
Yuna mulai menghela nafas dan mengumpulkan keberaniannya untuk menceritakan masa lalu yang kelam pada Kevin. Dia takut Kevin akan membenci dirinya saat mengetahui hal itu.
"Ibu tirimu merupakan Ibu mantanku" ujar Yuna.
"Mantan? jangan bilang kalau kamu mantannya Gilang?" ujar Kevin menyebut nama Adik tiri yang beda Ayah dan Ibu dengannya.
"Iya benar Gilang Drawan, dia mantanku satu-satunya, dia berasal dari keluarga kelas atas dan Ibunya mendatangiku dan memintaku untuk putus dari anaknya" ujar Yuna.
"Ibu tiriku tega melakukan itu?" tanya Kevin.
"Kamu mungkin tidak percaya, dia bahkan memberikanku sejumlah uang yang aku tolak" ujar Yuna.
"Kenapa dia berkelakuan seperti itu?" tanya Kevin.
"Dia hanya mau Gilang berpacaran dari keluarga kelas atas, saat itu orangtua ku sudah meninggal dan aset kekayaan kami di ambil oleh Tanteku, aku masih terlalu kecil saat itu untuk memahami harta warisan" ujar Yuna.
"Tantemu sungguh tega, kamu tidak berniat mengambil kembali harta warisan orangtuamu?" tanya Kevin.
"Aku sudah mengikhlaskannya, sekarang aku punya usaha sendiri dan lebih dari cukup untuk menghidupi aku dan Adikku" ujar Yuna.
"Kamu memang wanita yang hebat" ujar Kevin.
__ADS_1
"Kita berbeda Vin, mungkin saat orangtuaku hidup kita bisa bersama, karena dulunya orangtua ku juga bekerja di perusahaan besar dan ternama" ujar Yuna.
"Perusahaan apa?" tanya Kevin penasaran.
"Perusahaan mu, PT. Andreans" ujar Yuna.
"Dulu Papaku salah satu orang penting disana, dia memiliki saham yang cukup besar juga, dan itu direbut oleh Tanteku" ujar Yuna.
"Kita harus mengambil saham milikmu kembali, aku akan bertanya kepada Ayahku tentang masalah Ayahmu" ujar Kevin.
"Tidak usah Vin" jawab Yuna.
Yuna tak kuasa melihat Kevin yang bersedih karena dirinya. Dia akhirnya mengizinkan Kevin untuk mencari tahu kejelasan dari saham milik orangtuanya.
"Siapa nama mendiang Papamu, aku akan menyelidikinya" ujar Kevin.
"Luis Ramon" ujar Yuna.
"Satu lagi mengenai Ibu tiriku kamu tidak perlu khawatir, dia sama sekali tidak ada urusan untuk masalah jodoh kami, kami berhak dan diizinkan memilih pasangan hidup kami masing-masing oleh Ayahku" ujar Kevin menegaskan.
"Tapi aku masih takut, aku sudah pernah mengalaminya sekali dan tidak mau terulang lagi" ujar Yuna.
__ADS_1
"Aku berjanji aku pastikan Ibu tiri ku tidak akan berani mengusikmu" ujar Kevin sungguh-sungguh.
Mereka akhirnya kembali ke pesta pernikahan yang belum selesai. Pesta itu diadakan seharian dengan segala kemewahannya. Kevin menyuruh Seira untuk menemani Yuna agar wanita itu tidak kesepian.
"Yuna disini aja duduk nya" ujar Seira seraya menyisihkan satu bangku kosong disampingnya.
"Terimakasih Seira, kamu sangat baik, tidak heran kalau kamu cinta pertamanya Kevin" ujar Yuna tersenyum.
"Ha bagaimana kamu tahu?" tanya Seira malu.
"Dia menceritakan segalanya, bahkan saat kamu menolak dirinya" ujar Yuna tertawa.
"Haha aku sudah menganggapnya sebagai keluarga" ujar Seira menjelaskan agar Yuna tidak salah paham.
"Kamu tenang saja aku tidak akan marah, aku berjiwa bebas, pacar mu tuh yang cemburuan, lihat wajahnya sudah memerah" ujar Yuna melirik ke arah Bryan yang sudah badmood dari tadi.
"Haha tidak perlu hiraukan dia" ledek Seira.
"Aku bisa mendengar percakapan kalian" ujar Bryan pura-pura marah.
Mendengar kalimat yang diucapkan Bryan, Yuna dan Seira tertawa. Dia seperti bocah yang sedang cemburu dan butuh perhatian.
__ADS_1