
Sudah satu bulan sejak Bryan koma di rumah sakit. Kehamilan Seira sudah menginjak usia dua bulan. Hari ini Kevin dan Yuna datang menjenguk Bryan ke rumah sakit.
"Seira kami datang" ujar Kevin.
"Kevin Yuna" jawab Seira tersenyum.
"Bagaimana keadaan Bryan?" tanya Kevin.
"Dia belum juga sadar" jawab Seira bersedih.
"Kami yakin dia akan segera sadar, kamu harus tetap semangat ya" ujar Yuna.
"Makasih ya Yun" jawab Seira.
"Kami membawakan kamu makanan, kamu makan dulu ya biar bertenaga" ujar Yuna lagi.
Seira mengangguk dan mengambil makanan pemberian Yuna. Dia memakan oleh-oleh dari Yuna dengan tatapan kosong.
"Jangan melamun dong Ra" ujar Yuna lagi.
"Eh iyaa maaf, kamu dan Kevin kapan berencana menikah?" tanya Seira melainkan pembicaraan.
"Aku akan menunggu Bryan sadar terlebih dahulu, aku tidak ingin berbahagia dibalik penderitaan sahabatku" ujar Kevin.
"Aku setuju dengan Kevin, kami akan selalu menunggu kalian Ra" jawab Yuna.
"Kalian tidak perlu menunggu kami, segeralah menikah" pinta Seira.
"Aku yakin tidak lama lagi Bryan akan sadar" ujar Kevin.
"Makasih ya, kalian sudah menguatkan aku" ujar Seira.
"Laura dimana?" tanya Kevin.
"Tadi mereka sudah datang, aku suruh mereka istirahat dan mengerjakan pekerjaan kantor yang sudah meningkat" ujar Seira.
"Bagaimana dengan perusahaan Bryan?" tanya Kevin lagi.
"Saat ini perusahaan di kelola penuh oleh Om Wijaya, mereka sangat kewalahan sejak Bryan koma" jawab Seira.
"Keadaan kamu sendiri gimana Ra? kamu juga harus jaga kesehatan" ujar Yuna prihatin.
"Iya Yun kamu tenang saja, aku akan selalu menjaga kesehatan ku agar aku bisa merawat Bryan" jawab Seira tersenyum.
Tak lama kemudian Yuna dan Kevin izin pamit pulang. Seira dan Bryan kembali berdua di ruangan. Seira menatap lama ke arah Bryan yang terbaring pucat di hadapannya.
"Kamu kapan sadarnya?" tanya Seira.
"Aku dan anak kita menantikan kamu" lanjut Seira mulai menangis.
__ADS_1
Seira kemudian mencium kening Bryan sehingga air matanya mengenai pipi pria itu. Perlahan tangan Bryan mulai bergerak pelan. Seira yang melihat hal itu berhenti menangis seakan tidak percaya. Dengan cepat dia segera menyadarkan dirinya dan memanggil dokter.
"Dok dokter Bryan sudah sadar" teriak Seira sekuat tenaga.
Dokter segera datang memeriksa keadaan Bryan saat itu juga. Seira seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia sangat bersyukur dan senang atas keajaiban yang datang hari ini.
"Syukurlah Pak Bryan sudah sadar Bu" ujar Sang Dokter.
"Terimakasih ya Dok" ujar Seira senang.
Kabar kesadaran Bryan segera diketahui oleh seluruh keluarga besar. Mereka semua segera datang ke rumah sakit untuk melihat Bryan yang sudah siuman.
"Syukurlah Bryan sudah sadar" ujar Om Wijaya dan istrinya.
Orangtua Bryan tidak berhenti menangis melihat anak nya yang sudah sadar. Bryan juga ikut menangis bersama mereka semua. Setelah semua nya selesai mengucapkan selamat pada Bryan, kini mereka memberikan ruang bagi Seira untuk berbicara berdua dengan Bryan.
"Seira" ujar Bryan dengan serak.
"Iya Bryan" jawab Seira mulai mendekat.
"Maafkan kesalahan ku ya" ujar Bryan penuh haru.
"Harusnya aku yang minta maaf padamu, aku tidak mendengar penjelasanmu dengan baik dan hanya marah-marah" jelas Seira.
"Tidak, itu hal yang wajar, aku yang salah telah membuat mu harus melewati hari-hari buruk ini" ujar Bryan.
"Aku tidak ingin berpisah denganmu lagi" ujar Bryan.
"Kamu mau memaafkan aku?" tanya Bryan.
"Iya aku mau" jawab Seira senang.
"Bryan ada yang ingin aku katakan" ujar Seira.
"Ada apa Ra?" tanya Bryan.
"Aku tengah hamil dua bulan anak kita" ujar Seira.
"Oh iya bagaimana bisa aku melupakan hal itu, kamu mau kan kita segera menikah?" tanya Bryan lagi.
"Iya aku mau, setelah kamu sehat kita akan segera menikah" jawab Seira.
Kabar pernikahan Seira dan Bryan disambut dengan baik oleh seluruh anggota keluarga. Seraya menunggu kesembuhan Bryan agar benar-benar pulih, persiapan pernihakan segera dilakukan. Laura, Freddin, Yuna, kevin, Thomas, dan Miranda turut membantu mempersiapkan pernikahan Seira da Bryan.
Kevin dan Yuna bertugas di bagian hidangan karena berhubung Yuna memiliki restoran. Thomas dan Miranda berada di bagian undangan pernikahan dan mencatat siapa saja yang akan diundang di acara besar ini. Sedangkan Laura dan Freddin mempersiapkan sisanya, baik dari dekorasi gedung, pakaian, cincin, dan seluruhnya telah dipersiapkan dengan baik oleh mereka.
Saat kesehatan Bryan mulai pulih, dia dan Seira hanya tinggal fitting baju agar ukurannya pas di badan mereka. Seira dan Bryan benar-benar senang telah dibantu oleh keluarga besar mereka.
Acara pernikahan mereka sudah semakin dekat, minggu depan mereka akan menggelar pernikahan mereka. Perut Seira tidak begitu terlihat besar karena badannya yang langsing. Selain itu Laura yang pintar memilih gaun yang kembang sempurna sehingga perut Seira tidak akan terlihat besar sama sekali.
__ADS_1
"Makasih ya buat kalian yang sudah bersusah payah membantu kami" ujar Seira saat mereka semua tengah berkumpul merayakan acara kepulangan Bryan dari rumah sakit.
"Kami senang bisa membantu kalian" jawab Kevin tersenyum.
"Semoga kalian selalu bahagia ya" ujar Yuna juga.
"Aku berharap punya keponakan yang cantik" ujar Laura yang tengah hamil besar.
"Anak kita bakal jadi sepupu yang usia nya tidak jauh berbeda" ujar Freddin senang.
Mereka semua saling memberi selamat. Saat semua nya tengah asik memakan hidangan yang telah dipersiapkan, Larissa datang dengan penuh keraguan bersama Zelyn.
"Larissa sini" ujar Seira senang Larissa memenuhi undangannya.
"Kamu yang undang Larissa?" tanya Bryan pada Seira.
"Iya, Larissa sudah mengakui semua kesalahannya, dia pantas diberi kesempatan kedua" ujar Seira yang begitu baik.
"Selamat ya Ra, Bryan" ujar Larissa tersenyum.
"Makasih Sa, ini semua berkat dukungan kamu juga" jawan Seira.
"Bryan maafin aku ya, gara-gara aku kamu jadi terluka" ujar Larissa.
"Sudah lah Sa, kamu juga berhak bahagia bersama Zelyn" ujar Bryan mengelus pipi Zelyn kecil.
Aku datang sekaligus ingin berpamitan pada kalian" ujar Larissa.
"Kamu hendak kemana?" tanya Seira.
"Aku akan pergi sejauh mungkin dan memulai kehidupan baru yang baik dengan Zelyn" ujar Larissa.
"Keputusan kamu sudah bulat?" tanya Seira.
"Sudah Ra, aku yakin akan memulai hidup baru jauh dari semua ingatan burukku" jawab Larissa.
"Ya sudah kalau begitu aku hanya bisa menyemangatimu" ujar Seira.
"Oh iya tunggu sebentar ya" ujar Seira masuk ke rumah sebentar.
Seira keluar membawa secarik kertas, tak lain berupa cek. Dia memberikan cek itu kepada Larissa.
"Sa ini ada sedikit untuk jajan Zelyn" ujar Seira memberikan cek itu.
"Tidak usah Sa, kamu jangan seperti ini" ujar Larissa sungkan.
"Siapa bilang ini buatmu, aku hanya menitipkan milik Zelyn padamu" ujar Seira tersenyum.
"Ambillah Sa, Seira sangat berterimakasih atas kejujuran mu" ujar Bryan.
__ADS_1
Setelah lama berdebat, akhirnya Larissa mengalah dan mengambil cek berjumlah besar itu. Dia sangat kagum atas kepribadian Seira yang begitu baik. Dia sangat bahagia Bryan berada di tangan yang tepat. Larissa yakin Seira dan Bryan akan menjadi padangan yang serasi.