
Liburan Kiana berakhir juga akhirnya. Hari ini dia kembali melanjutkan kegiatannya sebagai mahasiswa, berkuliah dan di hari pertamanya masuk kuliah ini dia malah sudah terlambat masuk.
Kiana terburu-buru saat berangkat ke kampusnya, sampai lupa memeriksa jadwal mata kuliahnya juga siapa saja dosen yang akan mengajar di mata kuliah tersebut.
Sampai di depan kelas, ternyata kelasnya sudah dimulai. Buktinya pintu kelasnya tertutup dan suara dosen yang sedang menjelaskan materi begitu terdengar ke telinganya.
Tanpa ingin tahu siapa dosen tersebut, Kiana langsung saja mengetuk pintu dan ternyata posisi dosen tersebut sedang membelakangi Kiana saat itu.
Kiana masih sadar diri, bahwa dia hanya mahasiswa yang selalu salah, bukan dosen yang selalu benar. Ia pun segera minta maaf atas kedatangannya yang terlambat dan meminta izin untuk masuk.
Dosen tersebut berbalik menatap Kiana yang meminta izin.
Alangkah terkejutnya Kiana, ternyata dosen itu adalah Arya. Kiana tidak tahu kalau laki-laki itu ternyata mendapatkan kesempatan lagi untuk mengajar di kelasnya dan dia membenci hal itu.
Tatapan Arya pada Kiana begitu sulit diartikan, Kiana tidak mengerti dan segera menormalkan raut wajah terkejutnya menjadi biasa saja.
“Maaf Pak, saya telat.” Cicit Kiana sambil menatap Arya dengan raut wajah melasnya.
Arya berdiri menyilangkan tangannya pada Kiana, “kamu tahu, sekarang itu jam berapa Kiana?” Suara Arya begitu dingin padanya.
Kiana menganggukan kepalanya pelan tanpa berbicara.
“Kalau begitu pulang sekarang, kamu gak perlu ikut mata kuliah saya hari ini.”
Kiana meneguk ludahnya, tidak menyangka kalau Arya akan mengusirnya. Tidak di rumah, tidak di kampus, sikap Arya sama saja menyebalkan.
“Tapi Pak, saya — ”
“Kamu lebih baik pulang saja, atau nongkrong saja di kantin sana, mata kuliah saya juga sebentar lagi selesai.”
“Pak! Kok Bapak gitu sih gak ngizinin mahasiswanya masuk?” Kiana protes pada Arya.
“Itu konsekuensi karena kamu datang terlambat.”
“Tapi sebelumnya kan Bapak gak pernah kayak gini.”
“Peraturan di mata kuliah saya sekarang sudah berubah.”
__ADS_1
“Pak, izinin saya masuk yaaa.” Kiana memohon dengan memelaskan wajahnya juga menyatukan kedua tangannya.
“Ya sudah, kamu masuk dan nanti istirahat ke ruangan saya. Saya mau kasih tugas tambahan buat kamu.” Tegas Arya menunjuk Kiana kemudian menatap serius mahasiswanya, “ini peringatan juga buat kalian. Kalau masih ada yang terlambat seperti ini di mata kuliah saya, saya bakal kasih tugas tambahan juga. Siapapun itu orangnya.”
“Kita akhiri mata kuliah hari ini. Terima kasih sudah hadir datang tepat waktu.” Arya menekankan kalimatnya, “dan kamu Kiana, istirahat nanti ke ruangan saya.”
Pada waktu istirahat tiba, Kiana mendatangi Arya di ruangannya. Sepertinya laki-laki itu begitu serius akan memberikannya tugas lebih.
“Duduk.” Titah Arya dan tetap fokus membaca bukunya.
Kiana pun duduk di kursi berhadapan dengan Arya lalu laki-laki itu menutup buku yang dibacanya dan disimpan di meja kemudian menatap Kiana datar.
“Kamu tahu apa alasan kamu dipanggil ke sini?” Tanya Arya.
“Mau dikasih tugas tambahan kan?” Tebak Kiana tapi Arya menggeleng.
“Bukan.” Kiana mengernyit heran.
“Terus apa?”
Arya membuka laci mejanya dan mengambil sesuatu dari sana yang ternyata itu adalah undangan pernikahan, tapi Kiana tidak tahu itu milik siapa.
Penasaran, Kiana pun langsung membuka surat undangan tersebut.
Nararya Sadira Pratama
&
Ilsa Nirbita Maheswari
Deg...
Rasanya tubuh Kiana langsung kaku ketika membaca itu. Seperti suatu beban yang berat untuknya. Apakah benar undangan itu? Arya tidak sedang mengerjainya kan dengan memberikan undangan itu?
“Kamu mau nikah?” Cicit Kiana pelan dan tatapannya pada Arya sulit diartikan.
“Ya tentu. Siapa yang tidak mau menikah.”
“Kakak beneran mau nikah sama Kak Ilsa?”
__ADS_1
“Kalau aku berbohong, aku gak akan kasih undangan itu ke kamu Kiana.” Balas Arya tenang, “datang ya nanti.”
“Oh begitu ya. Terima kasih Kak atas undangannya. Kalalu begitu Kiana pamit pergi.”
Kiana pergi meninggalkan Arya dengan perasaan yang campur aduk, ingin menangis tapi juga kesal. Perasaannya sudah tidak karuan, kuliah pun jadi malas. Akhirnya dia memilih izin tidak masuk saja dengan beralasan sakit dan pulang ke rumahnya.
Sudah di rumah dan untung ibunya masih ada kegiatan di luar rumah.
Kiana langsung masuk ke kamarnya dan mengunci diri. Dia butuh waktu untuk sendiri dan menerima kabar tadi.
Perempuan itu mengambil surat undangan pemberian Arya dan terduduk di lantai menekuk kakinya. Untuk kedua kalinya dia membaca lagi undangan tersebut.
Kenapa Kak? Kenapa Kakak pilih dia? Kenapa Kakak cepet banget lupain aku? Aku bingung, sebenarnya aku sudah nerima perpisahan ini atau belum? Aku gak suka, kalau Kakak dekat sama perempuan lain, apalagi perempuan pilihan Kakak itu.
Kesedihan juga kekesalannya tidak bisa dia tahan lagi, bahkan sampai surat undangan yang masih dipegangnya itu dia remas-remas menjadi berbentuk bulat dan membuangnya langsung ke sembarang arah.
Kiana menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang dengan kasar dan menangis.
“Kenapa kamu gampang lupain aku sedangkan aku susah lupain kamu? Ini gak adil! Harusnya aku juga bisa lupain kamu terus nemuin kebahagiaan aku, jangan kamu doang yang bahagianya.” Lirih Kiana, “gak adil! Gak adil! Gak adil! Aku gak terima ini semua!” Kiana memukul bantal yang dipakainya.
“Kamu jahat Arya! Aku benci kamu! Kenapa aku harus kenal kamu sih?! Kalau tahu hidup aku jadinya bakal begini, aku lebih baik gak kenal kamu!” Kiana menangis. Tangisannya itu berlangsung dengan lama, sampai akhirnya dia mengantuk dan tertidur dengan sendirinya.
Ternyata bagi Kiana, menangis di kamarnya saja belum cukup untuk menenangkan diri. Dia masih butuh pelampiasan lainnya. Ingin cerita tapi pada siapa? Fabian? Anita? Mereka mana mungkin akan mendengarkan ceritanya, yang ada mereka akan memojokkan dirinya semuanya terjadi akibat ulahnya sendiri.
Hingga malam hari, dengan pikirannya yang masih kacau, Kiana pergi ke luar rumah untuk menemui Afriani menggunakan motor Fabian dan tanpa memberitahu orang tuanya atau juga Fabian.
Kiana membawa motornya dengan kelajuan cepat, pikirannya juga sudah berkelana jauh ke mana-mana. Mungkin Kiana sudah bosan hidup jadi seperti itu. Memang benar ya, patah hati itu bisa saja membuat seseorang mati.
Pikirannya yang tidak fokus pada keadaan jalanan ternyata membawa Kiana pada sebuah malapetaka. Dia tertabrak oleh sebuah mobil dan tidak sadar kalau ada mobil yang menghampirinya. Ternyata di hari itu, Kiana terus mendapatkan takdir buruk.
Brak...
Begitulah suara benturan keras mobil yang menabrak motor Kiana sampai membuat tubuhnya jatuh ke jalanan.
Mata Kiana masih terbuka secara perlahan ketika itu dan melihat orang-orang yang berhamburan mengerumuninya. Lalu beberapa detik kemudian, matanya tertutup.
Kiana tidak sadarkan diri di tempat, tubuhnya mengenaskan, dan bagian kepalanya berdarah cukup banyak. Masyarakat sekitar begitu kasihan melihat Kiana yang seperti itu dan segera menolongnya.
Maaf, aku terlalu banyak salah sama kalian, terutama kamu, Kinaya. Maafin Bunda sudah banyak nyakitin kamu. Semoga kalian selalu bahagia ya meskipun Bunda gak ada. Bunda mau pergi, Bunda kurang pantas bareng kalian. Bunda sayang kalian.
__ADS_1
Kiana pun dibawa ke rumah sakit terdekat oleh masyarakat tersebut dan beruntung sekali di antara mereka ada yang mengenal Kiana dan langsung memberitahukan kondisi tersebut pada keluarganya yang ternyata di rumahnya itu hanya ada Fabian juga Arya, Kinaya, dan Ilsa yang sedang berkunjung.