Our Fault

Our Fault
Bagian 41 - Beri Kami Kebahagiaan


__ADS_3

Hingga akhirnya, tibalah hari itu. Waktu resepsi mereka yang diadakan di rumah mereka sendiri.


Kiana begitu cantik dengan balutan kebaya putihnya juga rambutnya yang disanggul juga wajahnya yang dirias sederhana tapi tetap cantik dan tidak terlihat seperti perempuan yang sudah beranak.


Di acaranya, tidak banyak tamu yang mereka undang. Hanya teman dekat dan kerabatnya saja.


Teman kuliah Kiana terkejut mengetahui mereka pernah menikah, dan mantan istri Arya itu ternyata Kiana. Sangat hebat dua manusia itu bisa menyembunyikan semua.


“Gue gak nyangka kalau ternyata mantan istri Pak Arya itu lo, Kiana. Langgeng, damai, dan bahagia. Cepet produksi anak lagi ya Pak.” Afriani tersenyum pada Kiana.


Dengan merangkul tangan Arya, Kiana membalas senyuman Afriani.


“Makasih sudah datang.” Balas Arya dan tersenyum tipis.


“Pantesan, kalau ngebahas soal Pak Arya lo suka diem, ternyata udah tahu semua tentang dia.” Afriani terkekeh.


Kiana hanya menanggapi perkataan Afriani dengan senyuman saja.


“Kalian hebat banget bisa sembunyiin hubungannya.” Afriani terus terang, “kayaknya kalau kalian ikutan casting bakal lolos. Boleh dicoba tuh biar tambah penghasilan.”


“Lo gak tahu apa-apa, mendingan diam saja deh ah.” Cibir Kiana.


Di luar dugaan Kiana, bukan hanya menyiapkan acara resepsinya sendiri, ternyata Arya juga menyiapkan bulan madunya sendiri tanpa meminta pendapat Kiana mau bulan mau ke mana.


Arya mengajaknya berbulan madu ke Cina.


Selagi tidak ada kedua anaknya, mereka menghabiskan waktu bulan madunya untuk beromansa berdua.


Mumpung sedang berdua, mereka harus pandai menggunakan waktu itu. Jarang-jarang mereka bisa berdua seperti itu, karena setiap mereka sedang berdua, pasti saja ada gangguannya. Kalau tidak gangguan dari Ray, pasti dari Kinaya.


Sekarang sudah masuk hari kelima mereka berada di Cina. Di sana, tidak ada kegiatan lain yang mereka lakukan selain berjalan-jalan dan tentu mereka bosan dengan kegiatan tersebut.


Hari ini Arya bangun lebih awal dari Kiana dengan sendirinya. Pertama kali membuka matanya, dia langsung melihat pemandangan yang indah, lebih indah dari hal lain, yang membuat harinya selalu tenang. Teman hidupnya, Kiana Anuradha Widjaya.


Arya menatap lama Kiana yang masih tidur dengan nyenyaknya, sampai Arya tidak tega untuk membangunkannya.


Laki-laki itu bangkit dari ranjang dan mencuci wajahnya, lalu mengambil sebuket bunga yang sudah dibelinya kemarin dan disimpan di tempat rahasia yang tidak diketahui perempuannya.


Arya menghampiri Kiana kemudian duduk di pinggir ranjang dan mencium keningnya tanpa permisi.


“Selamat pagi, bidadari.” Arya tersenyum menatapnya.


Kiana merasakan ciuman itu, dia langsung melenguh karena tidurnya diganggu Arya, “nggghhh.” Dengan mata yang masih tertutup, Kiana menggeliatkan badannya.


Akhirnya Kiana membuka matanya dan bangun dari tidurnya.


Begitu membuka matanya, beruntungnya Kiana langsung diperlihatkan dengan makhluk Tuhan yang begitu indah dan sempurna. Ah Kiana beruntung sekali bisa meihat ciptaan itu. Amalan apa yang sudah Kiana lakukan sehingga mendapatkan  balasan terindah ini.


Kiana tersenyum melihat makhluk Tuhan itu dan spontan mencium pipinya.


“Pagi juga.” Kiana berkata dengan suara serak khas bangun tidur.


“Ini buat kamu.” Sudah rupanya yang indah, ternyata sikapnya juga romantis makhluk itu, memberi Kiana sebuket bunga.


Kiana melihat bunga tersebut, “buat aku?” Tanya dia lalu mengambilnya, “ya ampun, ini masih pagi lho. Masa hati aku udah dibuat diabetes sih sama kamu?” Godanya dan malah tersenyum merona.


“Makasih ya bunganya.” Kiana mencubit pipi Arya.“tapi lain kali daripada kasih aku bunga, mending kamu cukup kasih aku tambahan uang belanja sama nafkah buat jajan, itu udah cukup kok.” Canda Kiana lalu tertawa.


Arya memutar bola matanya dan mencibir, “duh matre.”


Kiana memegang tangan Arya, menatapnya serius, “Mas, kamu bahagia gak dengan kehidupan kita yang sekarang?”

__ADS_1


Arya balik menatap Kiana dan tersenyum, “emang kamu gak lihat di muka aku ini penuh dengan rona bahagia, jadi tentunya aku bahagia dong.”


Kiana sama tersenyum, “terus kamu cinta aku gak?” Tanya Kiana lagi.


“Kalau aku gak cinta kamu, buat apa aku kenalin kamu ke keluarga aku yang ada di sini? Justru karena kamu orang yang aku cinta, makanya aku bawa kamu ke sini. Dan kalau suatu saat nanti kamu pergi dari aku, aku bakal jadi mayat hidup dan mati secara perlahan. Karena separuh jiwaku pergi.”


Ya ampun, ucapan Arya berlebihan sekali ternyata. Sampai bawa soal mati. Hmm mengerikan sekali ternyata dampak dari cinta, bisa sampai seperti itu.


Kiana menangkup pipi Arya dan tidak disangka dia mencubit perut Arya.


“Kalau ngomong tuh dipikir dulu, segala bawa-bawa mati, alay banget deh. Omongan kamu nanti revisi ya, jangan cuma skripsi orang lain aja yang kamu suruh harus direvisi.”


“Asal kamu tahu, aku gak bakal pergi dari kamu, kalau kamunya sendiri gak ngebuat aku kecewa dan sakit.” Tutur Kiana.


Arya menggenggam tangan Kiana, menciumnya, “kamu tenang aja, aku gak akan melakukan hal itu, justru aku akan selalu bahagiakan kamu dan anak kita.”


Bibir Kiana tertarik untuk tersenyum lebar, “aku pegang ucapan kamu ya Mas.”


Ketika mereka sedang asyik bersama seperti itu, ponsel Kiana tiba-tiba berdering, ada panggilan masuk. Sungguh mengganggu saja itu ponsel.


Kiana menerima panggilan itu yang ternyata dari Anita. Kalau Anita tiba-tiba menghubunginya, pasti sepertinya ada sesuatu yang terjadi pada Kinaya atau Ray.


“Kakak ipar...! Lo kapan pulangnya?!” Anita bertanya.


“Emang kenapa?”


“Kinaya sakit woy! Masih betah lo di situ romantisan sementara anak sendiri di sini sakit?” Sindir Anita.


“Ha?! Serius lo?! Naya sakit apa? Udah dikasih obat belum dia?” Kiana menjadi cemas begitu pun Arya.


“Naya sakit nyampe dirawat. Udah pokoknya buruan kalian pulang. Kasihan anak lo mewek terus pengen ketemu induknya. Apalagi nih si bungsu Ray.”


“Ya udah iya iya, kita besok pulang kok. Lo tolong jagain mereka dulu ya.”


“Naya sakit apa katanya?” Arya yang panik langsung menyerbu Kiana dengan pertanyaannya.


Kiana menggeleng tidak tahu, “gak tahu, Anita cuma bilang kalau Naya sekarang dirawat terus rewel mulu pengen kita pulang.”


“Oh ya udah, sekarang kita pulang aja langsung.”


“Mau sekarang?”


“Daripada nanti Naya makin sakit.”


Mereka pun segera bersiap-siap untuk pulang tepat hari itu. Tapi sayang, rencana tidak sesuai kenyataan. Ternyata perjalanan mereka harus terhenti karena sebuah kendala dan mengharuskannya untuk tiba di rumah saat esok hari.


Hingga tibanya di rumah, mereka langsung melihat Eshan dan Anita yang sedang menggendong Ray.


Di sisi lain, Kiana bingung. Kenapa pasangan itu ada di rumahnya? Kinaya kan sedang dirawat, kenapa mereka tidak di rumah sakit?


“Eh kalian pulang juga.” Seru Anita.


“Ray tuh Ayah sama Bundanya pulang.” Eshan memainkan tangan kecil Ray yang tertawa senang melihat orang tuanya kembali dan mengulurkan tangannya pada mereka, meminta untuk digendong.


“Dadadada Yayayaya.”


Anita memberikan Ray pada Kiana yang langsung diterimanya.


Kiana memeluk sayang bayinya itu, sementara Arya menciumi pipinya. Ray senang diperlakukan begitu olehborang tuanya, sampai-sampai dia menepuk kepala Arya, membuat Arya juga Kiana jadi tertawa.


“Eh lo kok ada di sini sih Nit? Kinaya di rumah sakit ditemenin sama siapa? Kasihan dong dia alone in hospital.” Tegur Kiana tidak suka.

__ADS_1


Anita dan Eshan menahan tawanya mendengar perkataan itu. Kiana tidak tahu, sebenarnya mereka mengerjainya supaya segera pulang dengan alasan anaknya.


“Nay! Ayah sama Bunda udah pulang nih! Buruan ke sini, katanya kangen.” Sahut Anita sedikit berteriak.


Seketika Arya dan Kiana bingung. Kok Anita berkata seperti itu? Apa Kinaya sudah pulang dari rumah sakit?


Lalu seorang seorang anak kecil perempuan muncul, berlari ke arah mereka dan memeluknya langsung. Dia Kinaya, putri mereka yang katanya sakit.


Kinaya melihat kedatangan orang tuanya dengan rasa bahagia.


“Ayaaahh Bundaaa!!” Kinaya berlari dengan terus tersenyum melihat mereka dan langsung memeluknya.


“Lho Naya kok di sini? Katanya dirawat. Emang udah sembuh kamu sakitnya?” Arya memegangi wajah Kinaya.


Kinaya menggeleng polos dan malah tersenyum lebar, “enggak kok, Naya gak sakit. Naya sembuh-sembuh aja. Naya sengaja bohongin kalian.”


Mata Kiana menyipit, “bohong? Jadi Naya bohongin Ayah sama Bunda? Naya kok gitu sih Nak? Bohong itu dosa lho, kurang baik, Bunda gak suka.”


“Nay, siapa yang ajarin kamu buat berbohong?” Tegas Arya dengan wajahnya yang seketika berubah menjadi menakutkan.


Kinaya menunduk dan menunjuk pada Eshan juga Anita yang tidak merasa bersalah sama sekali, justru malah tertawa.


“Hahaha. Makanya jangan kelamaan bulan madunya, kasihan anaknya. Apalagi si bungsu ini, ya kan Ray sayang?” Eshan memainkan tangan Ray, tapi Arya langsung melepaskannya karena kesal pada Eshan.


“Iya tuh. Suka gak tahu diri, udah punya anak juga bulan madunya malah mau lama dua minggu. Kan parah itu mah.” Anita ikut membela perkataan Eshan.


“Lo jangan ajarin anak gue yang gak bener dong. Nanti kalau otak anak gue kotor kayak lo, gimana coba?” Protes Kiana kesal.


Kiana memegang pundak Kinaya, “Nay, nanti kalau Ayah sama Bunda pergi terus Naya pengen kita pulang, Naya jujur aja. Berhenti berbohong, berbohong itu kurang baik, dan anak baik gak akan berbohong.” Kiana menasihati Kinaya.


Kinaya mengangguk dan menatap Kiana, “iya deh, maafin Naya ya. Nanti Naya gak bakal gitu lagi kok. Naya ngelakuin itu juga gara-gara kangen.”


“Iya, bunda maafin.” Kiana memegang kepala Kinaya.


“Terus Ayah sama Bunda bawa oleh-oleh buat Naya gak?” Tanya Kinaya.


“Kamu mau oleh-oleh? Oh ada. Sebentar.” Arya membuka kopernya, ternyata dia mengambil cucian baju kotornya pada Kinaya,”nih oleh-olehnya.” Lanjut Arya.


Kinaya bingung dan tidak suka, “kok oleh-olehnya itu sih Ayah?! Naya kan maunya mainan atau boneka.” Protes Kinaya.


“Oh itu.” Arya pura-pura baru tahu, “kan kemarin Tante Nita bilang kalau Naya sakit, jadi mana sempat Ayah beli oleh-oleh buat kamu, Ayah sama Bunda kan langsung pulang ke sini, takut kamu kenapa-napa atau makin parah sakitnya.”


Wajah Kiana berubah jadi cemberut, “yaaahhh... kalau tahu begini, Naya mending gak usah suruh kalian pulang cepet deh.”


Jawaban Kinaya itu berhasil membuat tertawa orang tuanya. Salah siapa coba anak itu berbohong, Arya Kiana tidak menyuruhnya, itu akibatnya.


Di saat mereka sedang tertawa akan hal itu, tidak ada yang tahu bahwa dalam hati pasangan Eshan Anita, mereka sedang bersedih melihat kebahagiaan keluarga kecil itu.


Mereka bersedih. Mereka iri. Kapan mereka bisa mendapatkan kebahagiaan seperti itu? Kebahagiaan bersama malaikat kecilnya.


Bukannya mendapat kebahagiaan yang diinginkan, mereka justru malah mendapat kesakitan. Terutama Anita. Perempuan


itu sudah terlalu sering mendapatkan kesakitan karena ujian ini.


Karena belum bisa memberikan Eshan anak, Anita sampai disebut wanita mandul oleh mertuanya dan bahkan mertuanya menyuruh suaminya untuk menikah lagi.


Belum juga sembuh dari sakit karena gunjingan mertuanya, Anita kembali mendapat gunjingan dari orang lain. Lebih tepatnya dari keluarga Eshan sendiri. Anita sungguh sedih, ingin bercerita pada Eshan tapi tidak berani untuk mengungkapkannya.


Eshan melihat Anita yang ternyata menampakkan raut wajah sedihnya. Dia tahu, apa alasan istrinya bersedih. Untuk menghentikan kesedihannya itu, Eshan merangkul pundaknya dan memberikan senyuman menenangkannya. Walaupun memang hanya sementara, semoga saja dengan hal ini Anita bisa kuat.


Tuhan, kapan Engkau memberikan aku kebahagiaan seperti itu? Aku tidak tahan dengan keadaan ini, aku juga ingin mendapatkan kebahagiaan itu. Tolong kuatkan hati kami untuk menerima ujian ini. Anita berdoa dalam hatinya.

__ADS_1


Tolong kuatkan kami, terlebih lagi istriku. Aku tahu kalau Engkau sedang menguji kami dengan hal ini. Tapi aku mohon, izinkan kami mendapatkan kebahagiaan seperti mereka itu. Kami ingin merasakan kebahagiaan itu. Aku sudah lelah.


Jika banyak yang beranggapan bahwa ini adalah akhir dari cerita pasangan Arya Kiana, maka itu salah. Ini bukanlah akhir, justru ini adalah awal dari cerita mereka. Awal untuk membuat cerita kehidupan yang lebih baik juga bahagia dari dahulu bersama keluarga kecil mereka.


__ADS_2