One Night One Love

One Night One Love
Bab 19 : Penolakan Kedua


__ADS_3

Freddin diam terpaku di kamarnya yang luas dan sejuk. Dia tengah memikirkan penolakan yang diberikan oleh Laura pada dirinya. Freddin tidak tahu lagi bagaimana dia mengungkapkan perasaan pada gadis itu.


"Aku harus bagaimana lagi" ujar Freddin lesu.


Dia akhirnya mandi dan siap-siap untuk ke kantor. Kemudian Freddin mulai pekerjaan nya sebagai wakil COE yang membosankan. Ayahnya yang masih berperan sebagai CEO tidak pernah longgar terhadapnya. Hal itu membuat Freddin sedikit kaku dan tidak tahu cara bersenang-senang.


"Apa karena aku mengucapkannya biasa-biasa saja? kurang romantis mungkin" guman Freddin lagi-lagi memikirkan penolakan yang diberikan Laura.


Freddin tidak ingin mengulangi hal yang sama lagi dengan sebelumnya. Dia segera mencari referensi cara menembak wanita tanpa ditolak. Freddin membeli hadiah untuk Laura dan mereservasi restoran ternama untuk acaranya.


"Kali ini aku pasti tidak ditolak" gumannya lagi.


"Aku akan merebut hati Laura lagi" lanjutnya.


Setelah menyiapkan semuanya Freddin menelepon Laura degan perasaan tak karuan. Awalnya Laura tidak mengangkat telepon dari Freddin. Setelah tiga kali ditelpon pada akhirnya Laura mengangkatnya juga.


"Ada apa lagi?" tanya Laura judes.


"Anu, aku..." ujar Freddin terbata-bata.


"Tuuut..... tuttt..... tutt....." terdengar suara telepon dimatikan oleh laura.


Freddin yang melihat hal itu jadi panik tidak karuan. Dia bahkan lupa menyiapkan naskah yang akan dia ucapkan untuk mengajak Laura dinner bersamanya. Freddin berlatih berbicara sebelum menelpon Laura kedua kalinya.


"Laura aku minta maaf aku tau aku salah, kamu mau kan menemui ku malam ini" ujar Freddin latihan.


Setelah merasa cocok dengan kata-kata yang diucapkannya, Freddin mulai menelepon Laura. Dia tidak ingin berlama-lama lagi untuk mengatakannya pada Laura. Freddin takut lupa akan naskah yang telah ia persiapkan.


"Halo?" ujar Laura.


"Hai Lau, aku mau ngomong bentar" ujar Freddin mulai bisa mengontrol rasa gugupnya.


"Ada apa lagi?" tanya Laura.


Laura aku minta maaf aku tahu aku salah, kamu mau kan menemuiku malam ini?" pinta Freddin dengan lembut.


"Baiklah" Laura menerima karena sungkan menolak Freddin setelah apa yang terjadi pada mereka, dia tidak ingin membuat suasana semakin canggung.


Malam harinya Laura bersiap-siap dengan penampilan yang anggun. Seperti biasa dia terlihat cantik dan memukau dengan wajahnya yang imut.


__ADS_1


Lagi-lagi Freddin jatuh cinta kesekian kalinya pada wanita yang dulu selalu mengejarnya. Dia penuh penyesalan menolak wanita seberharga ini dalam hidupnya. Laura naik ke mobil Freddin tanpa sepatah katapun.


"Malam Ra" ujar Freddin.


"Hmm ya malam" jawab Laura.


Mereka berangkat menuju restoran pilihan Freddin dengan semua yang telah ia persiapkan. Freddin membawa mobil pelan-pelan agar lebih lama bisa bersama Laura.


Sesampainya di restoran mereka disambut dengan baik. Tak lupa musik dimainkan dari pemain biola yang handal dengan tarian yang senada. Freddin menatap mata Laura dengan penuh harap, dia takut Laura tidak menikmati malam ini.


"Acara apa ini, kenapa seperti ini? tanya Laura heran.


"Ini makan malam spessial" jawab Freddin.


"Oh ya? Kenapa kamu lakuin ini?" tanya Laura.


"Kita makan malam dulu ya" ujar Freddin mengubah percakapan.


Makan malam pun datang dan mereka makan tanpa suara. Freddin deg-degan untuk acara setelah makan malam. Dia akan mengungkapkan perasaannya dengan baik dan jelas serta memberikan bunga dan hadiahnya.


"Laura aku mau ngomong sesuatu sama kamu" ujar Freddin saat mereka sudah selesai makan.


Saat Laura bertanya seperti itu seorang pelayan memberikan sekuntum bung mawar untuk Laura. Setelah itu Freddin mengeluarkan sebuah kalung berlian sebagai hadiahnya.


"Laura aku tahu aku salah selama ini mengabaikan perasaan mu, aku tidak sadar bahwa rasa sayangku selama ini adalah cinta" ujar Freddin mengungkapkan perasaanya.


"Kamu tahu kan betapa kakunya aku, aku bahkan tidak bisa membedakan rasa sayang terhadap adik perempuan dan rasa sayang terhadap wanita" lanjut Freddin lagi.


Setelah mendengar hal itu Laura melihat Freddin sejenak dan kemudia berbicara. Freddin sangat antusias mendengar jawaban yang akan di sampikaan oleh Laura.


"Terimakasih untuk ungkapan cintanya, selama ini aku selalu mengharapkan itu dari mu, kamu kan tau sendiri kalau kamu adalah cinta pertamaku" ujar Laura.


"Tapi aku rasa kita cocok berperan sebagai adik kakak seperti biasa, lagi pula perasaanku juga sudah berubah seiring berjalannya waktu" ujar Laura memberikan penolakan secara halus agar tidak membuat Freddin sakit hati terhadapnya.


"Perasaanmu sudah berubah?" tanya Freddin kecewa.


"Iya, aku tidak sadar kapan itu dimulai, tapi aku tahu itu yang aku rasakan sekarang" jelas Laura.


Freddin terdiam mendengar penolakan dari Laura. Dia tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk mengembalikan perasaan Laura padanya. Dia sangat sedih atas penolakan itu dan bahkan semangatnya tidak ada lagi.


**********

__ADS_1


Bryan menjemput Seira dengan perasaan bahagia. Sejak dari bioskop hubungan mereka semakin baik dan harmonis. Pria itu sudah lupa dengan pacaran kontraknya dan menganggap Seira sudah miliknya sepenuhnya.


"Kamu punya mantan pacar?" tanya Seira saat di mobil.


Bryan terdiam sejenak mendengar pertanyaan yang tiba-tiba dilontarkan oleh Seira. Dia merasa pertanyaan ini cukup mengganggu untuk di dengar oleh nya yang memiliki mantan yang cukup lama bersamanya.


"Jawab saja yang jujur, tidak apa-apa" lanjut Seira tenang.


"Aku punya satu" jawab Bryan jujur.


"Kalian kenapa putus?" tanya Seira lagi.


"Dia menutuskan hubungan kami tanpa alasan" jawab Bryan dengan jujur lagi.


"Kamu masih mencintainya?" tanya Seira seperti sedang intervie kerja.


"Tidak lagi, dulu aku sangat menyayanginya" jawab Bryan.


"Wah kalian pasti sangat serasi, mungkin kamu sangat menyukainya" ledek Seira sedikit cemburu.


"Dia cantik?" tanya Seira lagi.


"Kamu lebih cantik" jawab Bryan mencari jawaban paling aman.


"Kalian pacaran berapa lama?" tanya Seira lagi.


"Cukup lama, kami berpacaran selama empat tahun" jawab Bryan lagi-lagi begitu jujur.


Seira terkejut mendengar jawaban Bryan, dia tidak menyangka pria seperti Bryan dapat menjalin hubungan selama empat tahun. Bryan yang ia kenal begitu menyebalkan dan membuatnya tidak betah. Seira tak habis pikir gadis mana yang berhasil meluluhkan hatinya dan dapat bertahan dengan temperamennya.


"Bagaimana dia bisa tahan dengan sifatmu" ledek Seira.


"Bagaimanapun aku pria baik" canda Bryan.


"Wah selama empat tahun kalian pasti sudah melewati banyak hal" ujar Seira dengan nada cemburu.


"Sudahlah itu hanya masa lalu yang tidak perlu dibahas lagi" ujar Bryan.


"Hmm kamu pasti gagal melupakannya, bagaimanapun juga empat tahun bukan waktu yang sebentar" balas Seira.


Mereka akhirnya sampai di kantor Seira dan mengakhiri percakapan. Wajah Seira terlihat cemberut saat keluar dari mobil. Bryab hanya tersenyum melihat Seira yang cemburu pada masa lalunya yang sudah ia lupakan.

__ADS_1


__ADS_2