Our Fault

Our Fault
Bagian 11 - Kalian Sedang Apa?


__ADS_3

Malam hari ini Kiana tidak bisa tidur. Perutnya terus saja merasa tidak nyaman, karena bayinya itu menendang-nendang selalu. Dengan posisi berbaring di ranjang, Kiana memegangi terus perutnya dan membolak-balikkan


badannya, mencari posisi enak untuk tidur.


Duh ini perut gak bisa diajak kompromi, udah ngantuk nih. Kiana menggerutu.


Kiana membalikkan tubuhnya menghadap Arya yang membelakanginya. Saat itu, sakit di perutnya semakin menjadi bahkan lebih dari sebelumnya. Sampai Kiana mengeluarkan suara meringis kesakitannya.


“Duh.” Kiana memegangi perutnya.


Arya terbangun mendengar suara ringisan Kiana dan membalikkan badannya pada Kiana.Ternyata Kiana sedang meringis kesakitan sambil memegangi perutnya.


“Perutnya sakit?” Arya bertanya sambil memegang tangan Kiana yang sedang memegangi perutnya sendiri. Kiana mengangguk saja karena kesakitan sampai tak bisa bersuara. Namun rasa sakit yang dialami Kiana jadi sedikit berkurang saat Arya memegang tangannya.


Arya mendekatkan jarak tubuh mereka, lalu memeluk tubuh Kiana dan mengelus perutnya secara langsung tanpa terhalang oleh baju yang saat ini Kiana pakai.


“Kenapa gak bilang dari tadi kalau perutnya sakit?” Arya berucap dengan suaranya yang lembut, agar Kiana tak merasa tersinggung. Karena biasanya, perempuan hamil seperti Kiana ini mudah sekali tersinggung.


Arya mengelus perut Kiana. Tiba-tiba, dia merasakan sebuah tendangan yang cukup kencang di perut perempuan itu. Arya memang kaget, tapi ia langsung tersenyum bahagia.


Kamu nendang, sayang? Kamu tahu kalau ini Ayah ya? Nendangnya besok-besok lagi ya. Kasihan Bunda mau


istirahat dulu, capek katanya. Yang di dalem sini juga istirahat dulu ok, besok lagi main nendangnya sama Ayah. Ayah sayang kalian kok. Selalu malahan.


Seperti sebuah mantra, tendangan di perut Kiana tadi berhenti cepat. Hal itu membuat Kiana bisa tertidur juga dengan pulasnya.


Kiana tak pernah tahu, kalau kehamilan itu ternyata sungguh menyakitkan, jauh dari ekspektasinya. Dulu dia mengira kalau hamil itu tidak akan sakit, justru sakitnya hanya saat melahirkan saja. Namun ternyata perkiraan itu salah, tubuh Kiana terus saja merasa kesakitan karena kehamilannya ini.


Tapi sebentar lagi, kesakitan yang dirasakan Kiana akan segera usai. Tinggal menghitung hari baginya untuk melahirkan, mungkin sekitar 30 atau 60 hari lagi.


Anita beserta teman Arya hari ini datang berkunjung ke rumah mereka tanpa memberitahunya dahulu. Katanya sih mereka ingin menengok Arya Kiana, juga ingin tahu bagaimana kabar mereka.


“Ki, Arya nya mana?” tanya Ilsa.


Dari tatapan yang Ilsa berikan pada Kiana saat ini, kenapa Kiana jadi berpikir kalau tatapan Ilsa itu layaknya tatapan orang yang tak suka pada orang lain. Tapi mungkin ini hanya dugaan Kiana saja, mungkin. Ah sudahlah, Kiana tak ingin berprasangka buruk tentang orang lain, jadi Kiana menepis semua dugaannya itu.


“Kak Arya bentar lagi juga ke sini.” Jawab Kiana.


Baru saja dibicarakan, Arya datang juga menghampiri temannya yang sedang bersenda gurau.


“Tah ieu si calon Abah akhirna datang oge ka dieu.” Sahut Bani menggoda Arya dan merangkulnya, “meuni nyumput di kamar wae ih Abah mah.”


Arya diam cuek saja ketika dirinya digoda oleh Bani, tanpa ingin membalasnya.


“Istri lagi hamil, bukannya jagain malah sibuk aja di dalem. Lagi ngapain sih, emangnya?” Sahut Fiska.


“Gue baru selesai ngerjain kerjaan gue tadi.” Jawab Arya.


Mereka lanjut mengobrol bersama. Lalu Kiana, dia hanya mengobrol dengan Anita.


“Mau makan gak, Nit? Gue buatin makan sekarang kalau lo laper.” Tawar Kiana.


“Lo berasa banget kayak kakak gue ya sekarang,” Anita tertawa, “gue masih kenyang kok, baru makan sama Kak Eshan tadi.”


“Perasaan lo makin lengket aja ya sama Kak Eshan.” Goda Kiana dan menyenggol bahu Anita.


“Haha, gue juga sama mikirnya gitu, Ki. Tapi gue bingung, Kak Eshan ngedeketin gue itu karena apa coba? Masa iya suka sama anak bau kencur kayak gue?”

__ADS_1


Itu pertanyaan yang dulu gue ucapin waktu kakak lo si Arya itu lamar gue Nit.


“Yeh lo ya. Cinta itu gak mandang umur kali, makanya banyak orang bilang cinta itu buta tuh, ya itu. Contohnya kayak Kak Arya aja ke gue, emangnya dia suka ke gue karena mandang umur? Enggak juga kan?”


“Hm... iya juga sih.”


“Eh ke kamar gue yuk. Gue rasanya pengen tiduran di sana deh, gak leluasa kalau di sini tuh. Gak bisa selonjoran lagi.”


“Ya udah ayo.”


Kiana beranjak dengan dibantu Anita, lalu berjalan menuju kamarnya. Namun langkah kepergiannya terhenti oleh cekalan tangan Arya yang pelan.


“Kamu mau ke mana?” Tanya Arya.


“Aku mau istirahat di kamar ya sama Anita. Gak leluasa kalau di sini.” Jawab Kiana.


“Oh, ya udah.”


Sampainya di kamar, Kiana langsung saja menyelonjorkan kakinya di ranjang dengan ditumpu memakai bantal juga punggungnya ia sandarkan pada sandaran ranjang.


Kiana membuka bajunya sebatas dada, sehingga menampilkan perut besarnya. Katanya Kiana kegerahan, makanya dibuka.


“Ya ampun perutnya gede binggo ih Ki!” Suara Anita memekik keras karena melihat perut Kiana, “gue pengen megang ya perutnya.” Tanpa seizin Kiana, Anita langsung mengulurkan tangannya ke arah perut Kiana dan memegangnya.


Duk...


Anita merasakan sebuah tendangan di perut itu.


“Ya ampun Ki! Itu tendangan bayinya ya?” Sorak Anita lagi dengan tatapan matanya yang takjub dan wajah senangnya namun terkejut juga.


Kiana tersenyum mendengar Anita yang banyak omong kali ini, “gue udah sering ditendang kayak gitu tuh, Nit.”


“Sakit sebenernya, apalagi kalau malem pas mau tidur, bayinya sering kayak gitu tuh ke gue. Jadinya kalau mau tidur, Kak Arya sering banget usapin perut gue, buat ngilangin rasa sakitnya.”


“Beuuhh, bisa romantis juga tuh kang es balok.” Anita tersenyum mengejek.


“Eh iya, kalian udah nyiapin kamar bayinya belum?” Anita mengalihkan topik pembicaraan ke arah yang berbeda, namun intinya tetap sama, yaitu bayi Kiana juga Arya.


Kiana menggelengkan kepalanya, “belum. Tapi kalau perlengkapan bayinya udah.”


“Bayinya cewek bener?”


Kiana mengangguk, “iya. Lo ngapain sih nanya kalau udah tahu.”


“Kan gue cuma mastiin kebenaran doang, Ki.”


“Eh kata dokter, perkiraan lahirannya kapan sih? Kepo nih gue.”


“Lo banyak nanya ih! Pusing gue jadinya.” Keluh Kiana sambil menghembuskan nafasnya, “kalau perkiraan lahir, gue gak tahu soalnya belum periksa lagi.”


“Oh gitu ya. Terus terus, rasanya hamil gimana, Ki?”


“Kepo lo!” Ledek Kiana lalu tertawa.


Anita mengerucutkan bibirnya karena jawaban Kiana yang seperti itu, “ih lo ya, kok begitu sih? Gue pengen tahu nih Ki!!!”


“Gue males jawabnya Anita. Nanti juga lo bakal ngalamin kok gimana rasanya hamil. Makanya cepetan nikah coba

__ADS_1


biar ngerasain, jangan dijadiin gebetan mulu, minta buat cepetan dihalalin dong sama doinya.” Kiana menertawai kehidupan percintaan Anita dan Eshan.


“Ih kamu jahara banget Kiana ke aku tuh.” Anita menatap Kiana tak percaya.


“Lo emang gak mau nih hamil kayak begini? Seru lhoooo.” Kiana mengerjai Anita sambil memegang perut buncitnya.


“Ya mau lah, tapi kan gue harus selesain kuliah gue dulu.”


“Hmm, alasan. Entar kalau Kak Eshannya direbut sama cewek lain atau dijodohin sama orang tuanya gimana hayooo? Baru tahu rasa lo.” Kiana menggoda lagi.


Anita makin cemberut, “ihhh! Kok lo ngomongnya begitu sih? Jangan dong, omongan bisa jadi doa Kiana. Malaikat nyatet tahuuu.” Anita merajuk.


“Gue bukan doain, tapi ini hanya sekedar semisalnya doang ya.” Bantah Kiana.


“Ya tapi kan... tetep aja gitu gue gak mau walaupun cuma perumpamaan.”


“Iya deh iya. Udah ya, mau bobo siang dulu nih bumil. Lelah bumil denger rengekan gadis perawan kayak kamu.” Kiana mengejeknya untuk terakhir kali dan membaringkan tubuhnya segera, kemudian menyelimuti seluruh tubuhnya.


“KIANAAAAA!!!”Anita mengamuk dan di balik selimutnya, Kiana menertawai.


Kiana terbangun dari tidurnya ketika waktu sudah mulai sore hari. Sudah bangun, dia lanjut saja membersihkan tubuhnya ke kamar mandi. Setelahnya, dia keluar dari kamar.


Baru saja Kiana keluar, eh dia malah langsung diberikan pemandangan yang menurutnya sungguh tak enak


dilihat. Suatu pemandangan yang dapat membuat kesakitan pada rongga hatinya.


Kiana melihat Arya yang menutup mata Ilsa. Hal tersebut sebenarnya memang biasa, namun entah mengapa hati Kiana menjadi sakit saat melihatnya. Sakitnya seperti tertusuk duri. Durinya memang kecil, tapi tetap saja jika terkena duri itu rasanya sakit.


Kak Arya ngapain kayak gitu ke Kak Ilsa? Mereka sedang apa?


Awalnya Kiana akan menghampiri mereka di sana, namun saat melihat adegan itu, ia segera urungkan niatnya dengan membalikkan badannya dan bergegas akan masuk lagi ke kamarnya. Tapi semua itu tak terjadi saat ternyata Fabian melihat kedatangannya.


“Ki, kenapa masuk lagi ke kamar? Sini dong gabung.” Seru Fabian.


Kiana mendengar Fabian, dengan terpaksa akhirnya ia menghampiri mereka.


“Kakak kenapa belum pulang? Udah, pulang sana. Kasihan Kak Fiska kalau pulang kemaleman, nanti orang tuanya nyariin lagi.” Omel Kiana.


“Ih kamu cerewet banget ya.” Fabian gemas dan mencubit pipi tembam Kiana.


“Ya udah, Kakak pulang sekarang ya. Diusir sama kamu soalnya.” Sindir Fabian lalu menarik tangan Fiska dan keluar dari rumah ini.


“Eh eh Bi, kok ditarik sih?!” sewot Fiska, “eh kalian, gue balik ya.” Fiska berteriak sambil melambaikan tangannya di udara mengarah pada mereka yang diam di sini.


“Ilsa, ayo kita juga harus balik.” Ajak Kaivan dan menarik tangan Ilsa.


“Gue gak mau balik, Kai. Gue masih mau di sini.” Bantah Ilsa dan melepaskan tangan Kaivan itu.


“Udah sore woy, kasihan mereka butuh istirahat.” Kata Kaivan lalu menarik paksa tangan Ilsa kembali dan mengajaknya pergi, “kita balik duluan ya, lo juga Eshan harus balik, jangan nungguin orang di sini.”


Kini, hanya tinggal Eshan yang tersisa di sini. Eshan diam saja dan hanya memasang wajah tanpa dosanya pada Arya juga Kiana.


“Lo sendiri kenapa belum pulang? Cepetan pulang sana.” Arya mengusir Eshan dengan wajah datarnya.


“Adik lo kan masih di sini, dia belum pulang.” Eshan menunjuk Anita.


“Terus kenapa kalau dia masih di sini? Dia adik gue, jadi mau lama-lama di sini juga gak dilarang. Sedangkan lo sangat dilarang. Lagian lo siapa gue?”

__ADS_1


“Kejam lo, Arya. Ya udah iya, gue pulang sekarang.” Eshan pasrah juga kesal pada Arya, dan pergi untuk pulang.


__ADS_2