Our Fault

Our Fault
Part 4


__ADS_3

Sudah biasa bagi mereka berjoget-joget ria di dalam club' malam seperti saat ini. Keduanya dengan setengah sadar terus meliuk-liukkan badannya mengikuti irama musik dari DJ.


"Sayang pulang yuk!" Teriak Daffa kencang pada Raya yang masih tidak mau berhenti.


Akhirnya Daffa mengangkat tubuh Raya karena jika dibiarkan mereka bisa sampai pagi.


Daffa yang 75% masih sadar mengendarai mobilnya kencang menuju apartemen nya. Sedangkan Raya kini tengah meracau tidak jelas.


Daffa menoleh saat ponsel didalam tas Raya berbunyi. Dengan pelan ia mengambil ponselnya dari dalam tas dan melihat siap yang menelfon nya.


Ia terkejut saat melihat tulisan 'papi♥️ is calling' sangat tidak mungkin kalau ia mengangkatnya, jadi ia biarkan begitu saja.


Dengan sabar Daffa menghadapi Raya yang terus menggoda keimanannya, karena mulutnya tak henti-hentinya mengeluarkan desahan dan memanggil-manggil namanya dengan sensual.


"Kau sangat menyiksaku sayang!" Sekuat tenaga Daffa mencoba menahan nafsunya saat ia melepas dress yang Raya kenakan, terlebih tubuh Raya yang tak bisa diam.


Kalau saja Raya tidak sedang masa subur mungkin ia sudah melakukan sekarang juga.


Akhirnya ia selesai menggantikan dress mini dengan piyama, ia pun ikut berbaring disamping Raya dan memeluknya erat.


"Sleep well sweetheart." Daffa mengecup kening dan bibir Raya bergantian dan bergabung ke alam mimpinya.

__ADS_1


***


   


      Paginya saat Daffa terbangun dari tidurnya, ia tidak mendapati Raya tidur disampingnya.


Ia melihat jam nya ternyata sudah pukul 10. Kali ini ia lebih santai karena tidak ada kelas dan hanya meeting di restoran barunya.


Ia mengambil handphone nya yang berada di atas nakas. Ia membuka chat dari Raya yang berisi 'Sayang maaf aku tinggal, papi aku pulang jadi aku juga harus di rumah. Nanti siang aku ke kafe mu, see you♥️'


Satu chat kembali masuk kedalam handphone nya.


'tadi aku udah buat roti bakar, dimakan ya.'


Dengan malas ia melangkah ke kamar mandinya dan mencuci mukanya agar lebih segar. Setelah itu ia mengambil roti bakar yang sudah Raya siapkan untuk nya.


Raya adalah sosok yang sangat perhatian, bahkan perhatiannya melebihi ibunya sendiri. Oleh karena itu ia lebih nyaman bersama Raya daripada dengan ibu, atau keluarga nya sendiri yang selalu menuntut nya.


      Kali ini ia tidak menggunakan setelan terlalu formal karena ia hanya meeting dengan kariawannya saja.


Setelah memarkirkan mobil sport nya di depan restoran seafood yang baru saja ia buka tempo hari lalu.

__ADS_1


Ternyata para karyawan nya sudah berkumpul dan sudah menunggunya. Ia pun memberikan senyum hangat yang di balas dengan senyum tak kalah hangat pula. Selama ini ia di cap sebagai bos paling baik dan dermawan karena sering memberikan bonus untuk para karyawan yang kerja dengan bagus.


Setelah satu jam lebih ia meeting ia kembali ke kafenya karena tadi Raya sudah berjanji akan menemuinya disana.


Saat diperjalanan kakak laki-lakinya yaitu Devatara menelfonnya.


"Ya?"


"Mama sakit lo di suruh pulang." Ucapnya dari sebrang.


"Gue sibuk, gue baru buka cabang." Jawabnya acuh, se-acuh orang tuanya padanya.


"Lo milih kerjaan daripada mama? Keterlaluan!" Bentak Deva pada adik bungsunya.


"Mereka juga mentingin kerjaan daripada gue, jadi impas kan?!" Daffa langsung mematikan sambungan telfonnya, mengobrol dengan kakaknya membuatnya semakin membenci keluarga nya, terutama kakak nya yang selalu mendapat perhatian lebih.


Sesampainya di kafe, ternyata Raya sudah bereksperimen dengan salah satu koki di kafe nya. Raya sering memberikan ide-ide berliannya untuk kemajuan kafe yang sudah ia bangun selama ini.


Ia juga berharap usahanya bisa terus berkembang sampai ia pantas meminta Raya pada orangtuanya untuk ia jadikan istri.


***

__ADS_1


Menurut kalian cerita ini gimana?


__ADS_2