Our Fault

Our Fault
Bagian 33 - Ceroboh!


__ADS_3

Klik 👍👍👍 nya okeh


***


Setelah kejadian lamaran mendadak itu terjadi, esoknya Arya langsung melakukan melaksanakan pernikahannya. Walaupun acara itu berlangsung sederhana, tapi baik Arya maupun Kiana merasa senang. Tentu saja senang karena akhirnya mereka bisa kembali setelah banyak melakukan drama-drama aneh.


Tepat di hari ini, tiga hari sudah dua manusia itu kembali bersama. Mereka memilih untuk kembali tinggal bersama di kediaman sebelumnya, meskipun Kinaya masih sepenuhnya belum menerima Kiana sebagai ibunya, tapi Kiana akan berusaha demi mendapatkan Kinaya kembali.


“Gimana Kinaya? Masih sama?” Arya menyeru ketika dia akan mengganti baju kerjanya dengan baju santai.


Kiana duduk di ranjang, terdiam murung dan Arya melihatnya. Dia tahu apa jawabannya kalau wajah istrinya sudah murung begitu.


Arya mendekatinya, ikut duduk bersama dan mengusap kepalanya, “gapapa, semua butuh proses. Aku akan bantu kamu.”


Tatapan Kiana begitu sedih, Arya tidak tega melihatnya, “tapi sampai kapan Kak? Aku sedih diperlakukan begini terus sama Kinaya. Aku ini ibu kandungnya, tapi dia nyangkanya aku ini orang asing dan justru malah deket sama ibunya yang lain.”


“Iya, aku tahu, Kinaya butuh waktu untuk menerima kamu, dan setelah itu terjadi, aku akan kasih tahu dia soal ini.” Ucap Arya dan tetap mengusap kepalanya untuk menenangkan dia, “sudah, sekarang kamu tidur aja, aku mandi dulu.” Arya mencium kepala Kiana.


“Mau aku siapin air panas gak?”


Arya tersenyum, “gak perlu, kamu istirahat aja. Pasti capek kan jadi istrinya dosen killer?”


Goda Arya.


Kiana mengangguk polos dan mengerucutkan bibirnya, “iya capek. Dimarahin terus.”


“Maaf ya, udah tidur sana, aku masih ada kerjaan lain.”


“Hmm. Kamu juga istirahat ya, jangan kecapean banget. Aku pengen punya anak lagi dari kamu soalnya.” Kiana membisikan kalimat terakhir yang diucapkannya dan menunduk setelahnya. Punya nyali dari mana dia bisa bicara begitu pada Arya? Duh malu, pasti sekarang pipinya sudah memerah.


“Apa? Ya udah yuk sekarang bikin.” Arya tersenyum aneh tapi Kiana ngeri lihatnya.


Kiana mendorong Arya yang akan menindihnya, “apaan ih?! Ya bukan sekarang juga dong ah, akunya juga lagi ada tamu.” Kiana tertawa puas.


“Ah kamu.” Badan Arya yang sudah tegang langsung lemas, “ya udahlah aku mau mandi.” Arya dibuat kesal dan melangkah cepat menuju kamar mandi sementara Kiana tertawa melihat suaminya kesal.


Hahaha, padahal gue gak lagi halangan.


Esoknya di pagi hari, Kiana sudah mulai melaksanakan tugasnya sebagai ibu-ibu.

__ADS_1


Semua tugas sudah selesai, sekarang waktunya dia untuk mengisi perutnya makan bersama dengan suami juga anak tercintanya.


Ketika sedang menyiapkan sarapan, Kiana tersenyum melihat anaknya sudah siap akan berangkat sekolah.


“Naya mau berangkat sekolah ya?” Sapa Kiana basa-basi dahulu.


“Hmm. Ayah mana? Naya mau berangkat sekarang.” Tanyanya langsung.


“Lho Naya gak makan dulu sayang?”


“Gak! Naya gak suka ada Kak Ana di sini! Naya juga gak suka Kak Ana jadi ibunya Naya, Naya maunya Mama Ilsa aja.”


Perkataan Kinaya begitu menyayat hatinya. Kenapa Kinaya sangat membencinya? Apa ini karma untuk Kiana karena dulu tidak menerima kehadiran anaknya itu?


“Kenapa? Kak Ana kan sudah berubah.”


“Ya pokoknya Naya gak mau! Kak Ana itu jahat! Beda sama Mama Ilsa yang baik!”


Tidak. Dia tidak jahat. Dia sudah berubah. Dia bahkan jauh lebih baik daripada Ilsa. Pikir


Kiana.


“Ilsa Ilsa Ilsa! Terus saja kamu banggain perempuan itu Kinaya! Apa bagusnya dia sih? Dia itu bukan ibu kandung kamu Kinaya, aku yang sebenarnya ibu kandung kamu! Apa pantas kamu banggain dia depan ibu kandung kamu sendiri hah?”


Apa? Apa maksud Kiana? Tidak, Kiana pasti bohong. Mana mungkin Kiana itu ibunya yang selama ini dia tunggu-tunggu kedatangannya.


“Aku emang udah nyakitin kamu, tapi asal kamu tahu, ibu kandung yang selama ini kamu tunggu kedatangannya itu aku! Terserah kamu mau peduli atau tidak juga, yang penting aku sudah kasih tahu semua ini!” Setelahnya Kiana menyimpan sendok yang dia pegang ke meja dengan kasar dan berlalu pergi meninggalkan Kinaya yang tidak


percaya dengan ucapan Kiana tadi.


Enggak. Bunda Naya bukan dia! Bukan! Dia pasti bohong!


Kiana berlari ke kamarnya dengan cepat. Dia terduduk di ranjangnya dan menangis langsung menutupi wajahnya dengan tangannya.


Arya yang sedang memakai bajunya menjadi bingung melihat Kiana seperti itu.


“Hei... kamu kenapa?” Arya ikut duduk di sampingnya dan memegang tangannya.


“Kak... maafin Kiana.” Kiana memeluk Arya tiba-tiba, membuat Arya jadi semakin bingung.

__ADS_1


“Kamu kenapa?” Tanyanya sekali lagi sambil memegang kepala istrinya itu.


“Maaf, aku gak sengaja bongkar semuanya tadi.” Tutur Kiana pelan.


Bongkar? Maksudnya bongkar apa.


Mereka sibuk dengan kegiatannya dan saat itu Kinaya datang secara tiba-tiba dengan membuka pintu kamar itu keras.


“Ayah!” Kinaya memanggil Arya yang langsung menatapnya, sedangkan Kiana justru merasa bersalah pada anak itu dan menatapnya juga.


“Iya ada apa sayang?”


“Ayah bohong kan? Bunda Naya itu bukan Kak Ana kan? Bunda Naya itu masih ada di luar.” Tanya Kinaya dan menunjuk pada Kiana.


Oh ternyata ini. Arya baru mengerti. Ternyata yang dimaksud Kiana itu ini.


Arya menatap Kiana penuh tanya dan istrinya itu balik menatapnya merasa bersalah.


Hah. Arya membuang nafas lelah. Kenapa Kiana malah membongkarnya sekarang? Di waktu yang tidak tepat.


“Naya kenapa?” Arya beralih mendekati Kinaya. Dia harus menjelaskan semuanya pada anak itu, “kalau Ayah bilang Ayah gak bohong, Naya bakal gimana? Bakal marah sama Ayah gak?”


“Jadi bener Kak Ana itu Bunda Naya? Kenapa Ayah bohongin Naya? Ayah bilang kalau Bunda lagi kerja jauh, tapi ternyata... Ayah jahat! Kak Ana juga jahat! Naya benci kalian! Hiks...” Kinaya menangis dengan tiba-tiba dan berlari menuju kamarnya, untuk menghindar dari mereka.


Hah, semuanya gara-gara Kiana. Ketidak sabaran perempuat itu membuat mereka jadi mendapatkan masalah. Seharusnya dia lebih bisa menahan amarahnya.


Arya mendengus kesal dan mendelikan matanya, kemudian menggigit bibirnya. Dia berdiri di depan Kiana dan memegang pinggangnya.


“Kiana, kenapa kamu bongkar semuanya sekarang? Lihat kan akibatnya? Pakai akal kamu kalau mau bertindak itu Kiana, jangan cuma ikuti hawa nafsu saja. Kalau sudah begini jadinya, kamu mau tanggung jawab apa? Aku yang pusingnya Kiana!” Rahang Arya begitu mengeras dan dia mengusap wajahnya kasar.


“Iya, aku salah. Aku minta maaf Kak.” Menundukan kepalanya dan menahan tangis, hanya itu yang bisa Kiana lakukan sekarang.


“Sudah, kamu diam di sini jangan ke mana-mana. Aku mau bujuk Kinaya dulu.”


Tangisan Kiana langsung pecah setelah Arya pergi.


“Maafkan aku... aku bodoh ya... aku... haaaa...”


Di kamar itu, Kiana menangis sejadi-jadinya mumpung Arya juga sedang tidak ada.

__ADS_1


Lagi-lagi aku buat salah. Kenapa aku ceroboh sekali sih?


__ADS_2