
Melihat kertas di tangannya Seira mulai menangis ketika Larissa mulai menceritakan masa lalu mereka. Semua menjadi masuk akal setelah mendengar cerita dari Larissa. Setelah mengetahui bahwa Bryan benar-benar terkena tembakan, Seira segera ke rumah sakit bersama Larissa.
Melihat Bryan yang belum sadar sampai sekarang membuat Seira semakin menangis. Laura dan Freddin datang menenangkannya. Thomas dari kejauhan juga melihat penderitaan Seira yang begitu dalam. Pria itu menyadari bahwa Seira memang sangat mencintai Bryan. Sampai kapanpun Thomas tidak akan bisa mendapatkan cinta dari Seira.
Thomas segera mendatangi Ayah Larissa dan membatalkan kesepakatan mereka. Dia sudah tidak ingin memisahkan Seira dengan Bryan. Dia menyuruh Ayah Larissa untuk mengakui semua kejahatannya dan menerima hukuman. Ayah Larissa setuju dibandingkan harus kehilangan nyawa nya sendiri.
Hari-hari berlalu dan Bryan belum juga sadar dari komanya. Setiap hari Seira selalu mendampinginya seraya memikirkan anak dalam kandungannya. Anak itu sudah hanpir dua bulan dan perut Seira sudah mulai membuncit. Memang tidak terlalu terlihat karena Seira berbadan langsing.
Seira membersihkan tubuh Bryan dan melap wajahnya agar terlihat segar. Dia menyesal tidak mencari tahu terlebih dahulu apa yang sebenarnya terjadi. Dia merasa bersalah tidak mempercayai Bryan yang benar-benar menyayanginya.
"Kapan kamu sadar Bryan, kita harus segera menikah, kamu harus bertanggung jawab untuk anak kita" ujar Seira menangis lagi.
Laura datang membawa beberapa makanan untuk Seira. Melihat Kakak iparnya yang tengah menangis membuat Laura juga bersedih.
"Kak Bryan akan segera sadar Kak" ujar Laura menenangkan Seira.
"Bagaimana kalau dia tidak selamat, apa yang akan terjadi padaku dan anak kami" ujar Seira menangis lagi.
"Itu tidak akan terjadi, Kak Bryan tidak akan meninggalkan mu Kak" ujar Laura terus memberi semangat.
Thomas dan Freddin tengah menunggu di luar setiap saat. Thomas yang khawatir akan kesehatan Seira juga membawa Miranda untuk menemani Seira.
"Aku ke dalam dulu ya" ujar Miranda.
"Kamu semangati Seira ya" pinta Thomas.
Miranda pun masuk dan menggantikan Laura untul menenangkan Seira. Dia mengelus punggung Seira dan menguatkannya sama seperti Laura.
"Kamu harus kuat Ra, Bryan pasti sedih kalau melihat kamu bersedih seperti ini" ujar Miranda.
"Apa aku pantas bahagia Mir?" tanya Seira.
"Tentu saja kamu akan bahagia Ra, ini semua hanya cobaan" ujar Miranda.
"Dia pasti akan sadar kan" ujar Seira lagi.
"Tentu saja dia akan sadar, Bryan harus sadar agar kalian bisa menikah" ujar Miranda memeluk Seira.
Setelah Seira mulai tenang dan tertidur, Miranda keluar dari ruangan. Thomas telah menunggunya di luar ruangan.
"Bagaimana keadaan Seira?" tanya Thomas.
"Dia sudah tenang, sekarang sedang tertidur" jawab Miranda.
__ADS_1
"Kalian pulang saja istirahat, kami akan menjaga Kak Bryan dan Kak Seira" ujar Laura berterimakasih.
"Kalau begitu kami kembali dulu, kabarkan kami tentang perubahan Bryan" ujar Thomas.
"Terimakasih ya" jawab Freddin.
Thomas dan Miranda keluar dari rumah sakit dan menuju ke parkiran. Selama perjalanan pulang Miranda hanya menunduk tanpa sepatah kata pun.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Thomas.
"Harusnya aku yang bertanya begitu, kamu kan sangat menyukai Seira" jawab Miranda.
"Aku sadar Seira tidak akan pernah menjadi milikku" jawan Thomas.
"Iya dia dan Bryan sudah menjadi satu" jawab Miranda.
"Aku sudah ikhlas untuk melepas Seira, aku hanya ingin dia bahagia" ujar Thomas.
"Pasti berat bagimu" ujar Miranda.
"Aku pasti bisa, kebahagiaan Seira lebih penting dari sekedar perasaanku" jawab Thomas tersenyum.
"Tentu saja kamu juga berhak bahagia" jawab Miranda.
"Kamu mau membahagiakan aku?" tanya Thomas.
"Aku mau membahagiakan mu" ujar Miranda.
"Kalau begitu kita harus mencobanya, bukan untuk membahagiakanku, tapi kebahagiaan kita berdua" ujar Thomas.
Miranda mengangguk bahagia, dia begitu bersyukur memiliki teman yang baik seperti Seira. Berkat Seira kini Thomas sudah mulai membuka hati padanya. Miranda tidak berharap banyak, dia hanya ingin Thomas selalu bahagia.
********
Seira membereskan barang-barang yang diperlukan di rumah sakit. Saat sedang melipas selimut, Larissa datang bersama bayinya. Dia tersenyum kepada Seira dan memberikan buah tangan.
"Gimana keadaan Bryan Ra?" tanya Larissa.
"Dia belum juga sadar, aku tidak tahu sampai kapan dia akan bertahan" jawab Seira.
"Maafkan aku ya Ra, semua ini gara-gara aku" ujar Larissa.
"Kamu tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri, yang menembak Bryan kan bukan kamu, sekarang dia sudah di penjara" jawab Seira.
__ADS_1
"Bagaimanapun juga Bryan seperti ini karena menolongku" ujar Larissa mulai menangis.
"Kamu adalah seorang Ibu, jika aku jadi kamu aku juga akan mendapatkan anak ku kembali bagaimanapun caranya" ujar Seira menatap ke bayi yang berada di pangkuan Larissa.
"Kamu mau menggendongnya?" tanya Larissa.
"Boleh?" tanya Seira lagi.
"Tentu saja" jawab Larissa seraya menyerahkan Zelyn kepangkuan Seira.
"Dia sangat cantik" ujar Seira.
"Tentu saja, nanti anak mu dan Bryan juga akan cantik atau ganteng" ujar Larissa.
"Sebenarnya aku sedang hamil" ujar Seira lagi.
"Sungguh?" tanya Larissa terkejut.
"Iya, aku tau aku hamil saat kami sudah putus, aku bahkan tidak memberitahu Bryan" ujar Seira.
"Dia akan sadar dan menemani di masa hamil mu" jawab Larissa.
"Sebenarnya aku kesini untuk mendengarkan mu rekaman suara yang pernah aku ambil saat berbicara dengan Bryan" ujar Larissa.
"Maksud kamu?" tanya Seira tidak mengerti.
"Kamu dengarkan dulu rekaman ini" ujar Larissa.
Larissa kemudian memutar rekaman suara yang ia rekam saat Bryan mengatakan bahwa ia sangat mencintai Seira. Air mata Seira bercucuran mendengar rekaman itu. Dia melihat kembali ke arah Bryan dan berharap ada keajaiban pria itu sadar dan berbicara padanya.
"Aku yakin Bryan akan bangun, cintanya kepadamu sangat besar" ujar Larissa.
"Kamu dulunya mantan Bryan bukan?" tanya Seira.
"Iya kamu benar" jawab Larissa jujur.
"Menurutmu dia orang yang seperti apa?" tanya Seira.
"Dia orang yang penuh cinta, saat dia mencintai seseorang dia akan habis-habisan membahagiakan orang tersebut, aku berpisah dengan nya mungkin sebuah takdir, dia yang begitu baik tidak cocok dengan ku yang jahat" ujar Larissa.
"Berbeda dengan kamu yang begitu baik, aku yakin dia akan bahagia denganmu" ujar Larissa lagi.
"Makasih ya Sa kamu udah ikhlasin Bryan untukku" ujar Seira.
__ADS_1
"Tentu saja Ra, kamu dan Bryan berhak bahagia, aku akan pergi dari kehidupan kalian, aku hanya bisa berdoa untuk kebahagiaan kalian" jawab Larissa.
Larissa kemudia pamit pulang pada Seira yang hatinya mulai tenang. Dia yakin Bryan akan segera sadar dan berbicara dengannya.