One Night One Love

One Night One Love
Bab 23 : Hanya Satu Cara


__ADS_3

Bryan membawa Seira ke mobilnya dan meninggalkan kediaman Thomas. Wanita itu masih belum sadarkan diri. Bryan membawa Seira ke rumahnya untuk segera diperiksa oleh tim medis.


"Dia tidak apa-apa kan Dok?" tanya Bryan.


"Dia hanya pingsan Tuan" jawab Dokter yang bekerja untuk keluarga Wijaya.


"Syukurlah" jawab Bryan lega.


"Dia hanya butuh istirahat Tuan" lanjut Dokter lagi.


"Terimakasih Dok" ujar Bryan.


Bryan memandangi wajah Seira begitu lama dan memegang pipi lembut milik Seira. Lelaki itu tidak menyangka Seira bisa kenal dengan putera seorang mafia besar.


"Apa dia tidak sadar bahaya yang sedang ia hadapi" guman Bryan memikirkan Seira.


"Bahkan dia cantik saat sedang tidur" ujar Bryan.


Bryan kemudian keluar dari kamar dan membiarkan Seira untuk beristirahat. Dia takut membangunkan Seira dan membuat gadis itu tidak nyaman.


********


Di sisi lain Larissa tengah bingung dengan rencananya yang gagal total. Dia dan Owen tidak menyangka ada orang yang menggagalkan rencana yang telah mereka susun dengan matang.


"Aku harus bagaimana, Bryan mungkin sudah tahu sekarang bahwa aku mendekati Seira" ujar Larissa ketakutan.


"Kamu jangan panik dulu, kita pikirkan jalan keluarnya" jawab Owen.


"Siapa laki-laki yang menggagalkan rencana kita tadi malam?" tanya Owen lagi.


"Dia William rekan kantor kami, aku tidak menyangka dia punya komplotan seperti itu" ujar Larissa resah.


"Kita harus menyusun ulang rencana" jawab Owen.


"Iya, apa alasan yang aku berikan jika Bryan mengetahui semua ini" Larissa ketakutan seraya menggigit Ibu jarinya.


Mereka berdua berpikir sejenak, tidak ada satupun ide yang terlintas di kepala Larissa. Berbeda dengan Larissa, Owen masih berusaha berpikir dan mencari jalan keluar terbaik untuk masalah mereka.


"Hanya ada satu cara yang paling masuk akal dan pasti membuat Bryan tergoyahkan" ujar Owen.


"Apa itu?" desak Larissa penasaran.

__ADS_1


"Tapi cara ini sangat ekstrim, dan jika gagal ini sangat berbahaya" ujar Owen lagi.


"Aku sudah buntu, beritahu saja apa yang membuat Bryan kembali ke sisi ku" ujar Larissa lagi.


"Zelyn, kita harus melibatkan Zelyn dalam hal ini" ujar Owen.


"Ha? maksud kamu apa?" tanya Larissa bingung.


"Kamu harus memberitahu Bryan kalau kamh melahirkan anaknya, alasan mu putus adalah untuk mempertahankan anak itu" ujar Owen jahat.


"Maksud kamu Zelyn puteri kita akan kamu buat menjadi puteri Bryan? dia itu anak kamu bukan anak Bryan" ujar Larissa marah.


"Aku tahu, tapi Bryan tidak akan tahu kalau itu anakku" ujar Owen lagi.


"Kamu kira tes DNA tidak diciptakan di dunia ini?" ujar Larissa kesal.


"Itu poin utama nya, jangan biarkan Bryan bertemu Zelyn ataupun tahu dimana keberadaan Zelyn, dengan begitu dia tidak akan bisa melakukan tes DNA" ujar Owen lagi.


"Bagaimana bisa dia percaya kalau dia tidak berjumpa?" tanya Larissa mulai tenang.


"Ancam terus sampai dia menikahi mu, gunakan Zelyn sebagai alasan agar kamu dapat menikah dengannya" ujar Owen.


"Dia hanya bisa bertemu dengan Zelyn jika sudah menikahi mu, ambil hartanya sebanyak-banyaknya" ujar Owen.


Larissa terdiam mendengar rencana Owen. Walaupun terdengar jahat tapi itu satu-satu nya cara agar Bryan meninggalkan Seira dan menikahinya. Larissa sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa selain saran dari Owen.


Sebenarnya wanita itu merasa berat harus melibatkan puterinya dalam pertarungan ini. Larissa sangat menyayangi Zelyn kecil yang membuatnya bahagia. Dia masih mempertimbangkan saran yang diberikan oleh Owen selaku Ayah kandung dari puterinya.


**********


Seira bangun membuka matanya, gadis itu melihat sekeliling yang tidak ia kenali. Seira sadar bahwa itu bukan rumahnya. Dia melihat dinding kamar itu dan terlihat sosok pria yang ia kenali. Foto Bryan menghiasi di setiap dinding kamarnya. Seira berusaha mengingat apa yang terjadi pada dirinya.


Bryan masuk ke kamarnya dan mendapati Seira sudah siuman. Dia berlari ke arah Seira dan memeluknya dengan haru.


"Kamu kenapa Ra?" tanya Bryan pada Seira.


"Bagaimana bisa kamu berada di kediaman keluarga Thomas?" tanya Bryan lagi.


"Thomas? siapa itu?" tanya Seira tidak kenal.


"Kamu tidak kenal dengannya?" tanya Bryan heran.

__ADS_1


"Tidak" jawab Seira singkat.


"Dia mengatakan bahwa kamu dan dia teman satu kantor" ujar Bryan bingung.


"Aku tidak punya teman bernama Thomas" jawab Seira jujur.


Seira tidak tahu bahwa Thomas yang dimaksud oleh Bryan adalah William yang ia kenal. Karema Seira baru sadar, Bryan tidak mau terlalu memaksanya dan tidak membahas hal itu lagi. Dia akan mencari tahu sendiri apa yang tengah terjadi antara Seira, Larissa, dan Thomas.


"Kamu istirahat saja" ujar Bryan lagi.


"Aku lapar" ujar Seira memperdengarkan suara perutnya yang berbunyi.


"Aku sudah tidur berapa lama? bagaimana bisa aku terbangun di sini?" tanya Seira.


"Nanti aku akan menjelaskan semua, sekarang kamu makan dan istirahat terlebih dahulu" pinta Bryan.


Seira mengangguk patuh pada perkataan Bryan. Dia makan dengan lahap dan menghabiskan makanan yang disajikan untuknya. Bryan juga ikut makan bersama dengan Seira disampingnya.


Setelah makan Seira pulang diantar Bryan ke kontrakannya. Awalnya Bryan meminta Seira untuk pulang ke rumah keluarga besarnya saja, tapi Seira menolak.


"Kamu pulang ke rumah saja ya" pinta Bryan.


"Tidak, ke kontrakan saja" jawab Seira menolak.


"Kenapa kamu tidak mau pulang ke rumah keluargamu?" tanya Bryan.


"Itu bukan lagi rumah semenjak Mama sudah tiada" jawab Seira sedih.


Bryan tidak melanjutkan perkataannya lagi, dia takut membuat Seira mengingat kembali masa lalunya. Lelaki itu mengantarkan Seira ke kontrakannya sesuai permintaan. Sesampainya di sana Bryan tidak langsung pulang, dia ingin menemani Seira sampai dia tenang.


"Hari ini aku harus kerja" ujar Seira mengingat ini bukan hari minggu.


"Jangan, kamu masih sakit" ujar Bryan beralasan padahal ia khawatir dengan keselamatan Seira.


"Kamu tenang aja aku udah baikan" ujar Seira lagi.


"Kamu bisa nggak dengar perkataanku, hari ini aja kamu harus istirahat" ujar Bryan tegas.


Melihat Bryan begitu tegas untuk menyuruhnya istirahat di rumah membuat Seira patuh. Dia sangat jarang melihat wajah Bryan yang seperti itu.


Seira kemudian membuat teh untuk Bryan dan berbincang dengannya di ruang tamu. Seira belum mengingat kejadian apa yang terjadi dengan dirinya semalam.

__ADS_1


"Temanku Larissa, kamu tahu apa yang terjadi dengannya? dia makan malam bersamaku, aku khawatir dia kenapa-kenapa" ujar Seira mengingat bahwa dia makan malam bersama Larissa.


"Dia tidak apa-apa kamu tenang saja" jawab Bryan khawatir.


__ADS_2