
Larissa pergi dengan Owen untuk membicarakan rencana mereka. Owen mengelus rambut Larissa saat di dalam mobil. Larissa menepis tangan Owen dengan wajah merah.
"Kamu jangan terlalu dekat denganku, kita bukan di luar negeri lagi" ujar Larissa.
"Kamu takut mantan pacarmu akan melihat kita bermesraan?" tanya Owen.
"Kita harus membicarakan plan B, sepertinya Bryan sudah menyukai wanita lain" ujar Larissa.
"Kamu bilang dia tidak akan bisa melupakanmu, bahkan setelah tiga tahun" ujar Owen.
"Seharusnya begitu, dia takkan bisa melupakanku dengan mudah" ujar Larissa lagi.
Sesampainya di apartemen Owen, Larissa segera membahas rencana mereka. Owen memandangi Larissa dengan tatapan penuh gairah.
"Sebelum kita bahas itu bagaimana kalo kita bersenang-senang dulu" ujar Owen seraya memegang paha Larissa yang mulus.
"Owen stop, please kamu harus fokus" ujar Larissa marah.
"Sayang aku kangen dimanja sama kamu, semenjak kamu balik ke Indonesia kamu hanya memikirkan Bryan" ujar Owen merajuk.
"Bagaimanapun juga Bryan itu pemasukan kita, dia tidak boleh sampai berpindah hati, kamu tidak mau aku jadi Nyonya keluarga Wijaya? kita bisa kaya raya" ujar Larissa.
"Aku tahu, tapi aku juga butuh kasih sayang kamu" jawab Owen lagi.
"Kalau begitu beri aku ide cemerlang, aku akan mengikuti kemauanmu sesudah itu" ujar Larissa.
"Okey aku berpikir dulu" jawab Owen bersemangat.
Mereka berdua memikirkan cara agar Bryan kembali ke pelukan Larissa. Bagaimanapun juga hanya keluarga Bryan yang bisa membuat kehidupan Larissa meningkat dan merubah status sosialnya.
*********
Tiga tahun yang lalu di Amsterdam.
Larissa tengah berjanji makan malam bersama Bryan untuk memperingati anniversary mereka yang ke empat tahun. Larissa menggunakan gaun hitam memesona yang dibelikan oleh Bryan. Saat Larissa hendak pergi perutnya terasa tidak enak, Larissa mual dan pusing.
__ADS_1
Larissa segera ke kamar mandi untuk memeriksa keadaannya. Dia memakai test pack yang sudah ia persiapkan dari jauh-jauh hari jika terjadi sesuatu yang mengerikan.
"Ah, aku positif hamil" ujar Larissa dengan wajah pucat.
"Gawat ini bukan anak Bryan, kami terakhir kali begitu dua bulan yang lalu, dan aku masih sempat haid" ujar Larissa lagi.
"Owen, astaga ini anak Owen" Larissa mengingat malam panas nya saat mabuk dengan pria yang mengejar dirinya.
"Pria brengsek itu, aku harus bagaimana" ujar Larissa dalam hati.
Larissa segera menghubungi Owen melakui telepon selulernya. Setelah dua kali panggilan akhirnya Owen mengangkat.
"Ada apa cantik, kamu masih memikirkan malam panas kita, sudah ku bilang putuskan Bryan dan pacaranlah denganku" ujar Owen.
"Aku hamil, aku akan menggugurkan anak ini" ujar Larissa.
"Jangan, jangan coba-coba gugurkan anakku, atau aku akan memberitahu Bryan semua yg telah kita lakukan, apa menurut kamu dia masih mau?" ancam Owen.
Larissa gemetar, dia tidak ingin Bryan mengetahui hal ini. Sebenarnya empat tahun hubungannya dengan Bryan mulai mengalami penurunan. Perasaan Larissa sudah hilang sepenuhnya pada Bryan. Dia mulai menyukai Owen pria yang mengejar dirinya sejak setahun terakhir ini. Tapi Larissa tidak ingin melepaskan Bryan karena dia adalah penerus tunggal keluarga Wijaya. Larissa ingin menjadi Nyonya Wijaya agar status sosialnya meningkat pesat.
"Apa mau mu, jangan beritahu Bryan" ujar Larissa.
"Aku tahu kamu sudah tidak mencintai Bryan, kamu suka uangnya kan, aku akan membantumu mendapatkan itu, aku akan tetap menjadi kekasih dalam diam mu, anak kita harus dilahirkan, itu akan jadi jaminan kalau kamu tidak akan mengkhianatiku" lanjut Owen lagi.
"Maksud kamu bagaimana?" tanya Larissa.
"Kita sudah selesai berkuliah dan akan kembali ke Indonesia, putuskan saja Bryan terlebih dahulu, jangan beri alasan agar dia tetap penasaran dan selalu mengingatmu, setelah tiga tahun kembali padanya bilang kamu saat itu sedang sakit keras dan harus menjalani pengobatan selama tiga tahun ini" ujar Owen membahas rencana mereka.
"Dalam tiga tahun ini kamu sudah melahirkan dan anak kita sudah berumur dua tahun, dia bisa kita titipkan dengan perawat, aku akan mengurus hal itu, kamu bisa kembali pada Bryan dan menjadi Nyonya Wijaya. Kuras habis harta atas namanya, setelah berhasil bercerailah dengannya" lanjut Owen lagi.
"Jika kamu tidak mau bercerai dan mengkhianatiku, maka aku dan anak kita akan memberitahu semuanya pada Bryan, bagaimana kamu tidak akan berkhianatkan?" tanya Owen setelah menjelaskan keseluruhan rencana dalam tiga tahun ini.
"Baiklah aku setuju, aku juga sudah tidak mencintai Bryan, yang aku harapkan hanyalah hartanya, aku berjanji akan bercerai dan kembali padamu dan anak kita" ujar Larissa berjanji.
"Sudah dulu, Bryan sudah menghubungiku, kami harus pergi merayakan anniv kami dan aku akan memutuskannya hari ini juga" lanjut Larissa mengakhiri telepon mereka.
__ADS_1
Bryan menjemput Larissa untuk makan malam spessial di hari bahagia mereka. Minggu depan mereka resmi telah menyelesaikan perguruan tinggi dan akan kembali ke Indonesia. Bryan ingin memberi kejutan untuk melamar Larissa di annive ke empat tahun mereka.
"Malam sayang" ujar Bryan pada Larissa.
"Malam sayang" jawab Larissa lagi seraya naik ke mobil Bryan.
"Malam ini kita akan makan malam spessial" ujar Bryan.
"Tentu saja" jawab Larissa tersenyum.
Setelah mereka selesai makan, tiba-tiba terdengar suara merdu dari piano yang dimainkan oleh kru acara lamaran Bryan. Setelah musik selesai datang dua orang pemain biola mendekati mereka dan seorang pelayan memberikan bunga dan kotak cincin pada Bryan.
"Larissa Yolanda Herman, mau kah kamu menikah denganku?" tanya Bryan seraya berlutut di depan wanita yang sangat ia cintai.
Wajah Larissa memucat, dia tidak tahu bahwa Bryan akan melamar dirinya malam ini. Dia segera berdiri dan mengajak Bryan keluar. Larissa tidak tega menolak Bryan di depan semua pelayan restoran. Bagaimanapun juga Bryan pernah menjadi laki-laki yang membuat dirinya berdebar.
"Kenapa kita keluar, aku ingin mendengar jawabanmu" ujar Bryan.
"Bryan maafkan aku" jawab Larissa.
"Kenapa Sa?" tanya Bryan.
"Kita putus saja" ujar Larissa dengan wajah sedu.
"Apa? Sa kamu pasti ada masalah ya, kamu bisa cerita ke aku" ujar Bryan kaget.
"Nggak Bryan, aku memang ingin kita putus" jawab Larissa.
"Aku tidak mau, kamu jangan buat keputusan bodoh seperti ini" ujar Bryan.
"Bryan, mau tidak mau kita putus" jawab Larissa seraya pergi meninggalkan Bryan.
"Larissa tunggu" Bryan mengejar Larissa ke luar restoran.
"Setidaknya beri aku alasan" ujar Bryan seraya memegang tangan Larissa.
__ADS_1
"Tidak ada alasan khusus Bryan, aku mau kita putus" jawab Larissa seraya menepis tangan Bryan dan naik ke taksi meninggalkan pria malang itu.
Semenjak malam itu Larissa tidak pernah terlihat di hadapan Bryan. Bahkan saat acara kelulusan Larissa tidak hadir di kampus. Bryan mencari Larissa kemanapun dan tidak menemukannya. Bryan juga menghubungi keluarga Larissa dan tidak ada yang tahu keberadaan Larissa. Bagaimana tidak, Larissa juga sudah menghubungi keluarganya terlebih dahulu untuk bersandiwara dan membantu dirinya agar tidak ditemukan Bryan.