One Night One Love

One Night One Love
Bab 16 : Pura-pura


__ADS_3

Freddin tiba di depan kediaman keluarga Andreans. Tanpak wajah cantik Laura Cassandra Andreans tampil cantik dengan gaun pendeknya. Mata Freddin terpesona, detak jantungnya berdegup cepat.


"Kenapa lihat-lihat" tanya Laura kesal.


"Kita hanya sebentar aku harus pergi kencan buta" ujar Laura lagi.


"Iya aku janji sebentar, hanya satu jam, aku tahu kamu harus kencan jam dua" ujar Freddin.


"Aku sudah menundanya menjadi jam Tiga dan reservasi ulang, untungnya Niko setuju" ujar Laura.


"Jadi kita masih punya waktu dua jam untuk memilih kado kak Seira" ujar Laura lagi.


"Ooo jadi nama dokter itu Niko" ujar Freddin cemburu.


"Iyaa, dia sangat baik mau menunda makan siang kami" puji Laura.


Laura dan Freddin memilih kado terbaik untuk Seira. Mereka sudah melalui Toko perhiasan, pakaian, kosmetik, tas, hingga tam jangan. Mereka sudah memutari Mall hampir satu jam dan Freddin selalu tidak suka dengan pilihan itu.


"Kamu bagaimana sih kita sudah memutari Mall, kamu harus menentukan" ujar Laura kesal seraya melihat jam tangannya.


"Kamu buru-buru mau kencan?" tanya Freddin pura-pura tidak tahu.


"Kita masih punya satu jam ayo segera putuskan akan beli apa, baru kita tentukan modelnya" ujar Laura.


"Jam tangannya pasti sudah banyak" ujar Freddin beralasan.


"Bagaimana kalau tas?" tanya Laura.


"Tas juga sudah banyak" jawab Freddin asal-asalan.


Dia hanya ingin menghabiskan waktu dengan Laura dan membatalkan kencan gadis imut itu. Laura dengan sabar masih memilihkan beberapa opsi barang yang akan dibeli.


"Pakaian, bagaimana dengan pakaian?" tanya Laura lagi.


"Dia juga sudah punya banyak" jawab Freddin.

__ADS_1


"Sudah jelas kalau Kak Sharon punya semua itu, kita bisa memilih keluaran terbaru, bagaimana mungkin Kak Sharon tidak punya tas, jam tangan, dan baju yang banyak" ujar Laura menjelaskan.


"Iya aku juga tidak tau model-model yang sudah dia punya" jawab Freddin.


"Astaga pilih saja keluaran terbaru" jawab Laura mulai kesal.


Waktu berjalan sangat cepat, kini sudah pukul 14.30. Hanya sisa setengah jam lagi untuk kencan kedua Laura. Dia tampak berpikir keras agar cepat memilih kado untuk Sharon.


Laura akhirnya memutuskan untuk memilih tas keluaran terbaru. Awalnya Freddin masih berasalan lain tapi Laura memaksa. Melihat Laura yang sudah kesal dan akan marah membuat Freddin akhirnya menyetujui membeli tas branded.


Freddin segera membayar tas branded untuk kado Seira. Selain itu Freddin juga menyuruh Laura untuk memilih tas untuk dirinya juga. Laura menolak karena ia harus buru-buru menemui sang Dokter. Freddin tetap memaksa dengan alasan Laura sudah membantunya. Akhirnya Laura juga memilih satu tas dengan cepat dan Freddin yang membayarnya.


Saat hendak pulang menuju parkiran, Freddin memegang dada nya seolah-olah sesak dan jatuh lemas. Laura yang melihat hal itu langsung panik dan membantu Freddin.


"Kamu kenapa? bagian mana yang sakit?" tanya Laura cemas.


"Aku rasa dadaku sedikit sakit" ujar Freddin.


"Ya sudah kita ke rumah sakit dulu periksa keadaanmu" ajak Laura.


"Tapi kamu masih ada janji kencan dengan Dokter itu" ujar Freddin.


Laura membawa Freddin ke mobil dan mengendarainya. Mereka menuju rumah sakit terdekat untuk memeriksa penyakit Freddin. Saat Freddin sedang diperiksa, Laura segera menghubungi teman kencan butanya untuk mengabarkan bahwa ia tidak bisa datang hari ini.


"Maafkan aku sepertinya hari ini kita tidak bisa bertemu, teman ku tiba-tiba jatuh sakit dan harus check up ke rumah sakit" ujar Laura saat menghubungi Dokter itu.


"Tidak apa-apa Laura, lain kali saja semoga temanmu lekas sembuh" jawabnya.


Tanpa Laura sadari Freddin hanya berpura-pura sakit agar Laura tidak jadi berkencan. Dia tidak rela wanita yang besar dengannya menjadi kekasih orang lain.


Dokter mendatangi Laura sebagai wali dan mengatakan bahwa Freddin baik-baik saja. Wanita itu meminta Dokter untuk memeriksa sekali lagi karena tadi Freddin benar-benar kesakitan.


Karena curiga Laura menuju ke tempat tidur pasien Freddin dan melihat laki-laki itu tengah tersenyum seraya memegang handphonenya. Freddin tidak sadar kalau Laura melihat dirinya yang tidak kesakitan sama sekali. Laura pun curiga bahkan Freddin hanya pura-pura sakit agar ia gagal kencan buta kedua.


"Freddin" ujar Laura marah.

__ADS_1


"Eh kamu Lau" jawab Freddin terbata-bata seraya meletakkan handphone dan membuat wajah lemas.


"Kamu gak usah pura-pura lagi, Dokter bilang kamu tidak sakit" ujar Laura kesal.


"Tadi aku benar-benar sakit" jawab Freddin.


"Kamu gak perlu menipu aku lagi, kamu pasti mau membatalkan acaraku kan" senggak Laura.


"Nggak, kenapa aku harus membatalkan acaramu" jawab Freddin tidak mau mengaku.


"Sudahlah kamu gak perlu pura-pura lagi, aku balik sendiri naik taxi, ini kunci mobilmu" ujar Laura melemparkan kunci mobil ke arah Freddin dan berjalan keluar.


"Laura tunggu" ujar Freddin seraya mengejar wanita itu.


Freddin mengejar Laura dan menarik tangannya. Dia tidak ingin Laura pulang sendiri. Laura menolak ajakan Freddin untuk mengantarnya. Gadis itu begitu kecewa dengan perbuatan Freddin hari ini.


"Aku begitu karena aku menyukaimu" ujar Freddin begitu keras sehingga Laura menghentikan langkahnya.


Melihat Laura yang sudah berhenti berjalan, Freddin segera mengejarnya dan memegang tangan Laura. Gadis itu bingung dengan pernyataan cinta yang tiba-tiba dari pria yang dulu ia idamkan. Laura seakan tidak percaya bahwa Freddin akan mengucapkan hal seperti itu pada dirinya.


Freddin menarik tangan Laura dan memaksanya naik ke mobil. Selama di perjalanan mereka hanya bisa diam seribu bahasa. Laura tidak mempertanyakan pengakuan yang diberikan Freddin. Begitu juga dengan pria itu, dia tidak memperjelas maksud dirinya mengatakan hal seperti itu di parkiran.


"Aku masuk dulu, terimakasih sudah mengantarkanku" ujar Laura seraya menutup pintu mobil dengan keras.


Melihat hal itu Freddin keluar dari mobil dan sekali lagi mengejar Laura.


"Aku tidak boleh masuk ya?" tanya Freddin.


"Kamu mau singgah?" ujar Laura balik bertanya.


"Iya" jawab Freddin tanpa ragu.


Freddin dan Laura masuk ke kediaman keluarga Andreans. Terlihat Ayah Laura sedang makan sendirian. Freddin menyapanya dengan ramah dan membahas sedikit tentang urusan bisnis. Laura membawakan secangkir teh kesukaan Freddin yang selalu ia minta saat berkunjung ke rumah Laura.


"Om sedang sibuk beberapa bulan ini dengan bisnis luar negeri, kamu dan Sharon sesekali mainlah ke sini temani Laura ya" ujar Om Andreans.

__ADS_1


"Baik Om, tenang saja saya bakal menemani Laura" jawab Freddin.


Laura memasang wajah kesal ke arah Freddin. Setelah Ayahnya dan pria menyebalkan itu selesai berbicara Laura segera pergi ke ruang tamu. Freddin mengikuti Laura dari belakang.


__ADS_2