahu siapa sebenarnya Larissa dan kenapa dia sangat ingin menyakiti Seira" ujar Thomas.
Mendengar hal itu Bryan menjadi takut. Dia tidak mau Seira salah paham dan membencinya kalau dia tahu bahwa Larissa adalah mantan pacarnya.
"Aku akan mencaritahu bagian itu kalian cari tahu pria bernama Romeo itu saja" ujar Bryan pada Thomas.
"Baiklah kalau begitu, kamu harus segera mencaritahu, aku takut Seira akan mengalami hal-hal buruk lagi kedepannya" jawab William.
Setelah mereka selesai membahas semuanya Seira akhirnya pulang bersama Bryan. Dia menggendong gadis itu ke mobil. Awalnya Seira tidak mau tapi Bryan memaksa. Melihat pemandangan itu hati Thomas sangat sakit termakan cemburu.
Sesampainya di rumah Seira gadis itu langsung berbaring di tempat tidur. Saat masuk tadi dia kembali teringat paket tanpa nama yang dikirimkan ke rumahnya. Seira memanggil Bryan dan menyuruhnya mengambil kotak itu.
"Bryan tolong ambilkan kotak yang tidak sempat aku buka tadi pagi" ujar Seira.
"Baiklah" jawab Bryan gugup mengingat dia telah mengganti isi kotak itu tadi pagi.
Bryan membawakan kotak itu untuk Seira lihat. Saat Seira membuka dia sungguh senang karena menemukan sebuah boneka marmut yang kecil berwarna pink.
"Lucunya, siapa yang memberikan ini padaku" ujar Seira senang.
__ADS_1
"Tidak peduli itu siapa yang penting bonekanya imut" jawab Bryan.
"Iya kamu benar" ujar Seira.