
Bryan langsung menanyakan bagaimana Seira mengenal Larissa agar lebih tahu cerita pastinya. Lelaki itu kemudian memulai percakapan ringan yang tidak membuat Seira terkejut.
"Jadi teman makan malam mu itu larissa?" tanya Bryan dengan pertanyaan simpel.
"Iya aku makan malam dengan Larissa" jawab Seira jujur.
"Bagaimana kamu mengenal Larissa?" tanya Bryan penasaran.
"Kami kerja di kantor yang sana dan divisi yang sama juga" ujar Seira.
"Pantas saja dia tidak menanpakkan dirinya di kantor pusat, ternyata dia bermain di kantor cabang" guman Bryan.
"Menurut mu dia gadis yang seperti apa?" tanya Bryan pada Seira.
"Hmm kamu menyukainya ya makanya sampai sepenasaran itu padanya?" ledek Seira cemberut.
"Tentu saja tidak, aku khawatir padamu, bagaimanapun juga kamu pergi makan malam bersamanya tapi kamu tidak sadarkan diri" jawab Bryan agar Seira tidak salah paham.
"Hmm menurutku dia itu aneh, kadang baik, kadang jahat, kadang kejam, kadang berlaku bak seorang sahabat" jawab Seira jujur.
"Kamu sudah lama mengenal dia?" tanya Bryan lagi.
"Belum, kami bertemu saat aku menjadi karyawan di kantor cabang" jawab Seira lagi.
Bryan berpikir apa motif yang disembunyikan oleh Larissa dengan semua kejadian ini. Dia tidak habis pikir Larissa punya rencana yang melibatkan Seira di dalamnya. Bryan yakin Larissa sudah tahu bahwa Seiralah wanita yang disukai oleh Bryan. Laki-laki itu segera mencari tahu apa yang terjadi dan melindungi kekasihnya apa pun yang terjadi.
************
__ADS_1
Laura mencatok rambutnya dengan kesal, dia teringat kebohongan Freddin tentang ulang tahun Seira. Tenyata Seira ulang tahun bulan depan dan bukan seperti yang dikatakan Freddin.
"Dasar, dia pasti mengajakku membeli kado Kakaknya agar aku gagal kencan buta dengan Niko, Freddin licik" ujar Laura kesal.
*Seminggu yang lalu
Laura mengingat bahwa Freddin mengatakan Seira ulang tahun. Dia juga sudah membantu Freddin memilihkan kado untuk Kakaknya. Begitu juga dengan Laura yang menyayangi Seira seperti Kakak kandungnya tidak mau ketinggalan. Dia membelikan kado untuk Seira sebuah dress cantik keluaran edisi terbatas sebagai hadiah ulang tahunnya.
Keesokan harinya Laura pergi ke kontrakan Seira dengan sebuah kue dan kado. Sesampainya di sana Laura sangat terkejut melihat Seira bengong dan tidak mengerti apa yang terjadi.
"Siapa yang ulang tahun Laura?" tanya Seira bingung.
Laura langsung mengerti bahwa dia sudah salah tidak memastikan kembali dan percaya dengan omongan Freddin. Agar tidak begitu malu Laura memberikan alasan paling masuk akal kepada Seira.
"Ini hanya hadiah kepulanganku Kak, selama di luar negeri kita jarang bertemu" ujar Laura memberikan paper bag dress itu.
"Astaga kamu tidak perlu repot-repot sayang, terus kue nya untuk apa?" tanya Seira lagi.
Seira dan Laura akhirnya memakan kue itu dan berbincang-bincang tentang masa lalu mereka. Seira juga mencoba dress yang diberikan oleh Laura. Dress itu sangat cocok untuknya dan terlihat pas di tubuhnya.
Laura geleng-geleng kepala mengingat kejadian seminggu yang lalu begitu memalukan. Untung saja dia pintar membuat alasan sehingga Seira tidak curiga dengan dirinya.
"Dasar Freddin brengsek, hampir saja aku malu di hadapan Kak Sharon" grutunya.
*********
Freddin yang sedang bekerja merasa telinganya tiba-tiba panas seperti ada yang membicarakannya. Dia teringat kembali penolakan yang diberikan Laura kepadanya. Lelaki itu tidak habis pikir wanita yang dulu mengejarnya habis-habisan sekarang menjadi wanita yang sangat ia inginkan.
__ADS_1
"Andaikan dulu aku memperlakukanmu dengan baik" ujar Freddin menyesal.
Freddin segera mengambil kunci mobilnya dan mendatangi rumah Laura tanpa mengabarinya terlebih dahulu. Saat sampai di depan gerbang rumah Laura, Freddin melihat sebuah mobil tengah keluar. Sekilas wanita yang ada di dalam mobil terlihat seperti Laura. Karena kaca film samping gelap, Freddin tidak bisa melihat jelas. Lelaki itu hanya bisa melihat dari kaca depan saat mobil mereka papasan.
Tanpa menunggu lama lagi Freddin mengikuti mobil itu dengan hati-hati. Entah bagaimana hatinya begitu yakin bahwa Laura ada di dalamnya. Setelah beberapa lama di perjalanan mobil hitam itu akhirnya berhenti. Seperti dugaan Freddin keluarlah wanita yang sangat dia kenal bersama seorang lelaki teman kencannya Niko. Laura dan Dokter Niko masuk ke cafe dan berbincang-bincang.
Freddin tetap menunggu di dalam mobilnya dan memperhatikan mereka berdua. Saat ia melihat Niko sedang sendirian, Freddin segera keluar dari mobil dan masuk ke Cafe. Dia memilih kursi yang membelakangi tempat Laura dan Niko.
Saat Laura sedang di kamar mandi, ponsel milik Niko berbunyi. Awalnya Freddin tidak begitu peduli untuk mendengar percakapan pria itu. Sebuah kata yang keluar dari mulut Niko sangat mengagetkan Freddin.
"Aku sedang di luar sayang, nanti aku akan menjemputmu ya" ujar Niko di telepon seraya melihat ke arah kamar mandi wanita takut Laura tiba-tiba muncul.
"Sayang?" guman Freddin tidak percaya dengan satu kata itu.
"Dia sudah punya pacar?" ujar batin Freddin.
Freddin segera keluar Cafe saat melihat Laura akan kembali duduk. Lelaki itu tetap menunggu di luar sampai mereka berdua selesai berbincang-bincang di Cafe.
Dokter Niko dan Laura keluar dari Cafe setelah satu setengah jam berlalu. Freddin hampir tertidur langsung sadarkan diri. Dia dengan sigap mengikuti kembali mobil Dokter Niko.
"Kita akan lihat siapa sayang mu itu sebelum berasumsi lebih lanjut" ujar Freddin takut Dokter Niko berbicara kepada Ibunya di telepon tadi.
Setelah mengantar Laura mobil Niko berjalan ke luar gerbang kediaman Laura. Freddin sudah menunggu di sana sedari tadi. Dia sangat handal mengendarai mobil sehingga Niko tidak curiga sama sekali kalau ada yang mengikutinya.
Setelah setengah jam di perjalanan, mobil Niko berhenti di sebuah rumah sederhana. Terlihat seorang wanita cantik tengah menunggu di halaman rumah. Niko keluar dan menghampiri wanita itu. Mereka saling berpelukan dan tersenyum satu sama lain. Niko segera membukakan pintu mobil untuk wanita muda itu.
Dengan sigap Freddin memofo kejadian yang berada di depannya tanpa terlewat sedikitpun. Lelaki itu sangat marah saat melihat pertunjukan di hadapannya. Dia tidak mengira Niko sebrengsek itu dan berani menduakan Laura.
__ADS_1
"Awas saja kamu berani mempermainkan Laura" ujar Freddin marah.
Dia segera meninggalkan tempat itu dengan perasaan hancur. Freddin tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Laura dengan cara apapun. Dia segera menyusun cara agar memisahkan Niko dari Laura tanpa membuat Laura sakit hati. Lelaki itu tidak akan membiarkan Laura tahu bahwa Niko sudah punya kekasih lain yang ia sembunyikan.