One Night One Love

One Night One Love
Bab 15 : Perjodohan


__ADS_3

Sebuah mobil menjemput Seira di depan rumahnya. Malam ini dia berjanji untuk ikut makan malam bersama keluarganya. Awalnya Seira menolak, tetapi dengan bujukan maut dari Freddin membuat Seira akhirnya mengalah.


Freddin dan Seira duduk berdua di mobil dengan suasana hening. Wajah Freddin membuat Seira sedikit khawatir. Biasanya Freddin memiliki rahasia jika ia memasang wajah seperti itu.


"Ada apa? bilang saja" ujar Seira.


"Tidak ada" jawab Freddin berbohong.


"Aku tidak akan marah" ujar Seira.


"Apa benar kamu berkencan dengan Bryan dari keluarga Wijaya?" tanya Freddin.


"Dari mana kamu dapat kabar itu? tanya Seira lagi.


"Dari Papa, sepertinya asistennya mengikutimu selama ini" ujar Freddin jujur


"Haha, Papa benar-benar tidak berubah" ujar Seira.


"Kamu serius sama Bryan?" tanya Freddin.


"Nggaklah, itu cuma bohongan" jawab Seira.


"Maksudnya?" tanya Freddin tidak paham.


"Itu hanya formalitas yang menguntungkan kami berdua" jelas Seira.


Freddin hanya geleng-geleng kepala mendengar penjelasan dari Kakaknya. Dia tidak habis pikir Seira punya pacar bohongan. Terlebih pacarnya seorang putera tunggal keluarga Wijaya.


"Sepertinya Papa akan mengatur perjodohan kalian" ujar Freddin lagi.


"Aku gak mau, itu bukan urusan Papa" jawab Seira.


"Pasti Papa ingin kamu segera menikah mengingat usia mu yang semakin tua" ujar Freddin lagi.


"Kamu saja duluan" jawab Seira.


Setelah beberapa waktu mereka sampai di restoran yang dipesan keluarga Seira. Saat sampai Seira begitu terkejut melihat Bryan sudah duduk bersama Papanya.


"Bryan, kamu ngapain di sini?" tanya Seira kaget.


"Aku di undang oleh Om Wilson" ujar Bryan.


"Papa yang undang dia, kamu duduk dulu" ujar Papa Seira.


"Pa, aku gak suka cara Papa seperti ini" ujar Seira marah seraya duduk di samping Freddin.


"Kamu juga tahu akan begini?" tanya Seira pada Freddin karena merasa di khianati.


"Nggak, saat aku menjemputmu dia belum ada" jawab Freddin jujur.


"Freddin tidak tahu apa-apa, Papa yang mengatur semua ini" ujar Wilson.

__ADS_1


Mereka makan terlebih dahulu dengan suasana dingin. Mata Seira tampak seperti orang yang sedang menahan amarah. Papa nya hanya cuek melihat ekspresi mengerikan dari Puterinya.


Setelah makan Papa Seira segera membahas tentang perjodohan mereka yang tiba-tiba. Seira kesal karena Bryan akhirnya mengetahui identitas aslinya.


"Dia puteri Om, namanya Sharon Diandra Wilson" ujar Papa Seira.


"Bukannya namanya Seira?" tanya Bryan pura-pura tidak tahu.


"Itu hanya nama kecilnya, nama aslinya Sharon" jelas Papa Seira.


"Maksud Papa apa menjodohkan kami, Bryan juga tidak ingin di jodohkan" ujar Seira.


"Kata siapa Bryan tidak mau, dia mau di jodohkan denganmu" jawab Papa Seira.


Seira sangat kaget mendengar ucapan yang keluar dari mulut Papanya. Freddin juga terkejut dan menatap ke arah Seira. Mereka tidak menyangka Bryan akan setuju dengan perjodohan ini.


"Kamu udah gila ya" ujar Seira pada Bryan.


"Aku menyukai perjodohan ini, akan menguntungkan keluarga Wijaya juga Wilson" ujar Bryan memberi alasan bisnis.


Bryan sebenarnya mulai menyukai Seira, tapi dia malu untuk mengakuinya. Dia membuat alasan bisnis menjadi penolong perasaannya yang ia tutupi.


"Aku tidak mau menikah karena bisnis" ujar Seira.


"Kita bisa pendekatan terlebih dahulu" jawab Bryan cerdas.


"Aku tidak mau" tegas Seira.


"Aku tidak mau Pa, sekali tidak ya tidak" ujar Seira tegas.


"Baiklah, kasih aku waktu dua bulan lagi seperti kesepakatan kita sebelumnya untuk jadi pacar pura-pura, kita gunakan waktu dua bulan itu untuk saling lebih mengenal" ujar Bryan.


"Kalau kamu tidak menyukaiku kamu boleh memutuskan hubungan kita setelah dua bulan" ujar Bryan lagi.


Seira berpikir keras atas saran Bryan, itu bahkan lebih baik daripada langsung di jodohkan dan menikah. Dia tahu walaupun dia menolak Papanya akan tetap memaksanya. Dua bulan cukup untuk Seira menghindari pernikahan bisnis ini.


"Baiklah aku setuju, kamu harus berjanji jika aku meminta untuk membatalkan pernikahan kamu harus mau" ujar Seira mengancam.


"Oke baiklah" jawab Bryan.


"Bryan kenapa kamu setuju" ujar Papa Wilson tidak senang.


"Tidak apa-apa Om, dua bulan cukup untuk aku memikat hati Seira" bisik Bryan tersenyum.


"Om percayakan ke kamu" balas Wilson dengan bisikan juga.


Pulangnya Seira dipaksa menaiki mobil Bryan dengan alasan pendekatan. Sepanjang perjalanan Seira buang muka dan tidak menanggapi percakapan yang di mulai Bryan.


"Kamu sebenci itu dijodohkan denganku?" tanya Bryan.


"Kamu akhirnya tau identitas asliku" ujar Seira.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, walaupun kamu bukan dari keluarga Wilson juga aku tetap suka" ujar Bryan.


"Gombal" ledek Seira.


Bryan mengantar Seira sampai dengan rumah Seira. Wanita itu menawarkan Bryan untuk singgah secara basa-basi. Bryan menyetujui dengan cepat tanpa menghiraukan wajah kesal Seira.


"Aku cuma basa-basi" ujar Seira.


"Aku tidak peduli yang penting aku mau singgah dulu" ujar Bryan.


Tanpa mereka sadari Larissa dan Owen sudah memantau rumah Seira saat mereka baru sampai dari makan malam. Larissa sangat marah melihat Bryan masuk ke rumah wanita lain. Dia tidak sabar untuk menghancurkan Seira dan memisahkannya dengan Bryan.


"Apa perlu kita curi wanita itu?" tanya Larissa.


"Itu cukup berbahaya, kamu siksa di kantor saja besok, kasih pelajaran" ujar Owen.


"Di kantor akan susah, ada anak bernama William yang selalu membelanya" keluh Larissa.


"Sial, kenapa banyak sekali yang membelanya" jawab Owen.


"Baiklah kita akan cari cara untuk mengancam Seira" ujar Owen.


********


Laura tengah bersiap untuk kencan keduanya dengan Sang Dokter tampan. Dia memilih pakaian terbaiknya dan berdandan tipis senatural mungkin. Di saat yang tidak tepat Freddin menelepon Laura untuk menemaninya ke Mall.


"Laura temani aku ke Mall untuk beli kado buat Seira" ujar Freddin.


"Kak Sharon? kapan dia ulang tahun?" tanya Laura.


"Minggu depan" jawab Freddin.


"Besok ya, aku akan menemanimu besok" ujar Laura.


"Kenapa tidak hari ini?" tanya Freddin.


"Aku akan kencan kedua dengan Dokter itu" jawab Laura bersemangat.


Hati Freddin sakit mendengar wajaban yang keluar dari mulut Laura dengan semangat. Dia belum sadar akan perasaannya dan hanya menangkal dengan alasan hanya sebatas adik. Dia mencoba membujuk Laura untuk tidak pergi kencan buta lagi.


"Kamu tidak usah pergi, dia tidak keliatan seperti laki-laki yang baik" ujar Freddin.


"Tidak kamu salah, dia sangat baik" ujar Laura membela Sang Dokter.


"Itu penilaian ku sebagai sesama pria, kamu harus mendengarkan aku" jawab Freddin.


"Tidak mau, dia bahkan berhati lembut, benar-benar pria idaman" puji Laura.


Telinga Freddin semakin panas mendengar Laura memuji pria lain. Dulu Laura hanya memuji dirinya dan mengikutinya kemanapun. Laura sangat menyukainya hingga ia tidak bisa membedakan perasaan suka dan sayangnya.


"Aku jemput kamu sekarang, kamu harus temani aku ke Mall" ujar Freddin sembari mematikan telepon.

__ADS_1


"Hei aku tidak mau" jawab Laura kesal setelah mendengar suara telepon diputus.


__ADS_2