
Kiana sudah diperbolehkan pulang oleh dokternya. Dia berharap kalau yang menjemputnya pulang adalah orang tuanya atau Fabian, tapi nyatanya harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Keluarganya terlalu sibuk dengan urusannya, sampai mereka lagi-lagi menyuruh Arya untuk menjemputnya di rumah sakit dan Kiana tidak bisa menolaknya.
Mereka sekarang tiba di rumah Kiana dengan cepat dan Kiana langsung masuk ke dalam rumahnya tanpa menunggu Arya turun dari mobil.
Hal pertama yang Kiana lihat saat masuk ke dalam rumahnya adalah banyaknya teman Fabian ruang tamu.
Kiana bingung, ini ada acara apa? Kenapa banyak teman Fabian? Tadi kata Arya, Fabian tidak bisa menjemputnya karena ada urusan penting mendadak, apa mungkin urusan penting yang dimaksudnya ini? Kalau kata Fabian ini urusan penting, berarti Kiana yang adiknya itu tidak penting ya?
Tapi tunggu, apa alasan mereka ke sini? Untuk merayakan kecelakaan Kiana atau kesembuhan Kiana? Atau juga untuk merayakan pernikahan Arya dan Ilsa? Kalau untuk merayakan pernikahan mantan suaminya itu, mereka berarti salah tempat. Ini rumah Kiana, bukan rumah Arya atau pun Ilsa.
Kiana menyapa mereka, termasuk Ilsa dengan seulas senyuman. Sebenarnya Kiana sedang malas untuk berbincang dengan mereka, sebab hatinya belum sembuh karena pernikahan Ilsa Arya. Tapinya Fiska, pacar Fabian itu justru malah mengajaknya duduk sebentar bergabung dengan mereka.
“Kiana... Kamu udah sembuh?” Tanya Fiska saat Kiana sudah duduk bersama mereka dan Arya pun yang baru saja datang sama ikut duduk.
Kiana canggung sekarang, dia tersenyum sekilas, “iya, udah.”
“Itu gimana kronologisnya, kok kamu bisa kecelakaan?” Tanya Juna.
“Udah takdir Kiana Kak buat kecelakaan. Itu juga salah Kiana sih, malah ngelamun pas lagi bawa motor.” Kiana tersenyum miris.
“Ya ampun! lain kali jangan gitu lagi ya adik. Lagian kamu ngelamunin apa sih ah? Arya ya?” Goda Bani dan menaik turunkan alisnya.
Kiana menegang dan mencoba tenang untuk menjawab, “bukan lah. Kak Bani sok tahu banget sih?!” Kiana cemberut.
Arya tak memperhatikan perdebatan mereka, matanya malah tertuju pada anak Mino yang sedang digendongnya. Menggemaskan, Arya ingin sekali mencubitnya.
“No, lo ngapain bawa anak lo ke sini?” Seru Arya.
“Sengaja. Kasihan istri gue lagi beres-beres rumah, tapi malah diganggu terus sama ini anak.” Mino melirik anaknya.
“Eh gue mau gendong si Rania dong.” Arya mendekatkan dirinya pada Rania.
“Hati-hati lho ya gendongnya.” Mino memberikan Rani pada Arya, awalnya Rani tidak mau, tapi karena Arya terus merayunya, akhirnya Rani pun mau.
“Si Arya udah cocok ya buat jadi bapak?” Sahut Eshan yang sebenarnya itu sindiran.
“Dia kan udah jadi bapak coy.” Kata Juna, “lo juga udah cocok jadi bapak kok Han, tapi kenapa masih belum punya anak?” Sindir Juna.
“Mulut lo mending diem! Lo gak tahu apa gue juga ini lagi berusaha halalin anak cewek orang.” Timpal Eshan sambil menatap Juna datar.
__ADS_1
“Arya lo bikin lagi anak coba, gue juga udah punya anak dua. Masa lo masih satu.” Sindir Mino terkekeh.
“Ngomongnya sama istrinya, Mino. Tuh orangnya ada.” Fabian melirik, tapi entah pada Ilsa atau Kiana, Kiana tak melihatnya. Tapi Kiana sudah menduga, yang dimaksud Fabian istri Arya itu adalah Ilsa, bukan dirinya. Dia kan sekarang sudah menjadi mantan istri Arya, bukan istri Arya – lagi.
Kiana menatap Arya, saat dia sedang mencium pipi Rania. Sementara Rania justru malah menatap Kiana.
“Tuh lihat, si Rania aja nyampe dicium-cium gitu. Kelihatan banget ya si Arya kangen anak kecil, kasihan dia.” Sindir Fabian lagi.
Telinga Arya begitu panas mendengar sindiran Fabian, “lo diem mendingan, jangan bikin mood orang jadi jelek.” Ketus Arya dan fokus kembali menatap Rania.
“Kamu cantik banget sayang. Gemes Om lihatnya.” Arya mencium pipi Rania lagi.
Kiana terus saja melihat Arya yang dekat dengan Rania. Dia merasa damai melihat kegiatan itu.
“Min, kok gemes gue ya sama anak lo? Dapet dari mana sih lo anak selucu Rani? Padahal lo sendiri aja gak lucu.” Arya meledek Mino dan Rania yang berada di gendongannya terdiam menatap Arya namun wajahnya seperti ingin menangis.
“Ya gue ngeproduksi sendirilah bareng istri gue, masa iya gue ngeproduksi ama cewek lain.” Jawab Mino.
Mereka melanjutkan kegiatan mengobrolnya dan tidak merasakan kalau mereka sudah mengobrol lama, sampai Kinaya sekarang datang pada mereka.
Kinaya tidak tahu kalau di sini ada Kiana, jadi dia merasa santai saja, bahkan saat mengucapkan salam pun suaranya cukup menggema.
“Assalamu'alaikum...!!!” Kinaya berlari ke ruang tamu tempat mereka berkumpul.
“Wa'alaikumsalam.” Jawab semua orang di ruangan tersebut.
Kiana tahu alasan anak itu diam karena melihatnya dan akhirnya dia memilih mengalah dengan pergi ke kamarnya, “semuanya, maaf ya Kiana tinggal ke kamar.”
“Iya Ki, gapapa. Kamu mending istirahat aja di kamar, biar cepet sembuh. Kalau kelamaan di sini, takut nambah parah nanti sakitnya.” Kaivan terkekeh dan diikuti Kiana, lalu berjalan pergi.
Arya melihat Kiana pergi, pasti dia menghindar karena adanya Kinaya, pikir Arya.
“Naya cantik kenapa diem aja? Ayo sini duduk sama Tante Fiska” Fiska menarik tangan Kinaya dan mendudukkannya di pangkuannya.
“Naya sama Nenek abis dari mana tadi?” Tanya Fiska merangkul anak itu.
“Tadi Naya abis ke pasar beli ikan sama Nenek, di sana ikannya pada banyak-banyak banget, Tante.” Naya bercerita tentang apa yang sudah dilakukannya bersama Nira.
“Naya udah makan belum?” Kini Arya yang bertanya.
__ADS_1
Kinaya menganggukkan kepalanya, “iya udah, tadi sama Nenek.”
Lalu Kinaya melihat Rani yang duduk di pangkuan Arya dan berjalan ke arahnya, “waaahhh!! Ada adik bayi!” Kiana begitu terpukau dengan Rania dan memainkan tangannya, sesekali dia juga memegang pipi bayi itu dengan gemasnya, bahkan hampir saja mau mencubit kalau tidak Arya cegah.
“Adik, namanya siapa? Adik cantik banget deh, lucu. Gemes Naya lihatnya.” Kinaya ingin mencubit Rania tapi tidak bisa, takut Rania menangis nantinya.
“Namanya Rania, Kakak Naya.” Jawab Arya sambil tersenyum, dengan suaranya yang dibuat-buat mirip anak kecil.
“Ohh Rania namanya.”
“Ayah, Naya mau gendong adik Rania dong.” Pinta Kinaya, “kalau enggak taroh Rania di sini aja deh.” Kinaya duduk di samping Arya dan menepuk-nepuk pahanya.
“Ini, hati-hati ya sayang.” Arya menyimpan Rani di pahanya.
Saking gemasnya pada Rani, Kinaya terus saja membuat guyonan untuk Rani supaya tertawa terus. Semua orang yang melihat keakraban itu dibuat senang dan gemas.
“Naya mau punya adik gak sayang?” Fabian menyeru.
Kinaya menatap pada Fabian dan mengangguk cepat, “Naya mau. Tapi mintanya harus sama siapa coba? Sama Ayah gitu?”
Fabian mengangguk, “iya, kamu harusnya minta sama Ayah tuh buruan.”
“Tapi kata Nenek kalau mau bikin adik itu harus nikah dulu. Nah kalau nikah kan harus ada pasangannya. Sedangkan Ayah pasangannya siapa? Bunda kan lagi pergi, belum juga pulang.” Keluh Kinaya.
“Udah Naya, gak usah dengerin omongan Om Bian. Naya maen lagi aja sama Rania ok.” Seru Fiska sambil tersenyum pada Kinaya, lalu memukul kepala Fabian pelan.
“Duh sayang, sakit tahuuu.” Fabian mengaduh sakit sambil memegangi kepalanya yang kena pukul.
“Kamu ngapain sih bilang kayak begitu ke Naya?” Dumel Fiska dengan kesalnya.
“Kamu sadar diri coba. Kamu bisa ya sindir Arya buat punya anak lagi, sedangkan kamu nikahin aku juga belum! Kamu jangan buat buat aku jadi perawan tua ya, aku gak mau! Aku itu bukan cicilan rumah yang harus nunggu beberapa tahun buat segera didapatkan. Aku juga mau kayak perempuan lain, aku mau nikah, mau jadi ibu juga. Aku gak mau terus-terusan ada di hubungan yang belum tentu kepastiannya kayak ini.” Tutur Fiska dengan emosinya yang menggebu-gebu.
“Lah siapa juga yang bilang kalau kamu cicilan rumah? Aku gak bilang gitu kok.” Fabian keheranan, “lagian kamu kenapa jadi bahas ini? Kamu mau nikah sekarang? Ya udah, ayo sekarang kita nikah.” Ajak Fabian menarik tangan Fiska lalu berdiri.
Fiska menatap Fabian di hadapannya, “gak perlu! Aku gak mau kamu nikahin aku karena terpaksa.” Lirihnya dan melepaskan tangannya dari genggaman Fabian.
Para sahabatnya tidak bereaksi apa-apa dengan pertengkaran itu dan menontonnya sambil berkata miris dalam hatinya. Iya miris, ternyata jalan percintaan dua manusia itu tidak seindah yang sering diperlihatkan. Mereka mengira kalau kisah percintaan dua manusia itu tenteram, damai, tidak ada hambatan. Tapi ternyata semua itu sama saja, tetap ada hambatan.
“Kalian ngapain ribut di sini? Udah, itu masalah hubungan kalian. Nanti kalian bahas di belakang layar aja, di sini ada anak kecil. Kurang baik kalau mereka lihat.” Seru Arya mencairkan suasana yang tegang itu.
__ADS_1
“Gue bukannya ribut, Arya. Gue cuma mau kejelasannya aja, jadinya dia mau gimana sama gue? Mau serius apa enggak? Orang tua gue udah sering nyuruh gue nikah, ditambah lagi bokap gue juga udah mulai sakit-sakitan, dia pengennya gue cepet nikah supaya ada yang ngejagain gue nantinya sewaktu dia gak ada.” Fiska mengeluarkan pendapatnya.
“Aku pikir dulu harus gimana. Aku butuh waktu buat ambil keputusan apa. Jujur aku belum siap nikah, belum siap ambil semua risiko yang bakal terjadi nanti seudah nikah.” Cicit Fabian.