
Bryan kembali mengantar Seira bekerja seperti biasa. Wanita itu tampil elegant menggunakan rok berwarna merah jambu. Bryan tersenyum simpul melihat Seira mengikat rambutnya sehingga memperlihatkan lehernya yang jenjang.
"Kamu cantik sekali ikat rambut, kenapa kamu jarang mengucir nya?" tanya Bryan dalam mobil.
"Aku lebih suka terurai menutupi telingaku" jawab Seira.
"Hari ini aku gak bisa jemput kamu, aku ada meeting di perusahaan" ujar Bryan.
"Tidak apa-apa biasanya aku juga sendirian sebelum ada kamu" jawab Seira tidak masalah.
Sesampainya di kantor Seira disambut oleh William dengan secangkir kopi. Seira mengambil kopi itu dan meminumnya. Miranda yang melihat hal itu merasa cemburu karena ia sudah lama menyukai William.
Di lain sisi, Larissa tengah bertemu dengan Owen untuk membahas tentang gadis yang dekat dengan Bryan. Mereka sudah mengetahui nama dan tempat kerja gadis tersebut.
"Namanya Seira dia bekerja di perusahaan cabang kita" ujar Owen.
"Ha? di perusahaan cabang? dia pasti tau itu milik keluarga Bryan, dasar mata duitan" ujar Larissa tanpa sadar diri.
"Iya, tapi kenapa dia tidak langsung di perusahaan pusat agar bisa dekat dengan Bryan?" tanya Owen bingung.
"Iya juga ya, kenapa dia hanya sekedar karyawan biasa di perusahaan cabang?" Larissa juga bingung.
"Apa dia memang tidak tahu kalau Bryan kaya raya" ujar Owen.
"Tidak mungkin, siapa yang tidak mengenal Bryan" jawab Larissa.
"Kalau dia dari keluarga menengah ke bawah pasti dia tidak akan mengenal Bryan, hanya golongan atas yang akan mengetahuinya" jelas Owen.
"Masuk akal juga" jawab Larissa.
Owen memberikan foto Seira kepada Larissa. Wanita itu terkejut melihat foto yang diberikan Owen. Dia teringat pernah berjumpa dengan wanita itu di lift. Larissa tidak menyangka bahwa wanita itulah yang memikat mantan pacarnya.
"Aku mengenal gadis ini, aku pernah berjumpa dengannya di lift kantor" ujar Larissa.
"Bagaimana aslinya ala secantik di foto?" tanya Owen penasaran.
"Oh kamu merasa dia cantik?" tanya Larissa penuh amarah.
"Kamu tidak perlu marah, aku hanya bercanda" ujar Owen.
"Aku akan membuat perhitungan pada gadis ini" ujar Larissa jahat.
__ADS_1
********
Di kantor Larissa mulai melancarkan aksinya untuk membuat Seira tidak nyaman dan berhenti dari pekerjaan. Larissa meminta Ayahnya untuk memindahkan Seira ke divisi yang sama dengannya.
"Kenapa kamu minta anak baru itu pindah divisi?" tanya Ayah Larissa.
"Aku ingin dia berada di divisi yang sama denganku Ayah" jawab Larissa.
"Itu akan menaruh curiga untuk karyawan yang lain, bagaimana kalau kamu saja yang pindah ke divisi Seira?" tanya Ayah.
"Ya sudah begitu juga boleh Ayah" jawab Larissa.
Hari itu juga Larissa pindah ke divisi yang sama dengan Seira. Dia memperkenalkan dirinya kepada seluruh anggota tim barunya. Miranda tidak terlalu suka dengan Larissa yang terkesan sombong. Mereka juga tahu bahwa Larissa adalah anak penanggung jawab utama perusahaan cabang.
"Dia anak Ketua perusahaan cabang" bisik Miranda pada Romeo.
"Benarkah? dia sangat cantik" ujar Romeo.
"Cantik bagaimana, masih cantikan aku" ujar Miranda percaya diri.
"Kalah jauh" ledek Romeo.
"Kamu pindah saja ke meja lain" ujar Larissa tegas.
"Aku tidak mau, ini mejaku" jawab William.
"Oh ya? kamu gak tau saya siapa?" ujar Larissa mulai menampakkan kekuasaannya.
"Memangnya kamu siapa? lagi pula ini meja ku, aku yang terlebih dahulu memakainya" jawab William tidak mau kalah.
Larissa kesal melihat William yang tidak mau mengalah. Akhirnya wanita itu memilih meja di samping Miranda. Dia melirik sadis ke arah Seira dengan tatapan kebencian.
"Siapa karyawan baru di sini?" tanya Larissa sengaja.
Seira mengangkat tangannya, dia merupakab satu-satunya karyawan baru di divisi itu. Seira tidak sadar bahwa Larissa akan mempermainkan dirinya.
"Oh kamu, tolong belikan sandwich ke bawah, aku belum sempat makan pagi" ujar Larissa.
"Kenapa kamu suruh Seira, beli sendiri sana" ujar William.
"Sebaiknya kamu diam kalau mau bertahan lama di kantor ini" ujar Larissa kejam.
__ADS_1
Seira tidak ingin ada perdebatan karena dirinya. Dia mengalah untuk membeli sandwich yang dimaksud oleh Larissa. Seira tidak menyangka bahwa Larissa memiliki sifat seperti itu. Saat mereka bertemu di lift Larissa terlihat baik dan ramah pada dirinya.
Seira mengantri untuk membeli sandwich Larissa. Wanita licik itu sengaja memilih tempat yang ramai agak Seira harus mengantri lama. Saat Seira sudah berhasil mendapatkan sandwich yang diinginkan Larissa dia segera kembali ke kantor.
Kejadian tidak mengenakkan kembali menimpa Seira. Larissa tiba-tiba tidak menginginkan sandwich lagi. Dia malah ingin makan pancake yang dijual diseberang kantor perusahaan.
"Kamu sangat lama, aku sudah tidak ingin makan sandwich, belikan aku pancake yang di jual di depan kantor" ujar Larissa sadis.
William akhirnya tidak dapat menahan amarahnya lagi. Dia segera menarik tangan Seira keluar dari ruangan. Lelaki itu menemani Seira membeli pancake yang di inginkan Larissa.
"Keterlaluan, dia sangat jahat padamu" ujar William.
"Mungkin saja dia membuat ospek pada karyawan baru" jawab Seira berpikir positif.
"Kamu tidak boleh terlalu baik Seira, dunia itu keras" ujar William.
"Kamu tenang saja William, aku sudah biasa berhadapan dengan segala situasi" jawab Seira.
"Dia hanya jahat padamu, sejak awal dia ingin menekan mu, bahkan dia ingin berada di meja yang dekat denganmu" ujar William yang cepat tanggap.
"Tidak apa-apa William, tidak udah pikirkan aku" jawab Seira.
Mereka segera membeli pancake yang berada di depan kantor. Setelah mendapatkan pesanan itu mereka kembali ke kantor. Sesampainya di kantor William langsung memberikan pancake itu dengan tatapan marah dan menyuruh Seira kembali ke kursi.
Larissa yang melihat mata karyawan lain memandangnya dengan tatapan tidak suka akhirnya memakan pancake tanpa menyuruh Seira membeli yang lain lagi.
Pulang kantor Seira teringat bahwa Bryan tidak bisa menjemputnya hari ini. Seira keluar dari kantor dan berniat naik taksi. William melihat Seira tidak dijemput seperti biasa segera berlari ke arah Seira.
"Kamu pulang naik apa?" tanya William.
"Naik taksi" jawab Seira.
"Ayo aku antar" ujar William.
"Tidak perlu Wil, aku bisa naik taksi" jawab Seira.
"Kenapa harus naik taksi, aku kan ada" jawab William.
"Tidak perlu repot-repot Wil" ujar Seira.
Setelah berdebat cukup lama akhirnya Seira mengalah dan diantar oleh William. Miranda melihat mereka bersama kembali cemburu. Dia sudah lama memendam rasa pada William. Miranda pergi meninggalkan pemandangan yang menyakitkan hatinya. Dia merasa bahwa dia tidak secantik Seira yang masih baru ketemu William sudah jadi incaran.
__ADS_1