
Setelah beberapa lama diperjalanan, Bryan dan anggotanya tiba di tempat Larissa. Mereka segera membuat posisi dan menunggu Larissa keluar dari rumah. Bryan menunggu di dalam mobil dengan was-was. Mereka takut jika langsung masuk ke rumah Larissa akan bersembunyi dan rencana gagal dijalankan.
Setelah tiga jam menunggu, Larissa keluar dengan terburu-buru dari rumah itu. Dengan sigap bawahan Bryan menutup hidungnya dengan bius tanpa menyakitinya agar tidak membuat keributan dan memancing masyarakat keluar.
Larissa di bawa ke mobil Bryan dan mereka menuju ke markas pria itu. Setelah beberapa lama mereka sampai Larissa langsung di dudukkan di kursi dan mereka menunggunya sadar.
Selang beberapa waktu Larissa pun sadar dan terbangun di tempat yang tidak ia kenali. Dia melihat sekitar dan mulai takut. Larissa berteriak minta tolong dan Bryan segera menumuinya.
"Apa kabar Larissa" ujar Bryan.
"Bryan?" ujar Larissa kaget.
"Aku tidak ada niat untuk menyakitimu, aku melakukan ini agar bisa berbicara denganmu, selama ini kamu terus bersembunyi, aku tidak ada cara lain selain melakukan ini" ujar Bryan terlebih dahulu agar Larissa tidak takut.
"Apa mau mu" ujar Larissa marah.
"Harusnya aku yang bertanya begitu, kenapa setelah sekian lama kita berpisah kamu baru menunjukkan diri seperti ini?" tanya Bryan.
"Aku kembali ke keluargaku, apa itu salah?" tanya Larissa lagi.
"Jelas tidak salah, tapi kenapa kamu harus menyakiti gadis yang kini bersamaku?" tanya Bryan to the point tanpa berbasa-basi.
"Seira?" tanya Larissa keras.
"Iya, kenapa kamu melakukan itu?" tanya Bryan.
"Aku tidak suka dia merebut milikku" ujar Larissa.
"Milikmu?" tanya Bryan lagi.
__ADS_1
"Iya kamu, sampai kapanpun kamu itu milikku" ujar Larissa marah.
"Apa maksudmu, kita sudah putus Larissa, apa kamu lupa ingatan saat annive kita kamu tega memutuskan hubungan kita tanpa alasan?" ujar Bryan kembali mengingat masa kelam itu.
"Aku punya alasan untuk itu" ujar Larissa mulai melancarkan rencananya.
"Apa maksud mu? aku sudah tidak butuh alasan untuk sekarang itu sudah sangat terlambat" ujar Bryan lagi.
"Sebaiknya kamu tinggalkan negara itu kembali saja ke Amsterdam dan jangan usik kehidupan ku dan Seira lagi" ujar Bryan lagi.
"Kenapa? aku juga berhak bahagia" jawab Larissa.
"Kamu yang memulai semua ini, setelah aku pulih dan mulai membaik serta bisa memulai dengan wanita lain baru kamu hadir kembali, apa maksud mu?" ujar Bryan penuh amarah.
"Kamu sungguh egois Sa" lanjut Bryan lagi.
"Kamu bahkan mengirimkan foto-foto mesra kita ke rumah Seira, kamu benar-benar ingin menyakiti gadis itu" ujar Bryan lagi.
"Baiklah aku beri kamu satu kesempatan untuk menjelaskan alasanmu melakukan semua ini" ujar Bryan berusaha menahan emosinya.
"Saat itu aku tengah hamil anakmu" ujar Larissa berbohong.
"Apa? kamu jangan mengada-ada" ujar Bryan.
"Kamu lupa kita sempat melakukan hal itu saat tengah mabuk? saat mendekati anniversary di apartemenmu" ujar Larissa mulai mengubah cerita asli.
"Aku tidak ingat, aku terlalu mabuk, kita benar-benar melakukan hal itu?" tanya Bryan tidak percaya.
"Iya, setelah itu dua minggu kemudian aku mual-mual, aku telat haid dan segera membeli tespack" ujar Larissa pandai membuat segalanya menjadi masuk akal.
__ADS_1
"Saat itu kamu melamarku di anniversary kita aku tengah hamil, itulah sebabnya kita putus" ujar Larissa.
"Kenapa kamu tidak memberitahuku saat itu, bisa saja sekarang kamu sedang berbohong" ujar Bryan.
"Aku takut kamu akan menyuruhku menggugurkan kandunganku, jadi aku memutuskan berpisah dengan mu untuk melahirkan anak ini terlebih dahulu" ujar Larissa.
"Apa kamu tidak pernah bertanya-tanya kenapa aku tidak terlihat setelah itu, bahkan saat kamu mencariku aku tetap tidak terlihat? aku sedang bersembunyi karena perutku mulai membesar" ujar Larissa seraya memperlihatkan fotonya tengah hamil besar.
"Larissa kamu tidak sedang berbohong bukan?" tanya Bryan lagi.
"Tentu saja tidak, aku kembali kesini karena anak itu sudah mulai besar" ujar Larissa lagi.
"Dimana dia sekarang?" tanya Bryan tidak percaya.
"Kamu tidak perlu tahu dimana dia sekarang" ujar Larissa.
"Bagaimana aku bisa percaya dengan semua omong kosong mu jika kamu tidak memperlihatkan bukti" ujar Bryan.
"Aku takut kamu akan mengambil anak itu" ujar Larissa lagi.
"Jadi apa yang harus aku lakukan agar aku bisa bertemu dengannya dan memastikan dia adalah anakku?" tanya Bryan lagi.
"Nikahi aku, itu satu-satunya cara agar aku mau mempertemukan mu dengan anak kita, jadi kamu tidak akan bisa mengambilnya dariku karna kita sudah jadi suami istri nantinya" ujar Larissa lagi.
"Kamu sudah gila, aku akan mengasuh anak itu jika dia benar anakku tanpa menikahi mu" ujar Bryan lagi.
"Aku tidak mau, bagaimanapun juga dia tetap anakku, jika kamu memang ingin berjumpa dengannya segera nikahi aku" ujar Larissa.
"Aku tetap tidak percaya dengan semua ini, sebelum kamu memberikan bukti yang jelas dan pasti aku benar-benar tidak bisa percaya" ujar Bryan.
__ADS_1
"Terserah kamu percaya atau tidak, yang pasti kamu tidak akan bisa bertemu anak itu" ujar Larissa.
Larissa sebenarnya takut jika Bryan bertemu anaknya dan melakukan tes DNA. Semua rencananya akan gagal dan Bryan akan tahu kalau Zelyn adalah anaknya bersama Owen. Dia harus berhasil menjadi Nyonya Wijaya sebelum Bryan menemukan kebaradaab Zelyn. Dia akan menikahi Bryan dan menguras harta kekayaannya.