
Bryan termenung memikirkan perkataan Larissa mengenai anak mereka. Dia sama sekali tidak percaya dengan perkataan Larissa. Tapi entah bagaimana dia juga takut kalau Larissa benar-benar telah mengandung anaknya. Dia tidak tega pada anak yang tidak berdosa harus hidup tanpa seorang Ayah.
Di lain sisi Bryan juga memikirkan kekasihnya Seira. Dia sangat mencintai wanita itu melebihi dirinya. Bryan tidak mau Seira terluka karena masa lalunya. Pria itu tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk melindungi Seira dan juga hubungannya.
"Cari tahu apa benar Larissa punya anak bagimanapun caranya" ujar Bryan pada anak buahnya.
"Baik Tuan" jawab bawahan itu.
Bryan pergi ke kontrakan Seira dan mengajaknya makan siang bersama. Seira memutuskan untuk cuti hari ini semenjak kejadian tragedi bersama Romeo.
"Ayo kita pergi" ujar Bryan.
Selama di mobil Seira lebih banyak diam dan termenung. Dia tidak habis pikir kenapa semua orang berusaha menyakitinya. Padahal dia tidak ada salah kepada mereka. Dia tidak tahu kalau hubungannya ada di orang-orang sekitarnya. Seperti Larissa adalah mantan Bryan dan Romeo menyukai William sesama pria.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Bryan.
"Aku tidak habis pikir kenapa mereka melakukan ini, aku tidak pernah berlaku jahat pada mereka" jawab Seira.
Bryan terdiam merasa bersalah pada kekasihnya. Ditambah lagi ada berita tentang anak walaupun itu belum jelas dan bisa jadi hanya akal-akalan Larissa.
"Bagaimana kalau kamu berhenti saja kerja disitu sayang?" pinta Bryan.
"Aku tidak bisa, aku harus bertahan sedikit lagi agar aku punya cukup pengalaman" ujar Seira lagi.
"Kamu bisa bekerja di perusahaan pusat denganku langsung" ujar Bryan.
"Aku tidak mau, hidupku akan lebih tidak tenang kalau orang-orang tahu aku adalah pacar CEO" ujar Seira lagi.
"Kalau begitu kamu di perusahaan mu saja bersama Freddin" usul Bryan lagi.
"Aku masih malas melihat Papaku" bantan Seira.
Setelah mendengar hal itu Bryan tidak punya pendapatan lain untuk dia berikan pada Seira. Semua pendapatnya di tolak oleh Seira.
__ADS_1
Sesampainya mereka di restauran, Seira dan Bryan memesan makan siang. Saat sedang menunggu Seira tidak sengaja bertemu dengan sahabat dekatnya saat kecil Vivian yang ternyata mengenal Bryan juga.
"Seira" ujar gadis itu.
"Hei Vivian akhirnya kita berjumpa" ujar Seira memeluk erat dan cipika cipiki dengan Vivian.
"Aku baru saja kembali dari Amsterdam karena berencana akan menikah di sini, aku sudah membuat undangan untuk mu besok akan ku antar" ujar Vivian senang.
"Akhirnya kamu akan menikah aku turut senang" ujar Seira.
"Vivian" ujar Bryan mengenal.
Vivian melihat wajah Bryan dan langsung mengingat siapa pria itu. Dia adalah teman kuliah dari Indonesia di Amsterdam bersama dengan Larissa, dan sahabatnya Diko.
"Kamu bersama Seira..." ujar Vivian bingung.
"Iya dia pacarku" jawab Bryan.
"Wah dunia ini begitu sempit, Seira sahabatku sejak SD dan SMA dan kamu teman kuliahku" ujar Vivian senang.
"Tentu saja" jawab Seira turut bahagia.
Sebenarnya Bryan takut Vivian akan bertanya tentang Larissa. Untungnya hingga akhir percakapan mereka nama Larissa tidak disebutkan sama sekali. Bryan sedikit tenang dan melanjutkan makan mereka saat Vivian sudah pulang.
"Kamu dekat dengan Vivian?" tanya Bryan.
"Lumayan, dia teman ku sejak kami Sekolah Dasar" ujar Seira.
"Kalau kamu gimana?" tanya Seira lagi.
"Hanya teman kampus sih, tidak terlalu akrab juga" ujar Bryan.
"Jadi kamu akrabnya dengan siapa?" tanya Seira.
__ADS_1
"Aaa dengan Chiko" jawab Bryan kelagapan karena dia dulu dekat dengan Larissa.
"Kamu dulu tidak pacaran waktu kuliah di Amsterdam?" tanya Seira penasaran.
"Sudahlah kita tidak usah bahas masa lalu sayang, yang terpenting kamu dan masa depan kita" jawab Bryan mengalihkan topik pembicaraan mereka.
"Hemm kamu pasti sengaja mengalihkan topik pembicaraan" ujar Seira lagi.
Setelah makan Seira dan Bryan pergi untuk menonton bioskop. Mereka mengulang kembali kencan mereka di awal kenalan.
"Kamu ingat nggak pertama kali kita ke bioskop?" tanya Seira.
"Tentu ingat dong" jawab Bryan.
***********
Laura merasa badannya tidak enak dan lemas. Sudah dari pagi dia merasa mual dan sakit kepala. Dia menelepon Freddin untuk memeriksa kesehatannya ke rumah sakit.
Dengan cepat Freddin meninggalkan ruangannya dan pergi menuju rumah Laura. Dia mengemudi dengan kecepatan tinggi dan sampai dalam waktu yang cepat.
"Kamu tidak apa-apa sayang?" tanya Freddin pada Laura yang terlihat pucat.
"Aku hanya merasa kurang sehat" jawab Laura.
"Ayo kita ke rumah sakit sekarang" ajak Freddin.
Laura mengangguk dan menyiapkan barang-barang yang akan ia bawa ke rumah sakit. Setelah berganti pakaian Laura kemudian siap untuk berangkat. Selama perjalanan wajah Freddin tampak cemas melihat gadis pujaannya.
Sesampainya di rumah sakit, Laura segera diperiksa oleh Dokter yang sudah mengadakan janji dengan Laura. Setelah beberapa waktu Dokter tersebut memanggil wali Laura untuk menemaninya. Dokter mulai berbicara dengan Laura dan Freddin dengan senyuman di wajahnya.
"Begini Pak Bu, saya sudah memeriksa kesehatan dari Bu Laura, syukurlah tidak ada masalah" ujar Dokter tersebut.
"Syukurlah Dok, kalau begitu kenapa dia terlihat pucat Dok?" tanya Freddin lagi.
__ADS_1
"Kabar baiknya Bu Laura tengah hamil usia kandungan tiga minggu" ujar Dokter itu.
Laura langsung teringat kalau dia belum haid bulan ini. Dia segera menatap wajah Freddin yang terlihat pucat. Laura kecewa melihat reaksi wajah Freddin yang terlihat olehnya.