
Bryan panik dan segera menelpon Seira. Dia sudah membuat alasan yang cukup masuk akal untuk melihat isi kotak itu. Dengan cepat Bryan mengatur pernafasannya dan berbicara secara natural dengan Seira.
"Halo, aku sedang bekerja tidak bisa menelpon" ujar Seira terburu-buru.
"Aku meninggalkan barang pentingku di kamar, apa aku bisa mengambilnya?" tanya Bryan.
"Barang apa?" tanya Seira lagi.
"Sebuah dokumen, sepertinya tertinggal itu sangat penting" jawab Bryan.
"Memangnya kamu bawa dokumen semalam?" tanya Seira lagi.
"Iya, aku lupa meletakkannya dimana tapi aku ingat dokumen itu dibawa ke rumahmu" ujar Bryan senatural mungkin.
"Tapi aku masih bekerja nanti saja saat pulang" ujar Seira.
"Tidak bisa aku butuh sekarang, kamu kerja saja aku bisa mengambilnya sendiri" ujar Bryan.
"Baiklah, kuncinya ada padaku" ujar Seira lagi.
"Aku akan menjemputnya ke kantor mu sekarang ya" ujar Bryan.
Dengan cepat Bryan mengendarai mobilnya menuju kantor Seira untuk mengambil kunci rumah Seira. Bryan membawa salah satu bawahannya untuk membantunya. Saat sampai Seira memberikan kunci rumahnya pada Bryan.
"Jangan lupa untuk menutup kunci rumah lagi" ujar Seira.
"Kamu tenang saja sayang, nanti aku menjemputmu ya" jawab Bryan.
"Iya hati-hati di jalan" ujar Seira khawtir.
Setelah memastikan Seira sudah masuk kembali ke kantornya, Bryan segera masuk ke mobil. Dia dan bawahannya segera ke rumah Seira dan memeriksa isi kotak tersebut.
Mereka sampai setelah dua puluh menit berkendara. Bryan dan bawahannya segera membuka pintu rumah Seira yang dikunci. Saat masuk Bryan mencari kotak yang sudah dibuka sebagian sisi kotaknya oleh Seira.
Betapa terkejutnya Bryan melihat isi kotak itu. Terlihat foto wajahnya dan Larissa saat berpacaran dahulu. Bryan begitu marah mengetahui hal ini. Dia tidak ingin Seira salah paham padanya. Bawahannya segera mengganti isi kotak itu dengan isi lain dan meletakkannya di tempat semula dengan keadaan yang sama.
"Segera hubungi tim keamanan kita akan bertemu Larissa sekarang" ujar Bryan pada Bawahannya.
__ADS_1
"Baik Tuan" jawab bawahan itu.
Di lain sisi suruhan Larissa segera memberitahu keadaan terkini. Seira belum membuka isi kotak dan sudah di tukar oleh Bryan. Mendengar hal itu Larissa segera bersembunyi karena tahu dia akan dicari.
"Kami belum berhasil menemukan keberadaan Nona Larissa Tuan" ujar bawahan itu.
"Cepat cari tahu, periksa semua cctv yang ada" ujar Bryan marah.
"Kalian siap sedia di rumah Seira, Larissa pasti mengirim foto ini lagi kesini" ujar Bryan mengingatkan untuk mengintai rumah pacarnya.
"Baik Tuan" ujar pada bawahan itu.
Setelah membersihkan kekacauan di rumah Seira, Bryan kembali berangkat ke perusahaan. Dia segera menyusun strategi untuk menemukan Larissa. Jelas sekali tujuan Larissa adalah untuk menyakiti Seira.
"Kalian harus menumukannya" ujar Bryan setibanya di kantor.
"Baik Tuan, terakhir dia terlihat berada di mini market Tuan, tapi ada yang aneh" ujar bawahan itu.
"Apa yang aneh?" tanya Bryan.
"Nona Larissa sepertinya sudah sering berbelanja di situ, kami sudah lihat cctv sebelumnya" ujar bawahan.
"Bukan itunya yang membuat aneh Tuan, tapi lokasinya, mini market itu sangat jauh dari rumah keluarga Nona Larissa" ujar bawahan itu.
"Maksud kamu kemungkinan dia tidak tinggal di rumah?" tanya Bryan lagi mulai mengerti keadaanya.
"Benar Tuan" jawab bawahan.
"Baiklah kalau begitu kalian juga intai wilayah sekitar mini market, temukan Larissa apapun yang terjadi, jangan biarkan Seira terluka" ujar Bryan lagi.
Bryan juga menugaskan bawahannya untuk melindungi Seira. Dia tidak ingin wanita yang dicintainya disakiti oleh masa lalunya sendiri.
********
Seira tengah menyeduh kopi instan dengan air panas. Dengan sengaja Romeo menyenggol bahu Seira dan membuat air panas itu tumpah ke tanganya. Seira menjerit pelan karena kesakitan, tangannya sedikit melepuh.
"Kamu tidak apa-apa, maafkan aku tidak sengaja" ujar Romeo berpura-pura.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa hanya terkena sedikit" ujar Seira tidak marah.
"Kamu obati dulu tangan kamu ke klinik kantor" ujar Romeo.
"Bukannya klinik sedang kosong karena penjaganya sedang cuti?" tanya Seira.
"Walaupun kosong kita bisa ambil obat sendiri, kamu kan cuma butuh salep luka bakar, nanti tanganmu berbekas kalo tidak segera di oles" ujar Romeo lagi.
Seira merasa perkataan Romeo benar. Dia segera bergegas ke klinik perusahaan cabang yang berada di belakang kantor. Ruangan klinik kosong dan wilayah di sekitarnya sangat sepi, Seira masuk dan mencari obat nya di sekitaran klinik.
Dengan cepat Romeo mengambil kesempatan saat Seira membelakangi pintu. Romeo mengambil kunci dari dalam dan menutup pintu serta menguncinya.
Mendengar ada suara kuncian pintu Seira jadi terkejut. Dia berlari ke arah pintu dan mengetuk- getuk pintu. Gadis itu sangat ketakutan dan tangannya belum sempat ia obati.
"Permisi masih ada orang di dalam tok... tok... tok..." ujar Seira meminta tolong.
"Buka pintunya" teriak Seira lagi mulai panik.
Tidak ada jawaban dari luar karena itu merupakan rencana matang dari Romeo. Pria itu melempar kunci ke semak-semak halaman klinik itu. Romeo meninggalkan Seira yang masih mengetuk pintu dan ketakutan.
Romeo kembali ke kantor dengan perasaan lega. William mendatanginya dengan pertanyaan yang kembali membuat dirinya naik darah.
"Kamu lihat Seira nggak?" tanya William.
"Aku tidak melihatnya" ujar Romeo.
Mendengar percakapan kedua laki-laki itu membuat Miranda merasa ada yang janggal. Tadi dia melihat Romeo berbicara dengan Seira di dapur staff kantor. Akan tetapi Romeo mengatakan bahwa dia tidak melihat Seira sama sekali. Miranda merasa bahwa dia tidak mungkin salah lihat.
"Apa mungkin aju benar-benar salah lihat?" tanya Miranda kepada dirinya.
William juga menanyakan hal yang sama pada Miranda. Karena Romeo mengatakan tidak melihatnya, Miranda tidak jadi membawa nama Romeo untuk dijawab.
"Tadi aku sempat melihatnya di dapur" ujar Miranda pelan takut Romeo mendengarnya.
William segera berlari ke dapur, perasaannya sungguh tidak tenang. Dia takut Larissa akan melakukan berbagai cara untuk menyakiti Seira. William tidak tahu bahwa ada musuh lain yang lebih dekat dengan mereka.
"Dimana kamu Seira" ujar William seraya megepalkan tangannya.
__ADS_1
Seira sangat ketakutan dan tetap mengetuk pintu klinik. Gadis malang itu tidak membawa handphone dan telepon umum klinik sengaja di putus Romeo. Dia tidak tahu lagi bagaimana cara menghubungi orang di luar.
Tidak ada satupun orang yang lewat dari klinik karena bangunan itu ada di wilayah paling belakang kantor. Terlebih lagi orang sudah tahu bahwa klinik sedang kosong karena penjaga nya sedang cuti melahirkan. Hal ini sudah tertera di pengumumam karyawan kantor.