
Bryan mengantarkan Seira ke kantor dengan terpaksa. Tanpa sepengetahuan gadis itu, Bryan menyuruh bawahannya untuk mengikuti Seira ke dalam kantor. Akan terlalu mencolok jika Bryan yang langsung ke kantor cabang milik keluarganya.
"Kamu awasi dia baik-baik, kalau sampai di celaka awas kamu" ancam Bryan tegas.
"Baik Tuan" ujar bawahan itu.
Saat memasuki kantor bawahan itu memotret kegiatan Seira diam-diam dan mengirimkannya pada Bryan. Terlihat Thomas sedang duduk berdekatan dengan Seira. Bryan kaget karena Seira mengatakan dia tidak kenal dengan pria bernama Thomas. Akhirnya Bryan sadar bahwa Thomas pasti sedang dalam penyamaran menggunakan nama lain.
Sang bawahan memberitahu Bryan bahwa Thomas memiliki nama samaran di kantor yaitu William. Bawahan itu juga mengatakan bahwa Larissa berada di kantor yang satu divisi dengan Thomas dan Seira.
Bryan semakin khawatir dengan keselamatan Seira. Bukan hanya satu kantor tapi mereka bertiga satu divisi. Sebenarnya Bryan telah salah paham pada William, lelaki itu tidak bermaksud untuk menyakiti Seira. Dia hanya ingin Seira aman bersamanya dari Larissa. Hal ini William lakukan karena ia sudah jatuh hati pada Seira sejak awal masuk kantor.
"Kamu jangan dekat dengan Larissa lagi ya" ujar William saat di dalam kantor.
"Sebenarnya apa yang terjadi malam itu William?" tanya Seira.
"Kamu tidak ingat?" tanya William kaget.
Seira menggelengkan kepalanya, dia sama sekali tidak ingat kejadian malam itu. Ingatan terakhirnya hanya saat ia berbincang dan minum dengan Larissa. Tidak ada yang salah ataupun janggal dengan kelakuan Larissa pada Seira.
"Kamu hendak di curi oleh Larissa" ujar William memberitahu kejadian malam itu.
"Tidak mungkin, bagaimana bisa seorang wanita ingin mencuri temannya" ujar Seira tidak percaya.
"Aku masih menyelidiki alasan Larissa melakukan semua ini padamu, untuk sementara kamu harus jauhi dia" jawab William.
Larissa sedang memperhatikan William dan Seira yang sedang berbincang. Dia tahu bahwa mereka pasti sedang membicarakan dirinya. Larissa ingin berbicara berdua saja dengan Seira. Dia menunggu momen agar William tidak selalu berada di samping Seira.
Larissa meminta tolong Ayahnya untuk menbuat alasan agar William di panggil ke ruang kepala. Setelah William pergi dengan berat hati, Larissa mulai mendekati Seira. Dengan perlahan Larissa memasang wajah lesu nya dan mulai berbicara.
"Seira kenapa kita pulang dalam keadaan mabuk ya?" tanya Larissa pura-pura tidak sadarkan diri juga saat malam itu.
"Kamu juga pingsan Sa?" tanya Seira memastikan.
"Iya, waktu aku bangun aku sudah di rumah, kamu ya yang anterin aku?" tanya Larissa pura-pura.
"Nggak, aku tidak ingat apa-apa Sa" jawab Seira jujur.
__ADS_1
"Kamu kenapa seperti menjauh dariku?" tanya Larissa lagi.
"Hmm tidak ada apa-apa kok" jawab Seira terbata-bata, dia tidak ingin Larissa tahu bahwa William dan Bryan mengatakan untuk menjauhinya karena wanita itu berbahaya.
"Ya sudah gapapa kalau kamu mau jauh, tapi aku minta maaf ya kalau kamu sampai salah paham begini" ujar Larissa cari aman.
"Iya Sa" jawab Seira.
Larissa segera kembali menjauh dari Seira karena William akan segera kembali. Dia takut William akan membawa pasukannya seperti malam itu. Larissa tengah mencari tahu siapa sebenarnya William dan apa tujuannya ke kantor cabang mereka.
Saat William kembali dia melihat Seira tengah sendiri dan menghela nafas lega. Bawahan yang di kirim oleh Bryan melihat hal itu. Dia yakin bahwa William memang tidak ada niat untuk mencelakakan Seira. Pria itu bahkan terlihat tengah melindungi Seira dari Larissa.
"Tidak ada terjadi hal-hal yang kita takutkan Tuan" ujar sang bawahan menghadap kembali saat Seira akan pulang.
"Bagus, besok juga lakukan hal yang sama seperti hari ini" ujar Bryan.
"Baik Tuan" jawab sang bawahan.
Bryan melihat Seira tengah jalan berdua dengan William di parkiran. Dia sangat cemburu dan tidak suka melihat pemandangan itu. Saat Seira akan masuk ke pintu, Bryan pura-pura tertidur.
"Kamu sedang tidur?" tanya Seira saat masuk mobil.
"Kenapa kamu marah?" tanya Seira tersenyum melihat tingkah imut Bryan.
"Kamu jalan berduaan dengan pria lain, kamu bahkan tidak tahu dia itu siapa" jawab Bryan akhirnya membuka matanya karena emosi kepada William.
"Dia teman satu divisi, namanya William" ujar Seira memperkenalkan William pada Bryan agar tidak ada kesalah pahaman.
"Dia itu Thomas" ujar Bryan to the point.
"Ha, bagaimana bisa, jelas-jelas dia William dan semua orang tahu hal itu" ujar Seira tidak percaya.
"Kamu bahkan tidak tahu bahaya mengancam mu dari dekat" ujar Bryan lagi.
"Kenapa kamu yakin kalau dia Thomas yang kamu bicarakan?" tanya Seira meminta kepastian.
"Kamu tahu dimana aku menemukanmu malam itu? di rumah Thomas yang kamu kenal sebagai William" ujar Bryan lagi.
__ADS_1
Seira memegangi kepalanya dan mengingat sedikit kejadian malam itu.
"Bagaimana William bisa berubah jadi Thomas?" tanya Seira lagi.
"Dia seorang mafia ternama, tentu saja dia gampang menyamar dengan nama lain di perusahaan cabang" ujar Bryan.
"Apa alasan dia menyamar menjadi Karyawan?" tanya Seira.
"Dia ingin mencari tahu siapa orang yang mengkambing hitamkan keluarganya dalam perbuatan jahat" ujar Bryan lagi.
"Dia terlihat seperti lelaki biasa pada umumnya" ujar Seira lagi.
"Memang nya saat kamu menyamar seperti ini kamu terlihat seperti puteri keluarga Wilson?" tanya Bryan mulai kesal.
"Ya ya ya aku akan lebih berhati-hati" ujar Seira akhirnya mengalah.
*******
Laura tiba di kediaman keluarga Wilson, tampak Om Wilson sedang duduk di depan halaman seraya menikmati pembadangan. Laura tersenyum dan menyapa Om Wilson dengan hangat.
"Sore Om, Freddin nya ada?" tanya Laura.
"Hei Laura apa kabar, Freddin di kamarnya" jawab Om Wilson ramah.
"Laura sehat Om, kalau Om sehat juga kan?" tanya Laura tersenyum.
"Sehat dong Nak, kamu ke atas aja temui Freddin, seperti nya suasana hatinya agak buruk belakangan ini" jelas Om Wilson.
"Kenapa begitu Om?" tanya Laura cemas.
"Dia tidak mau memberitahu Om tentang masalah nya, dia tidak nafsu makan dan terlihat lemas tidak seperti biasanya" tutur Om Wilson.
"Sepertinya aku harus memeriksanya Om" ujar Laura lagi.
"Iya kamu tanyakan dulu dia kenapa, pastikan dia tidak ada masalah ya, kalau kamu sudah tahu segera beritahukan pada Om" ujar Om Wilson.
"Baik Om" Laura bergegas naik ke kamar Freddin.
__ADS_1
"Ada apa sih dengannya sampai dia tidak nafsu makan dan lesu seperti itu" batin Laura saat menaiki tangga menuju kamar Freddin.
"Tok.. tok... tok... " suara ketokan terdengar dari pintu kamar Freddin.